Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 81


__ADS_3

Aka tersenyum lembut seraya mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Lalu kembali memposisikan dengan benar di belakang kemudi. Mobil melaju ke kampus dengan kecepatan sedang.


"Aku duluan ya Mas," pamit Shali sembari mengulurkan tangannya. Mukanya sedikit mendung, pun tak berani menatap netranya.


"Dek?" seru Aka menahan tangan istrinya yang hendak ditarik habis bersalaman.


"Kenapa Mas?" Perempuan itu mendongak tanpa minat.


"Nanti usai kelas langsung ke ruangan aku ya?" kata pria itu seraya mendaratkan kecupan sayang di pipinya.


"Selamat belajar sayang," ucapnya tersenyum. Sangat paham dengan perasaan istrinya.


Shali melangkah gontai menuju kelasnya. Perempuan itu benar-benar kepikiran perihal tadi pagi, membuat moodnya sepanjang hari berantakan. Mengikuti kelas pun dengan setengah hati.


"Sha, lemes amad bestie, kantin yuk!" ajak Izza merangkul bahunya.


"Lo nggak balik? Apa jadi penghuni asrama abadi?"


"Balik nanti sore, yuk ah kita ngehedon dulu mumpung masih ada waktu."


"Ayok ....!" Izza menarik tangannya. Membuat Shali mau tidak mau beranjak dari kursi yang sejak sembilan puluh lima menit yang lalu cukup membuatnya nyaman.


Jadilah mereka berempat, Shali, Nurma, Izza dan Molly ke kantin bersama. Kantin yang biasa ramai itu kini terlihat lengang. Tentu saja setengah penghuninya sedang mengikuti sholat jumat.


"Pesan apa Sha?"


"Apa saja yang penting bikin aku kenyang."


"Lo apa Mo?" Izza dan Nurma heboh sendiri di kantin.


"Gue bakso sama Shali, mie ayam dua, bakso dua berarti ya?"


Asyik bercengkrama di kantin dengan ditemani es teh dan mie ayam. Membuat perempuan yang tengah memakai hijab pasmina coklat itu terbawa suasana nyaman. Hingga ia lupa pesan Aka yang menyuruh menunggu dirinya di ruangannya.


Pria itu kembali dari sholat jumat, tidak menemukan istrinya di sana. Menilik ponselnya, namun tak ada satu pesan pun di sana. Membuat pria itu mendes@h panjang. Dengan gerakan kalem, duduk di sofa sembari melakukan panggilan.


"Lin, handphone lo tuh bunyi!" tegur Nurma yang duduk di sampingnya sedikit mengintip.

__ADS_1


Shali yang masih sibuk dengan isi mangkuknya, menatap sekilas lalu sedikit beranjak untuk mengangkatnya. Ternyata Reagan yang menelepon, menanyakan perihal kunjungan dirinya. Shali tentu saja mengiyakan, walaupun harus berangkat sendiri, perempuan itu sudah menahan rindu yang dalam dengan kedua orang tuanya.


"Siapa Lin, kepo boleh dong, mukanya cakep bener?" tanya Nurma yang tak sengaja melongok photo profil WAnya.


"Nggak boleh kepo, rahasia!" jawabnya spontan.


"Pacar lo ya, Azmi mau dikemanain?" pekiknya heboh sendiri.


Dari mereka berempat hanya Izza yang tahu status Shali dan Aka. Sohib yang satu ini memang cukup bisa dipercaya, alias nggak emberan. Membuat pertemanan mereka begitu akrab.


"Bukan lah, itu kembaran aku," jawab Shali jujur.


"Bagi nomor WAnya dong?" pintanya percaya diri.


"Dih ... beneran? Hati-hati lho ya, sakit hati aku nggak tanggung jawab."


Sementara Aka di ruangannya sedari tadi berusaha menghubungi istrinya, namun terdengar panggilan dialihkan, membuat pria itu gemas sendiri. Hingga ia menunggu cukup lama.


"Astaghfirullah! Aku lupa!" pekik Shali langsung berdiri.


"Apaan Lin, bikin kaget orang aja," tegur Molly menatap sebal.


"Astaga! Aneh banget tuh orang!"


Shali baru saja masuk ke lift, disusul Satya di belakangnya.


"Eh, kok kamu belum pulang?" tanya Shali basa-basi.


"Tadi jum'atan di masjid kampus, aku ada kelas tambahan malas pulang."


"Owh gitu, sekarang mau ke mana?"


"Rooftop, main aja sambil nunggu."


"Gitu ya?"


"Kamu sendiri, Ngapain ke lantai enam. Bukannya mahasiswa nggak boleh ke sana? Atau mau rooftop juga?" Satya menatap penuh selidik.

__ADS_1


"Hmm ... itu, ada perlu dengan salah satu dosen di lantai enam," jawab Shali bingung sendiri.


"Aku pikir kita mau ke tempat yang sama, bisa buat teman ngobrol, nggak tahunya beda ya? Udah ge-er duluan juga," celetuk Satya.


Mereka berhenti di lantai yang sama, keluar secara bersama-sama bertepatan dengan Pak Aka yang hendak memasuki lift yang sama.


Aka terdiam di pijakannya, sementara Shali menatap kaget. Satya sendiri masih sibuk mengoceh hingga tersadar mereka bertemu dengan dosennya.


"Pak!" sapa Satya mengangguk sopan.


"Lin ,kok bengong!" tegur Satya malah menarik tangannya.


"Sat, Sat, kita beda tujuan," Shali meloloskan tarikan pria itu.


"Sorry refleks aja, kamu mau ketemu siapa sih?"


"Hish kepo amad jadi orang, udah sana kamu tuh jalannya sana ke ujung."


"Beneran nggak mau ikut, di atas uforianya beda lho."


"Kamu kalau butuh teman banget, aku telponin Molly cs itu di bawah masih pada ngumpul."


"Nggak usah Lin."


"Udah ya Sat, aku duluan," ucap Shali sembari menatap pintu lift namun tidak menemukan Aka di sana.


"Ke mana sih orang, bukannya nyuruh ke ruangannya malah ngilang," gerutu Shali sembari mendaratkan bokongnya dengan gusar.


Setelah menunggu dengan kesal sebab Aka tak kunjung datang. Pria itu datang dengan membawa dua kantong kresek yang diperkirakan makanan.


"Mas, dari mana sih!" semprot Shali begitu mendapati suaminya masuk ke ruangannya.


"Kamu yang kenapa? Susah banget ya, ngomongin ke orang-orang kalau kita punya ikatan. Biar apa Sha? Biar masih punya kesempatan untuk dekat dengan siapa aja? Begitu kah?"


"Kamu kenapa sih Mas, sensian terus, aku tuh dari tadi pagi udah nahan kesel dan sekarang kamu malah kaya gini. Aku nggak masalah kok kalau hubungan kita di publish sekarang, tetapi nggak juga 'kan harus ngejelasin satu persatu ke mereka kalau kita itu suami istri." Shali terbawa suasana hingga terpancing emosi.


Aka terdiam beberapa lama, mereka berdua akhirnya sama-sama diam tanpa ada yang minat membuka kata. Karena begitu jenuh, akhirnya Shali beranjak.

__ADS_1


"Aku pamit Mas, mungkin menginap beberapa hari di rumah mommy, semoga harimu menyenangkan. Sukses untuk programnya.," ujar perempuan itu bangkit dari kursi.


"Aku nggak ambil jobnya Sha," jawab Aka yang seketika menghentikan langkah perempuan itu.


__ADS_2