
"Aku cemburu, Dek, aku cemburu." Aka menarik tubuh istrinya dan memeluknya, mencium dengan sayang puncak kepalanya.
"Cemburunya orang diem tuh serem, ngomong salah, nggak ngomong salah," celetuk Shali mengomel dalam dekapan suaminya.
Aka sedikit memberi jarak, namun tidak melepaskan dekapannya. Memperhatikan wajah istrinya yang tengah menggerutu. Pria itu mengikis jarak, hendak menyumpal mulut istrinya yang manyun sepuluh centi itu dengan bibirnya ketika seseorang masuk tanpa permisi.
"Astaga! Mata gue ternoda, anjir adegan dua puluh satu plus," celetuk Reagan tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Re, kamu ganggu aja," jawab Aka cuek. Mereka spontan memisahkan diri.
"Nggak tahu tempat, rumah sakit woi ... tahan dong kalau kangen. Mata gue 'kan jadi tidak perawan lagi," ujarnya mendrama.
"Bisa diem nggak sih, nyerocos mulu perasaan. Ngapain ke sini?"
"Kangen sama kamu, suruh Mommy ngantar makanan buat adik ipar." Tunjuk Reagan mengarah ke Aka yang berdiri tak jauh dari mereka berdua berada.
"Aku udah mau pulang kok, nggak betah di rumah sakit lama-lama."
Akhirnya setelah mendapat kunjungan pemeriksaan dokter dan keadaannya cukup stabil, sore harinya Shali boleh pulang. Tentu saja ke rumah Shali dulu.
Pria itu memapah istrinya dan membawanya ke kamar mereka dengan hati-hati.
"Dek, besok kita pulang ke rumah ya, aku tidak bisa meninggalkan pesantren lama-lama."
Shali hanya mengangguk sebagai respon, berusaha memahami keadaan dan profesi suaminya yang milik orang banyak. Harus rela berbagi waktu yang tak mudah di saat ingin diperhatikan layaknya seorang pasangan. Sebenarnya ia masih ingin tinggal sebentar lagi di sana, namun Shali ragu untuk meminta izin dari suaminya.
"Mas, kalau beberapa hari aku tinggal di sini dulu gimana, boleh?" pinta Shali harap-harap cemas.
__ADS_1
Bukan apa-apa, Shali baru saja pulang dari rumah sakit, butuh ketenangan, pastinya akan sangat canggung bila pulang ke rumah mertuanya hanya diam di kamar sedang fisiknya terlihat sudah membaik.
Aka mendes@h panjang, "Bagaimana ceritanya seorang suami dan istri hidup terpisah. Aku akan merawatmu, jangan terlalu banyak merepotkan orang tua, walaupun mereka tidak merasa direpotkan, tetapi kamu adalah tanggung jawab aku, jadi ... sudah tahu 'kan jawabannya apa?"
Ternyata praduga Shali tepat sasaran, mustahil rasanya Aka membiarkan dirinya tinggal di rumah orang tuanya. Mereka memutuskan untuk menginap semalam lagi, sebelum akhirnya memutuskan pulang hari berikutnya.
"Maaf, Mommy, Daddy, izin membawa Shali pulang," pamit Aka keesokan harinya.
Sky yang sangat paham dengan jam terbang kegiatannya cukup maklum. Pria itu pun langsung mengiyakan saja mereka pulang, walau sebenarnya jujur masih sangat berat ditinggalkan.
"Daddy, kita pulang dulu ya?" Shali bergelayut manja di lengan ayahnya.
"Iya sayang, jangan bandel lagi, nurut apa kata suami," pesan Sky serius.
"Iya Dadd, siap! Mommy juga mau pesan gitu pastikan."
"Nggak kok Mom, aku nggak lupa." Keduanya saling berpelukan haru.
"Mas, bawa mobil saja punyaku menganggur di garasi?" ujar Shali menego.
"Motor aku gimana, Dek, ini juga buat pulang pergi ke kampus," ujarnya tak setuju. Jarak yang tidak begitu jauh dengan kampus membuat Aka lebih nyaman memakai motor.
"Ribet ya Mas, kamu tuh," timpal Shalin sedikit kesal.
"Jangan marah-marah terus dong, sayang, kamu hobi banget merajuk, akunya jadi gemes," goda Aka seraya bersiap pulang.
"Pakai jaketnya dulu, Dek!"
__ADS_1
Aka membantu memasangkan jaket istrinya, lalu menyuruhnya duduk sejenak.
"Ngapain, Mas?" Shali bingung ketika mendapati suaminya tiba-tiba berjongkok di depannya.
"Pakai kaus kaki dulu, Dek, biar hangat," ujar pria itu. Dengan telaten memasang kaus kaki dan sepatunya.
"Hati-hati di jalan ya?" Lambaian tangan kedua orang tua Shali mengiringi kepergian mereka, sudut mata gadis itu mengembun, ia yang masih belibet dengan ibunya, merasa belum terobati kangennya dan sudah harus pulang.
"Jangan khawatir, nanti sampai rumah bisa telepon mereka, 'kan?" ucap Aka menenangkan kegalauan hati istrinya. Sebenarnya ia merasa kasihan, namun dirinya juga tidak bisa tinggal terpisah dengan istri kecilnya yang telah berhasil menguasai seluruh hatinya.
Shali mengangguk dalam diam, pria itu memperhatikan raut wajahnya dari pantulan kaca spion, sama dengan Shalin yang tak sengaja memperhatikannya, Aka tersenyum penuh cinta, sementara Shali terdeteksi merona dengan memutus kontak mata mereka, membuang pandangan ke samping lalu tersenyum tipis dan menunduk. Ah ... rasanya malu tertangkap mencuri pandang.
Satu tangan Aka menguasai stang gas, sementara tangan lainya ikut bertumpu pada tangan istrinya yang sedari tadi mengurung tubuhnya. Sudah pasti berdasarkan instruksi suaminya. Perlahan motor itu melaju membelah jalanan. Suasana romantis itu tercipta begitu saja. Tanpa sadar tubuh mereka sangat rapat tak berjarak.
"Dek, turun sebentar, kamu pasti haus 'kan? Beli minum dulu ya?" ujar pria itu menepikan motornya.
Aka menghampiri penjual asongan di pinggir jalan, mengambil satu botol aqua kemasan sedang. Membuka sealnya terlebih dahulu sebelum diberikan pada istrinya.
"Makasih, Mas," ujar gadis itu setelah membasahi beberapa tegukan kerongkongannya.
Pria itu menerima dari tangan istrinya, lalu minum dari tempat yang sama, masih duduk istirahat di bahu jalan. Sementara Shali tidak merubah posisinya, duduk di atas motor.
"Kita istirahat sebentar ya, di sini pemandangannya menyejukkan mata," ujar Aka menerawang.
"Iya, bagus." Suasana yang tidak begitu terik membuat keduanya nyaman berkendara dengan motor.
Tanpa diduga, Aka mengambil ponsel miliknya, lalu mengambil beberapa gambar istrinya. Shali yang instragamable tidak merasa keberatan, ia malah dengan sengaja berpose, membuat Aka gemas sendiri. Mereka juga mengabadikan foto mereka berdua di jalan.
__ADS_1