
Hallo ... please siapa pun orang yang yang mendengarnya, tenggelamkan aku ke rawa-rawa.
"Pasien butuh istirahat, jangan diajak ngobrol terus," ujar Shalin merebah, lalu memunggungi suaminya. Pipinya mendadak panas.
Aka tersenyum tipis melihat istri kecilnya malu-malu. Dia terlihat begitu imut dan menggemaskan. Pria itu mengelus lengannya lembut.
"Istirahatlah ... aku akan menunggumu dari sini," ujar pria itu beranjak.
Sore harinya Mommy Disya dan Sky kembali ke rumah sakit, melihat perkembangan putrinya. Perempuan itu sedikit memberikan wejangan untuk menantu kesayangannya.
"Nak Aka, maafkan Shalin ya mungkin masih kekanak-kanakan dalam menjalani rumah tangga, semoga kamu sabar menghadapi sifatnya yang manja, tolong juga ingatkan dia untuk selalu makan, dan hal-hal kecil yang lainnya. Shalin masih suka cuek dengan tubuhnya sendiri," pesan Mommy Disya yang membuat Aka langsung merasa bersalah seketika.
"Aka minta maaf, Mom, tidak bisa menjaga Shalin dengan baik, insya Allah tidak akan terulang lagi." sesalnya penuh rasa bersalah.
"Bukan salahnya Mas Aka, Mom, kemarin dia udah ingetin aku kok, udah bangunin Shalin juga, tetapi akunya yang nggak mau dan memilih tidur," bela Shalin diluar dugaan. Membuat seketika tatapan haru terpancar dari wajah suaminya.
"Makanya jangan bandel, udah punya suami itu harus bisa nempatin diri dengan baik. Kasihan Aka harus nungguin kamu di rumah sakit," omel Disya.
"Apa sih Mom, orang lagi diuji juga, ya mau gimana lagi, Mas Aka nggak keberatan kok nungguin aku, dia pasti nggak mau kalau disuruh pulang, iya 'kan Mas?" goda gadis itu tersenyum.
"Iya Mom, Shalin 'kan tanggung jawab Aka sekarang, Mommy jangan khawatir ya, Aka bakalan jagain Shalin sampai sembuh."
Disya tersenyum memperhatikan anak dan menantunya yang sepertinya sudah ada getar-getar asmara menyebar. Walaupun pernikahan mereka dadakan, Disya berharap rumah tangga mereka bisa berjalan selayaknya rumah tangga normalnya.
"Jadi malam ini Daddy sama Mommy pulang aja Nih, atau gimana? Aka mau jaga?"
__ADS_1
"Iya Dadd, biar Aka yang jagain Shalin, Daddy sama Mommy pulang saja."
"Tuh sayang, kamu yang tenang ya, menantu kita the best banget kok buat Shalin. Aka pasti jagain Shalin dengan baik," ujar Sky. Disya mengangguk.
Sebenarnya naluri seorang ibu itu tidak akan pernah jauh dari praduganya. Ingin sekali wanita itu memberikan hadiah rumah atau tempat tinggal, namun takut membuat Aka tersinggung, terlebih dia mengajar di pesantren yang pastinya tidak bisa jauh dari sana. Disya hanya khawatir Shalin berulah dan menyebabkan keluarga suaminya tidak suka. Biar bagaimana pun dirinya pernah merasakan tinggal bersama mertua walau sebentar, dan itu pasti ada rasa tidak nyaman.
"Aka, kalau ada yang tidak berkenan dengan putri kita, tegur saja, Daddy akui, dia masih belum dewasa dan mungkin banyak salah dalam melayanimu, kalau kamu merasa tidak menyukainya, tolong bersabar dan jangan katakan apapun dengan Shalin, kamu bisa katakan padaku kalau kamu tidak mencintainya, atau tidak menginginkan hidup bersamanya. Daddy akan menjemputnya kembali." Mereka tengah duduk di sofa berdua lumayan jauh dari ranjang.
Merasa masih banyak sekali kekurangan dengan putrinya, ditambah pernikahan dadakan mereka, seorang ayah hanya takut, terjadi sesuatu di luar dugaan.
Aka tersenyum lembut menimpali, pria itu menggeleng yakin.
"Insya Allah, Aka sabar membimbingnya Daddy, terima kasih sudah menitipkan Shalin untukku, aku akan menjaga semampu yang Aka bisa, semoga Allah merestui takdir kita untuk tetap mengarungi rumah tangga sampai akhir nanti."
"Astaghfirullah ... jauh sekali aku mikirnya, prosesnya aja masih seret dinego, ini malah udah ngebayangin putri mereka nikah nantinya," batin Aka tersenyum sendiri. Pria itu menggeleng pelan merasa lucu.
Hingga menjelang petang, orang tua Shalin pamit dari sana, tinggalah mereka berdua. Yang pasti lagi-lagi membuat suasana mendadak canggung.
"Dek?" Aka mendekati ranjang, mereka baru saja selesai sholat Isya berjamaah.
Pria itu mengulurkan tangannya, seketika Shalin menerima uluran tangan itu dan menciumnya dengan takzim. Gadis itu sholat dengan duduk karena masih lemas untuk berdiri. Selang infus juga masih terpasang rapih.
Aka mengikis jarak, mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Setelahnya duduk di bibir ranjang seraya memperhatikan wajahnya yang sudah tidak begitu memucat.
"Aku boleh ikut tiduran sini nggak, Dek, biar nyaman."
__ADS_1
Belum sempat Shalin menjawab, Aka langsung naik ke atas ranjang rumah sakit, lalu memeluknya dari samping.
Sumpah demi apa, kalau nggak sedang sakit, sudah pasti kena tendangan, atau lemparan angin avatar. Pria itu selalu bertindak diluar dugaan, dan pastinya bikin orang normal deg degan.
"Dek, jantung kamu deg degan cepet banget, aku sampai denger lho?" ujarnya menggoda.
"Dia baru saja terkena serangan sasuke, hinata, dan jiraya, kamu paham 'kan, Mas, sekarang mau minggir dengan suka rela atau minggat dengan terpaksa."
"Nggak mungkin, kamu 'kan baik hati dan manis, masak mau jadi istri durhaka, yang ada aku disayang-sayang. Hehe." Pria itu tak ambil pusing dengan rasa tidak nyaman istrinya. Ia malah mengusak lembut pada cerukan lehernya, seakan mencari kenyamanan di sana.
Astaga! Sungguh meresahkan!!
"Dek?"
"Hmmm."
"Kamu marah sama aku?" tanya Aka lirih, masih dalam posisi yang sama. Pria itu ikut tidur di atas ranjang rumah sakit.
"Nggak Mas, kamu bisa geseran dikit nggak? Ini terlalu dekat, kamu meresahkan Mas!" protesnya sebal.
"Kamu lebih meresahkan, gimana dong?"
"Bangun Mas, nanti ada orang masuk dikira kita ngapa-ngapain kalau posisi kita kaya gini."
"Kamu lupa ya sayang, ini 'kan sudah malam, siapa yang mau datang. Mommy dan daddy juga sudah pulang," ujarnya merasa aman.
__ADS_1