Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 46


__ADS_3

"Hijabnya diganti saja, tidak sopan pegang-pegang istri orang. Lain kali jangan pasrah aja bisa 'kan? Atau jangan-jangan kamu menikmatinya."


"Astaghfirullah ... kok gitu Mas ngomongnya, apa aku terlihat senang dengan kedatangannya. Aku juga udah menghindar emang dasar cowok stress!" gumam Shali kesal.


Aka tidak lagi menanggapi, namun gerakan langkahnya mendekati ranjang dengan menyodorkan hijab instan di tangannya. Shali langsung menerimanya dan menggantinya. Dari sini, Shali bisa menyimpulkan Aka orang yang posesive ternyata.


"Mas, kamu marah?" tanya Shali takut-takut. Aura dingin Aka langsung keluar.


"Aku manusia biasa, Dek, yang bisa marah dan kesal. Apalagi melihat miliknya terusik," jawab Aka menyorot serius.


Shalin menunduk diam, menghela napas sepenuh dada, lebih tepatnya bingung menanggapi sikap suaminya.


"Kenapa Morgan bisa tahu kamu dirawat di sini?" tanya Aka penuh selidik.


"Umm ... itu—mungkin tahu dari sosmed, Mas, aku sempat mengunggah status ig aku kemarin," sesalnya begitu ceroboh.


Shalin sempat memfoto tangan kirinya yang terpasang selang infus, lalu mengunggahnya di ig, mungkin itulah sebabnya pria itu mencari tahu.


"Biar apa, Dek, unggah kaya gitu, ada gitu manfaatnya, yang ada kamu didatangi preman kampus!" kata Aka dingin.


"Udah aku hapus kok, ya mana aku tahu tuh orang bisa nyusul ke sini, aku minta maaf." Shalin benar-benar takut melihat suaminya berubah menjadi dingin dan irit bicara. Bahkan tatapan seorang Akara itu seram kuadrat tak terhingga, seakan langsung menusuk tembus ke jantung.


Ruangan rawat mendadak sepi, pasangan halal itu tidak lagi saling mengobrol. Suasana mendadak mencekam, Aka yang biasanya cerewet pun terlihat sibuk sendiri di sofa dengan ponselnya. Entahlah, apa yang pria itu kerjakan.

__ADS_1


Untungnya Shali sudah lancar ke kamar mandi sendiri, jadi tidak perlu meminta bantuan suaminya. Akan sangat canggung bila masih sama-sama diam tetiba harus meminta tolong.


"Assalamu'alaikum ....!" Suara kalem khas ibu-ibu datang menyapa, rupanya yang datang adalah mertua Shali, beserta kakak ipar, dan juga Azmi. Mereka bertiga datang selepas dhuhur.


"Waalaikumsalam ....!" koor Aka dan Shalin hampir berbarengan.


"Bagaimana kabarmu, Ndok? Kok bisa masuk rumah sakit?" tanya Umi Salma mendekati ranjang. Diikuti Aka yang langsung meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan takzim.


"Alhamdulillah sudah mendingan kok Umi, terima kasih sudah datang, Mbak Aida."


"Sama-sama, Dek, cepet sembuh ya?" ucap perempuan itu seraya menaruh parsel buah di atas nakas.


"Hai, kok sakit sih, telat makan ya pasti, duh ... besok-besok jangan lagi ya, bikin khawatir aja," celetuk Azmi basa basi. Seketika keakraban mereka menjadi pusat perhatian Umi dan juga Aida.


"Azmi, kamu sepertinya sudah kenal dekat dengan Shali, kalian satu kelas?" tanya Umi Salma penuh selidik. Mereka tidak sekali pun terlihat ngobrol di rumah. Namun, gelagat dan ekspresi tubuh mereka diluar kata canggung. Kentara sekali mereka sudah saling mengenal dekat satu sama lain.


Diam-diam Aka memperhatikan interaksi keduanya. Mereka memang terlihat sangat akrab satu sama lain, kendati demikian semoga bisa saling mengikhlaskan dengan keadaan masa sekarang.


Dari ekor mata Azmi, menatap tajam sebuket bunga cantik yang teronggok di tong sampah. Tentu saja mencuri perhatian, apalagi setelah didekati dan mendapati nama pengirim di sana, jelas pria itu ikut dibuat kesal dalam hatinya. Pria yang terobsesi dengan Shali sejak dulu.


"Morgan baru saja dari sini?" tanya Azmi serius. Menghampiri kakaknya yang tengah duduk di sofa. Sementara Umi Salma dan Aida tengah berbincang akrab dengan Shalin.


Aka bergeming, hatinya begitu kesal mengingat kata-kata bocah tidak tahu malu tadi. Bisa-bisanya tuh orang manggil sayang istri orang. Apa ya tidak buat salah paham dan sakit hati.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... kok aku kesel banget ya?" batin Aka terasa sesak dalam dadanya.


"Bang, aku tahu bunga yang di tong sampah itu ada pengirimnya, tadi tidak sengaja lihat. Tolong jaga Shalin ya, Bang, aku khawatir dia ganggu Shali lagi. Pria itu sangat terobsesi dengan Shali," jelas Azmi cukup serius.


"Abang sedang memikirkan ini, kalau sudah sangat meresahkan dan mengancam akan saya tindak lanjuti ke jalur hukum," ujar Aka serius.


Morgan itu bandel, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses tanah air. Aka kenal dekat dengan kedua orang tuanya karena sering sowan ke pondok mereka di setiap kesempatan. Berasal dari keluarga terpandang tidak mudah langsung menggiring opini kenakalan pria tersebut. Bahkan di kampus, kasusnya nol terkecuali sempat viral lantaran dengan percaya dirinya nembak Shali di tengah banyak orang, namun Shali tolak, dari situ dendam dan sakit hati Morgan muncul.


Kedatangan Umi dan keluarga kecilnya tidak berlangsung lama. Jam besuk usai mereka harus meninggalkan rumah sakit.


"Kita pulang dulu ya, cepet sembuh!" pamit Umi, Aida, dan Azmi.


Sepeninggal keluarga mertuanya, Aka tidak kunjung mendekati ranjang. Shali jadi berasa sendiri, kurang nyaman dan tidak sampai hati ingin mengutarakan sesuatu di hati. Entahlah, diamnya Aka selalu membuat batin Shali tak nyaman. Perempuan itu turun dari ranjang, hendak melangkah keluar.


"Mau ke mana, Dek?" tanya Aka langsung bangkit dari duduknya dan mendekat.


"Minta tolong suster buat copot infusnya, aku mau pulang," jawab Shali jujur. Merasa sudah pulih jelas tidak betah di rumah sakit.


"Kamu tunggu di ranjang, biar Mas yang bilang," ujarnya lembut.


"Kamu udah nggak marah sama aku, Mas?"


"Aku tidak pernah marah sama kamu, aku hanya sedang banyak menahan diri untuk lebih sabar memahami maksud suasana hatimu?"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Shali tidak mengerti.


"Aku cemburu, Dek, aku cemburu." Aka menarik tubuh istrinya dan memeluknya, mencium dengan sayang puncak kepalanya.


__ADS_2