Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 121


__ADS_3

Nampaknya Shali tengah ngidam, beberapa kali membuat repot suaminya dengan meminta jajanan di tengah malam. Seperti malam ini yang tiba-tiba menginginkan nasi goreng babat yang letaknya ada di jalan puncak. Tentu saja itu jauh, entah dari mana keinginan itu berasal, yang jelas Shali enggan nasi goreng yang lainnya dan juga tidak mau tidur. Dengan segenap rasa sabar, pria itu yang nampak lelah sehabis pulang dari pesantren, mengiyakan saja.


"Sayang, ayo ...! Bayi kamu rewel sekali By, tolong aku lapar," rengek perempuan itu manja.


"Sabar umma sayang, pakai jaketnya dulu ini sudah malam," tegur pria itu setengah semangat.


"Kamu kok nggak semangat, nggak mau ya, kalau nggak mau ya udah aku minta tolong orang lain aja ya buat nganter." Shali merajuk.


"Siapa yang nggak mau sih, sabar dulu, kita berangkat nanti Mas anter, udah diem pakai jaketnya, kaus kakinya juga."


Pria itu berjongkok, memakaikan kaus kaki istrinya agar lebih hangat. Bahkan Aka setiap hari menyediakan sandal di bawah ranjang tempat tidur, menyiapkan Shali agar tidak dingin jika terbangun dan beranjak dari tempatnya. Aka benar-benar memanjakan istrinya saat ia hamil, pria itu memberikan kegiatan positif. Mendoktrin rasa percaya diri dan semangat istrinya, bahwa hamil itu enak, pasti akan disayang suami dan happy. Agar Shali tidak ragu lagi untuk hamil lagi, dan lagi.


"Dingin nggak? Mau dobel jaket?" tawar pria itu ketika baru saja turun dari mobil.


Mereka baru saja sampai di area warung lesehan nasi goreng Petruk yang cukup jauh ditempuh dari rumahnya. Hampir lima puluh menit perjalanan dan menemukan tempatnya yang begitu ramai. Aka dan Shali harus mengantri beberapa menit untuk sampai pada gilirannya. Keduanya sengaja mengambil duduk memojok agar tidak berdesakan dan sedikit nyaman.


"By, pesanan kita masih lama ya, laper nih!" keluh perempuan itu merasa tak sabaran.


"Sabar sayang, mungkin sebentar lagi giliran kita, kamu kenapa rekomendasikan di sini? Pernah ke sini?"


"Pernah dong, sama mommy dan daddy, Reagan juga. Kita sering kulineran bareng kalau pas lagi ngumpul di rumah. Kangen banget pingin coba, semoga rasanya masih enak kaya dulu."


"Pesanannya, Mas, Mbak, silahkan!" ucap seorang pelayan warung menaruh dua porsi nasgor legendaris. Dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera.

__ADS_1


Keduanya makan dalam diam, Aka nampak begitu menikmati. Berbeda dengan Shali yang hanya beberapa suap saja itu pun setelah dibantu tangan suaminya yang menyuapi.


"Kenapa, Dek? Habisin katanya minta," bujuk Aka sembari menghabiskan isi piringnya.


"By, ini kenapa rasanya beda ya, kamu begitu menikmatinya tapi lidah aku berasa beda. Apa karena aku hamil ya, aku mau makan yang lain saja."


"Yang lain? Apa sayang, ini enak kok."


"Nggak mau, udah Mas, nanti aku muntah," tolaknya menutup mulutnya.


"Oke, nanti kita cari yang lain ya, aku habisin dulu, sayang banget udah dibeli." Pria itu menghabiskan isi piringnya sendiri ditambah punya istrinya. Aka terlihat begitu berselera padahal awalnya Shali yang minta.


"Mau jajan apa lagi?" tanya pria itu setelah usai melakukan pembayaran dan kembali ke mobil.


Aka pun kembali menggulir roda-roda besinya, meneliti setiap sudut jalan mencari tukang sate yang mangkal di pinggir jalan. Rasanya gemas dan ingin pulang, namun ia sungguh tidak bisa menolak itu.


"Alhamdulillah, itu kali ya Dek, itu ada tukang sate!" tunjuk Aka berbinar.


Aka segera menghentikan mobilnya, menepi lalu bergegas turun.


"Kamu sini aja ya, nggak usah turun, dingin, kita pesan aja, lalu bawa pulang makan di rumah," ujar pria itu berjalan cepat.


"Pak, satenya satu porsi ya? Dibungkus ya, Pak, pedes dikit," pesannya ramah.

__ADS_1


"Maaf Mas, habis," jawab tukang sate itu sungkan.


"Lho itu, masih ada 'kan?"


"Sudah dipesan orang semua, Mas, besok saja datang lagi."


"Gitu ya Pak, nggak bisa kalau nyempil satu bungkus, istri saya lagi hamil, dari tadi nyari-nyari sate sesuai keinginannya, mungkin belum rezekinya kali ya." Aka pamit dengan kecewa. Itu artinya ia masih harus mlipir lagi ke jalanan mencari apa yang diinginkan istrinya.


"Sayang, udah habis, cari yang lain aja ya?" sesal Aka merasa kasihan.


"Yah ... mana aku masih lapar dan pengen lagi, ya udah deh, kita pulang aja."


"Nyari lagi nggak pa-pa, mungkin depan ada," tawar Aka menenangkan.


"Mas, Mas, ini satu bungkusnya, gratis buat istrinya yang tengah hamil, semoga sehat selalu ya?" Tiba-tiba ibu yang tengah antri tadi menghampiri mobilnya dan memberikan gratis.


"Mase kok mirip Ustadz yang ada di TV ya, siapa itu ya yang suka ngisi kajian pagi-pagi," ujar ibu-ibu itu.


"Owh, itu adik saya, Bu, Azmi. Saya Aka, mirip ya Bu? Aamiin, makasih ya Bu, semoga rezekinya ditambahkan."


"Iya bener, Ustadz Azmi, owh adiknya toh! Aamiin, makasih ya, doa kebaikan kembali pada saudara."


Ibu tadi menggumamkan doa, lalu pergi. Sementara Aka dan Shali bersyukur juga akhirnya malam itu mereka pulang tanpa banyak drama lagi.

__ADS_1


__ADS_2