Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 50


__ADS_3

Seperti biasa selepas maghrib, ada ngaji bersama malam jumat, yaitu yasinan pondok. Mereka akan berkumpul di masjid untuk tahlilan bersama. Aka tentu saja ikut kegiatan islami tersebut di dalamnya. Begitu pun dengan Shali, setelah sholat jamaah bersama, bersama dengan Ummi ikut bergabung dengan santri putri yasinan bersama. Mereka baru rampung setelah isya, dan disambung jamaah bersama.


Sekitar pukul delapan, Shalin baru tiba di kamar, disusul Aka di belakangnya. Mereka baru saja pulang kegiatan rutin malam jumat.


Shalin melepas mukenanya, dan menukar dengan hijab instan sedang. Aka hanya memperhatikan sekilas, sebelum melayangkan satu kecupan lembut di pucak kepalanya.


"Kenapa Mas?" Perempuan itu menoleh, menangkan sorot mata Aka yang menatapnya lembut.


"Ayo makan malam dulu, pasti sudah ditungguin umi sama abah," ajak Aka meraih tangannya.


"Iya Mas, aku juga sudah lapar," jawab Shali beranjak. Mereka keluar dari kamar, berjalan beriringan menuju ruang makan.


Aka langsung menuju meja makan, sementara Shali ke dapur untuk membantu umi menyiapkan makan malam.


"Dek, aku mau kopi dong," pinta Aka tiba-tiba muncul di belakang Shali. Pria itu sedikit mengikis jarak, membuat Shali waspada, di dapur ada umi juga yang tengah wira-wiri menyiapkan semuanya.


"Mas, kamu tunggu di ruang makan aja nanti aku bawa ke sana," ujar Shali memperingatkan.


"Iya, aku tunggu di sini aja nggak pa-pa?" jawabnya santai. Mengiyakan tetapi tidak lekas beranjak, posisi Aka yang begitu dekat, membuat Shalin salah tingkah.


"Ini aku bantuin ambil cangkirnya," ujar Aka menyodorkan mug dan menaruhnya di konter dapur.


Aka selalu minum kopi dari air panas yang baru mendidih. Itu artinya Shali harus merebusnya dahulu menggunakan panci, atau wadah kecil. Sembari menunggu air mendidih, Shali menuang gula dan kopinya ke dalam gelas.

__ADS_1


"Mas, dibilangin tunggu di sana aja, kamu ngapain sih di sini mulu, nggak enak dilihatin Ummi tuh," ujar Shali kikuk. Jujur gadis itu grogi kalau ditatap sedemikian intens oleh suaminya, mendadak ia salah tingkah.


"Iya deh, aku tunggu di ruang makan, makasih ya udah buatin buat aku," ujarnya tersenyum, lengkap dengan kerlingan nakal memungkasi kepergiannya.


Perempuan itu kembali fokus ke panci berisi air yang telah mendidih. Ia menuang air itu dengan hati-hati, tepat saat yang bersamaan hewan kecil hinggap di kakinya. Membuat perempuan itu menjerit seketika hingga menyambar cangkir berisi air dan tumpah tepat di bagian tubuh yang tertutup rok. Seketika gadis itu mengaduh, merasakan bagian pahanya seperti terbakar.


Aka dan semua orang yang mendengar jeritan Shali langsung beranjak dari ruang makan menuju dapur. Mendapati Shali tengah membungkuk seraya mengipas bagian pahanya yang terkena air panas dengan tangan. Gadis itu menangis kesakitan.


"Astaghfirullah ... Dek, mana yang kena?" Aka datang dengan muka panik. Ia ikut berjongkok dan meneliti kaki bagian atas istrinya yang sepertinya memerah.


"Ada apa, Ka?" Umi dan yang lainya ikut ke dapur melihat keadaan Shalin.


"Mas, sakit," adu Shali bergegas beranjak.


Begitu sampai kamar, Shali langsung menuju kamar mandi membuka roknya dan mengaliri pahanya dengan air keran. Cukup lama gadis itu melakukan pertolongan pertama, Aka menantinya dengan sabar.


"Ke dokter aja, Dek, itu merah banget, aku takut melepuh," ujar Aka khawatir.


"Nggak usah Mas, gini aja dulu, ada salep nggak buat pereda nyeri ini, khusus kena air panas."


Aka baru saja mau beranjak, ketika tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk. Rupanya Ummi Salma datang dengan membawa salep di tangannya.


"Gimana keadaan, Shalin? Ummi masuk ya?" ujar Umi Salma ikut khawatir. "Ini salepin dulu," Ummi Salma ikut meneliti luka Shali yang sengaja gadis itu tutupi dengan kain.

__ADS_1


"Dibuka aja nggak pa-pa, biar kena angin, jangan ditutup biarkan tetap terbuka untuk menghindari gesekan, ini paling cuma suamimu yang lihat nggak pa-pa," ujar Ummi Salma tersenyum.


"Maaf, Ummi jadi tidak sopan," sungkan Shalin malu.


"Aka, bantuin istri kamu obatin, kalau Shalin berkenan ke dokter saja Nak," ujar Ummi menginterupsi.


"Terima kasih, Ummi, pakai salep aja dulu," jawab Shalin lembut.


"Sini buka aja nggak pa-pa, 'kan aku suamimu? Aku bantuin obatin ya?" ujar Aka perhatian. Pria itu lekas berjongkok dan mengambil posisi siaga, membuat Shali merasa entah.


Shali sebenarnya bukanya nggak mau, namun gadis itu merasa malu dengan suaminya tanpa rok dengan setengah polos.


Aka mulai mengoles kulit pah@ istrinya dengan hati-hati. Pria itu juga meniup-niup kecil dengan telaten.


Shali nyengir saat obat itu mulai memberi efek di tubuhnya. Perempuan itu jelas merasa tidak nyaman, dari segala rasa panas, nyeri, dan juga geli akibat sentuhan tangan lembut suaminya.


"Mas, aku obatin sendiri aja," ujar Shali menghindar. Aka menahan kaki Shali agar tetap terdiam.


"Kenapa musti malu, aku ini suamimu, semua tubuh polosmu, halal bagiku," ujar pria itu tersenyum.


"Sebelah sini kena nggak, Dek?" tanya Aka sedikit menggoda. Belum sempat Shalin menjawab, Aka lebih cepat mendaratkan satu kecupan lembut di kaki bagian atas istrinya. Membuat perempuan itu seketika melebarkan netranya.


"Mas, ngapain?" tanya Shalin gugup.

__ADS_1


"Cari pahala versi lainnya, Dek, kasihan sebelah disentuh, masa yang kanan nggak," jawab Aka tenang seraya tersenyum.


__ADS_2