
Aka menurunkan istrinya dengan hati-hati. Pria itu tersenyum lembut melihat istrinya yang masih malu-malu bahkan tidak berani menatap matanya.
"Mas, kamu ngapain masih di sini, keluar sana aku mau mandi," ujar Shali seraya mendorong pelan dada bidang suaminya agar menjauh.
"Pengen lihat cara mandinya mantan gadis, siapa tahu butuh jasa gosok punggung," seloroh pria itu mengulum senyum.
"Mas, keluar sana jangan ngeledekin mulu!" Shali menggerutu kesal, Akan malah terkekeh tak jelas.
Shali hampir tidak punya muka, ternyata suaminya ini orang yang begitu percaya diri, nekat, dan teramat mesum. Terbukti sebelum meninggalkan istrinya di kamar mandi, sempat mencuri satu kecupan di bahu polosnya penuh tatapan yang berbeda.
Pria itu berjalan gontai keluar kamar mandi, membiarkan istrinya membersihkan diri setelah melewati malam spesial mereka. Sementara istrinya mandi, Aka lebih dulu mengganti sprei yang kotor meninggalkan jejak merah di sana. Pria tersenyum, benar-benar pengalaman indah yang sudah pasti membuat pria itu candu.
Usai mengganti dengan bad cover, Aka menyiapkan gantinya untuk istrinya. Perempuan itu merasa terharu saat keluar dari kamar mandi menemukan ruang kamar yang sudah rapih.
"Mas, kamu yang bersihin ini semua?"
"Iya, kamu 'kan pasti capek, jadi biar aku saja," jawab Aka seraya meneliti pergerakan istrinya yang masih terbatas, hingga tanpa sadar membuat pria itu tersenyum karena merasa lucu setiap kali melihat perempuan itu berjalan.
"Kamu ngapain sih, Mas, lihatin aku terus dari tadi," tegur Shali merasa kurang nyaman.
"Apanya yang salah, aku ini suamimu, Dek, kalau aku natap kamu balas dong, Dek, biar hati suamimu itu senang, adem tentram syukur dibalas dengan senyuman."
"Tatapan kamu nggak tulus, kamu ngeledek aku ya?" tuduh Shali mrengut. Menyambar pakaian ganti yang sudah disiapkan suaminya.
__ADS_1
"Nggak sayang, aku berasa jahat banget kalau gitu, jangan ngambek dong, masya Allah cantik banget istri solehannya Akara," puji pria itu seraya mengikis jarak.
"Ngapain ngikutin?" Shali terdiam, membuat pria itu ikut terdiam seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nggak ada, mau ambil sajadah bersih aja," jawab Akan melewati Shali begitu saja.
Perempuan itu terdiam, melirik pergerakan suaminya yang tak kunjung beranjak.
"Aku ke masjid dulu ya, kalau susah buat jalan sholat di kamar aja, sepertinya kita harus sering mencobanya biar kamu terbiasa," bisik Aka tepat di belakang telinganya, lalu mencium istrinya dengan lembut. Seketika membuat Shali terperangah, membuat kulit tubuhnya meremang seketika, dengan jantung rancak tak beraturan.
"Astaghfirullah ... gini amad punya suami mesum," batin Shali mendramatisir. Menekan dadanya sendiri. Sementara pria itu sudah melesat berjamaah.
Dengan cepat Shali memakai pakaiannya, lalu menunaikan dua rakaat subuh di kamar. Perempuan itu beranjak meneliti isi tas, memastikan jadwal untuk makul hari ini dan tugas sudah dimasukkan. Rasanya hari ini malas untuk beraktifitas di luar, seluruh tubuhnya terasa lelah, pegel, nyeri, sungguh tidak nyaman. Apalagi untuk berjalan, sungguh menyebalkan.
"Asyik banget sih, Dek, pagi-pagi mainan hape," tegur Aka sembari menempatkan posisi duduk di dekatnya.
"Bingung mau ngapain, Mas, mau keluar sih sebenarnya, bentar lagi biasanya jam segini ummi pasti udah sibuk di dapur."
"Nggak bantuin nggak pa-pa kok, 'kan ada Bu Darmi, cuma ya kalau ada suaminya di sebelahnya jangan dianggurin juga," kata Aka menatap lekat istrinya.
Shali terdiam sesaat, membalas tatapan suaminya yang semakin lama semakin mengunci dalam.
"Dek, numpang rebahan ya." Tiba-tiba pria itu membaringkan tubuhnya, dan menjadikan paha Shali sebagai bantalan. Kedua tangan pria itu mengunci tubuh istrinya lalu menenggelamkan wajahnya pada perut istrinya.
__ADS_1
Sepertinya Shali harus mulai terbiasa dengan tingkah Aka yang tak terduga. Kadang menciumnya tanpa aba-aba, kadang seperti sekarang ini yang tiba-tiba merebah, membuat perempuan itu kaget saja.
Namanya juga pengantin baru, ranjang sudah pasti menjadi tempat favoritnya.
"Dek, kamu masuk jam berapa?" tanya Aka masih di posisi yang sama.
"Jam setengah sepuluh, Mas, kenapa?"
"Berarti masih banyak waktu dong, kalau kita—"
Owh ... jangan bilang suamiku mau minta jatah lanjutan.
Aka menatap wajah istrinya dari bawah, perempuan itu sengaja membuang muka malu.
"Dek, mau coba lagi nggak? Kalau udah hatam tuh nggak sakit, tetapi makin nikmat," ucap pria itu yang membuat Shali geli sendiri menjawabnya.
"Kamu nggak capek? Aku masih sakit, Mas, bisa nggak jangan pagi ini juga, kita 'kan mau ngampus," jawab Shali benar adanya.
"Belum capek, pengen lagi, tapi kamunya nggak siap, ya udah siang ya, habis dari kampus, atau kalau nggak kamu ke ruang private aku, nanti pulangnya nungguin aku, aku ada bimbingan sampai sore," ujar Aka merinci kesibukannya.
"Kamu mesum banget sih, Mas, nggak mau janji, lihat nanti saja."
"Mesumnya cuma sama kamu kok, Dek, habisnya gimana kamu tuh ngegemesin, bikin nagih," jawab pria itu tersenyum.
__ADS_1