
"Wah ... keren kamu Na," puji Alma menatap takjub.
"Iya, keren kamu, aku aja yang udah mondok di sini sampai hampir tiga tahun ini nggak berani nyapa Pak Kyai kaya kamu," timpal Asa dengan mengacungkan kedua jempolnya.
"Emangnya kenapa? Salah ya nyapa Pak Kyai gitu, kok gue mau dihukum," keluhnya mendrama.
Seperti yang sudah dijelaskan Ning Shali. Semua permasalahan pelanggaran santri akan ditampung di Gus Azmi, mereka akan mendapat iqob sesuai porsi pelanggaran yang dilakukannya.
"Ribed beud hidup, udah harus ngikutin ini itu, masih pula dihukum." Nashwa menggerutu kesal.
Sepanjang malam ia tidak bisa tidur, terus memikirkan hukuman apa kira-kira yang ingin ia peroleh besok.
"Kabur nggak, kabur, nggak, kabur, nggak, gimana nih, musti cari cara buat minggat dari penjara suci ini," gumamnya menerawang. Mendadak kepalanya dipenuhi lampu pijar buatan Thomas Alfa Editson.
Sementara di kamar sebelah, Shali tengah membantu Aka menyiapkan pakaian yang akan dibawa besok ke Singapura. Pria itu berangkat besok siang dari kampus beserta rombongan mahasiswa perwakilan yang telah dipilih.
"Mas, mau bawa berapa lembar pakaian?" tanya Shali seraya merapikan ke koper.
"Enam hari udah sama pulang pergi, total aktif empat hari berarti bawa lima stel aja, Dek, sekalian sarung dan juga baju santai untuk malam."
Semua sudah disiapkan rapi di dalam koper, besok tinggal berangkat saja tanpa kerepotan yang berarti. Shali sendiri sudah tidak beranjak dari sisinya. Ia merasa berat harus berpisah dengan suaminya, walaupun itu urusan pekerjaan, Shali kesepian.
__ADS_1
"Kamu kenapa Dek, wajahnya mendung gitu," tanya Aka sembari membuai istrinya. Mereka sudah berada di atas ranjang, dengan Shali yang banyak diam.
"Aku kan cuma pergi enam hari, jangan buat aku berat melangkahkan kaki. Kamu kalau mau main ke rumah mommy nggak pa-pa, minta dijemput Reagan aja, tapi apa tidak capek bolak-balik kampus?"
"Lihat besok Mas," ucap Shali sembari merapatnya tubuhnya.
Aka membelai dengan penuh kasih sayang, mencium keningnya lama. Turun ke kedua pipinya, berakhir mempertemukan kedua bibir mereka. Perempuan itu begitu hanyut dengan perlakuan lembut suaminya. Pasangan halal itu saling mendominasi dalam pagutan yang sama. Mengukir cerita penuh gairah dan hasrat yang menggelora. Malam yang begitu syahdu mereka rasakan.
Bahkan, dengan semangat dan penuh cinta, Shali melayani Aka dengan begitu minat dan liar, hingga membuat Aka merasa begitu puas dan terpenuhi kebutuhan batinnya malam ini. Seakan menjadikannya bekal untuk beberapa hari ke depan. Shali tidak menolak sama sekali ketika pria itu meminta lagi, dan lagi. Perempuan itu ingin memberikan kenangan yang indah selama mereka terpisah jarak dan waktu nanti.
"Makasih sayang, kamu malam ini luar biasa," ucapnya sembari memeluk tubuh itu penuh perasaan. Menciumnya beberapa kali dengan senyuman kepuasaan.
Shali tersenyum di tengah deru napas yang masih belum beraturan. Perempuan itu menahan malu dengan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya. Ya Shali terlalu malu, mengapa dirinya begitu liar malam ini, bahkan Aka nampak begitu terpukau dengan permainannya.
"Besok aku mode kalem aja lah Mas, sepertinya gaya-gaya itu tidak cocok untuk aku mainkan," sesalnya dengan pipi memanas.
"Kenapa? Aku senang kamu ekspresif gitu, salah satu kunci rumah tangga harmonis itu terpenuhi kebutuhan biologis diantara keduanya. Para suami boleh bersenang-senang dengan istrinya dengan gaya suka-suka asal masih dalam kaidah yang seharusnya. Jadi, besok perlu kita coba lagi sesuatu yang membuat kita berdua lebih bahagia. Hahaha." Aka tersenyum renyah.
"Ih ... Mas, udah jadi suami masih aja mesum."
"Mesumin istri kan pahala sayang."
__ADS_1
"Tidur Mas, nanti bangunin aku ya kalau mau sholat malam."
"Ya, kamu juga tidur Dek, jangan ngomong terus."
"Nggak bisa merem nih Mas, duh ... besok aku tidurnya sendirian, nasibnya ditinggal suami," gumamnya nelangsa.
"Aku belum pergi, kamunya udah selebay ini, semoga kamu nggak demam ya karena menahan rindu."
"Dari pada tidur di kamar sendirian, aku mlipir di kamar Nashwa aja kali ya?"
"Nggak boleh, itu kan kamarnya Azmi, nggak boleh, jangan nempatin."
"Dih ... kamarnya si Nana sekarang mah, ngomong-ngomong tuh anak bandel beud, mau aku aduin ke tante Bila kok aku nggak tega ya?"
"Kita pantau dulu, semoga di pesantren ini bisa menjadi anak yang lebih baik. Aamiin."
"Aamiin, semoga saja. Dia itu pada dasarnya baik kok, masih polos banget malah, cuma ya namanya anak yang nggak terbiasa hidup di lingkungan kaya gini, pasti kaget dan ngerasa beda. Aku yakin kok, Nana itu gampang dibentuk, orang kedua orang tuanya aja baik banget. Apalagi Razik tuh, beh ... dari kecil itu udah smoot banget."
"Dih ... muji-muji cowok lain dalam pelukan suami, itu namanya pelanggaran sayang."
"Apa sih Mas, orang lagi cerita juga, ngadi-ngadi kamu."
__ADS_1
"Ampun sayang, geli, ya ampun ... Mas, jangan!"
"Ah ....!"