
"Kamu membuat aku terkesan, Mas, terima kasih sudah mau sabar," jawab Shalin mengulum senyum.
Shalinl mengigit bibir bawahnya karena gugup dan juga malu. Aka masih memperhatikannya tanpa jeda, sungguh, ujian besar dalam hidupnya ketika sesuatu yang nampak indah di depan mata, belum bisa ia rasakan.
"Jangan gini Dek, kamu membuat aku panas," ujar pria itu menghela napas panjang.
"Aku?" Shali bingung sendiri. Gadis itu pikir ia tidak melakukan apapun, kenapa Aka terlihat sangat tidak nyaman.
"Bibirnya jangan digigit gitu, kamu membuat aku—astaghfirullah ... Dek, istirahatlah semoga cepat sembuh," ujarnya lembut. Menarik kepalanya dalam dekapan dan menciumnya dengan sayang.
"Mas? Kamu nggak pa-pa?"
"Hmm ... ya, tidurlah, sebelum aku berubah pikiran," ujar pria itu memejamkan matanya.
Shali mendongak, mendapati wajah suaminya yang menutup matanya. Namun, satu tangannya masih sibuk mengelus lembut belakang kepalanya.
"Mas, aku tidur duluan ya, aku udah ngantuk," pamit Shali sembari membalas dekapan suaminya. Mengusak lembut kepalanya pada dada bidang pria itu.
Aka masih membuaianya dengan sayang, mengusap dan mencium puncak kepalanya hingga membuat istrinya terlelap nyaman.
"Selamat tidur, selamat beristirahat, semoga kita besok dipertemukan lagi dalam keadaan sehat dan limpahan rahmat-Nya," gumam Aka lembut. Mencium keningnya, gadis itu sudah terbuai ke alam mimpi. Cukup lama Aka memperhatikan garis wajahnya yang menggemaskan, hingga tak perlu waktu lama memutuskan jatuh cinta.
Walaupun mereka belum lama kenal, namun Aka cukup lama mengenal baik ayahnya. Itu sudah cukup menjadi nilai plus keluarganya. Walaupun pernikahan mereka dadakan, itu artinya dari sisi keduanya tetap memanda penting silsilah keluarga mereka. Sangat harus, apalagi untuk standar pasangan hidup, tentu harus mempunyai kriteria, walaupun mungkin awalnya berat untuk Shali, Aka bersyukur istrinya perlahan mulai bisa menerima dan memahami pernikahan ini.
Dini hari, saat Aka terjaga, pria itu selalu meluangkan waktu untuk bermunajat di sepertiga malamnya. Memohon doa pengampunan dan doa kebaikan untuk kelangsungan hidupnya. Berhubung istrinya masih sakit, Aka mengerjakan seorang diri tanpa membangunkan Shali. Pria itu bangkit dari pembaringan, dipandangi sebentar istrinya yang terlihat begitu lelap, mengecup sekilas bibirnya lalu beranjak ke kamar mandi mengambil wudhu.
Usai sujud panjang pagi ini, Aka kembali ke atas ranjang, meneliti dengan seksama paha istrinya yang terlihat sudah tidak memerah. Aka berharap sedikit lebih baik dari hari kemarin. Sungguh kasihan istrinya, baru saja pulang dari rumah sakit, dan kini terkena insiden itu.
"Astaghfirullah ... Mas, kamu sudah bangun?" Shali terperangah saat membuka matanya suaminya sudah terjaga dan tengah memperhatikan lukanya.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Aka memastikan. "Kalau masih sakit, biar aku obati lagi," ujar pria itu hendak bangkit, namun Shali menahannya.
"Nggak Mas, udah nggak perih kok, alhamdulillah juga tidak mengelupas kulitnya, jadi ... sepertinya ini aman," ujarnya tersenyum.
"Aman? Maksudnya?" Otak Aka sungguh travelling.
"Iya, aman, sudah tidak sakit, obatnya bekerja dengan baik dan atas izin Allah sembuh," jawab gadis itu tepat sekali.
"Alhamdulillah ... syukurlah kalau sudah merasa lebih baik," jawab Aka berbinar. Menarik tubuhnya dan mengecup keningnya.
"Aku ke masjid dulu, panggilan alam sudah menyeru," ujarnya bergegas. Sementara Shali menunaikan dua rakaat di rumah.
Gadis itu terlihat sibuk saat Aka kembali ke kamarnya. Shali tengah menyusun jadwal kuliah hari ini. Ia juga sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya mengajar.
"Dek, kamu mau masuk hari ini?" tanya Aka masih sedikit khawatir dengan kondisinya dan keadaannya.
"Nggak pa-pa Mas, aku jauh lebih baik, lagian tugas aku banyak, nanti numpuk," ujarnya yakin.
"Bukannya Mas jadwal mengajar siang ya, Mas santai-santai aja dulu, aku berangkat sendiri aja nggak pa-pa."
"Aku antar saja, banyak hal yang bisa kukerjakan di kampus, jangan khawatir aku menganggur," ujar pria itu mengulum senyum.
"Baiklah, aku bisa apa kalau Pak Ustadz sudah bertitah," jawab Shali pasrah.
"Manggilnya kok gitu? Kurang enak didengar," protes Aka kurang terima.
"Ya sudahlah, berhubung aku istri yang baik dan sholehah, aku akan nurut saja."
Aka tersenyum melihat istrinya mendumel, ia berjalan mengikuti istrinya sampai di depan pintu kamar mandi. Jelas, Shali menatap tanda tanya dan waspada.
__ADS_1
"Mas, aku mau mandi, kok ngikuti?" tegurnya merasa sungkan.
"Boleh?" tanya pria itu tersenyum nakal.
Shali nampak menghela napas panjang, ia tidak lekas menjawab.
"Jangan gugup gitu Dek, aku hanya becanda kok, kamu duluan nanti terlambat," ujar pria itu meloloskan. Seketika Shali membuka pintunya dan menutupnya dengan cepat. Gadis itu bersandar pada pintu dan bernapas lega.
Usai merampungkan kegiatan paginya, mereka berangkat ke kampus bersama. Ada sedikit yang berbeda, suaminya pagi ini memutuskan berangkat memakai mobil. Shalin tidak begitu masalah, bahkan jarak antara kampus dan juga pesantren tidak begitu jauh. Masih di wilayah yang sama.
"Usai kelas, jangan langsung pulang ya, ke ruang aku dulu?" ujar Aka mengintimidasi.
"Iya Mas, " jawab Shali patuh.
"Sampai ketemu di kelasku nanti siang, kuharap kamu menempati kursi paling depan," ujar Aka menatap serius.
"Dek, ada yang ketinggalan!" seru Aka menghentikan pergerakan Shali yang hampir beranjak turun dari mobil.
"Apa Mas?" tanya Shali bingung. Gadis itu sudah mencium punggung tangan suaminya, apanya yang ketinggalan.
"Balikin dulu, hati dan pikiran aku yang kamu bawa, aku nggak konsen?" ujar Aka basa-basi.
"Maksudnya Mas?" Sungguh Shali tidak paham.
"Sini Dek, lebih dekat aku bisikin," ujar Aka tersenyum. Gadis itu menurut, spontan Aka mendekat, mensjajarkan tubuh mereka, tanpa diduga pria itu memagut lembut bibir istrinya yang hampir membuat perempuan itu kehabisan napas.
"Mas, yang bener dong, ini area kampus, dan juga tempat umum!" tegur Shali terengah. Riasan paginya yang paripurna sampai lusuh karena ulahnya yang rusuh.
Pria itu nyengir, "Makasih, booster aku pagi ini, semoga harimu menyenangkan," ujarnya seraya mengulum senyum.
__ADS_1
"Astaghfirullah ... kerudung aku berantakan! Dasar dostadz mesum!"