
"Jangan gitu, sakit sayang, adoh ....!"
"Habisnya Mas tuh ngeselin, hobby banget bikin aku susah jalan, mana pas banget ada acara gini, tuman!"
"Iya sayang, maaf, kebetulan aja. Habisnya gimana ya, aku mana tahan nggak sentuh kamu, sedangkan diri ini sangat menginginkan setelah beberapa hari menahan diri."
"Cowok emang gitu ya, pikirannya itu mulu, mesum!" Shali mencebik gemas. Aka kali ini hanya menanggapi dengan senyuman, lalu menarik sedikit tubuh istrinya, pria itu mendekat dan mencium pipinya sekilas.
"Sana temui Nana, Mas ke dalam dulu!" Mereka berhenti tepat di depan kamar Azmi. Shali mengangguk dengan senyuman, suaminya itu selalu lembut dan manis dalam setiap kesempatan.
Shali mengetuk pintu kamar Nashwa terlebih dahulu, menemukan Nashwa yang nampak menautkan jari jemari cemas.
"Kak, kakak Shali bisa bantu?"
"Bantu apa, Dek? Kamu kenapa pucet gitu sih, sakit?" tanyanya khawatir.
"Aku nggak tahu kak harus menyikapi yang seperti apa, jujur aku merasa takut menjalani ini semua, apalagi aku masih sekolah, aku tidak punya waktu untuk bilang ke Azmi, tolong kakak sampaikan kalau aku ingin tidur di asrama setelah menikah."
Nashwa memang belum genap tujuh belas tahun, dan tidak munafik ia juga mengagumi sosok Azmi. Namun, entah mengapa kalau untuk menjadi istrinya dalam waktu relatif singkat mendadak Nashwa takut harus bersikap layaknya istri pada umumnya. Gadis itu pun resah sendiri, pastinya kehidupan dirinya akan tunduk di bawah aturan Azmi. Sedang Nashwa tipikal orang yang tidak suka diatur-atur.
"Owh gitu, iya nanti kalau ada kesempatan aku bilangnya, tapi—apa nggak sebaiknya hal seprivasi itu dibicarakan berdua saja Dek, nanti setelah menikah kalian berembug gitu biar enak."
Saat Shali dan Nashwa tengah berbincang akrab, Aida masuk ke kamar Nashwa bersama seseorang dari MUA. Walaupun pernikahan mereka dilakukan secara tertutup dan dihadiri warga pesantren saja, namun gadis itu akan dirias secantik mungkin layaknya pengantin sungguhan.
__ADS_1
"Kenapa harus dirias Mbak? Sepertinya nggak perlu, ini kan cuma pernikahan siri saja," tolak Nashwa merasa keberatan.
"Biar ada kenang-kenangannya Dek, lagian kamu postur tubuhnya bagus, tingginya aja menyamai Shali, kalau nggak pakai seragam sekolah nggak kentara masih bocah," seloroh Mbak Aida tersenyum.
"Nggak pa-pa Na, masa hari spesial nggak ada perubahan, ya mana oke. Udah nurut aja, kakak tinggal bentar ya?" pamit Shali dan Aida yang keluar dari bilik kamar secara bersamaan.
"Sha, kamu—" Aida yang semula berjalan cepat memelankan langkahnya, meneliti dengan seksama adik iparnya itu.
"Kenapa Mbak?" tanya Shali bingung. Aida malah tersenyum menggoda sembari menatap Shali.
"Kamu—hehehe. Semoga cepet isi ya, dikaruniai anak yang sholeh sholehah. Aamiin."
Shali ikut mengaminkan dengan kikuk, tetapi untuk hamil sendiri, Shali sebenarnya belum siap. Perempuan itu masih ingin menikmati masa-masa pacaran dulu, dan juga merasa masih terlalu repot jika hamil sambil kuliah, perempuan itu gamang sendiri.
Nampak suasana rumah Kyai Emir sudah ramai orang-orang penting pesantren dan juga kerabat dekat dan tokoh masyarakat tang sengaja diundang. Azmi sudah duduk di antara mereka dengan pakaian terbaiknya. Keluarga Pak Bisma juga sudah nampak hadir di sana, dengan kelompok putri di ruang tengah.
"Assalamu'alaikum Tante!" Shali menyalim takzim orang-orang yang ada di ruang tengah.
"Waalaikumsalam, sayang Nashwa mana?"
"Masih dirias? Tante mau ke sana?"
"Boleh sayang, tolong antar Tante ke sana," ujarnya bangkit dari duduk.
__ADS_1
Shali mengantar Tante Nabila ke kamar Nashwa, begitu kamar itu terbuka sosok cantik nan anggun putri kecilnya langsung nampak oleh matanya. Bila pun berkaca-kaca menatap anak bungsu mereka.
"Bun, Bunda udah datang, maafkan Nashwa Bub, udah bikin Bunda nggak tenang pastinya, bikin Bunda kecewa dan Bikin Bunda nangis," sesal Nashwa dengan sendu. Gadis itu mengembun.
"Kamu cantik sekali sayang, jodoh itu kan rahasia Tuhan, kita tidak pernah tahu akan datang cepat atau sedikit terlambat, kamu pasti bisa membuat Bunda dan Ayah bangga, Nashwa anak sholehah," ucap Bila menenangkan putrinya sembari memeluk.
"Bun, aku deg degan, aku beneran nikah ini?"
"Sayang, tenang ya, berdoa semoga acaranya diberikan kelancaran," ucap Bunda Bila menenangkan.
Shali dan Bunda Bila menuntun Nashwa yang sudah selesai dirias menuju rumah utama. Kedua tangannya yang terasa dingin digenggam Shali dan juga bundanya. Mereka duduk berderet di ruang tengah sembari mendengarkan ceramah singkat ustadz Edward yang membuka acara.
Tepat saat Bisma dan Azmi mulai berjabat tangan, lalu mengumandangkan kalimat sakral itu, Nashwa berdoa dengan sepenuh hati. Memohon agar pernikahannya selalu diberikan kebahagiaan dan keberkahan, diridhoi dalam setiap titian kebersamaan mereka.
"Sah?"
"SAH!"
"Sah!"
"Alhamdulillah ....!"
Doa kebaikan langsung mengiringi terdengar bergemuruh mendekat. Sama dengan Azmi yang nampak sudah sedikit lebih lega setelah mengucapkan ijab qobul itu. Nashwa justru masih merasa speechless dengan apa yang telah merubah statusnya menjadi baru.
__ADS_1