Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 68


__ADS_3

"Dek, jangan lihatin aku terus, fokus," ujar Aka menginterupsi.


"Kayaknya kamu yang nggak fokus deh Mas, tangan aku kamu remas-rem@s terus dari tadi," jawab Shali menatap dengan senyuman.


"Eh! Ketahuan, habisnya gumush." Mereka terkekeh bersama.


Tangan Aka yang berbusa jail menoel hidungnya, membuat perempuan itu menjauh seraya menghindari tangan Aka yang mulai rusuh.


"Kamu juga sama aja, lihatin aku. Udah sana nggak usah dibantuin aku bisa sendiri," imbuh perempuan itu geli sendiri.


"Mau bantuin kamu biar cepet selesai, kamu yang bilas aku yang peras, oke sayang," ujarnya kompak bin semangat. Mereka cuma nyuci beberapa lembar kemeja, namun karena banyaknya drama romantis yang tercipta menjadi lama.


"Mas, jangan rusuh, ya ampun ... pakaian aku basah," protes Shali menggerutu. Aka benar-benar niat memutar penuh krannya.


"Sini dilepas aja sekalian cuci, terus kita mandi bersama." Aka sudah mengambil ancang-ancang, namun Shali menahannya dengan tatapan mengintimidasi.


"Apa sih Dek, nggak pa-pa, mandi bareng itu sebagian dari ibadah. Bersihnya pasti, pahalanya dapat," ujarnya berbinar.


"Nggak mauk, nggak mau Mas, jangan!" tolak Shali masih menahan pertahanan dirinya.


"Beneran nggak mau? Ini udah basah lho, lagian masih ada penutupnya yang bawah, kenapa musti malu juga sama yang halal, udah Adek boleh memunggungi Mas kalau malu nanti Mas tutup mata."


"Bohong banget, ini beneran 'kan cuma mandi?" tanya Shali merasa waswas.

__ADS_1


"Iya Adek sayang, kita punya tempat yang nyaman untuk melakukan ritual, kenapa harus memilih di sini, aku cuma bantuin jasa gosok tubuh kamu yang memerlukan bantuan," ujarnya sambil tersenyum.


Usai mencuci, karena keduanya sama-sama basah akibat kejailan keduanya, ya Shali juga ikut mengguyur tubuh Aka dengan sengaja. Alhasil mereka mandi bersama. Sungguh so sweet perlakuan Aka yang begitu lembut dan manis.


"Dek, ini kamu pakai handuknya dulu biar nggak kedinginan, tolong kamu keluar ya terus ambilin buat aku," pinta Aka setelah merampungkan acara mandi bersamanya.


Perempuan itu menurut, melilitkan handuk sebatas dadanya lalu berjalan meninggalkan kamar mandi. Mengambil handuk bersih lalu kembali lagi menemui suaminya.


"Mas, handuknya!" Shali masih saja malu-malu menatap wajahnya.


"Dek!" panggil Aka mengekor keluar dari kamar mandi. Perempuan itu spontan berhenti lalu menoleh penuh tanda tanya.


Aka hanya tersenyum lembut, sembari memperhatikan wajah ayunya yang merona.


"Nggak pa-pa, tubuh kamu indah," jawabnya sembari tersenyum.


"Banyak tanda kamu di sini, kamu nakal sekali Mas, aku baru teliti ternyata sebanyak ini," ucap Shali geli sendiri.


"Habisnya kamu ngegemesin, selalu bikin aku tak tenang. Nanti siang aku tambahin lagi ya? Pengennya sih sekarang, tetapi aku kasihan sama kamu yang belum sempat istirahat," ujarnya pengertian.


"Libur boleh? Aku masih kurang nyaman untuk hari ini," mohon perempuan itu.


"Boleh, aku nggak minta sekarang kok, mungkin bisa nanti beberapa jam lagi. Hehe."

__ADS_1


Muka Shali yang sudah lega, kembali mrengut mendengar kalimat terakhirnya.


"Jangan cemberut, Dek, bibir kamu lucu, nanti aku samber kalau monyong gitu," selorohnya.


Shali bergeming, membalut tubuhnya dengan pakaian lalu menyambar hijab karena ingin keluar untuk menjemur pakaian.


"Dek, aku bantuin ya?" Aka selalu menjadi pahlawan siap sedia. Mereka menjemur pakaian berdua, Aka memasukkan ke hanger dan Shali menata digantungan agar terkena matahari merata.


Azmi yang kebetulan baru saja keluar dari kamar, memergoki adegan romantis nan sederhana mereka. Pria itu berjalan cepat, pura-pura tak melihat apapun, namun sayang sekali seruan Aka mengerem langkah pria itu.


"Mi, mau ke mana, jam segini udah rapih aja?"


"Cari partner, biar bisa buat begadang bareng malam-malam," jawab pria itu cukup menohok. Berjalan cepat menyisakan senyuman di wajahnya yang tampan. Untuk hatinya, entahlah hanya Azmi dan Tuhan yang tahu.


Seketika Shali terdiam, merasa kurang nyaman dengan jawaban adik iparnya. Aka yang langsung memperhatikan perubahan wajah Shali pun mendekat, lalu mengusap lembut punggungnya.


"Nggak usah ngerasa gimana-gimana, Dek, ujian ini proses pendewasaan untuk dia, percayalah Azmi orang yang cukup kuat, dan bijaksana," jelasnya seperti paham kegundahan istrinya.


"Kamu kalau ngomong jangan terlalu jujur juga, Mas, aku 'kan jadi malu dan nggak enak, lagian kamu tuh jujur banget jadi orang," protes Shali sembari merampungkan kegiatannya.


"Iya deh iya minta maaf, aku terlalu bersemangat untuk hari ini, makanya hawanya pengen berbagi kebahagiaan saja. Maaf ya sayang, aku nggak remidi lagi soal kata-kata ini," ujarnya yakin.


Sementara Azmi sengaja pamit pada orang rumah karena ada kegiatan sendiri. Azmi mengeluarkan motornya, pria itu mengunjungi tempat favoritnya dikala senggang. Kebetulan sabtu menjadi favorite pengunjung baca di sana. Azmi langsung melewati serangkaian prosedur masuk ke Perpusnas, dan memilih di lantai dua puluh empat untuk tempat baca favoritnya.

__ADS_1


Sebenarnya pria itu gemar membaca jenis buku apa saja, suka menulis berbagai artikel di blog pribadinya. Seperti biasa, ia lebih suka duduk di longue sambil membaca buku yang telah di pilihnya. Terlalu fokus dengan apa yang di depannya, Azmi tidak begitu notice dengan sekitarnya. Begitupun seseorang yang ada di sebelahnya tengah fokus dengan laptopnya. Hingga ia tak sengaja mengambil ponsel yang sama namun bukan miliknya.


__ADS_2