Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 90


__ADS_3

Tawa sumringah dari perempuan berparas ayu langsung berhenti ketika sepasang netra pekat itu menyorotnya tajam. Orang-orang sekitar bahkan sampai mencuri dengar perkataan perempuan itu. Seketika Shali tersenyum kikuk seraya mengangguk sopan, menandakan tidak ada hal apapun di sini.


"Kamu tuh jangan terlalu jujur gini Dek, ini tempat umum!" tegur Aka berbisik gemas.


"Ya emang kenyataannya kamu tuh dingin dan lempeng kan Mas di luar," balas Shali berbisik manja.


"Iya tapi di ranjang panas, ini buktinya kamu susah berjalan," celetuk Aka tersenyum puas.


"Aww ... adoh! Sayang, sakit lah!" adu Aka menggerutu saat cubitan gemas istrinya mendarat di pinggangnya. Gantian Shali yang mrengut.


"Kamu tuh keterlaluan Mas, udah jelas aku udah capek, masih aja usilin aku, mana semangat terus coba, alhasil aku jadi gini. Eh, bukannya prihatin kamu mah nyebelin, suka diledekin mulu."


"Bukannya kamu keenakan ya Dek, makanya sampai pasrah gitu, aku suka kalau kamu nurut gitu, makin legit, manis dan menggigit," bisik Aka menggelikan sekali.


Shali menyorot tajam suaminya, sementara Aka mengambil tangan istrinya menciumnya dengan wajah tersenyum tanpa dosa.


"Makasih ya, nanti malam boleh dikasih bonus lagi," selorohnya yang seketika membuat wajah Shali pucet.


"Astaghfirullah, lucunya istriku, bikin gumush." Aka mencupit hidungnya.


"Ihk ... jangan Mas, tangan kamu kotor!" protes Shali sebal.


"Sayang udah belum, kita mau pamitan dulu." Mommy Disya menginterupsi. Mereka berpamitan, lalu bergegas pulang.


"Ka, kamu yang bawa mobilnya Ka, udah paham 'kan jalannya?" Daddy Sky meminta gantian. Alhasil Aka yang mengemudi pulangnya.


Daddy duduk di depan samping kemudian, sementara Reagan dan Shali duduk di jok belakang. Di sini sepanjang perjalanan Shali tertidur, sementara Aka mengobrol asyik dengan ayah mertuanya.


"Ka, kira-kira kapan kamu ada waktu luang, Daddy mau main ke pesantren, sekalian bahas resepsi pernikahan kalian, sebaiknya berita bahagia itu dibagi sama khalayak orang."

__ADS_1


"Akhir bulan ini ada study visit ke Singapura, Dadd, bagaimana kalau setelah Aka pulang saja, nanti sekalian kode sama abah. Daddy main saja, sudah lama juga kan Daddy nggak ke sana."


"Iya, sepertinya memang harus diagendakan."


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di kediaman Ausky kembali. Sebenarnya Shali masih enggan pulang, namun Aka sudah memintanya untuk pulang karena pesantren sedang repot.


"Sayang, besok-besok libur main lagi, pulang dulu ya?" bujuk Aka yang masih alot bernego dengan istrinya.


"Mas pulang duluan aja lah, katanya nginep sampai dua hari, ini baru semalam, aku belum mau pulang!" Shali masih betah di rumah mommy.


"Nggak bisa gitu dong Dek, ayo pulang, kemasi barang-barangnya. Nanti kamu kangen kalau nggak bareng pulangnya," seloroh Aka gemas sendiri.


"Ah, nggak asyik banget sih, aku tuh masih belum puas Mas, main di sini."


"Gimana kalau besok pas Mas ke singapure, kamu main di rumah mommy, kamu tunggu Mas di rumah mommy."


"Jadi lah, kamu bisa nginep selama aku pergi."


"Berapa lama sih?"


"Enam hari kurang lebih, nah Adek bisa nginep di sini."


"Dih ... lama banget enam hari!"


"Kangen ya?"


Aka dan Shali masih dalam perdebatan kecil dan diskusi hangat di mobil dalam perjalanan pulang, akhirnya Shali menurut permintaan Aka yang menyuruhnya pulang.


***

__ADS_1


Sementara di sisi yang berbeda, nampak keluarga Bisma tengah membujuk putrinya untuk belajar di pesantren Al-Hasan. Nashwa jelas menolak, gadis belia itu tidak mau pindah tempat tinggal, yang otomatis pindah sekolah di sana juga.


"Pokoknya Nashwa nggak mau, nggak mau!" tolak Nashwa memberontak.


"Sayang, di pesantren itu nanti kamu juga banyak teman, banyak saudara, sekolah yang baru juga bagus kok, Ayah dan Bunda sudah survey."


"Apaan, pokoknya Nashwa nggak mau, titik!"


"Gimana Mas, anakmu ini alot sekali, Bunda nggak tahu lah cara bujuknya."


"Na, sekarang Abang tanya deh, apa alasan kamu nggak mau mondok? Asyik kok, Abang aja betah."


Razik akhirnya memilih mengikuti jejak ibunya berguru di pondok Tahfiz asuhannya ustadz Zaky. Anak itu tergolong jarang pulang hanya untuk hari-hari tertentu saja. Sudah sejak lama ingin mengajak adiknya yang sedikit bandel itu mengikuti dirinya, namun gadis itu masih ogah-ogahan.


"Ya nggak mau lah, apalagi di tempat Abang jauh banget sampai ke kota sebelah. Nanti kalau kangen Ayah sama Bunda gimana."


"Ya makannya yang nggak terlalu jauh aja, masih satu kota, mau ya sayang nanti sore langsung Ayah dan Bunda antar."


"Untuk keperluan sekolah, dan yang lainnya nanti Ayah yang urus, kamu cukup masuk dan belajar dengan nyaman."


Setelah debat alot, dengan bujukan dan rayuan, serta semua orang kerahkan. Finally, Nashwa sorenya diantar Ayah Bisma dan Bunda Nabila ke pesantren Al Hasan.


Kesan pertama masuk, Nashwa nampak melihat-lihat sekitar, dan kedua orang tuanya yang sudah saling mengenal itu langsung disambut baik oleh Kyai Emir. Anak gadis itu terlihat resah gelisah, galau tak tentu arah duduk di ruang tamu tengah dipasrahkan menimba ilmu di sini.


"Ummi, Abah, Nana itu nggak bisa tidur bareng-bareng gimana dong?" protes Nashwa merasa tidak nyaman.


"Sayang, nanti lama-lama juga terbiasa kok, banyak teman itu asyik sayang," tegur Bunda Bila merasa malu, bisa-bisanya putrinya bernego dengan Pak Kyai.


"Ya sudah begini saja, kamu untuk sementara bisa tinggal di dalem, menempati kamar Azmi, nanti biar Azmi tidur bareng Zayyan untuk sementara," ucap Ummi Salma penuh solusi, yang sepertinya menjadi sinar terang di hati gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2