Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 79


__ADS_3

Mobil Aka terparkir di halaman rumah menjelang isya. Bahkan Aka tidak sempat masuk ke rumah, pria itu langsung bergegas ke masjid supaya tidak tertinggal berjamaah bersama. Shali nampak masuk seorang diri, dengan tas suaminya dalam genggaman.


"Assalamu'alaikum ...." Salam perempuan itu begitu menginjakkan kakinya di rumah.


"Waalaikumsalam ... baru pulang?" Azmi yang kebetulan hendak keluar, mereka berpapasan.


"Iya, kamu mau ke masjid?"


"Gimana keadaan kamu, udah mendingan?" tanya Azmi masih kepikiran.


"Alhamdulillah udah baikan, silahkan kalau mau ke masjid."


"Alhamdulillah ... syukurlah, aku ikut lega dengernya." Pria itu tersenyum sembari berjalan keluar.


"Aku jamaah dulu ya, assalamu'alaikum!" seru Azmi bergegas, meninggalkan senyuman manis di wajahnya.


Shali menggeleng pelan seraya melanjutkan jalannya. Perempuan itu berjalan gontai menuju kamarnya. Bersantai sejenak, lalu membersihkan diri di kamar mandi. Usai mandi dan berganti dengan yang bersih, Shali menantikan kepulangan Aka sembari sibuk di meja belajar.


Suara pintu terbuka dibarengi salam, mengalihkan atensi perempuan yang tengah sibuk memainkan penanya.


"Mas!" seru perempuan itu berdiri, meninggalkan meja lalu menyambut hangat kedatangan suaminya.


"Dih ... cantik banget, Dek, malam-malam gini malah bikin melting," puji Aka sembari meraih pinggangnya, lalu mendaratkan satu kecupan sayang di keningnya.


"Namanya juga perempuan ya cantik, Mas," jawab Shali tersenyum.


"Kamu mau mandi 'kan? Lepasin dulu, Mas, aku siapin air hangatnya," ujar Shali mengendurkan dekapan Aka yang memenjara pinggangnya.


Pria itu tersenyum, mengekor istrinya yang pergi ke kamar mandi. Shali tengah menyiapkan air hangat untuk suaminya. Mengatur suhu air panas di water heater.


"Mandi lagi yuk, Dek," gurau Aka yang seketika membuat Shali memasang wajah waspada.

__ADS_1


"Jangan nakal Mas, aku udah mandi ... becanda kamu nggak lucu ya, awas aja kalau berani basahi aku, bakalan ngambek tujuh hari tujuh malam."


"Serem amad sih Dek, ngajakin mandi bareng 'kan pahala," jawab Aka enteng.


"Nggak untuk saat ini, pokoknya nggak mau dan jangan rusuh!" peringatnya cukup galak dan malah membuat Aka gemas sendiri.


Pria itu meraih tubuh istrinya saat Shali hendak keluar. Menciumnya dengan gemas penuh perasaan. Napas keduanya sama-sama berlomba saat pagutan mereka terlepas. Saling menatap dengan napas terengah. Kompak keduanya tertawa bersama setelahnya, apalagi Shali sempat menghadiahi cubitan gemas nan manja di pinggangnya karena Aka tak membiarkan dirinya keluar dari sana.


"Hubby ... buka pintunya, aku mau siapin ganti buat kamu," rengek perempuan itu manja.


"Mandi By, nanti kamu masuk angin kalau banyak becanda nggak pakai baju gini."


"Nanti terusin ya, Dek, kamu punya hutang," celetuk Aka sembari meloloskan istrinya. Shali mengiyakan saja dengan senyuman. Perempuan itu keluar lalu menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaian suaminya. Setelahnya kembali ke meja belajar menyibukkan diri di sana.


Aka yang keluar cuma dengan handuk yang melilit pinggangnya berjalan mendekati meja belajar. Pria itu sengaja merusuh di sana. Menciumi dengan gemas puncak kepala istrinya, mengusak lembut ceruk lehernya.


"Serius amad sayang, mau dibantuin nggak?" tanya Aka sembari bergelayut manja di pundak istrinya.


"Bisa kok, memanjakan suami saat istrinya berhalangan, nanti aku bisikin caranya," bisik Aka nakal. Seketika Shali menyorot horor suaminya.


"Lihatnya jangan gitu, Dek? Nanti aku gigit beneran," ucapnya belum mau beranjak.


"Emang boleh?"


"Boleh, asal kamu yang lakuin, menjadi berdosa bila aku ngelakuin sendiri, tetapi kalau kamu yang bekerja boleh, malah dapat pahala, itu namanya istri solehah yang cukup pengertian."


"Untuk malam ini, nggak dapat gelar itu nggak pa-pa kok, aku geli Mas," sanggahnya bingung.


"Nggak juga nggak pa-pa kok, aku sabar, seminggu lumayan lama ya. Haha." Aka tertawa sendiri.


"Pakai baju, By, nanti masuk angin!" tegurnya merasa gemas.

__ADS_1


"Siap ya zawjati," ucap Aka tersenyum.


"By, ngapain?" Shali menatap curiga saat Aka menariknya ke ruang ganti.


"Takut banget sih, Dek, orang cuma minta ditemenin, terus pakaiin bajunya biar feelnya dapat."


"Awas ya macam-macam!" salaknya galak.


"Takut, sayang!" Aka menariknya lalu mencumbu istrinya penuh perasaan. Vibrasi telepon yang memekik menjeda aktivitas mereka berdua.


"Bentar Mas, ada telepon," ucap Shali meninggalkan Aka di ruang ganti. Perempuan itu menarik sudut bibirnya saat melihat id caller yang tertera pada layar ponselnya. Ia pun segera menggeser tombol hijau lalu mengobrol cukup lama. Suaminya menyimak dengan hati bertanya-tanya.


"Siapa Dek?" tanya Aka begitu telepon Shali tutup.


"Mommy, dapat undangan di nikahannya saudaranya Tante Raya. Boleh datang 'kan? Katanya juga suruh mampir ke rumah, karena mommy punya kejutan buat aku. Aku 'kan hari ini ulang tahun, selain ngucapin buat aku, mommy sama daddy tuh katanya punya surprise, tetapi nunggu kita datang. Kira-kira surprisenya apa ya, Mas, jadi nggak sabar pingin pulang," ucap Shali cukup antusias.


"Kamu kangen sama mommy?"


"Iya lah, aku 'kan udah lama nggak pulang, terakhir pas awal-awal kita nikah dianterin Azmi doang, terus kamu nyusul, aku besoknya masuk rumah sakit."


"Ya Allah ... masih inget aja, ya udah besok ke rumah mommy," ujar Aka antusias.


"Jangan besok, aku 'kan kuliah, jumat aja aku kuliah pagi, habis dari kampus langsung pulang ke rumah mommy, lagian undangannya juga sabtu, kita berangkat bareng-bareng sama mommy sama daddy."


"Oke deh ... tak nurut sama istri aja, udah selesai ngerjain tugasnya?"


"Belum, bantuin ya?"


"Hmm ... seneng kamu ya Dek, harusnya nilainya bagus ini, setiap malam ditutorin sama aku."


"Biasanya juga gitu 'kan Mas." Mereka mulai serius belajar bersama.

__ADS_1


__ADS_2