
Shali menunggu suaminya malam itu sampai terkantuk-kantuk. Jadwal Aka yang semula enam hari dan seharusnya pulang besok, namun pria itu memilih langsung pulang malam ini juga setelah sore hari selesai kegiatan. Kalau bisa pulang cepat, kenapa nggak? Rasanya pria itu sudah tidak tahan menahan rindu yang membuncah. Sehingga untuk menanti besok siang saja merasa tak sabar, dan ingin segera bertemu dengan bidadari sholehahnya di rumah.
Jarum jam pendek sudah menunjuk di angka sebelas lewat ketika Aka menginjakan kakinya di rumah. Suasana pondok masih ramai, seperti biasa banyak santri yang belum tidur, suasana rumah juga terlihat masih sedikit sibuk, terutama di dapur pesantren.
Aka sendiri sudah tahu kalau besok adiknya akan menikahi bocah, dan tidak ada tanggapan yang spesial dari pria itu, menurutnya jodoh itu datang tanpa ada yang mengira. Seperti dirinya misalnya, ia tidak akan pernah mengira kalau akan berjodoh dengan orang yang kebetulan terdampar di hotel 205 gayatri waktu itu. Takdir membawanya ke sana, begitupun dengan Azmi, semua yang terjadi sudah menjadi garis takdir dirinya.
"Assalamu'alaikum ....!" salam sapa Aka menggema. Pria itu memasuki rumah utama.
"Waalaikumsalam ... alhamdulillah sudah sampai rumah, Ka," balas Kyai Emir yang masih duduk di ruang keluarga.
Ada Azmi, Zayyan, suaminya Mbak Aida dan juga Ummi. Mereka masih duduk-duduk di ruang keluarga sambil berembug untuk acara besok. Walaupun pernikahan sederhana secara agama, namun Azmi menyiapkannya agar cukup berkesan yang akan menjadi tanggung jawab pada dirinya kelak.
"Eh, Aka sudah sampai?" sapa Aida dari bilik lainya. Membawa nampan berisi kopi dan juga teh untuk menjamu keluarga sebagai teman mengobrol malam ini.
"Iya Mbak, baru sampai," jawab Aka sembari menyambut ramah kakaknya.
"Kamu mau kopi Ka, biar Mbak buatin," tawar Aida sembari menyajikan minuman ke meja.
__ADS_1
"Nggak usah Mbak, Aka mau langsung ke kamar saja, mau bersih-bersih dulu."
"Iya sana, istirahat saja sudah malam, kamu pasti capek," usir Ummi lembut.
Aka langsung meninggalkan rumah utama dan menuju bilik belakang. Ruangan yang sangat ia rindukan, di mana di situ ada kekasih halalnya yang sudah menunggu. Aka melangkah dengan semangat, pria itu berjalan dengan langkah lebar. Mengucapkan salam sebelum masuk, namun karena tidak ada sahutan, Aka langsung masuk saja, istrinya pasti sudah tertidur.
Pria itu menaruh kopernya terlebih dahulu, tersenyum lembut melihat istri cantiknya yang sudah terlelap. Mendekat ke ranjang, mendaratkan kecupan singkat di keningnya, ia tersenyum sendiri melihat muka seseorang yang lima hari ini memenuhi pikirannya. Kembali menyambar-nyambar bibir istrinya yang ranum, rindu, pria itu sangat merindukannya. Apalagi, Shali malam ini menggunakan pakaian tidur yang tipis dan cukup membuat senyum Aka melebar.
"Mas, sudah pulang?" Perempuan itu jelas terusik, apalagi Aka langsung merusuh begitu saja.
"Iya, kamu tidur saja Dek, kalau udah ngantuk," ujar Aka tersenyum.
"Iya, mandi dulu aja, nggak pa-pa aku siapin sendiri aja, tolong kamu siapin gantinya aja," ujarnya dengan kerlingan menggoda.
"Kenapa Mas, kok gitu?" tanyanya sembari menggulung mahkota indahnya menjadi satu.
"Nggak ada, aku bersih-bersih dulu ya, kopi boleh deh," ujarnya sumringah.
__ADS_1
Shali memakai gamis terusan, lengkap dengan hijabnya. Lekas menuju dapur untuk membuatkan pesanan suaminya. Perempuan itu yang tadinya sudah mengantuk, langsung segar bugar dan merasa begitu bersemangat melihat suaminya sudah sampai di rumah.
"Mas kopinya, sedikit gula dan tidak terlalu kental. Pas!" Shali menaruh di atas meja dekat sofa. Aka sendiri baru saja mandi dan belum berganti pakaian.
"Makasih sayang, kangen banget sama kopi buatan kamu," ucap Aka sembari menyeruput cairan hitam yang masih mengepul asap itu.
"Hmm, jadi cuma kangen sama kopinya doang, orangnya nggak nih ....!" Shali pura-pura menepi, beranjak agak berjarak.
"Kangen lah, kangen banget malah sama orangnya, aturannya pulang besok aja aku udah nggak betah. Besok 'kan acaranya udah santai tinggal have fun, ya udah lebih baik pulang aja," curhatnya dengan wajah berbinar.
"Mas, ganti baju itu sudah aku siapin," ucap Shali seraya melepas gamis dan hijabnya. Menyisakan pakaian tidur yang tipis seatas lutut tanpa lengan, benar-benar menggoda iman.
"Sepertinya aku nggak butuh pakaian malam ini, kamu juga," bisik pria itu mengikis jarak, memeluknya dari belakang.
"Kangen Dek," ucapnya sembari mengusak lembut ceruk lehernya. Shali terdiam, memejam penuh kerinduan, menikmati buaian Aka yang sama juga ia rindukan. Pria itu memutar tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan.
"Emangnya Mas nggak capek? Kan baru pulang?"
__ADS_1
"Capek aku ilang begitu ketemu kamu, kangen banget," ujarnya menatap lekat istrinya. Shali langsung tersenyum melihat Aka yang begitu menginginkan dirinya.