Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 64


__ADS_3

Shali merasa sesuatu yang berat itu menindih tubuhnya, siapa lagi tersangkanya, sudah pasti Aka suaminya. Aka yang mendekapnya semalaman. Perempuan itu terbangun dan langsung merasakan embusan napas Aka yang menerpa wajahnya, jarak mereka begitu dekat beberapa centi saja. Shali memperhatikan wajah suaminya yang masih terpejam. Tangannya terulur menyambar ponsel di atas nakas, melihat jam ternyata sudah hampir pukul empat. Tumben-tumbenan suaminya tidak bangun malam, pria itu terlihat tidur dengan pulas.


Shali berniat membangunkannya, namun ia berhenti sejenak menyempatkan memperhatikan suaminya. Garis-garis bijaksananya jelas tergambar di sana. Shali akui, pria yang sebelas dua belas dengan seseorang yang pernah singgah di hatinya itu mempunyai garis wajah yang begitu rupawan. Pantas saja menjadi idola seantero kaum hawa sekomplek Al Hasan. Tidak hanya itu, sepak terjang kehidupannya cukup menarik untuk dikulik, selain dosen dari fakultas islam ternama. Aka adalah calon pemimpin di sana.


Sederet sekolah islam, rumah sakit, Hasan Mart, beberapa yayasan berdiri dibawah naungan Kyai Hasan. Yang sudah pasti turun temurun kepada anak mereka, dan cucu mereka salah satunya Akara Emir Hasan. Pria mapan, bersahaja yang kini masih terlelap damai ditaklukkan gadis kecil yang manja, sungguh Shali tidak percaya bisa menikah dengan orang yang cukup berpengaruh dan menjadi sorotan.


Walaupun keluarga dirinya juga sama-sama dari kalangan berada, namun ia tidak pernah akan menyangka menjadi istri dari seorang ustadz yang cukup fenomenal.


Tiba-tiba mata pria itu terbuka, membuat Shali yang masih betah berlama-lama memperhatikannya gelagapan sendiri.


"Mas, kamu udah bangun dari tadi?" tanya Shali gugup.


"Ya, aku menunggu kecupan selamat pagi tak kunjung datang, sampai aku lelah," seloroh pria itu mendekatkan wajahnya. Shali spontan memalingkan muka malu.


"Mandi Mas, sudah hampir subuh nanti telat jamaah," titah perempuan itu gugup sendiri.


"Ayo, mandi bareng!" ujar pria itu menatap penuh damba.


"Kamu duluan aja Mas, aku pasti lama," jawabnya dengan pipi yang memanas.


Shali jelas tidak nyaman. Tubuhnya terasa pegal, dan lelah. Bahkan yang di bawah sana terasa ngilu dan perih. Begitulah mantan perawan, ia masih belum merasakan dengan nyaman untuk beberapa kali permainan. Bahkan terasa nyeri dan perih luar biasa jika terkena air, perempuan itu meringis kaku saat berjalan tertatih merasa ada yang kurang nyaman. Untung hari ini weekend, jadi tidak harus pergi kuliah.


Hingga menjelang pagi, Shali masih bersantai di atas kasur sehabis merapikan kamar dan merendam pakaian suaminya. Perempuan itu harus sudah memperhatikan suaminya sedetail mungkin.


Aka mengulum senyum melihat istrinya yang pura-pura tidur. Otak jail dan mesumnya pun langsung berfungsi dengan cepat.


Cup


Tidak ada respon, Aka semakin berani mencumbunya dengan gemas.


"Mas, aku lelah, aku butuh rebahan sebentar," gumam Shali seraya menarik selimutnya kembali. Aka yang baru saja kembali dari masjid langsung merusuh di ranjang. Rasanya gemas saja melihat tempat tidurnya terisi oleh wanita yang selalu berhasil membangkitkan syahwatnya.

__ADS_1


"Cantiknya jangan ditutupin, suaminya mau lihat." Aka menarik selimut yang menutupi wajah Shali.


"Gombal terus kamu, Mas, jangan ganggu!" Shali kembali memejamkan matanya. Matanya terasa mengantuk entah semalam tidur jam berapa karena Aka meminta lagi lagi dan lagi.


"Kamu ditanyain ummi, karena nggak jamaah subuh," ucap pria itu seraya mengusak lembut belakang tengkuknya. Shali berbalik, menatap Aka serius.


"Kamu jawab apa?" tanya Shali penasaran.


"Ya aku jawab, Shali sholat di rumah ummi, karena sedang susah berjalan, gitu," jawab Aka yang membuat perempuan itu menatap tak percaya.


"Astaghfirullah ... kamu beneran ngomong gitu, Mas?" Perempuan itu gemas sendiri mendengar kejujuran suaminya.


"Hehe," Aka nyengir tanpa dosa.


"Makasih untuk yang semalam. Kamu sudah lebih pintar membuat aku ingin terus mengulanginya," ujar Aka tanpa dosa.


Hati Shali berdesir, bayangan sekelebatan sentuhan semalam terngiang jelas di otaknya, membuat pipi Shali seketika memanas.


Aka menarik ke dalam dekapan, jarak mereka sangat dekat nyaris tidak ada celah, menempel sempurna membuat tubuh perempuan itu meremang seketika. Entah mengapa posisi ini membuat Shali kurang nyaman, tanpa kata Shali pun mengurai pelukannya dan memunggunginya. Sejujurnya Shali canggung dan malu kalau disinggung masalah ranjang.


"Dek, kok diem, kamu marah sama aku?" tanyanya khawatir demi melihat istrinya yang terdiam dan malah memunggunginya.


"Enggak," jawab Shali lirih lengkap dengan gelengan.


"Maaf, aku terlalu semangat dan mungkin terlalu ganas. Masih sakit ya?" tanya Aka seraya memeluk dari belakang, telapak tangannya terulur mengelus perut istrinya yang rata.


"Aku nggak sabar lihat perut ini besar, kamu mengandung anak kita, buah cinta kita," bisiknya sambil terus mengelus perut Shali.


Shali berbalik menatap suaminya yang kini tengah menatapnya lekat. Punggung tangan Aka mengelus pipi Shali, pria itu tersenyum manis padanya.


"Makasih kamu udah sabar sama sifat aku selama ini," kata Shali di sela-sela sentuhan lembut punggung tangannya.

__ADS_1


"Hmm ... cuma makasih doang nih, kayaknya kurang lah," seloroh pria itu mengulum senyum.


Dikecupnya beberapa kali wajah Shali, pria itu hampir tidak bisa mendeskripsikan perasaan dan rasa bahagianya.


"Kamu membuat aku candu, Dek ... love you more more."


Shali bergeming


"Jawab Dek," ujarnya sedikit maksa.


"Hmm, me too," jawab Shali datar.


"Nggak dari hati banget sih, Dek, yang ikhlas sayang."


"Iya Mas, iya, lagi belajar buat memahami dan mencintai."


"Dek, lagi yuk!" Aka menatapnya dengan menggoda.


"Yang benar saja Mas." Shali menyorot horor suaminya.


"Masih sakit?" bisik pria itu seraya mendusel.


"Banget," jawab Shali lirih, perempuan itu menggangguk.


"Tapi suka 'kan, banyak nikmatnya," seloroh Aka mengulum senyum.


"Adoh ...." Shali mencubit pinggang suaminya dengan gemas.


"Ya udah istrihat dulu, mumpung libur kita puas-puasin dulu ...." ujar Aka seraya membelai dengan sayang.


"Hah!" Shali mendelik.

__ADS_1


"Eh, aku salah ngomong, hehehe ... nggak sayang aku sabar kok nunggu sampai nanti siang."


"Mas!!"


__ADS_2