Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 87


__ADS_3

Shali berjalan pelan menuju kamar tamu dengan Aka mengekor di belakangnya. Rasanya itu masih kurang nyaman, namun dengan lihai perempuan itu mengabaikannya. Mommy dan daddy terlihat sudah rapi dengan baju couple yang serupa.


"Akan, kenapa belum ganti pakaian, baju kemarin itu kembaran keluarga kita, sambil nunggu Shali selesai. Atau sarapan dulu juga bisa Ka, kita udah pada sarapan tadi," ujar Mommy Disya memberi saran.


"Aku nungguin Shali aja, Mom sarapannya," jawab Aka membuat Mommy tersenyum haru. Perkara makan saja nungguin pasangan tuh, seperti gambaran melihat dirinya dan suaminya, merasa bersyukur anak perempuannya mendapat jodoh laki-laki yang sholeh dan begitu baik.


Shali keluar kamar dengan wajah full make up, membuat seketika Aka menatapnya dengan senyuman menggoda.


"Cantiknya istrinya Akara Emir, masya Allah ... semoga menjadi berkah dalam dirimu ya Dek, senantiasa sedap bila aku memandangmu."


Shali hanya menanggapi dengan senyuman, lalu berlalu melewati, kembali berjalan gontai menuju kamar. Perempuan itu mengganti pakaiannya begitu saja hingga membuat suaminya tanpa berkedip cukup lama.


"By, bantuin dong, tolong tarik resletingnya ke atas," pintanya memunggungi suaminya. Aka mengiyakan dengan senang hati.


Pria itu mengikis jarak, meraba punggungnya sekilas, lalu menempelkan bibirnya di sana. Setelahnya baru menarik resleting itu dengan benar. Mereka sudah sama-sama rapih dengan balutan kebaya brokat yang cukup elegan. Aka menggunakan pakaian bercorak batik dengan warna senada.


"Sarapan dulu habis itu berangkat," ujar Mommy menginterupsi. Pasutri itu akhirnya menurut dengan keduanya memilih mrnu roti tawar dengan selain kacang sebagai pelengkap.


"Mom kita ke mana, nikahnya nggak di gedung?" tanya Shali demi melihat arah mobil tidak sesuai isi kepalanya.


"Ke puncak, acaranya di sana," jawab Mommy santai.


Mereka sudah di dalam mobil berlima dengan formasi Mommy di jok depan bersebelahan dengan daddy. Reagan pinggir kanan, Shali tengah dan Aka pinggir kiri mereka berangkat sama-sama dengan mobil yang sama.

__ADS_1


"Bang, tumben kamu mau rapih gini?" cibir Shali pada Reagan uang terlihat lebih kalem dari biasanya.


"Titah mommy itu mutlak adanya, kaya kamu nggak tahu aja," jawab pria itu mrengut, sontak membuat seisi mobil tertawa.


"Numpang bahumu, Sha, butuh sandaran," celetuk Reagan tiba-tiba. Anak yang selalu rese' di lain kesempatan itu dari kemarin sepertinya sedang mode manja.


"Duh ... Mom, Reagan itu lagi galau, jodohin aja Mom," seru Shali sembari mengusap-usap kepalanya yang bersandar di kepalanya, membuat seseorang di pinggir kiri merasa iri saja. Ia meraih tangan istrinya dan merem@s dengan sedikit kuat. Keduanya sama-sama melirik dalam diam.


***


Sementara sore itu Azmi mendapat mandat dari kakaknya untuk mengikuti abah menghadiri undangan. Pria itu sebenarnya tidak berminat menggantikan kehadirannya, ia juga tidak begitu suka dengan dunia entertain.


Sekitar pukul tiga, Azmi dan Kyai Emir tiba di kantor Kamil Entertainment. Gedung pencakar langit itu terlihat begitu megah, pria tanggung itu berjalan dengan abah melewati jalan sebagai tamu khusus vvip. Mereka akan meeting bersama.


"Waalaikumsalam ... terima kasih atas undangannya, suatu kehormatan mendatangkan beliau di kantor ini."


Berhubung sudah waktu ashar, perbincangan mereka ditunda dan memilih untuk jamaah dulu di mushola kantor. Setelahnya mereka bisa memulai acara pertemuan itu dengan rapat kecil bersama dewan direksi dan jajaran departemen perusahan penting lainya. Keduanya nampak berbincang hangat saling mengakrabkan diri.


"Gus Azmi, jadi nanti programnya akan tayang pagi hari sekitar jam enaman gitu, itu tidak live jadi bisa ambil syuting sesuai jam yang sekiranya kamu sempatkan."


"Ini CV anak saya Pak, bisa dilihat dulu backgroundnya."


Seseorang kepercayaan Bisma yang disinyalir asisten pria itu pun mengamati dengan seksama.

__ADS_1


"Saya yakin nih pasti banyak kaum generasi A pada ngikutin acaranya, apalagi pembawaan enak dan masih muda serta asyik berbagi ilmunya," puji Bisma merasa takjub. Dia tidak menargetkan antara harus Aka atau Azmi keduanya sama-sama mempunyai daya tarik tersendiri.


"Denger-denger baru saja gelar pernikahan, kenapa undangannya tidak sampai sini Kyai," seloroh Pak Bisma di sela sesi santai.


Di luar ruangan, nampak kegaduhan terdengar, gadis remaja itu menerobos pintu dengan tidak sopan.


"Maaf Pak, saya sudah menahannya tetapi Nona Nashwa nekat meminta masuk," sesal seorang pria yang bertugas menjaga keamanan.


Bisma hanya menanggapi kalem lengkap dengan senyuman bersahaja.


"Tak apa Pak, tolong tinggalkan ruangan ini," titah pria itu menatap karyawannya.


"Ayah, Nashwa mau bicara!" Sapa gadis itu dengan nada sedikit kesal.


"Iya, boleh, nanti kita bicara." Bisma mendekati putrinya setengah berbisik.


"Pokoknya Ayah harus kasih izin atau Nasha tetap akan berangkat dengan atau tanpa izin, Ayah."


"Kamu tidak bisa lihat, Ayah sedang ada tamu penting."


"Sepenting apa sih!" Nashwa menoleh, mata mereka saling bertemu membuat sesuatu di otaknya mengingat sesuatu.


Nashwa ingat dengan jelas, pria itu adalah cowok yang sama dengan tragedi tertukarnya handphone mereka. Sementara Azmi, ia bisa mengingat dengan sorot matanya yang sama, dan namanya yang sama.

__ADS_1


__ADS_2