Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 41


__ADS_3

"Gimana, Dek? Mau dicoba nggak?" ucap Aka memastikan. Pria itu ikut merangkak ke atas kasur dan mengusak lembut belakang tengkuk istrinya. Membuat Shali geli sendiri.


"Nggak mau, itu namanya mesum, kamu modus!" bantah Shalin manja masih dengan posisi yang sama.


"Kok mesum, modus dari mananya, kalau emang iya juga nggak pa-pa 'kan tubuh kamu halal buat aku," jawab pria itu percaya diri. Menyingkap selimut yang menutupi wajah istrinya, hingga terlihat wajah cantiknya yang merona.


"Tahu Mas—bisa nggak sih, nggak bahas itu dulu, aku lagi nggak enak badan nih, aku tambah pusing," keluh Shali manja. Berusaha menarik selimut kembali namun Aka menahannya.


"Mas, jangan terlalu dekat, munduran sana kamu menghimpitku," protes Shali merasa tak aman, setiap berdekatan dengan jarak yang lumayan dekat jantung Shalin seakan maraton di tempatnya.


"Tapi aku maunya lebih dekat dari pada ini, gimana dong, Dek?" Pria itu sengaja menggoda.


Ya ampun ... Tuhan tolong aku lagi pusing, dan lapar, nanti aku bisa pingsan dan nggak kuat nahan gombalannya.


"Mas, aku tuh lagi flu, dan sedikit pusing, nanti kamu ketularan," sanggah perempuan itu menyela.


"Ya udah sini Mas pijetin, mana yang masih pusing," ujar pria itu mengubah posisinya menjadi saling berhadapan. Aka memperhatikan wajah istrinya begitu lekat, membuat Shalin bingung sendiri.


"Mas ... jangan lihatin aku kayak gitu dong, aku 'kan jadi nggak enak," jawab Shalin bingung.


"Ya dienakin aja, habisnya gimana dong aku pingin nambah pahala, salah satunya dengan lihat Adek kaya gini." Aka tersenyum mengusap pucuk kepalanya lembut.


"Kalau masih sakit, ke dokter aja ya, atau minum obat kalau cara alami nggak mau," ujarnya memberi pilihan.


"Mas, kamu semalam yang ngerawat aku ya, kok kamu masih baik aja sama aku yang nyebelin gini?" tanya Shali penasaran.


Shali yakin saja jawabannya pasti bukan lantaran cinta, mustahil bukan mereka baru saja menjalin sebuah hubungan kalaupun ada, mungkin sedikit, selebihnya hanya status yang mengharuskan mereka tetap harus memenuhi tanggung jawabnya.

__ADS_1


Aka tersenyum lalu menjawab dengan tenang, " Kalau aku meperlakukanmu seperti caramu memperlakukan aku, maka kamu akan membenciku."


Shali tertegun mendengar jawaban itu, memberanikan diri menatap matanya yang kini tengah menyorotnya lembut.


"Aku tidak membencimu, Mas, aku hanya perlu beradaptasi dengan hal yang baru, mungkin harus berdamai dengan takdir lebih tepatnya," jawab Shalin akhirnya.


"Kita bisa mencoba bersama-sama, menjalani rumah tangga ini sebaik-baiknya sesuai syariat. Di mana kita saling belajar memahami, aku memahamimu, dan kamu memahami aku. Pelan-pelan saja, asal jangan pernah menolak setiap kali aku ingin lebih dekat denganmu," ujarnya lembut.


"Terima kasih, Mas, sudah sabar, maaf sering bikin kamu kesel," ujarnya penuh sesal.


"Ya, jadi gimana? Mau cara alami atau ke dokter saja?"


Astaga! Ini orang masih mancing aja.


"Aku hanya butuh istirahat, makan, dan nenangin pikiran aku saja Mas, udah itu aku pasti sembuh. Aku lapar dari kemarin belum makan."


Shali bangkit dari kasur, turun dengan perlahan, berjalan menuju lemari mencari rok yang longgar lalu memakainya langsung. Aka hanya memperhatikan tanpa kata, semua lekuk tubuhnya bahkan terlihat begitu indah, membuat hatinya berdesir seketika.


"Mas! Astaghfirullah ... kok bengong sih, aku keluar dulu mau minta tolong Mbok Santi beliin bubur ayam saja," ujarnya lalu.


Sebenarnya Shali masih pingin rebahan, namun dirinya merasa khawatir kalau Aka tiba-tiba meminta haknya sementara dirinya masih dalam mode lesu, dan tak bersemangat.


"Mbok San, lagi sibuk nggak, Mbok, bisa minta tolong bentar Mbok, tolong beliin bubur ayam, Mbok, aku lapar," ujar Shali menemui seseorang yang telah mengabdi pada keluarga Sky semenjak Shali kecil.


"Sibuk nggak sibuk, Non, siap aja, ditunggu sekedap."


Tak lama Aka ikut menyusul ke dapur, mengambil duduk tepat di samping istrinya.

__ADS_1


"Mas, bubur ayam mau nggak? Atau mau sarapan apa?" tawar Shalin dengan suara serak.


"Apa aja, Dek, terserah," jawab Akan santai.


"Sayang, kapan sampai? Kok anak mommy ada di sini?" Mommy Disya menyapa berbarengan dengan Sky di belakangnya. Kedua pasangan yang tak lagi muda itu hadir dengan pakaian olahraga.


"Baru semalam sampai, Mom, Mommy dan Daddy udah tidur waktu kita datang."


Shali dan Aka kompak menyalim mereka dengan takzim secara bergantian.


"Maaf, Dadd, datang malam-malam tanpa memberi kabar," ujar Aka merasa tak enak.


"Mommy sama Daddy kok udah kompak gitu, mau olahraga ke mana?" tanya Shalin mrengut.


"Mau jalan pagi sebentar sayang, mommy nggak tahu kalau kamu mau datang, kamu santai-santai dulu aja sama suamimu, biar kita olah raga sebentar, sambil nunggu Mbok Santi masak buat sarapan," ujarnya semangat empat lima.


"Aku keburu lapar, Mom, Mbok Santi lagi aku suruh beliin bubur ayam," jawab Shali tanpa dosa.


"Kamu sakit, kok suara kamu gitu?" tanya Mommy Disya mendekat, tangannya terulur mengecek keningnya dengan punggung tangannya.


"Ini sih demam kamu, istirahat saja di kamar nanti dibawa ke sana bubur ayamnya. Nanti Mommy buatin lemon anget," ujarnya memberi solusi.


"Masuk angin biasa Mom, sedikit mual dan pusing, tapi udah mendingan kok," ujarnya santai.


"Shali sakit? Wah ... tanda-tanda hamil tuh jangan-jangan, orang hamil muda kan biasanya sakit dan mual," celetuk Reagan ngasal.


Aka dan Shali saling melirik dalam diam, pria itu tersenyum sementara Shali menunduk malu.

__ADS_1


__ADS_2