Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 80


__ADS_3

Pagi ini Shali begitu bersemangat, pasalnya siang nanti rencananya, perempuan dua puluh tahun itu akan berkunjung ke rumah Mommy Disya yang sudah teramat ia rindukan.


"Kamu semangat banget sih, Dek, senengnya yang mau jumpa mommy dan daddy."


"Iya lah, aku kangen banget sama mereka, sama Reagan si resek juga. Hahaha, kangen jailnya kembaranku, dia masih absurd nggak ya?" Shali terkekeh sendiri menerawang keluarga orang tuanya yang begitu harmonis.


"Mas, nanti kita pulang dari kampus langsung aja ya, jadi nanti sekalian pamit sama ummi dan abah," usulnya dengan senyuman.


"Hmm, maunya gitu ya, berangkatnya nunggu aku jumatan sekalian Dek, jadi agak sorean. Aku 'kan masih ada tanggung jawab di kampus," ujarnya memberi pengertian.


"Iya Mas, siap. Ayo kita berangkat, nunggu apa lagj!"


Kedua sejoli halal itu melangkah gontai ke meja makan. Mereka bergabung dengan keluarga Aka yang sudah siap di meja makan. Semuanya nampak khusuk menikmati hidangan pagi ini.


"Ka, tolong nanti sore kamu ikut Abah ke undangan Kamil Entertainment ya?" ujar Abah di sela sarapan.


"Sore ini, Bah?" tanya Aka sembari melirik istrinya dan seketika merasa tidak enak.


"Iya, jadi ceritanya kita tuh dapat undangan dari salah satu perusahaan entertain. Terus kita disuruh mengisi semacam program kajian gitu, Abah mau merekomendasikan kamu?"


"Aku ya Bah, aku 'kan udah handle kampus Bah, lumayan banyak PR saya, belum lagi usaha simbah Hasan, yang harus Aka tangani juga, kenapa tidak Azmi saja, Aka kira Azmi lebih cocok, calon ustadz muda."

__ADS_1


"Cie ... keren bener kalau dapat kontraknya, masuk TV dong, Zayyan mau Bah, kalau Bang Aka sama Bang Azmi nolak." celetuk Zayyan antusias.


"Emangnya kamu bisa ceramah, ngisi acara kaya gitu juga perlu mental bintang, Za, nggak cuma penampilan, tetapi isi otaknya kudu mateng, Abah sih bisa aja rekomendasi kamu, tetapi kamu belum saatnya."


"Hehe, pengen nampang Bah, lumayan nanti kalau viral 'kan dapat nilai plusnya. Siapa tahu aku dapat istri artis yang cantik, iya nggak?"


"Belajar aja belum kelar, mikirnya udah ke sana aja kamu, sekolah dulu yang bener, jangan banyak main!" tegur Aka terhadap adiknya yang paling nyeleneh.


"Jadi gimana, Ka, ini kesempatan kamu untuk bersinar di dunia baru," ujar Abah promosi.


"Dakwah itu 'kan bisa dilingkungan mana saja, kita sepatutnya bisa menempatkan posisi agar bisa dapat menghimbau orang lain mengikuti, atau mengamalkan kebaikan dari setiap apa yang kita sampaikan."


Sekali lagi, Aka melirik istrinya yang sedari tadi hanya menunduk dalam. Seperti mengerti dengan kegundahan hatinya, Aka meraih tangan istrinya di bawah meja, menggenggamnya merem@s lembut sebagai responnya.


Azmi sendiri hanya diam, tidak urun rembug sedikit pun. Ia tidak begitu antusias, namun juga tidak pandai menolak.


"Baiklah, tidak ada paksaan, ditolak juga bisa 'kan, cuma kesannya tidak sopan, apalagi itu permintaan khusus dari CEOnya langsung, Pak Bisma."


"Terima aja Bang, mana ada kesempatan datang dua kali, kalau pada nggak mau sayang banget, bisa dakwah tebar ilmu kebaikan, sekalian ngeksis."


"Astaghfirullah, itu ria namanya Za, nggak boleh, inna akmaluu binniat. Hendaklah kamu melakukan segala sesuatu dari hati, ikhlas aja jalani yang penting niatnya baik dan benar, perkara nantinya jadi terkenal atau tidak itu bonus, yang penting ngejalaninya dengan sungguh-sungguh, menebar kebaikan."

__ADS_1


"Siap Ustadz Akara Emir Hasan Bin Bapak Emir Hasan, hehe." Zayyan nyengir tanpa dosa.


Acara sarapan pun diwarnai dengan obrolan hangat, dan kajian keluarga.


"Nanti Aka kabari ya Bah, kami berangkat dulu, Azmi kamu siap aja, siapa tahu nanti sore digandeng Abah."


"Iya Bang," jawab Azmi datar. Pria itu semakin hari semakin kalem dan cool saja, selain urusan kampus, lebih menyibukkan di hobby otak atik bengkel yang ia kelola, sembari mengisi waktu luang yang terbuang sia-sia.


Shali dan Aka keluar secara berbarengan, niat hati sekalian mau pamitan gagal total sebab agenda lainnya.


"Maaf, Dek, aku minta pendapat kamu, gimana?" tanya Aka sembari memasangkan seat belt istrinya.


"Terserah kamu aja, Mas, aku tim hore aja, kalau mau ambil ya nggak pa-pa, kamu pikirin dulu, waktu kamu bakalan lebih sibuk syuting program itu pastinya."


"Tetapi pertemuannya 'kan nanti Dek, kita ada acara, kamu nggak pa-pa?"


"Nggak pa-pa Mas, acara keluarga aku 'kan bisa dijalani selagi ada waktu saja, kamu berangkat aja, tetapi aku tetap izin ke rumah mommy ya, sendiri juga berani kok, udah terbiasa."


"Dek, aku nggak akan datang kalau kamu nggak ngizinin aku datang nanti sore, kita masih bisa menebar kebaikan di mana pun kok."


"Bener kata Zayyan, kesempatan itu tidak datang dua kali, Mas, kamu bisa dikenal lewat banyak orang, lebih luas lagi jangkauannya."

__ADS_1


Aka menatap lekat istrinya, menggenggam erat tangannya, sekali tatapan saja bisa menemukan jawaban di sana.


__ADS_2