
Sore itu Aka dan Shali bertolak ke klinik terdekat untuk berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan. Mereka sudah mantap akan mengambil KB guna mencegah kehamilan, ralat, menunda kehamilan lebih tepatnya.
Walaupun Aka kurang sreg, namun pria itu akhirnya memahami istrinya yang memang belum siap untuk mengandung. Sehingga harus sedikit lebih sabar mengingat kesibukan yang melanda kesehariannya.
Roda-roda kuda besi yang tampak kokoh milik pria itu bergulir memasuki parkiran. Keduanya turun dengan hampir bersamaan, melangkah gontai dengan pasti memasuki klinik bersalin saling bergandeng tangan. Mengambil nomor antrian yang sore itu tidak begitu ramai.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, akhirnya nama Shalinaz dipanggil juga. Perempuan itu ditemani suaminya memasuki ruangan pemeriksaan.
"Selamat sore, Bu? Apa yang dikeluhkan?" tanya Dokter dengan name tag Dara.
"Sore, Dok, saya ingin berkonsultasi masalah KB, kami berencana untuk menunda kehamilan," jawab Shali deg degan.
Dokter Dara tersenyum ramah, "Anda pasangan baru menikah yang ingin menunda kehamilan?" tanyanya lembut.
"Iya Dok, kami baru sekitar tiga bulan menikah, dan saya sepertinya belum siap hamil."
"Menunda kehamilan bisa dilakukan dengan beragam cara, seperti dengan tidak berhubungan seksual (abstinence), mengatur waktu hubungan seksual, melakukan ejakulasi di luar, atau juga menggunakan alat kontrasepsi tertentu. Tentu, upaya penundaan kehamilan ini hanya efektif jika dilakukan sebelum berhubungan seksual dan sebelum terjadi kehamilan. Berhubung Ibu sendiri sudah berjalan tiga bulan, saya perlu data diary menstruasinya selama tiga siklus ini ya, Bu?"
__ADS_1
"Menstruasi saya lancar, Dok, cuma—bulan ini belum, tapi 'kan saya belum telat," ujar Shali mulai menerka-nerka.
"Untuk lebih jelasnya dipastikan dulu, karena siklus haid yang normal dari text book Endocrinology Speroff adalah 24 sampai 35 hari. Dengan maju mundur haid tak lebih dari 5 hari antar siklusnya dilihat dari 3 bulan terakhir menstrual diarynya ya? Jadi saya sarankan untuk USG saja."
"Gitu ya, Dok?"
"Iya, Ibu, mengingat riwayat siklus haid Ibu, yang bulan ini belum mendapatkan siklusnya, sebaiknya kita USG, ya?"
"Iya, Dok," jawab Shali sembari melirik suaminya yang nampak serius menyimak.
Dalam pemeriksaan ini, dokter mengoleskan gel ke area perut bagian bawah untuk memudahkan pergerakan stik USG dan menghasilkan gambar yang lebih baik. Selanjutnya, dokter menggerakkan stik USG di atas perut guna menangkap gambaran organ reproduksinya.
Selama USG berlangsung, Shali nampak tenang, ekspresi wajahnya berubah-ubah saat Dokter mulai menganalisa. Perempuan berprofesi dokter itu tersenyum lantas membimbing Shali untuk kembali ke tempat duduk.
"Bu Shali, seperti yang telah saya bilang tadi, penundaan kehamilan ini hanya efektif jika dilakukan sebelum berhubungan seksual dan sebelum terjadi kehamilan. Untuk kasus Ibu sendiri sudah terjadi pembuahan, jadi Ibu adalah perempuan kesekian yang datang untuk menundanya dalam keadaan sudah hamil," papar Dokter Dara.
"Apa? Maksud Dokter saya hamil?" Shali nampak shock, sementara Aka menatap takjub dengan kilatan tak percaya.
__ADS_1
"Terus bagaimana, Dok?"
Dokter Dara yang sudah biasa menangani kasus serupa pun tersenyum kalem, tentu saja jawabannya berdasarkan kejujuran yang ada.
"Jika sudah terlanjur hamil, maka tidak efektif lagi dilakukan upaya KB, Ibu, jadi bertanggungjawab atas kehamilan tersebut dengan merawatnya secara benar hingga persalinan. Jika memang tidak ada masalah kesehatan tertentu yang serius dan membuat Anda berbahaya jika hamil, maka janin itu wajib dipertahankan. Selamat Ibu, Anda sudah hamil berjalan tiga minggu berdasarkan riwayat pemeriksaan."
Entah harus bahagia atau malah sedih dengan kabar ini, yang jelas ambyar semuanya. Shali nampak tidak bersemangat keluar dari ruang pemeriksaan setelah mendapatkan beberapa wejangan seputar kehamilan muda yang bahagia. Berbeda dengan Aka yang tidak berhenti tersenyum-senyum sumringah mendengar kabar kehamilannya. Pria itu menggandeng tangan istrinya berjalan menuju parkiran.
"Hai, sayang, udah dong jangan gini, seharusnya kita tuh bersyukur karena mendapat kejutannya cepet, mungkin memang sudah rezeki kita, sayang," ucap Aka sembari mengelus perut istrinya yang masih rata. Pria itu menenangkan sembari mencium pipi istrinya dengan sayang.
Shali masih membuang muka merengut, tidak menanggapi apapun itu kata-kata manis suaminya. Perempuan itu masih speechless dengan keadaan dirinya yang tak sesuai ekspektasi. Tetapi apalah daya, memang seharusnya kalau mau program sebelum keduanya bercampur bukan, atau setelah habis masa haid dan belum bergumul, tak bisa berbuat apapun selain menerima dengan hati yang masih setengah.
"Sayang, sebelum sampai rumah, ada yang mau dibeli nggak? Makanan misalnya, atau mau beli sesuatu, barang yang pengen kamu beli?" ujar Aka mencoba menghibur istrinya yang masih mode diam. Sepanjang perjalanan pulang, Shali membungkam mulutnya rapat.
"Nggak ada, mau pulang aja," jawab Shali ketus.
"Beneran? Tas mungkin, baju, sepatu baru, atau barang apa yang mungkin kamu lagi pengen beli?" tawar Aka tersenyum sabar.
__ADS_1