Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 89


__ADS_3

"Kamu selalu oke di mata aku, yank," jawab Daddy Sky tersenyum.


Pemandangan itu pun tak luput dari netra ketiga anaknya yang berjalan tepat di belakang mereka.


"Mom, jalan Mom, jangan bikin yang jomblo tambah tersiksa," tegur Reagan menyorot sengit.


"Salah kamu sendiri, ke kondangan tuh aturannya bawa pasangan la kamu malah bawa kembaran, yang sialnya udah punya gandengan halal," ledek ayah dua anak itu semakin menjadi.


"Astaga, Dadd, anak kesayangan Mommy jangan digituin, aku pasangan sama kamu aja sini sayang."


"Lho, kok jadi aku? Mana ada ibu dan anak, yang ada suami dan istri, Re kamu jalan depan sana duluan, siapa tahu nemu hilal nanti di tempat kondangan."


"Aku bareng sama Shali aja, Bang nebeng ya?" Izin Reagan mengkode Aka, pria itu sendiri melirik tak setuju, namun Reagan cuek saja.


Reagan menggamit tangan kiri adiknya sementara Aka menggandeng lebih rapat tangan kanan istrinya. Shali sendiri merasa nyaman-nyaman saja berada di tengah mereka. Namun, sepertinya Akan kurang nyaman, membuat ia gemas sendiri dengan kembaran istrinya itu yang terus menempel.


"Sendal kamu nggak nyaman? Kok jalannya kaya susah gitu?" tegur Reagan yang membuat seketika Shali susah menjawab.


"Nggak kok, nyaman, udah jalan kamu duluan sana nyusul mommy tuh, udah di depan, aku mau jalan pelan-pelan," jawab Shali seraya melirik sengit suaminya.


"Emang segitu nggak nyamannya ya, sampai Reagan peka gitu?" bisik Aka setelah kakak iparnya menjauh berjalan mendahului.


"Tahu ah, kamu sih nggak tahu banget kondisi kalau kita mau pergi, aku tuh masih pegel, ngilu, lah pokoknya!" Shali terlihat mrengut.


"Ya maaf, sorry, aku mana bisa berhenti kalau kamu kasih kebebasan. Jangan cemberut gitu, aku gendong aja ya?" Aka menyorot lembut istrinya yang merajuk, terlihat lucu dan manis. Benar saja dirinya semalam sedikit khilaf, hingga membuat istrinya benar-benar merasa tidak nyaman. Ia pun terkekeh geli membayangkan adegan panas mereka yang selalu berhasil membuatnya candu, bila mungkin ingin mengulangi lagi dan lagi.


"Ihk ... kok senyum-senyum sih, orang lagi kesel juga. Ini juga kenapa rumah saudaranya tante Raya nyempil gini sih, kenapa hari ini nggak asyik banget!" Shali terus menggerutu sepanjang berjalan. Aka hanya menyimak, menjadi pendengar setia yang kadang tak tahan senyum juga dengan celotehan istrinya yang menurutnya sangat lucu.


"Mas, tunggu dong, masuknya barengan, itu Shali dan suaminya masih di belakang."

__ADS_1


Ucapan mommy menghentikan langkah kaki daddy yang penuh semangat.


"Apa dia sakit, sepertinya anak kita dari tadi uring-uringan."


"Sepertinya Aka salah strategi sayang, makanya Shali kesal. Haha." Bapak dari dua anak itu malah tertawa dengan menaik turunkan alisnya.


"Dasar, bapak-bapak suka nakal!" Disya ikut mengomel.


Mereka masuk ke tenda, nampak disambut oleh keluarga besar dari Tante Raya dan Om Rasya, semua berkumpul di depan untuk menyambut tamu undangan yang datang.


"Selamat datang, Bang, Dek," salam Raya pada Daddy Sky dan Mommy Disya.


"Ya ampun ... ponakan Tante nikah nggak undang-undang." Raya memeluk gemas ponakannya Shali. "Ini suaminya kamu to Shal?"


"Iya Tante, Mas Aka," jawabnya sembari tersenyum.


"Bunda Yuki belum datang?"


"Nanti sore katanya, Ayah sedang ada acara sebentar, nanti datang, aku kira bakalan bareng, rame kaya reuni keluarga bareng Daharyadika."


"Kapan kamu ngadain syukuran, diam-diam aja nikahin anaknya," kepo Rayya penuh selidik.


"Nanti, sedang mau dirembug, Aka sibuk sekali, dan Shali terbentur jadwal kuliah, nunggu mereka deal."


"Nemu mantu di mana, kelihatannya kalem bener?"


Mommy Disya dan Tante Rayya nampak bergosip. Daddy dengan Om Rasya, sementara Reagan entah ke mana, yang jelas masih di area resepsi. Shali dan Aka lagi sibuk mencicipi menu kondangan.


"Mas, aku mau dimsum, sama es krim," pinta Shali. Aka dengan senang hati mengambilkan untuk istrinya.

__ADS_1


"Kamu nggak makan?"


"Nanti, aku mau makan bareng kamu," jawab Aka sembari menghabiskan es krim Shali yang cuma dicicipi.


"Ya udah ayo ke meja prasmanan aja." Shali berdiri mengantri makanan.


"Kamu duduk aja sayang, biar aku yang ambilin," ujar Aka perhatian.


"Jangan Mas, bareng nggak pa-pa, entah ini perasaan aku saja atau nggak sih, kok orang-orang berasa lihatin kita?"


"Iya, mungkin kagum sama keuwuan kita. hehehe."


"Bisa jadi, itu karena kamu terlalu tampan, makanya tuh para cewe-cewe pagar ayu pada caper."


"Perasaan kamu aja Dek?" jawab Aka menggeleng kecil. Ia tersenyum sumringah mendapat pujian bernada cemburu dari istrinya.


"Mas, kapan pulangnya sih, Mommy ini lagi ke mana, hebring bener kondangan bareng emak-emak."


"Namanya juga ketemu saudara ya seneng Dek, biarin aja mereka ngobrol, kita di cukup menikmati acaranya."


"Bang Re, dari mana sih, eh tolong fotoin kita dong, ayo Mas foto berdua, yang kece ya Re," pinta Shali berpose.


Di dekat pintu masuk, memang disediakan stand foto bagi tamu undangan yang hadir. Mereka bisa memanfaatkan area yang sudah disulap untuk memenuhi kepuasan tamu undangan.


"Mas, pulang dari sini giliran kita ya yang resepsi, seru juga kayaknya para bestie ngucapin selamat," ujar Shali tersenyum.


"Udah siap nih ceritanya go public. Seantero penduduk kampus bakalan tahu, Adek udah siap? Aku sih seneng!"


"Jadi istrinya Pak Akara Emir, terkenal dosen dingin, si manusia kutub yang lempeng dan terkenal tak ada basa-basi. Siapa takut! Haha."

__ADS_1


__ADS_2