
Shali menoleh, berusaha menemukan jawabannya lewat matanya. Pria itu menyorot lembut, begitu teduh hingga membuat perempuan itu yakin, Akan memilih dari hati.
"Kamu yakin Mas?" tanya Shali menekankan.
"Lebih dari yakin, hari ini 'kan sudah ada janji nemenin kamu, masak aku ingkari, jahat dong akunya."
Shali tersenyum mendengar celotehannya, bergerak cepat menghampiri lalu menubruk tubuh suaminya dengan manja.
"Kamu mengambil keputusan yang tepat Mas," ucap perempuan itu manja. Mengalungkan kedua tangannya lalu meraup bibir Aka dengan berani. Pria itu pun membalas dengan *****@n nan lembut penuh damba. Keduanya saling memberi jarak, saat merasa dadanya butuh menghirup oksigen.
"Kamu udah bersih?" tanya Aka penuh senyuman menggoda.
"Belum, masih sedikit, mungkin besok. Hehehe."
"Jangan mancing-mancing, Dek, cukup meresahkan!" ucapnya seraya mencupit hidungnya gemas.
"Sorry Mas, refleks aja, habisnya seneng."
"Jadi nganterin dong berarti? Udah telepon abah kalau nggak bisa ikut?" Shali memastikan.
"Iya jadi adek sayang ... tadi udah ngabarin kok, biar diambil Azmi dia 'kan pinter pasti bisa."
"Dia emang pinter Mas, pasti beruntung nanti yang jadi istrinya," celetuk Shali begitu saja.
"Jadi maksudnya kamu nggak beruntung dapat aku?" tukas Aka mendadak sensi.
"Astaghfirullah ... bukan gitu, hubby ... maksudku tuh Azmi pasti bisa diandalkan. Aku bersyukur banget malah ketemu kamu, ya walaupun awalnya nggak cinta, yang penting sekarang udah ada rasa lah."
__ADS_1
"Berapa persen, Dek?"
"Tak terhingga Mas, dan tidak bisa dideskripsikan. Tetapi aku bisa merasakan begitu nyaman dan tenang saat berada di sampingmu, gelisah dan merindu saat jauh denganmu."
"Lumayan berarti ya Dek, walaupun masih suka ngambekan," cibir pria itu jujur.
"Kamu juga, dikit-dikit marah, dikit-dikit cemburu, dikit-dikit sensian. Kamu Mas, ngaku dong."
"Habisnya gemes aja, kamu tuh seakan-akan pasrah kalau ada yang deketin, padahal udah jelas punya suami. Siapa yang nggak gemes coba."
"Ya udah baiknya gimana? Bikin syukuran, terus undang teman-teman, sanak saudara, kerabat dan semua yang kita kenal."
"Musyawarah dulu sama orang tua," ujarnya memberi pendapat.
"Iya, mungkin nanti sekalian lihat hari yang pas buat acaranya, yang penting jangan kelamaan."
Begitulah resiko menikah di usia muda, harus rela masa-masa di mana tengah asyik bersama kawan dipangkas karena sudah mempunyai tanggung jawab yang harus diprioritaskan.
"Dek, kita bawa apa ya ke rumah mommy?" tawar Aka bingung. Sepertinya membawa buah tangan ide cemerlang.
"Nggak usah juga nggak pa-pa, Mas, kita bisa datang aja mommy dan daddy pasti udah seneng," jawab Shali santai.
"Masa' tangan kosong, apa gitu dek, beri ide dong, daddy sukanya apa, atau mommy sukanya apa kita bawakan sesuatu kesukaan mereka," ujarnya semangat.
"Mommy sukanya apa ya, daddy mah nggak pernah spesifikin segala sesuatunya, seingat aku tuh di mana mommy suka, di situ daddy pasti suka, mereka tuh sweet banget Mas, biar pun tak lagi muda, tetapi aku nggak pernah lihat sekali-kali daddy marah. Malah seringnya tuh mommy yang ngomel-ngomel nggak jelas. Duh ... daddy memang terbaik, kangen."
Aka menjadi pendengar yang baik, pria itu nampak menyimak cukup serius.
__ADS_1
"Berarti sama seperti kamu ya Dek, suka mengomel, cemberut nggak jelas. Maunya begini, bilangnya begitu," celetuk Aka yang seketika membuat Shali melirik sengit.
"Tuh 'kan, serem kalau ngambek, dunianya suram," selorohnya terkekeh pelan.
"Udah, ayo turun, kita beli oleh-oleh dulu buat orang tua Adek."
Mereka turun, Aka menanti istrinya lalu menggandengnya masuk ke sebuah toko kue.
"Pilih cake atau brownies yang sekiranya keluarga suka Dek, dua-duanya juga boleh," ujar Aka memberi petunjuk.
"Brownies sama kue lapis aja Mas, mommy suka yang berbau chocolate, sama kaya aku, aku juga mau chocolate yang besar dong," pinta Shali memilih sesuai yang diinginkan.
Setelah memesan, mereka harus menunggu di meja kasir yang lumayan antri. Alhasil karena merasa kasihan, Aka menyuruh Shali duduk dengan tenang sementara dirinya rela mengantri di depan kasir yang cukup mengular.
Setelah lebih dari lima belas menit menunggu giliran, akhirnya Aka bisa membawa beberapa kardus cake dan brownies yang telah dipilih istrinya. Mobil kembali melaju, namun karena sudah memasuki waktu ashar, pria itu kembali berhenti di halaman masjid pinggir jalan raya.
"Aku sholat dulu Dek, biar perjalanan kita tenang," ujar pria itu menginterupsi. Keduanya turun dari mobil. Berhubung Shali masih berhalangan ia hanya menunggu saja di halaman depan yang teduh.
Empat rakaat pria itu tunaikan di salah satu masjid yang mereka jumpai dalam perjalanan. Aka sudah selesai , pria itu lekas menghampiri istrinya yang ternyata mampir ke warung sebelah pinggir jalan.
Perempuan itu tengah bersimpuh sembari menikmati wedang ronde yang kebetulan ia jumpai di sana.
"Di sini ternyata Dek, dicariin juga." Perempuan itu nyengir tanpa dosa.
"Ayo Mas, udah," ujarnya bergegas setelah melakukan pembayaran.
"Bentar Dek," ujar Aka menginterupsi. Pria itu berjongkok, lalu membenahi, menali tali sepatu istrinya yang lepas.
__ADS_1