
"Suka itu boleh, tetapi kalau cinta dan sayang ya juga boleh," jawab Aka dengan tenang. Shali melirik sengit dan waspada.
"Tapi—sama yang halal, biar berpahala. Berhubung yang halal aku cuma kamu—berarti ya—sayangnya sama kamu," sambung Aka santai.
"Kok cuma kamu? Emang ada gitu niatan nambah istri?" tanya Shalin ketus. Menyorot tak ramah pada suaminya.
"Emang boleh?" gurau Aka yang seketika membuat gadis itu muram. Lalu menatap tajam suaminya.
Shalin bangkit tanpa suara, walaupun belum ada rasa cinta yang dalam, tetapi sepertinya dia tidak akan rela dengan yang namanya berbagi suami. Hatinya mendadak sangat kesal.
"Dek, mau ke mana?" Aka menarik tangannya dan menahannya. Karena kesal seketika Shali menghempaskan tangan itu dengan kasar.
"Astaghfirullah ... aku becanda sayang, ini 'kan obrolan kita belum selesai, kok ngambek sih." Aka mengejar Shali yang berjalan cepat, mengurung diri di ruang ganti.
Brakk!!
Gadis itu membanting pintu kamar ganti cukup keras membuat suaminya yang hendak masuk hampir terkena pintu.
"Astaghfirullah ... Dek, buka pintunya, Mas becanda doang kok tadi, beneran, sayang buka!" Aka menggedor-gedor pintunya cukup keras. Shali tidak menanggapi, biar sampai jebol juga Shali tidak akan membukanya, wujud dari protes dan kekhawatiran yang mendalam sebenarnya.
Saat Aka tengah mencari cara untuk membuka pintu, saat itulah kumandang adzan maghrib menyeru.
"Dek, Mas ke masjid dulu ya, jangan lupa sholat di rumah bareng ummi. Assalamu'alaikum ...." pamit Aka berseru, batinnya mengucap alhamdulillah karena diselamatkan adzan.
Mendengar seruan suaminya, Shali menghela napas panjang, lalu memutar kunci dan segera membuka pintu, saat itulah Aka sudah menanti di samping pintu, dengan cepat menangkap istri kecilnya agar tidak bermain petak umpet.
"Alhamdulillah ketangkep juga," seru Aka girang.
"Astaghfirullah ... hobi banget ngagetin, lepas, aku lagi marah sama kamu!" berontak Shali menggerutu.
__ADS_1
"Sshhhttt ... Shali sayang, tenang, Mas mau ngomong," ujarnya memenangkan.
Seketika Shali menurut, Aka memutar tubuh istrinya, namun tidak melepaskan dekapan itu.
"Kenapa marah, hmm ... emangnya aku salah apa?" Aka mendekatkan wajahnya.
Ya ampun ... ini orang, udah jelas-jelas bikin jengkel masih aja nanya, salah apa? Pingin gue plesterin muka bijaknya.
"Lepas Mas, udah adzan nanti telat jamaah," ucap Shali membuang muka.
"Mau jamaah di rumah, sama istri aku yang cantik," ujar pria itu menggoda.
"Nggak usah ngegombal deh ... nggak mempan, pokoknya aku lagi ngambek!" Gadis itu masih menekuk wajahnya, bermuram durja.
"Kamu lucu banget, ngambeknya laporan, nggak sekalian bikin proposal?" ledek Aka tersenyum. Shali mendelik kesal.
"Habisnya kamu tuh ngeselin, secara nggak sadar kamu tuh kaya minta izin buat poligami, ini yang aku takutkan nikah sama ustadz, rawan poligami!"
"kok masih dibahas, 'kan udah lewat!"
"Keselnya belum!"
"Owh ... itu artinya aku nggak boleh ya, bukannya kamu nggak suka sama aku? Kok keberatan, terus ngambek?"
"Bukannya nggak suka Mas, tetapi belum, lagi belajar!" jawab Shalin naik satu oktaf.
"Jadi—ada niatan buat suka ya sama aku?" goda Aka senyum-senyum nggak jelas.
"Terserah kamu ajalah, kamu nggak bakalan ngerti hati perempuan, minggir sana aku mau sholat," usir Shalin masih ketus.
__ADS_1
"Aku ngerti kok, dan aku nggak bakalan ngelakuin itu, makanya belajar buat cinta sama suamimu, Dek? Aku ini pria normal, yang pastinya membutuhkan kebutuhan seorang suami." Aka berkata cukup serius.
Tunggu-tunggu! Ini maksudnya Aka minta—ah cowok mah sama aja, mesum! Eh, tapi—
"Iya Mas, iya aku ngerti, lagi persiapan hati dulu biar nyaman ngelakuinnya," jawab Shali seraya membuang muka malu. Ingin rasanya Aka mengakak melihat muka bersalahnya, namun seketika ia urungkan mengingat istrinya tukang merajuk.
"Nanti malam boleh?"
"Insya Allah, Mas, semoga kamu beruntung," jawab Shali merona.
"Kalau sekarang cium dulu tetapi pakai irama boleh?"
"Maksudnya, irama apa Mas?"
"Desah@n, sayang," jawab Aka tanpa dosa.
"Astaga! Ustadz meresahkan!" Seketika Aka ngakak melihat aura juteknya.
"Ya udah deh, aku ke masjid dulu ya, udah hampir iqomah, assalamu'alaikum sayang ...."
"Waalaikumsalam! jawab Shali ketus.
"Jawabnya yang ikhlas, Dek?"
"Waalaikumsalam suamiku imamku ....!" sahut Shalin dengan nada dibuat selembut mungkin. Aka tersenyum, sebelum benar-benar beranjak mencuri satu kecupan di bibirnya, lalu berjalan keluar sedikit tergesa.
"Eh!"
Oh jantung, semoga kamu sehat selalu!
__ADS_1