
Mata Shali kembali terbuka saat merasakan sentuhan lembut tepat di bagian tubuh depannya.
"Dek?" Pria itu menatap sayu penuh kabut gairah. Membaca doa lalu mengecupnya dengan sayang.
"Kamu udah nggak marah?" tanya Shali kembali membuka matanya. Kantuk yang sempat menyerang tiba-tiba pulang dengan sayang.
Aka menggeleng pelan, "Emang aku nggak marah, cuma kesel aja udah nahan dari tadi. Kamu sengaja ya bikin aku frustrasi gini," ujar pria itu mendekap manja.
"Nggak lah, dari hati malah. Nggak suka ya, ya udah aku ganti aja."
"Iya nggak suka lihat kamu pakai baju, lebih elok kalau tanpa sehelai benang pun. Aku makin suka dan gumush." Pria itu menggigit kecil tubuh bagian depannya hingga menimbulkan tanda merah di kulitnya yang putih.
Shali mendesah tertahan saat bibir suaminya bermain di sana. Menarik sejumput rambutnya lalu refleks merem@sma lembut. Membuat pria itu semakin menenggelamkan dirinya dalam lautan gelora yang membara.
"Kamu kenapa baru pulang? WA aku juga nggak dibalas?" todongnya mulai berani protes di tengah rasa yang mulai panas.
"Ponsel aku mati kehabisan daya. Lupa bawa charger, emang kamu hubungi aku? Aku pikir kamu nggak bakalan peduli aku mau pulang cepat atau terlambat," ujar Aka sembari menghirup wangi tubuhnya.
__ADS_1
"Pengennya sih gitu, sayangnya aku berdosa kalau nggak peduli sama kamu," jawab Shali jujur.
"Sedih sebenarnya kalau dengar dari mulut kamu cuma sebatas hak dan tanggung jawab, apa kamu belum tertarik dan cinta sama aku?" tanya pria itu menatapnya lekat.
"Lagi belajar, Mas, memahami hatiku agar terpaut padamu. Aku malah kurang yakin sama kamu, terlalu menyangsikan," ucap Shali cemberut.
"Kamu masih ragu sama aku? Kita memang baru sebentar menjalani ini, tetapi percayalah bahkan hatiku tak mampu berpaling sedikitpun dari kamu. Semakin hari yang aku rasakan semakin dalam dan semakin bertambah rasa cintaku."
"Kamu baru saja ngisi kajian di pesantren Kyai Amar, ah pasti kamu senang bisa melihat anaknya," tuduh Shali lepas saja.
"Astagfirullah ... ini ceritanya menuduh atau cemburu?" tanya pria itu gemas sendiri.
"Ngisi kajian biasa, Dek, sebenarnya abah yang diundang, namun karena beliau berhalangan hadir menyuruhku untuk menggantikannya. Lagian kamu mikirnya aneh aja, mana mungkin aku sempat melirik perempuan lain kalau di rumah ada yang modelan kaya gini. Bikin gemes aja." Aka tersenyum lembut sembari mencubit hidungnya. Lalu menatapnya lekat penuh damba.
Aka menarik tangan istrinya dan membawa ke dadanya. Mata mereka saling bersirobok, mengunci dalam diam.
"Kalau kamu mencintai aku satu degup jantungmu, aku akan membalas dengan seribu degup jantung yang berdetak menyambut namamu," ucap Aka sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Kamu bisa merasakannya 'kan?"
Shali tersenyum malu-malu. Tangannya masih dalam genggaman.
Aku pikir ini adalah filosofinya. Selalu ada perhitungan dalam setiap jengkal langkah. Di mana aku akan berlari sedikit cepat, menarikmu membawa ke dalam panah asmara yang menggebu. Semoga cepat hadir malaikat kecil di sini, untuk mewujudkan kehidupan baru. Buah cinta kita berdua." Aka mengelus perut istrinya yang datar.
"Mas menginginkan anak?"
"Tentu saja, siapa sih yang nggak pingin punya keturunan dari pasangannya. Bukankah ini adalah salah satu tujuan yang paling didamba dan dinantikan setiap pasangan halal."
"Aku masih belum siap," jawab Shali jujur.
"Kita nikmati saja prosesnya. Semua pasti akan sampai di sana," jawab pria itu seraya membuai istrinya.
"Sekarang bantu aku menuju petanya. Mewujudkan apa yang menjadi keinginan batin kita," ujar pria itu semakin merapatkan diri.
Cukup sekali tarikan saja, pakaian yang Shali kenakan sudah teronggok di lantai dasar tak bertuan. Pria itu mengagumi apa yang nampak di depan matanya penuh damba. Tersenyum, tanpa aba-aba langsung menyatukan napas mereka. Merengguk pahala indah di setiap helaan napasnya.
__ADS_1
Malam itu, pasangan halal itu kembali merengguk indahnya madu pernikahan. Saling melepas angan, hingga melambung jauh sama-sama melayang. Shali terlihat sudah lebih pintar menyambut setiap sentuhan yang diciptakan Aka. Perempuan itu benar-benar membuat suaminya kecanduan. Ingin mengulang, dan terus mengulang.
"Dek, makasih sayang, istirahatlah ...." ucap pria itu menarik dalam pelukan, lalu mengecup beberapa kali puncak kepalanya. Shali terpejam dalam pelukan suaminya.