
"Lin ... woi! Malah bengong lagi, jalan bestie!" seru Izza yang membuat gadis itu kembali pada lamunan singkatnya.
"Eh, ya, sorry gagal fokus," jawabnya nyengir bingung.
Perempuan itu kembali fokus ke jalanan, berdasarkan petunjuk google maps akhirnya mereka sampai di kediaman rumah temannya.
Shali dan ketiga temannya mengetuk pintu pagar yang dijaga satpam. Nampak pria dewasa itu menyambut kehadiran remaja itu dengan tanda tanya.
"Pak, kami teman Molly, kami mau berkunjung," ujar Shali dan teman-temannya.
"Owh ... iya silahkan masuk, Non Molly sudah menyampaikan pesan."
"Siapa Pak?" tanya seseorang yang sangat familiar suaranya di telinga Shali. Gadis itu pun menoleh, menyorot waspada pria di depannya.
"Lho, Shalin? Kok kita bisa bareng ke sini, wah ... jangan-jangan kita jodoh," seru pria itu girang.
"Jodoh dari hongkong," tukas Shalin ketus.
"Wah ... makin galak makin semangat, yang jutek emang menantang," jawab pria itu cuek.
"Za, kayaknya kita salah jadwal berkunjung deh, nasib banget ketemu nih orang," bisik Shali lirih.
"Hai, Gan, kita mau jenguk Molly, boleh 'kan?"
"Boleh dong, masuk aja langsung ke kamarnya," ujar pria itu mempersilahkan.
Mereka berempat masuk bergantian ke kamar Molly, Shalin yang diurutan paling belakang ditarik Morgan begitu saja hingga membuat perempuan itu mengaduh karena cekalan tangannya yang begitu erat.
"Aww ....!" desis Morgan mengaduh lagi-lagi mendapati gigitan kecil di tangannya yang lancang membekap mulutnya.
"Gila kamu ya?" Shalin menyorot nyalang penuh waspada.
"Aku semakin cinta kalau kamu galak gini, itu tantangan buat aku sendiri." Pria itu mengikis jarak, mengendus pipi Shali dengan napas memburu.
"Suatu hari nanti, aku yakin kita pasti akan bertemu di ranjang yang sama, aku menunggu itu cantik," bisik Morgan dengan seringai nakal di wajahnya yang seketika membuat gadis itu merinding, pria itu dengan kurang ajarnya mengambil ujung hijab Shalin dan menciumnya penuh sensual.
"Pria sinting!" Shalin mendorong kasar pria setengah waras di depannya. Buru-buru meninggalkan Morgan dan langsung melesat menyusul ke kamar Molly dengan napas gerogi.
__ADS_1
"Dari mana sih Lin, ngilang mulu," protes Izza yang tengah mengobrol dengan tuan rumah.
"Ngobrol sebentar sama gue, kita punya janji," jawab Morgan menyahut. Shali melirik dongkol penuh waspada.
"Nggak ada lah, mana ada aku punya janji, kamu ngada-ngada?" jawab Shalin berani. Posisi ramai membuat gadis itu berani menjawab dengan lantang.
"Molly, gimana kabar kamu, baik?"
"Hai Lin, lumayan galau, tetapi kedatangan kalian cukup menghibur. Terima kasih sudah datang, meluangkan waktu kalian yang pastinya sibuk."
"Sama-sama, cepat sembuh Molly kelas nggak rame nggak ada lo," seloroh Desta.
"Bisa aja lo jujurnya, gue paling nyablak kali ya?" Mereka terkekeh bersama.
"Mo, itu si Morgan kok di sini, lo berteman sama dia?" tanya Izza cukup mewakili Shalin yang hendak mengutarakan maksud yang sama.
"Kita saudaraan, Za, saudara sepupu lebih tepatnya, jadi biasa dia di sini," jawab Molly yang membuat Shalin tambah waspada.
"Udah sore, kita pulang dulu ya?" pamit Shali dan teman-temannya.
"Makasih, hati-hati di jalan," ujar Molly sembari cipika cipiki.
Shali benar-benar nggak nyangka kalau Molly dan Morgan itu saudara. Perempuan itu benar-benar merasa terancam setiap bertemu dengan manusia itu. Shalin berhenti tepat di depan asrama, menurunkan Izza di sana.
"Thanks bestie," ucap Izza sembari melambaikan tangannya.
Shali langsung melajukan mobilnya kembali, gadis itu sampai di pondok menjelang waktu maghrib.
"Assalamu'alaikum ...." sapa salam Shali begitu memasuki ruangan. Gadis itu sengaja masuk dari pintu belakang jadi langsung ke kamarnya.
"Waalaikumsalam ... baru pulang?" tanya Aka basa-basi. Pria itu tengah bersiap ke masjid.
"Iya, Mas, maaf, kamu udah rapih aja." Shali mendekat lalu mencium punggung tangannya, Aka membalas dengan kecupan singkat di keningnya.
"Aku jamaah dulu ya?" pamitnya lalu. Shali mengangguk, lalu beranjak ke kamar mandi, dan setelahnya sholat di kamar.
Shali baru beranjak dari sana menjelang isya, berjamaah dengan Ummi Salma. Setelahnya makan malam penuh kekeluargaan.
__ADS_1
"Ayo Dek, udah nggak ngapa-ngapain 'kan?"
"Mmm ... Mas nggak ngajar malam ini? tanya Shali begitu mendapati suaminya tidak kunjung beranjak, malah mengikutinya ke kamar.
"Nggak, di isi Azmi biar latihan," jawab Aka santai.
"Owh ...." Shali tersenyum canggung. Tiba-tiba teringat perkataan Izza siang tadi, 'ganas di ranjang' membuat gadis itu sampai menggeleng kecil yang mencuri atensi Aka yang memperhatikannya semenjak tadi.
"Dek, kok melamun? Kamu banyak pikiran?"
"Maaf, Mas, nggak kok," jawab Shali mendadak gugup.
"Tadi di rumah teman ngapain aja?" tanya Aka basa-basi. Sengaja membuat obrolan kecil agar istrinya tidak gerogi. Sepertinya Aka paham Shali butuh rileks.
"Nggak ngapa-ngapain Mas, biasa ngobrol aja sembari tanya keadaanya."
"Sayang, sini, duduknya deketan." Aka menepuk-nepuk pangkuannya sendiri.
Shali yang bingung dan canggung langsung ditarik Aka. Pria itu tersenyum, melepas hijab yang masih menutupi kepalanya lalu mencium aroma wangi di sana.
"Dek, kalau di kamar lepas aja, aku suka melihatnya," puji Aka sembari mengelus pipinya.
"Kita sholat sunah dulu yuk!" seru Aka yang langsung diangguki Shali. Bergantian mengambil wudhu dan menempatkan di sajadah yang telah tersedia.
Usai sholat, Aka langsung menghadap istrinya dengan senyum tenang.
"Dek, bismillah, izinkan aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami. Maaf, abalila nanti mungkin menyakitimu," ucapnya sembari membacakan doa kebaikan di ubun-ubunnya, lalu melepas mukenanya.
Shali mengangguk kecil, seraya memejamkan matanya, mengaminkan setiap doa kebaikan yang terucap dari bibir suaminya. Aka tidak lagi banyak bicara, pria itu langsung menggendong istrinya ke ranjang. Kedua netranya saling bersirobok mengunci satu sama lain. Shali terlihat begitu gugup bercampur gelisah dan malu tentunya.
"Sayang, tenang ya, nggak pa-pa kok, semua pengantin melewati ini semua," ucapnya meyakinkan.
"Aku takut Mas," cicit gadis itu pada akhirnya.
"Kita akan melewati malam penuh keberkahan ini bersama, jangan khawatir, Dek, Mas akan hati-hati," ucap pria itu tenang.
Sentuhan jarinya menyusuri wajah yang matanya terpejam, Shalin benar-benar sudah siap menjadi istri yang sesungguhnya. Perlahan satu persatu tangan kekar itu meloloskan apapun yang menempel pada istrinya, membuat pria itu tersenyum lembut lalu melepas pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Detik berikutnya, pria itu mencium kening, kedua pipi, dan berakhir menyatukan napas mereka penuh dengan damba. Memagut lembut dengan gairah penuh semangat. Mengajak lidah mereka saling berdansa. Sentuhan lembutnya mampu membawa gadis itu berdesir hebat, hingga seperti bagai dihinggapi kupu-kupu di perutnya.