Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 71


__ADS_3

Seharian Aka dan Shali menghabiskan waktunya di rumah saja. Bahkan Shali hanya keluar menjemur pakaian udah gitu benar-benar menghabiskan waktu di kamar. Untuk sarapan dan makan siang, Aka membawanya ke kamar. Sampai Ummi bertanya-tanya keheranan.


"Ka, Shali masih nggak enak badan? Ke dokter saja, Ka, Ummi takut Shali ngedrop lagi kaya kemarin," ujar Ummi khawatir.


"Cuma butuh istirahat kok, Mi, jangan khawatir, tadi lagi siap-siap mau wudhu waktu Aka mau jamaah Ashar," jawab pria itu santai. Pria itu jelas santai, karena sakitnya Shali kali ini atas ulah dirinya semalam dan tadi siang. Pria itu tersenyum geli mengingat dirinya yang cukup nakal sekali.


"Kamu kenapa Ka, senyum-senyum nggak jelas," tegur Aida yang kebetulan sedang main ke pesantren.


"Kesambet cinta," sahut Zayyan menjawab. Sontak membuat Ummi dan Aida tersenyum dengan geleng-geleng kepala.


"Bener 'kan, orang kalau lagi jatuh cinta 'kan emang suka aneh, senyum-senyum nggak jelas," ucap Zayyan sok tahu.


"Kamu kaya tahu aja, Za?" Aida menyahuti adiknya dengan gemas.


"Mas Fathur nggak ikut ke sini, Mbak?" Aka menanyai keberadaan suami kakaknya.


"Ada acara sendiri, ya sudahlah aku juga bikin acara sendiri. Rencananya mau ajak Shali jalan, eh nggak tahunya lagi nggak enak badan ya, kamu nih rada-rada nggak bener pasti jagainnya," tuduh Aida.


Pernikahan Aka dan Shali hampir sebulan, jadi mereka tahunya Shali beneran tidak enak badan. Alias meriang.


"Hmm, Ummi ... biasanya perempuan itu sukanya apa ya? Maksud Aka, perempuan itu suka dikasih hadiah apa?"


"Kamu mau beliin sesuatu buat istri kamu?" Aida malah balik bertanya bin kepo.


"Aku pengen aja kasih hadiah yang bermanfaat tetapi yang bikin Shali senang, nggak tahu apa."


"Diajak shoping Ka, diajak jalan-jalan ke mana gitu, katanya mau ke puncak, liburan sana pengantin baru di rumah saja, nggak asyik banget." Aida sukses jadi kompor mledug.

__ADS_1


"Pengennya sih gitu, coba nanti Aka tawari deh sebelum study visit ke luar negeri, duh ... jadi mello nih mau aku tinggal."


Aka ada agenda study kunjungan mahasiswa ke Malaysian dan Thailand akhir bulan ini. Pria itu bertugas menjadi dosen pendamping bagi mahasiswa terpilih.


"Kenapa nggak ajak Shali aja Bang," celetuk Zayyan usul.


"Pengennya sih gitu, tetapi ini acara study kampus apa ya malah nggak kasihan nanti ditinggal karena aku banyak kegiatan."


"Iya juga sih, mending Abang agendakan hari lain saja yang benar-benar liburan berdua," usul Zayyan lagi penuh semangat.


"Boleh juga ide kamu, Cappadocia ya?"


"Wah ... itu lebih seru, dijamin pulang-pulang bawa hasil," ujarnya sok dewasa.


"Hasil apa? Anak kecil sok dewasa." Aida gemas sendiri mendengar perbincangan mereka.


"Waalaikumsalam ... Bang, dari mana tumben pulang-pulang cerah bener tuh muka, tadi aja berangkat bawa beban." Lagi-lagi Zayyan yang paling kepo.


"Refreshing lah, cari referensi untuk melangkah ke depan."


"Gayamu, Mi, oleh-olehnya mana?" todong Aida bergurau.


"Dapatnya capek, tetapi alhamdulillah seneng. Hehe."


Wajah Azmi yang berbinar sontak membuat siapa pun yang memperhatikan menjadi kepo.


"Ke kamar dulu ya, aku belum sholat, tadi mau sholat di sana nggak keburu," kata pria itu lalu. Melangkah gontai menuju bilik kamarnya.

__ADS_1


Iseng-iseng berhadiah, Azmi mengambil batu kecil lalu melempar ke jendela kamar Aka, sontak membuat atensi orang yang ada di dalam sana terusik. Dengan cepat perempuan itu menyambar hijab instannya lalu melongok ke luar. Menemukan Azmi yang tengah berdiri di tepi kolam, sembari tersenyum manis padanya.


"Kamu pelakunya?" tuduh Shali tepat sasaran. Pria itu mengangguk dengan lambaian tangan.


"Keluar dong, demo yuk!" ajaknya penuh semangat.


"Demo apa?" Shali tidak mudeng dengan apa yang dikatakan Azmi.


"Aku mandi, terus sholat dulu ya bentar, nanti kalau aku kirim pesan kamu keluar," ujarnya tersenyum.


"Siap, laporan diterima."


Aka yang sedang berjalan ke arahnya jelas mendengar dan menyaksikan mereka mengobrol. Shali dan Azmi memang terlihat akrab, entah mengapa itu sering menimbulkan Aka merasa cemburu.


"Dek, laporan apa? Kamu menyembunyikan sesuatu dari Mas?" tuduh Aka langsung menghampiri begitu sampai kamar.


"Nggak tahu tuh adek kamu, mungkin ada sesuatu yang mau disampaikan, tadi aku asal nyeletuk aja, Azmi 'kan emang orangnya santai gitu Mas," jawab Shali serasa nggak ada beban.


"Kamu kok nanyanya gitu, cemburu ya?" tuduh Shali menggoda.


"Iya, nggak suka kamu sama Azmi terlalu dekat."


"Kamu nggak boleh gitu Mas, dia itu sekarang adik aku juga, aku udah nyerahin seluruh jiwa dan raga aku padamu gini, masak kamu belum yakin?"


"Ah ... pokoknya aku cemburu, Dek, aku nggak mau kamu deket-deket sama pria lain." Aka menubruknya, membawa istrinya dalam dekapan dengan merusuh gemas.


"Mas! Mas, geli ...." jerit Shali terkekeh mendapat perlakuan suaminya yang menghujani cumbuan pada lehernya sembari mendekapnya posesif.

__ADS_1


__ADS_2