Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 97


__ADS_3

"Lemes amad bestie, sakit?" tanya Izza begitu mendapati sohibnya memasuki kelas.


Shali menggeleng lemah, entahlah kenapa ia begitu berat ditinggal suaminya tugas, padahal cuma enam hari tetapi berasa hari itu terlalu lama baginya. Shali menjatuhkan kepalanya pada meja, menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya.


"Kenapa tuh bocah, datang-datang kaya krupuk mlempem gitu?" tanya Nurma mengkode Izza. Izza sendiri yang belum menemukan jawabannya hanya mengedikkan bahu acuh.


"Pagi semua!" sapa Dosen memasuki kelas.


"Pagi ....!" Kompak semua menjawab.


"Shali, Dosen Shal!" Izza menyikut perempuan yang nampak lemes itu.


"Tahu Za, denger," jawab Shali sembari mendongakkan kepalanya. Menegakkan tubuhnya dengan sikap duduk yang benar, mengikuti makul dengan sedikit tak minat.


Sembilan puluh menit berlalu, Shali langsung mengecek ponsel miliknya usai dosen mengakhiri pertemuan. Perempuan itu trsenyum kala membaca sederet pesan paling menyentuh dalam sejarah chatnya.


[Ya Zaujati ... Shalinaz Realy Ausky, bidadari sholehahku, ragaku pamit singgah sebentar sayang, tapi jangan khawatir sepenuhnya jiwa dan sukmaku hanya terpaut padamu. Semangat belajarnya, kutitipkan rinduku pada doa yang kupanjatkan di setiap waktu, supaya kau senantiasa mengingatku. Love you more]~my husband


"Ceileh senyum-senyum kaya orang stress, giliran tadi aja mendung tanpo udan," cibir Izza menemukan sahabatnya menampakkan deretan gigi putihnya kembali.


"Kantin yuk ... laper!" ajak Molly yang langsung diangguki mereka berdua.


"Sha, lo nggak mau ikut?" Izza menyorot malas.


"Dih ... ngapalin di sini, mending nongkrong depan fakultas komunikasi, bisa tp tp."


"Tp tp apa Moll?" tanya Nurma dengan sok polosnya.


"Tebar pesona sama calon imam, siapa tahu aja nyangkut," jawab Molly sumringah.


"Dih najong, otak lo isinya cowok mulu, pria mulu. Seret gih biar ramai!"

__ADS_1


"Iya iya ya ampun ... frontal banget sih, oke mari kita cap cus! Go!"


"Kantin beb?"


"Kafe aja gimana?"


"Wokeh ... nanti lah setelah pulang, satu makul lagi 'kan? Kita ngapel dulu di kantin dimsumnya Pak Anas."


"Wokeh, gas!"


Mereka berempat mengunjungi kantin dengan formasi lengkap. Shali juga sudah kelihatan nggak galau-galau anad, lebih tepatnya tersamarkan karena terslimur bareng teman-temannya.


"Pak Nas, dimsumnya empat ya, ditunggu Pak!" pesan Nurma begitu tiba di kantin fakultas.


"Eh, tumben kalian nyasar ke sini?" Satua dan Desta baru saja datang dari arah yang berbeda. Mereka langsung ikut duduk di antara cewek-cewek yang tengah mengantri pesanan.


"Lagi pengen makan dimsumnya Pak Anas yang endurs terkenal seantero kampus," jawab Izza semangat empat lima


"Assalamu'alaikum ....!" sapaan seorang pria hadir di sana.


"Asyik ... ramai," celetuk Molly sumringah mendapati Azmi datang.


"Ramai dari lahir kali, kita datang juga udah ramai."


Azmi mengambil duduk yang kosong, sebelumnya sudah ditempati Shali namun perempuan itu tengah memesan minuman dan memilih kerupuk pedas di sana.


Shali kembali ke meja, ia menjadi bingung sendiri karena tak ada bangku kosong.


"Eh, Sha, sorry tempat duduk kamu ya? Duduk Sha!" Pria itu langsung berdiri dan menempati kursi lain.


"Nggak pa-pa kok Mi, bisa ambil kursi yang lain," jawab Shali santai.

__ADS_1


"Ehem! Ngobrol berdua aja, duduk Azmi!" Satya menarik tangannya dengan gemas saat hingga pria itu terduduk tepat di sampingnya.


"Eh, asyik nih lagi bareng, tik tok kan yuk!" ajak Molly semangat.


"Boleh juga," jawab Iza dan Nurma hampir bebarengan. Alhasil siang itu kantin terlihat ramai.


Menjelang sore hari untuk pertama kalinya Shali merasa begitu kesepian saat pulang dan memasuki kamarnya. Aka kemungkinan sudah sampai dari siang tadi, tetapi suaminya itu belum memberi kabar. Mungkin pria itu masih sibuk.


Shali merasa seperti orang yang linglung masuk ke kamar tanpa ada penghuni lainnya. Ini baru hari pertama, tetapi rasanya begitu berbeda, seperti ada yang hilang dari sosok dirinya. Tak ingin berlarut menikmati nelangsa sendirian, Shali akhirnya memutuskan untuk mengunjungi dapur pesantren yang selalu terlihat ramai di lain kesempatan.


"Assalamu'alaikum Ummi," sapa Shali hadir di sana. Nampak Bu Santi dan Bu Darmi yang ikut membantu masak di sana melongo melihat kehadiran menantu Bu Nyai jalan-jalan ke dapur pesantren.


"Waalaikumsalam, Ning? Wah ... suatu kehormatan dikunjungi Ning Shali, mau belajar masak ya Ning?" seloroh Bu Darmi basa-basi.


"Boleh ya Bu, nimbrung di sini?" jawabnya sekenanya. Shali pun mulai ikut sibuk menyiangi sayur, dan juga mengiris bawang merah dan putih. Tak terasa karena pedas, ia sampai tumpah air matanya, membuat orang yang melihat merasa iba dan juga tertawa.


"Udah Nak nggak usah, kalau pedes udah aja kupas bawangnya," cegah Ummi melarang.


"Nggak pa-pa Ummi, dikit lagi," jawabnya santai.


Saat itulah vibrasi telepon yang berada di kantung pakaiannya memekik, Shali pun menghentikan kegiatannya dan langsung melihat siapa gerangan yang menghubunginya. Nama my hubby tertera di sana, tanpa ragu Shali segera mengangkat panggilan vidio tersebut.


"Assalamu'alaikum Mas, kenapa baru telepon, aku sampai kering menunggu kabar darimu?"


"Waalaikumsalam, sayang, kamu di mana?" tanya Aka kurang paham dengan tempatnya.


"Lagi berguru sama Bu Darmi dan juga Bu Santi, noh lihat Mas." Shali menghadapkan kamera ponselnya pada mereka.


"Owh ... gitu, alhamdulillah deh kalau berkegiatan, kok mukanya sembab, nangis ya? Kenapa? Kangen banget, perasaan baru saja pisah beberapa jam loh ya, pulangnya juga masih lama," seloroh Aka meneliti wajahnya dengan seksama.


"Ini gara-gara si bawang merah Mas, tapi juga gara-gara kamu juga sih, huhu ... main ninggalin aku gitu aja, aku kan kangen," celetuk Shali sedikit meninggikan suaranya. Perempuan itu bergerak menepi agar sedikit nyaman mengobrol.

__ADS_1


"Kangen dan rindunya dijilid ya sayang, jangan lupa selipkan namaku selalu dalam doamu, dan doaku. Mas lagi kerja, doakan semoga kita bisa berjumpa lagi lusa dalam keadaan sehat walafiat di rumah."


"Aamiin ... pasti Mas, tapi ngomongnya yang indah-indah aja dong Mas, kata-kata kamu tuh bikin melow aja," jawab Shali tak terasa berkaca-kaca kembali. Ia diam saja mengamati wajah Aka tanpa menyela.


__ADS_2