
Shalin menelan saliva gugup, pipinya terasa panas. Ia membuang muka malu, sungguh suaminya itu memang benar-benar meresahkan jiwa dan raga. Paha yang sakit, tetapi mengapa jantung yang mendadak tidak normal? Sepertinya habis ini Shalin harus rajin periksa ke dokter lantaran sering kaget, mendapat serangan tak terduga.
"Jangan ditutupin, biarkan tetap terbuka biar cepat sembuh, untung itu nggak melepuh. Lain kali hati-hati ya, kamu bikin aku khawatir," ujar Aka lembut. Berdiri lalu beranjak mencuci tangannya.
Shali menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang, dirinya merebah di papan head board setelah menumpuk bantal sebagai sandaran.
"Aku ambilin makan malam dulu ya, nanti kamu sakit lagi. Ada-ada aja ujiannya, padahal—aku udah berencana membuat kamu bahagia malam ini lho Dek," kata Aka tersenyum. Mengusap puncak kepalanya lalu beranjak meninggalkan kamar.
Selang beberapa menit, Aka membawa nampan berisi makanan, lengkap dengan minumnya.
"Makasih, Mas, aku jadi ngrepotin kamu," ujar Shali sungkan.
"Sama-sama sayang, jangan sungkan gitu, kamu boleh kok minta tolong suamimu kapan pun kamu mau, harus latihan terbiasa ada aku." Aka menaruh nampan itu di atas nakas.
"Suka masih berasa aneh aja Mas, ya kali aku bisa langsung care gitu aja, apalagi kamu dosen aku, ya aku—nggak enak lah."
"Tetapi sekarang 'kan udah jadi suami kamu, memiliki separuh jiwa dan ragamu, jadi—jangan ada yang ditutupi masalah sekecil apapun. Kamu harus ingat, untuk selalu membaginya dengan suamimu."
"Iya, makasih untuk Gus Aka yang sabar, semoga aku cepat jatuh cinta padamu," ujarnya tersenyum.
"Sini aku suapin, biar cepat jatuh cintanya," seloroh pria itu seraya mengambil piring yang sudah terisi.
"Aku mau makan sendiri, Mas, tangan aku 'kan nggak sakit, itu kenapa porsinya banyak banget."
__ADS_1
"Sepiring berdua, biar afdhol, biar feelnya dapat, romantisnya ketangkap, anggap saja kita sedang pacaran."
Shali menurut, gadis itu menerima dengan senang hati ketika tangan Aka mulai menyuapi dengan telaten, bergantian dengan dirinya.
"Sini, aku suapi Mas juga," ujar Shalin tanpa ragu. Mereka saling menyuap, sepiring berdua, berbagi sendok dan tempat minum yang sama, sweet sekali mereka.
"Aku minta maaf, Mas," sesal Shalin merasa bersalah.
"Minta maaf kenapa, 'kan Adek nggak salah?" Aka memperhatikan wajah istrinya serius. Mereka baru saja selesai makan malam paling romantis sekompleks pesantren.
"Minta maaf—belum bisa bikin kamu ... ah pokoknya minta maaf aja." Shali bingung sendiri menjelaskan.
"Minta maaf apa sayang ... hmm ... yang jelas dong kalau ngomong, aku nggak ngerti."
"Namanya juga musibah, semoga besok aku beruntung ya?" ujar pria itu nyengir. Shalin tersenyum menunduk.
"Ah ... kamu manis sekali, bikin gemes," ucap Aka di luar dugaan.
"Aku boleh nyicil nggak? Berhubung kamu sakit, aku nggak mungkin 'kan lakuin itu, tetapi kita kenalan dulu," ujarnya seraya membelai lembut. Ibu jarinya meraba bibir Shali.
"Iya, Mas, boleh? Tetapi ... emang kamu kuat, bisa nahan, entar bablas gimana?" Shali merasa khawatir.
Aka tersenyum lembut, lalu menenangkan perasaanya yang nampak gelisah gundah gulana.
__ADS_1
"Semoga aku bisa nahan diri, kesehatannya lebih utama dari keinginan hasrat atas diriku, aku sabar menanti itu. Kamu juga yang sabar, kalau aku belum bisa mengunjungi seutuhnya?"
"Kok aku? Perasaan aku santai Mas, belum juga nggak pa-pa," jawab Shali menyela.
"Ya ... siapa tahu, kamu juga merasakan penasaran yang sama. Namanya juga belum pernah ngerasain 'kan, pasti pengen Dek, apalagi sama yang halal dan jelas-jelas berpahala untuk pasangan sah."
"Kita jangan bahas ini dulu bisa nggak? Aku kurang nyaman."
"Boleh aja kok bahas yang lain, sayangnya topik pengantin baru ya tidak jauh-jauh dari ranjang. Suami istri itu layaknya pakaian bagi keduanya. Para suami bebas mendatangi istri mereka, dan lakukanlah dengan cara yang baik."
"Iya, Mas, udah ngerti. Nggak usah dikasih tahu, aku malu," ujar Shali bingung.
"Kenapa harus malu, sekarang coba latihan dulu natap aku, rasakan sensasi tatapan Akara Emir nanti kamu akan mudah jatuh cinta," ujar pria itu seraya menatap lekat mata istrinya.
Kedua pasangan halal itu menautkan mata mereka, dalam, dan lekat, hingga tanpa sadar keduanya tak ada jarak. Dengan lembut Aka memagut bibir istrinya, yang terasa bagai madu, jujur saja pria itu sudah candu.
Pagutan mereka saling terlepas, dengan napas yang masih berlomba, sebelum pria itu menyerang ciuman yang kedua, mengajak indera perasa mereka berdansa, saling memilin dan bergelut manja. Mencecap lembut dahaga yang menyapa.
Aka jelas gemas, pria normal sudah pasti menginginkan sesuatu yang berbeda. Papilanya yang lembut, mampir ke jenjang lehernya yang putih, memahat lembut dengan hisapan kuat yang menimbulkan tanda sayang di sana. Tanpa sadar, gadis itu melenguh tertahan, saat tangan Aka mulai berani nakal menyentuh bagian depan tubuh atasnya.
Pria itu tersenyum, mendengar irama cinta yang keluar dari mulut mungilnya. Suara yang mampu membuat pria normal semangat menghajarnya hingga terjadilah hujaman cinta yang tak terelakan.
"Makasih, kenalannya sampai sini dulu, aku sebenarnya penasaran sama isi di balik bajumu, tetapi takut tidak bisa menahan diri," ujarnya jujur.
__ADS_1
"Ya Allah ... gemes banget sih, Dek, kamu cantik banget gini lagi," keluhnya seraya membawa tubuh itu dalam pelukan. Mendekapnya begitu erat.