Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 76


__ADS_3

Shali tersenyum, matanya berkaca-kaca haru. Diperlakukan luar biasa oleh suami sendiri itu rasanya luar biasa bahagia. Aka benar-benar orang yang sangat bisa membuatnya begitu berharga, menghargai dan menyayangi sepenuh hati. Jadi, tak perlu menunggu waktu lama lagi menunggu untuk jatuh cinta.


Mereka duduk bersama sambil becanda sembari menunggu adzan subuh. Keduanya antri mengambil wudhu.


"Dek, Mas ke masjid dulu ya, kamu mau jamaah bareng ummi, atau ikut ke masjid?"


"Bareng Ummi aja, Mas," jawabnya yakin.


Biasanya dini hari setelah subuh, kalau tidak ada kajian, atau mengisi kultum, Aka langsung bergegas pulang, namun kali ini lama. Padahal istrinya sudah menunggu di rumah, menyambutnya dengan pakaian sedikit terbuka. Ya aktivitas baru pagi setelah subuh, Aka sering minta pada istrinya.


Pria itu kembali sudah agak siang, pukul enam lebih. Suara sapaan salam langsung mencuri atensi perempuan yang masih setia di atas ranjang.


"Mas, kok baliknya lama?" tanya Shali mrengut.


"Maaf, sayang, Mas tadi ada obrolan dengan Ustadz Edward. Kamu wangi sekali, habisin berapa botol sampo," selorohnya mengusak lembut tengkuknya.


"Biasa aja, Mas," jawab Shali tersenyum.


Shali sedikit kecewa waktu Aka menarik diri, perempuan itu berharap suaminya mau menyentuh dirinya pagi ini. Entahlah, yang Shali rasakan, ingin aja pagi ini membuat suaminya senang.


"Dek, aku mandi dulu ya?" ujar pria itu bergegas.


"Iya, Mas," jawab Shali datar.


"Tumben, nggak minta, padahal aku nggak mau nolak, malah siap sedia," gumamnya merasa heran.

__ADS_1


Shali pun tak lagi memikirkan, sibuk menyiapkan pakaian kerja suaminya. Tas, dan sepatu. Semua atributnya yang selalu Aka bawa, termasuk jam tangan yang tak pernah ketinggalan.


"Makasih sayang udah siapin," ujarnya tersenyum.


"Mas, ayo sarapan, kita pasti sudah ditunggu ummi, dan yang lainnya."


"Mas, antar sampai meja makan ya, insya Allah hari ini mau puasa, semoga lancar," jawabnya lembut.


"Owh ... Mas puasa ya, pantes ...." Shali manggut-manggut.


"Kenapa, Dek?" tanyanya lembut.


"Nggak pa-pa sayang, aman kok."


"Ehem, aku terbang kamu panggil sayang," selorohnya menarik bibirnya semringah.


"Bersyukur aja, hari ini kamu genap dua puluh tahun, selamat milad sayang, semoga keberkahan, kesehatan, selalu menaungi dirimu."


Seketika Shali terdiam, dirinya saja bahkan sampai lupa kalau hari ini hari ulang tahunnya.


"Mas," Shali tidak bisa mendeskripsikan hatinya seperti apa, namun ia sangat bersyukur dan bahagia luar biasa, ketika Aka hari ini puasa lantaran wujud rasa syukurnya pada sang pencipta telah membersamai di umur yang ke dua puluh. Shali benar-benar terharu.


"Kok nangis?" tanya Aka lembut.


"Makasih doanya, makasih udah sukses bikin aku nangis bahagia pagi ini," ujarnya sembari menubruk suaminya. Membawanya dalam pelukan, Shali menangis bahagia.

__ADS_1


Pagi itu mereka berangkat ke kampus bersama, mata Shali terlihat sedikit merah karena sembab. Namun, hatinya begitu bahagia. Sepanjang perjalanan ke kampus ia sibuk membalas chat dari teman-temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya.


"Dek, udah sampai, sibuk chat dengan siapa sih?" tanya Aka mendekat. Shali langsung connect dan memperlihatkan layar ponselnya pada suami tercinta.


"Aku kelas dulu ya, Mas, assalamu'alaikum ...." pamit Shali meraih tangan suaminya, lalu mencium pipi suaminya dengan sayang.


"Waalaikumsalam ...." Aka tersenyum sendiri melihat istrinya yang hari ini terlihat begitu manis.


Sesampainya di kelas, ia mendapat surprise tak terduga dari teman-teman, perasaan bahagia itu menjadi sedikit mengerikan kalau Morgan muncul di sana dengan buket bunga dan bingkisan di tangannya yang dikhususkan untuk Shali.


"Selamat ulang tahun, sayang," ucapnya tersenyum. Shali terdiam di tempatnya, ia menarik Izza karena tidak tahu harus melakukan apa.


"Makasih, Ga," jawabnya datar. Tak ingin membalas apapun, tetapi juga tidak berani menolak, takut membuat pria itu malu, sungguh kejadian ini seperti dejavu, bedanya hari ini Morgan mengucapkan selamat ulang tahun, kalau dulu mengutarakan perasaanya yang berujung dendam lantaran ditolak.


"Selamat belajar ya, itu dosennya udah datang," tunjuk Morgan sembari berjalan keluar tanpa dosa. Pria itu tahu betul hubungan antara dosen dan mahasiswanya itu, namun sepertinya tidak pernah mengindahkan kata-kata Aka.


Memang sih hari ini, tindakan Morgan tidak berlebihan, hanya membuat kejutan kecil dan hadiah darinya, namun sukses membuat Pak Aka cemburu luar biasa.


Pria itu berjalan lenggang melewati Aka begitu saja. Proses kemarin yang cukup meresahkan istrinya, belum juga di proses, padahal Aka sudah memperkarakan Morgan jika terus menerus menggangu ketentraman orang, nyatanya polisi tidak bergerak cepat, pria itu seperti mempunyai kekuatan hukum, dan menyatakan bukti terkait tidak kuat cukup bukti, membuat Aka merasa cukup kecewa dan lebih waspada, apalagi melihat pemandangan pagi ini.


Pria itu menatap tajam istrinya dengan buket bunga di tangannya. Shali langsung memberikan hadiah dan bunga itu pada Izza. Perempuan itu menuju tempat duduk dan berusaha tenang. Walaupun dalam hatinya sangat takut Aka akan marah.


Selama proses pembelajaran, Aka cukup profesional. Ia bahkan bersikap sewajarnya saja menerangkan materi di kelasnya tanpa terlihat emosi, namun, pria itu tak sekalipun menatap istrinya di sana, dingin lebih tepatnya.


Izza yang sudah tahu hubungan antara dosen dan mahasiswanya itu, cukup terbawa suasana mencekam yang tercipta oleh diri sendiri. Di mana, ia merasakan aura rasa tidak enak Shali, dan aura cueknya Pak Aka.

__ADS_1


"Lo harus jelasin, suami lo diam karena sedang di kampus, apalagi pas jam pelajarannya. Morgan tuh emang benar-benar pantang menyerah." Itu suara Izza yang langsung mendekati tempat duduk Shali begitu Dosen Aka keluar dari kelas.


"Iya, Za, bantu doa ya, aku takut suamiku marah, ya Tuhan ... aku harusnya tadi nggak terima bunga dan bingkisan dari Morgan," sesalnya sendu.


__ADS_2