Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 92


__ADS_3

Kedua pasangan halal yang baru menunaikan jamaah ashar itu saling melirik, sebelum akhirnya berdiri melangkah keluar. Shali yang masih menggunakan mukena mengekor suaminya yang berjalan cepat. Sementara dari arah bersebrangan nampak Ummi Salma dan dua orang lainya sedikit berlari mendekati kamar.


Pria itu membuka kamar dengan tergesa, seseorang yang berada di dalamnya langsung menyorot ke arah luar begitu pintu terbuka.


"Bagus! Tolong!" pekik Nashwa melompat dari atas kasur menumbruk tubuhnya.


Azmi yang kaget, otomatis tak bisa menghindar. Nashwa dengan tidak sopannya dalam gendongan pria itu.


"Ada apa Na?" tanya Ummi Salma lembut.


"Itu Ummi, itu, tolong! Loncat-loncat sampai ke ranjang!" tunjuk Nashwa mengumpet di dada bidang pria itu. Tentu saja itu membuat pemandangan sekitar berbeda. Terutama Shali, Aka, Zayyan dan juga Ummi. Menatap tak percaya kelakuan santri baru mereka.


Jangan ditanya perasaan Azmi saat ini, bahkan ia merasa tegang dan kaget setengah mati tubuhnya berhimpitan dengan gadis cantik itu.


"Astaghfirullah ... turun Na, kamu terlalu menempel!" tegur Azmi menemukan kesadarannya, setelah beberapa detik terpukau wajah ayu gadis yang saat ini dalam gendongan.


"Nggak mau! Nggak mau, ambil dulu!" rengek Nashwa mengeratkan tangannya. Mau tidak mau Azmi menahan tubuh Nashwa dalam dekapan. Sungguh pengalaman pertama yang menggoda iman.


Aka bergerak cepat, menggiring katak kecil yang saat ini berpindah tempat, bertengger di meja belajar. Jenis katak ini memang bisa melompat lima puluh kali lebih tinggi dari tubuhnya.


Shali yang berada di dekat pintu ikut menjerit saat katak itu tanpa permisi melompat di sampingnya.


"Mas!" pekiknya gusar.


"Apa sayang, mau digendong juga," seloroh pria itu tersenyum.


"Udah nggak ada, aman," ucap Aka tenang.

__ADS_1


Kyai Emir datang setelah mendengar kegaduhan, begitu masuk terkesiap melihat putra ketiganya tengah menggendong santri baru dengan raut muka gadis itu yang nampak cemas.


"Udah aman Na, turun!" Azmi menurunkan Nana dengan pandangan tidak enak dari orang-orang yang menatapnya, terutama ayah mereka. Terlihat gadis remaja itu masih resah enggan beranjak.


"Aman beneran? Nanti kalau datang lagi gimana? Ngeri banget," gumamnya waswas.


"Tak apa Nak, itu hanya katak kecil yang numpang lewat, lain kali tutup pintunya yang rapat, musim hujan biasanya datang dari kolam," papar Ummi Salma tenang.


"Gitu ya Ummi, oke," jawab Nashwa sedikit lebih lega.


"Mungkin katak kecilnya mau kenalan sama kamu Na, 'kan kamu penghuni baru," celetuk Zayyan menimpali.


Aka dan Shali masih diam menyimak kegaduhan senja ini. Belum genap dua puluh empat jam, santri baru itu sudah sukses menyedot atensi seluruh penghuni rumah. Sepasang mata hazel dan dua netra lentik itu bertemu, gadis imut tapi sedikit bar bar itu tersenyum sumringah kala mengenali wajah ayu yang berdiri tepat di depan pintu.


"Kak Shali? Kok di sini?" Gadis itu mendekat, memastikan penglihatannya tidak meleset.


"Nana, kamu ... kenapa ada di kamar Azmi?"


"Kalian kenal?" tanya Aka menyorot keduanya.


"Iya Mas, ini tuh adiknya Razik yang paling bandel. Haha."


"Kak, ngomongnya jujur banget, 'kan adiknya Bang Razik cuma satu," jawab Nashwa tersenyum simpul.


Satu persatu meninggalkan ruangan, tersisa Aka, Shali, Azmi, dan dirinya.


"Owh ... jadi kamu santri baru di sini?" tanya Shali merasa senang. Shali kecil sering bermain dengan Nashwa bila ibu mereka sedang temu kangen bersama.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kok Kak Shali bisa udah nikah gitu sama anaknya Pak Kyai, kakak kan masih kuliah, dijodohin ya?" tuduh gadis itu sok tahu.


"Kebetulan udah ketemu jodohnya yang tepat, jadi untuk apa menunda kebaikan," jawab Shali kalem.


"Wah ... jadi kalau udah ketemu yang tepat juga, pengen nikah muda juga nih," celetuk Nashwa tersenyum renyah.


Azmi yang masih di seputaran ruangan tengah memindai buku-buku pribadinya yang tertinggal, sampai tersedak salivanya sendiri.


"Bagus, kenapa? Kalau batuk minum obat!" seru gadis itu menyahut.


"Bagus?" Shali dan Aka saling melirik.


"Iya, orang-orang manggilnya Gus, gus, Bagus 'kan?"


Seketika Aka dan Shali tidak bisa menahan tawanya.


"Sayang, perutku sedikit sakit banyak tertawa, ayo ke kamar!" ajak Aka tak tahan ingin tertawa terus menerus di depan remaja bar bar itu.


"Bagus, udah belum, cepetan, tuh yang lain udah pada keluar!"


"Hampir selesai, tolong kamu jangan pindahi barang-barang saya sesuka hati, terus jangan buka-buka lemari yang paling ujung, terus jangan mengotak-atik tatanan kamar. Pokoknya kamar ini nggak boleh ada perubahan!" tegas Azmi sebelum beranjak.


"Iya, iya Bagus, tahu," jawab Nashwa santai.


"Tunggu apa lagi? Kok nggak keluar? Jangan bilang lo pengen satu kamar sama gue. Hehe."


"Nanti kalau udah halal," jawab Azmi ngasal. Seketika Nashwa termangu di tempat.

__ADS_1


"Na, jangan lupa tutup pintunya yang benar, katak itu bisa saja datang lagi, atau malah pingin ikut tidur denganmu," gurau Azmi sambil lalu.


"Bagus!!"


__ADS_2