
Shali akhirnya pasrah tidur dalam dekapan Aka, ingin protes pun percuma, pria itu bahkan sekarang sudah tidur dengan nyenyaknya tanpa mau bertanggung jawab telah membuat spot jantung dadakan. Malam semakin merangkak akhirnya mata lentik itu ikut terpejam.
Tak terasa mereka dalam posisi yang sama semalaman, saling menghimpit merapatkan tubuh mereka. Dengkuran halus suaminya bahkan sampai terasa menerjang pipi gadis itu saking dekatnya.
"Mas, Mas ... bangun!" seru Shalin menepuk lirih pipinya.
Pria itu langsung terjaga, sesaat setelah terpaan lembut di wajah menyapanya.
"Jam berapa, Dek? Maaf, Mas terlalu nyenyak dan nyaman," ujarnya lekas bangkit dari ranjang. Seketika Shalin bergeser senang mendapatkan ruang ranjangnya kembali.
"Nah gini baru bisa gerak," ujar gadis itu tersenyum seraya melentangkan tubuhnya.
"Maaf, semalam nggak maksud pingin tidur di sini sampai pagi, eh malah bablas, maaf ya sayang, bikin kamu nggak nyaman," sesalnya merasa aneh pada diri sendiri.
Sebenarnya Aka semalam bermaksud menggodanya saja, eh malah keasyikan karena nyaman, ya sudahlah nanti bisa dicoba ulang.
"Mas, buruan, kok malah diem nggak mau subuhan di masjid rumah sakit?"
"Kamu gimana? Masa ditinggal, nanti butuh sesuatu nggak?"
"Nggak pa-pa Mas, paling ke kamar mandi udah bisa sendiri," ujarnya santai.
"Mas antar dulu aja, sini turun, setelahnya aku ke masjid."
"Mas, aku mau jalan sendiri aku bisa, nggak pa-pa beneran kamu berangkat ke masjid aja nanti ketinggalan jamaah," ujarnya mengingatkan.
Karena merasa bingung meninggalkan Shalin sendiri di ruang rawat, akhirnya pria itu memutuskan untuk sholat di ruang rawat saja sekalian jamaah bersama istrinya. Sembari menunggu fajar menyingsing, pria itu menyempatkan diri membaca alquran melalui ponsel pintarnya.
__ADS_1
"Dek, Mas tinggal sebentar ya? Mau cari sarapan?" pamit Aka pada istrinya.
Aka baru saja menyuapi Shali dan menyiapkan obat untuknya. Setelah urusan istrinya beres, pria itu berniat mengisi perutnya sendiri. Keluar dengan tenang sebab kini Shalin tengah beristirahat. Pria itu juga absen mengajar untuk hari ini. Mengabari orang rumah juga belum bisa pulang karena istrinya masuk rumah sakit.
Mendengar hal itu, Umi Salma dan Aida rencananya siang ini dengan diantar Azmi akan bertolak ke rumah sakit, di mana menantunya dirawat. Abah terpaksa absen karena ada undangan mengisi ceramah pengajian yang tidak bisa ditunda.
***
"Kok cepet Mas, nggak jadi sarapan?" tanya Shali kurang fokus. Gadis itu terkesiap mendapati yang masuk ke ruangannya bukan suaminya.
"Hallo sayang, tumben cewek seaktif kamu bisa sakit, aku khawatir lho?" Dengan percaya dirinya Morgan datang dengan sebuket bunga di tangannya.
"Ngapain ke sini?" tanya Shalin judes.
"Jangan galak-galak dong calon—istri. Cepet sembuh ya?" ujar pria itu mengikis jarak, dengan kurang ajarnya hendak mencium kening Shalin. Dengan sewot gadis itu langsung bangkit dan menghindar.
"Jangan kurang ajar ya, pergi!" usir gadis itu murka.
Shalin membuang muka malas, darahnya mendidih penuh kebencian dengan manusia satu ini. Ingin rasanya melempar tubuhnya keluar.
"Semakin kamu menolak, semakin aku tak ingin menyerah, kita lihat saja nanti, hati dan tubuhmu, pasti akan menjadi milikku!" ujar Morgan menyeringai.
"Kamu benar-benar sudah tidak waras Morgan, pergi, jangan ganggu aku, aku sudah menikah!"
"Aku tidak peduli kamu sudah menikah atau belum, yang paling penting aku mencintaimu, bodohnya Azmi melepas kamu begitu saja," tukasnya menyeringai.
"Bagaimana kalau kita main belakang, ayolah Shalin ... aku tahu kamu tidak mencintai suamimu 'kan?" Morgan berusaha merayu yang pastinya tidak akan mempan.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Morgan! Tolong jangan ganggu, aku sudah menikah!" Shali merasa takut, terlebih di ruangan itu cuma berdua, bayangan Morgan yang akan melecehkannya kembali terngiang, membuat perempuan itu turun dari ranjang dan bergegas tanpa mengindahkan selang infus yang masih terpasang.
"Shalin, mau ke mana? Aku hanya ingin menjengukmu, tenanglah, kamu bisa terluka." Morgan mendekat.
"Jangan mendekat, tolong tinggalkan ruangan ini!" bentaknya murka.
"Oke, aku pergi, cepet sembuh ya sayang." Pria itu dengan kurang ajarnya mengusap puncak kepala Shalin yang terhalang hijab.
"Ngapain kamu di sini?" Suara bariton Aka menggema memasuki ruangan.
"Eh, Pak Aka? Jenguk calon istri, Pak," jawab Morgan santai.
"Kamu tidak punya sopan santun ya, ngaku-ngaku istri orang!" bentaknya kesal. Tak ada toleransi untuk bocah di depannya. Seketika darahnya mendidih melihat tangannya dengan kurang ajarnya mengusap lembut kepala istrinya.
"Kamu keluar sebelum saya bertambah murka!" tukas Aka jengkel.
"Tenang dong Pak, saya ini cuma jenguk doang, pacar, eh mantan calon istri, masih mending saya lah ya, dari pada Bapak, nikung adik sendiri, sungguh keterlaluan dan tidak ada sopan-sopannya." Morgan melawan tanpa gentar.
"Kamu mau keluar dengan tenang, atau terpaksa saya seret dengan tidak ramah!"
"Oke! Fine!"
Morgan mahasiswa tingkat akhir yang bandelnya tidak ketulungan. Kedua orang tuanya di kenal baik oleh Aka, sayang anaknya jauh dari kata sopan.
"Mas, kamu nggak pa-pa?" tanya Shali memastikan, begitu tamu tak diundang itu keluar.
"Marah," jawab Aka tenang. Mengambil buket bunga pemberian Morgan dan membuangnya ke tong sampah.
__ADS_1
"Maaf, Mas, aku tidak tahu kalau itu anak bakalan datang," sesal Shalin.
"Hmmm," jawab pria itu dengan gumaman.