
"Eh, kenapa kemarin kita nggak konsultasi sekalian ya? Gimana dong, masak dipending?" keluh Aka ikut bimbang.
"Mungkin pelan-pelan kali, Mas, atau tunda dulu aja, besok kita konsul dulu," ujar Shali santai.
"Telpon saja sayang, masa iya harus tunda sampai besok nggak enak banget lah. Mana kamunya gitu lagi, 'kan bikin aku mupeng," kata Aka jujur.
Akhirnya Shali malam itu menelepon Dokter Dara, menanyakan hal yang sebenarnya juga malu ia tanyakan. Namun, karena memang benar-benar perlu maka rasa malu dan sungkan pun dinomor sekian kan dulu.
Sementara Shali berbincang dengan Dokter Dara di telepon, pria itu ikut menanti penjelasannya dari dokter. Aka pun tersenyum lega saat istrinya menutup teleponnya.
"Alhamdulillah ... berarti bisa dong, sayang," ucap Aka mengucap syukur. Sontak Shali tersenyum melihat Aka yang berjingkrak senang layaknya bocah.
Pria itu pun mendekati Shali, membaca doa kebaikan sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dengan penuh semangat. Rupanya hamil malah membuat sesi bercinta mereka semakin hidup. Shali begitu menikmati sentuhan suaminya yang seakan lapar dan dahaga atas tubuhnya. Perempuan itu mendes@h beberapa kali saat lidah pria itu bermain-main, tergelincir di bagian sensitif tubuh istrinya.
Aka benar-benar mendatangi perempuanya dengan begitu lembut, dan hati-hati. Tidak ingin menyakiti sedikit pun, atau membuat istrinya merasa tidak nyaman. Pria itu sama sekali tidak egois, bahkan beberapa kali bertanya apakah posisinya saat ini nyaman atau tidak bagi istrinya.
"Sayang, kalau merasa tidak suka, kurang nyaman ngode ya, aku sayang kamu, ini ... i like it!"
__ADS_1
Shali tidak menjawab, ia hanya menggumam kecil karena jujur, ia begitu menikmati malam itu. Aka selalu pandai membuat kebutuhan biologisnya terpenuhi dengan lancar. Setelah bermesraan yang cukup minat, keduanya sama-sama merilekskan tubuhnya, baik Aka dan Shali tidak lekas beranjak, keduanya masih memadu kasih, saling membuai dan memuji.
"Dek, kamu ngerasa beda nggak?" tanya Aka serius.
"Nggak juga sih, biasa aja, kamu selalu keren, makasih bisa banget bikin aku tak bisa berhenti menjerit nikmat."
"Tapi aku ngerasa ada yang beda loh," ujar Aka berbisik.
"Kenapa? Aku bikin kamu kecewa ya, apa diriku tak semenarik dan senikmat biasanya lagi."
"Bukan sayang, rasanya mah jangan ditanyakan kali, sensasinya itu loh Dek, berasa ada manis-manisnya. Makin sayang deh aku."
Aka tersenyum melihat istrinya yang mulai terlelap, hingga dengkuran halus menyapa dirinya. Shali benar-benar tertidur tanpa mengulur waktu. Mungkin memang capek, maklum saja mereka baru saja merampungkan ritual penting suami istri.
Selang beberapa menit berlalu, Aka belum bisa tidur, pria itu memutuskan mandi dan bebersih dulu, baru kembali ke ranjang, menghampiri istrinya yang sudah terlelap damai. Pria itu lekas merebah, mengikis jarak dengan menempelkan bibir itu pada kening istrinya, lalu mendekap dengan sayang sebelum akhirnya ikut terlelap.
Shali membenahi posisi tidurnya, ia terjaga begitu saja karena merasa ada yang protes dalam dirinya. Sepertinya cacing di perut perempuan itu berdemo sehingga menyebabkan Shali begitu merasa harus mengisi dengan makanan malam itu juga. Shali memicing, meneliti kasur bagian suaminya yang sedang terlelap, ia pun tak sampai hati membangunkan. Bangkit dari pembaringan dan langsung mencari air putih karena merasa haus dan juga lapar.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi, begitu melintas di kamar adik iparnya nampak suara-suara kegaduhan terdengar oleh rungunya. Perempuan itu tersenyum sendiri mengingat kamar di depanya adalah pengantin baru yang masih kecil. Shali pun melanjutkan perjalanannya, namun ia masih kepikiran.
"Saat ini bahkan sudah larut, kuat sekali mereka begadang hingga semalam ini," gumam Shali tak habis pikir.
Perempuan itu melanjutkan ke rumah utama, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sungguh baru pertama kali ini, perempuan itu merasa begitu lapar. Saat Shali menemukan ide yang paling sederhana dan beranjak menuang air ke panci, seseorang tiba-tiba muncul dengan wajah berantakan di sekitar dapur membuat Shali kaget dan menjerit histeris.
"Astaghfirullah ... ngagetin aja sih!" tegur Shali mengelus dadanya dramatis.
"Kamu ngapain, malam-malam begini di dapur?" tanya Azmi sembari menuang air putih lalu meminumnya.
"Lapar, mau buat mie instan," jawab Shali jujur.
"Owh ... gitu, Bang Aka udah tidur?" tanyanya lagi sembari membuka kulkas terus mengeksekusi beberapa potong kue dari sana. Ia membawa sebotol air minum beserta cake dalam piring kecil.
"Mau?" tawar Azmi demi melihat kakak iparnya memperhatikan bawaanya begitu saja.
"Nggak kok, lagi pingin makan mie, itu buat Nashwa ya, dia kelaparan juga?" tanya Shali berpikiran sesuai isi kepalanya.
__ADS_1
Azmi hanya nyengir tanpa dosa, lalu beranjak dari sana.
"Sayang, kamu ngapain di sini?" tanya Aka yang tiba-tiba muncul menghampiri.