Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 48


__ADS_3

"Jalan lagi yuk!" ajak Aka seraya merapikan jaket istrinya. Shali mengangguk dengan senyuman.


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Gadis itu kembali merapatkan tubuhnya, menjadikan pinggang suaminya sebagai pegangan. Aka tersenyum dalam hati, sesekali mengusap lembut punggung tangannya.


Selepas Ashar mereka baru sampai di rumah. Aka dan Shali disambut keluarga dengan ramah. Kebetulan hari ini kamis sore, jadwal santri latihan rebana, jelas terdengar di ruangan yang cukup ramai menabuh rebab serta bersenandung islami.


"Mas, itu setiap kamis gitu ya?"


"Iya, Dek, kamu mau ikut? Boleh banget biar ada banyak kegiatan," ujar Aka tersenyum.


"Nggak Mas tanya-tanya aja."


"Owh ... kirain tertarik, Dek, di sini ada banyak kegiatan para santri yang terjadwal. Kalau udah benar pulih, mulai ikut kegiatan biar nggak bosen di kamar terus."


"Iya, Mas, nanti Shali pikirkan."


"Ayo Mas antar ke kamar, kamu butuh istirahat."


"Benar Nak Shali, kamu istirahat saja di kamar, sepertinya masih butuh banyak istirahat."


"Terima kasih Ummi, kalau gitu Shali pamit dulu," ujarnya meninggalkan ruang keluarga.


"Abah, Ummi, Aka antar Shalin ke kamar dulu," pamit pria itu ikut undur diri.


"Iya, temani istrimu, Nak, jangan banyak mengganggu dulu, biarkan Shali bisa beristirahat," pesan Ummi yang membuat Aka mengeryit.

__ADS_1


"Jangan bengong Aka, masa gitu aja nggak tahu. Kamu harus pengertian jadi laki-laki, apalagi istrimu baru saja sembuh pasti butuh waktu untuk banyak istirahat." Ummi berkedip lembut dengan senyuman, seketika Aka tahu maksud perkataannya.


"Ummi, Ummi, ada ada aja, Aka aja baru nyicil gimana ceritanya jangan ganggu," batin Aka menggeleng kecil seraya tersenyum.


Pria itu berjalan cepat, mensejajarkan langkah istrinya. Lalu menggandeng dengan sengaja. Shali tidak menolak, hanya melihat tangan mereka yang bertautan sebentar, lalu fokus kembali ke arah lain.


Keduanya sama-sama mengucapkan salam begitu sampai ke kamar mereka yang sudah empat hari mereka tinggalkan. Kendati demikian kamar itu tetap bersih karena asisten rumah tangga Ummi rajin membersihkannya.


"Dek," Aka mendekat lalu duduk di samping Shali yang tengah membenahi isi tasnya.


"Kenapa Mas?" tanya gadis itu memperhatikan raut wajah suaminya yang berubah.


"Adek nyaman nggak tinggal di sini, maksud aku ... di rumah ini?" tanya Aka sembari menatapnya cukup lama.


"Hmmm ... sebenarnya ada rumah kosong, di dekat market pondok sebelah Masjid itu, Dek, tepat sebelah jalan raya, kalau Adek berkenan kita pindah ke sana. Tetapi di sana tidak ada yang bersih-bersih, masak dan lainnya, kamu gimana?"


"Aku masih sangat perlu belajar untuk itu Mas, tetapi kalau diberi kesempatan Shali akan belajar mengurus rumah. Waktu itu tinggal di asrama juga bersihin kamar sendiri, bisa lah," jawab Shali enteng.


"Satu lagi, rumahnya sederhana, bahkan mungkin sangat sederhana, jauh banget dari kesan mewah. Tetapi insya Allah, nyaman."


"Makasih sayang, kalau kamu mau kita pindah ke sana, tetapi kalau di sini kamu merasa sudah nyaman, alhamdulillah," sambung Aka.


"Aku terserah kamu aja Mas, di sini juga nyaman kok, keluarga kamu 'kan baik semua," jawab Shali tersenyum.


"Masya Allah ... adem banget lihat kamu nurut kaya gini, aku mau nemui abah dulu, kamu istirahat saja," ujar Aka tersenyum. Mengusap lembut pucak kepalanya lalu beranjak dari sana.

__ADS_1


Sepeninggal Aka, Shali merebahkan tubuhnya sejenak. Mulai memikirkan ke mana arah dan tujuan rumah tangganya. Ia juga sedikit kepikiran tentang Morgan, sebenarnya ada baiknya juga tinggal mandiri, entah mengapa Shali takut kalau tiba-tiba didatangi pria itu pas di rumah sendiri. Membayangkan saja begidik ngeri. Mungkin paling aman saat ini memang tinggal di pesantren.


Hingga menjelang senja, Aka belum kembali ke kamar, sepertinya pria itu benar-benar sibuk. Jenuh di kamar akhirnya ia memutuskan untuk keluar, memberi pakan ikan sepertinya mengasyikkan. Sembari menanti petang, Shali bermain di samping kamarnya sembari duduk di pinggir kolam. Memberikan hewan air itu pakan. Seketika ia tersenyum senang mendapati banyaknya ikan berwarna orange saling bergerombol berebut pakan.


"Dek, ngapain?" Aka datang menghampiri dan duduk tepat di sampingnya.


"Kasih umpan Mas, ternyata mengasyikkan ya kasih makan hewan berwarna ini," ujarnya tersenyum. Tangannya sampai ikut nyemplung karena gemas.


"Iya, di sini tuh pikiran kita bisa tenang, hewan air tawar ini memang comel," jawabnya tersenyum.


"Ayo Dek, temani Mas ke kamar," ajak Aka berdiri.


"Iya Mas." Mereka menuju kamarnya.


"Kamu lama, ngapain aja Mas. Bukannya selepas Ashar sampai maghrib free ya?"


"Ada tamu, kita ngobrol sebentar."


"Dek, abah mau ngadain syukuran yang agak besar untuk pernikahan kita," ujar Aka tiba-tiba.


"Kenapa emang, Mas, harus?"


"Kabar bahagia, apalagi pernikahan itu memang harus terang-terangan 'kan Dek, biar tidak menimbulkan fitnah dan persepsi yang berbeda. Tadi tuh Kiai Amar datang, beliau tidak tahu kalau aku udah menikah, beliau ada niat meng-ta'aruf aku sama anaknya. Aku jadi nggak enak banget."


"Padahal kamu suka ya Mas sama ceweknya?" tuduh Shali penuh selidik.

__ADS_1


__ADS_2