
Berbeda dengan Shali yang tengah dilanda galau, Nashwa malah merasa deg degan menanti iqob yang siap menyapa. Setiap santri yang melanggar aturan pesantren, akan dikenai sanksi.
"Duh ... males banget harus ngejalani hukuman, gimana juga gue musti cari cara biar lolos," gumam Nashwa penuh ide.
Semua santri yang bermasalah akan digiring dan diberikan sanksi di ruang pendisiplinan.
"Sha, tolong panggilin Nana ya, dia harus mempertanggungjawabkan pelanggaran kemarin," titah Azmi pada Shali.
Biasanya Azmi tidak melibatkan kakak iparnya itu, namun karena Nashwa tinggal di Ndalem otomatis Shali yang akan jadi perantara.
Shali pun mengangguk, perempuan itu berjalan gontai menuju kamar Nashwa yang sore ini bahkan tidak hadir menghadap pengurus. Shali mengetuk pintu secara perlahan.
"Dek Nana! Aku masuk ya Dek!" seru Shali sembari mengetuk pintunya. Karena tidak ada sahutan perempuan itu pun sedikit membuka pintunya dan mengintip, terlihat gadis remaja itu tengah tidur dengan semua tubuhnya terbungkus selimut.
"Na, bangun! Jam segini tuh nggak boleh tidur, harus ikut kegiatan sore di pondok," tegur Shali mengguncang bahu gadis itu perlahan.
"Maaf Kak, saya lagi nggak enak badan," jawab Nashwa lirih.
"Uhuk uhuk!" Gadis itu terbatuk dengan nada serak, menambah serentetan melodi penghayatan dalam diri Nashwa semakin mumpuni.
"Kamu sakit?" tanya Shali sembari mengecek keningnya.
"Tapi badan kamu nggak panas?" tanyanya lagi memicing.
"Uhuk uhuks! Saya sedikit demam Kak, tidak panas ya, tapi kepalaku pusing, dadaku gemetar, dan keringat dingin, itu kenapa ya?"
__ADS_1
Shali melongo mendengar penuturan Nashwa yang terdeteksi bar bar akut. Ia menggeleng kecil sembari tersenyum.
"Sepertinya kamu mengalami indikasi gejala penyakit serius," jawab Shali yakin.
"Hah!" Nashwa refleks terbangun dari tidurnya.
"Maksud kakak saya sakit beneran? Kalau begitu saya harus pulang, saya harus berobat ke dokter spesialis hati yang sering saya rasakan tak menentu. Nih kan deg degan lagi, apalagi kalau ada kamu di sini?" tunjuk Nashwa mengarah pada pintu.
Shali pun mengikuti arah pandang gadis itu dan seketika melihat Azmi di sana. Tepatnya berdiri di ambang pintu dengan muka dingin.
"Tidak salah lagi, kamu sakit serius Nana!" tekannya cukup yakin, namun ada senyum di sana yang menambah yakin hati Shali tentang apa yang sedang diderita anak itu.
"Tetapi aku merasa lebih baik, Kak, ah ... ini pasti ada yang tidak beres, atau aku kena setan-setan di jalan kali ya?"
"Sekarang apa yang kamu rasakan?"
"Dengan siapa?" tanya Shali yang sebenarnya sudah lumayan paham dengan apa yang dirasa gadis itu.
"Kamu sengaja membuat alasan atau mau mangkir dari sanksi ya?" tuduh Azmi berjalan mendekat.
"Keluar! Atau saya tambahin point kamu, semakin kamu menunda dan menyela point semakin numpuk dan kamu terancam gagal belajar di sini."
"Owh gitu, ya bagus lah gue bisa pulang. Hehehe." Nashwa nyengir.
Pulang itu adalah solusi terbaik, tetapi kalau pulang secara tidak terhormat karena dikeluarin dari pondok ya jelas kena amukan warga, eh ralat, amukan ayah bunda yang sungguh baik itu.
__ADS_1
"Na, bangun gih, ayo kakak antar ke aula," ujar Shali gemas sendiri.
"Ngapain? Nggak mau aku lagi pusing, nggak mau dihukum, aku mau istirahat," rengek Nashwa lebay sekali.
"Owg ... jadi beneran sakit? Ya sudah kalau gitu biar aku telponin dokter buat memeriksa keadaan kamu," ujar Azmi begitu lebih baik.
"Eh, nggak, nggak usah, aku cuma butuh istirahat, ini tidur sebentar pasti sembuh," jawabnya setengah gerogi.
"Duh ... ribet bener sih nih aturan, pada nggak peka apa ya, gue nggak mau dihukum, woe ....!" batin Nashwa nelangsa.
"Ya udah Mi, tunda besok aja, sepertinya memang Nashwa sakit, biar istirahat dulu," ucap Shali pengertian.
Sebelum meninggalkan kamar, Azmi lebih dulu meneliti atau menatap Nashwa memastikan. Sayangnya ia tidak bisa mengecek langsung karena ia memang tidak boleh bersentuhan. Entah mengapa Azmi meragu, tapi kenapa juga ada sedikit rasa khawatir, apabila gadis itu beneran sakit gimana?
Akhirnya mereka pun meninggalkan kamar Nashwa, iqob ditangguhkan dan akan diberi sanksi besok setelah murid sembuh.
Selepas Shali dan Azmi meninggalkan kamar, Nashwa pun menghela napas lega. Dirinya sudah menyusun rencana untuk kabur dari pesantren dari pada harus dihukum besok. Sungguh Nashwa tidak rela mendapat sanksi yang baginya sangat berlebihan hanya karena menyapa kyai mereka.
Menjelang malam, Nashwa yakin semua orang masih sibuk mengaji, jadi praktis tidak ada yang memperhatikan. Gadis itu pun keluar dari kamar dengan perlahan, berjalan terjingkat melewati halaman belakang.
"Duh ... kok digembok sih!" gerutu Nashwa kesal mendapati pagar belakang yang terkunci rapat. Dirinya bahkan sudah memesan taksi yang akan mengantarkannya pulang.
"Ngadi-ngadi nih emang orang, kamu pikir gue nggak berani manjat apa!" kesalnya sembari meneliti tembok yang lumayan tinggi. Gadis petakilan itu pun mencari cara untuk memanjatnya.
"Tinggi juga ya, kalau jatuh terus mati gimana? Astaga! Amit-amit, gue masih muda, belum nikah, belum travelling dan jalan-jalan sama pujaan suami," cerocosnya sembari mencari cara.
__ADS_1
"Oke, fine, sepertinya ini mudah," gumamnya sembari memanjat pagar yang dirasa paling mutakhir.
"Ghem!!"