
Jarum jam pendek sudah menunjuk diangka sembilan, perempuan itu semakin resah tak tenang.
"Ya ampun ... ini orang mau pulang nggak sih, bikin kesel aja!" gerutu Shali mulai jenuh.
Perempuan itu sudah berdandan secantik mungkin menyambut suaminya pulang, lengkap dengan baju tidur tipis di atas lutut tanpa lengan. Ia saja tidak menyangka bisa menemukan baju haram itu di lemarinya. Ternyata mommy Disya yang sengaja menyelipkan ke kopernya tempo lalu. Shali ingin menebus kecewa suaminya tadi siang, sehingga ia bertingkah cukup menggelikan.
Mendadak pikirannya parno duluan, membayangkan Aka tengah berbincang asyik dengan perempuan lain. Apalagi mereka sempat mau taaruf.
"Nggak, nggak mungkin banget Aka lakuin itu, nggak mungkin, aku harus yakin itu," gumam perempuan itu percaya diri.
Shali menunggu dengan sabar. Lelah hayati sebenarnya yang ia rasakan, namun semangat membara membawanya lupa kalau tubuhnya perlu diistirahatkan. Perempuan itu mulai terkantuk-kantuk duduk di sofa kamar sembari streaming film yang sudah masuk ke daftar wishlist ponselnya.
Sepasang hazelnya sudah tidak bisa ditolerir lagi, benar saja baru beberapa menit tayangan, perempuan itu sudah berkelana ke alam mimpi. Suara derit pintu dan juga salam Aka yang menggema pun tak tembus oleh pendengarannya. Perempuan itu benar-benar tertidur di sofa.
Aka terlihat lelah memasuki kamarnya. Pria itu melirik istrinya yang sudah terlelap di sofa. Mendekati sejenak, berjongkok mengamatinya, lalu meninggalkan jejak sayang pada ubun-ubunnya.
__ADS_1
Shali sedikit terusik saat ponsel di tangannya yang masih menyala disingkirkan suaminya. Perempuan itu setengah terjaga dengan mata menyipit, bangkit dan mengambil sikap duduk. Menemukan suaminya yang tengah sibuk sendiri.
"Mas, sudah pulang?" tanya Shali membuka matanya semangat. Ia sebenarnya sudah mengantuk, namun misi harus dijalankan sesuai ekspektasi yang telah dirancang.
"Hmm," jawab Aka dengan gumaman. Menyambar handuk dan langsung melesat ke kamar mandi. Padahal Shali ingin menyiapkan air hangat untuk suaminya, namun pintu sudah keburu ditutup dan meninggalkan miskomunikasi di antara keduanya.
Tak habis akal, perempuan itu menyiapkan pakaian gantinya. Setelah itu, Shali akan menawarkan kopi untuk suaminya.
Aka mandi dengan cepat, pria itu terlihat segar dengan muka bersih dan rambut setengah basah. Masih mode dingin, Aka berjalan melewati istrinya begitu saja ke ruang ganti. Diam-diam batin Aka tersenyum melihat pakaian yang sudah disiapkan istrinya untuk dirinya. Kesal hati berniat mengerjai dengan mendiamkannya, atau bahkan tidak memakai pakaian yang sudah istrinya pilihkan, namun ia sungguh tidak tega. Apalagi melihat semangatnya perempuan itu menyambutnya pulang, walau bisa dibaca perempuan itu tengah berusaha menebus kekeliruannya tadi siang.
Shali sebenarnya canggung, ia juga nampak bingung sembari memainkan jari tangannya. Biasanya Aka ini manis sekali setelah pulang kerja dan bertemu dengannya. Apa karena pria itu sudah tidak penasaran lagi dengan rasa gadis, sehingga datar saja, masak sudah dandan secantik dan lumayan seksi tidak dipuji, malah duduk dengan tenang menekuri bukunya.
Perempuan itu mrengut, kesal sendiri lebih tepatnya. Tidak suka menghadapi situasi mencanggungkan seperti ini.
"Mas," panggil Shali mendekati ranjang. Suaminya duduk berselonjor di atas kasur cukup tenang sembari membaca buku di tangannya.
__ADS_1
"Hmm," jawab Aka dengan gumamam, tanpa merubah posisinya yang nyaman. Terdengar perempuan itu mendesah pelan, sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya dengan mengikis gengsi yang melanda.
"Mm ... aku minta maaf soal yang tadi siang, Mas," ucapnya dengan nada gugup.
Aka bergeming, tetap fokus pada bukunya, dalam hati ia berjingkrak senang, namun secara lahir ia menampakkan aura dingin yang kalem. Pria itu ingin tahu, sejauh mana usaha istrinya merasa bersalah.
"Hmm ...." Lagi-lagi pria itu hanya bergumam pelan, membuat Shali merasa gemas sendiri. Karena merasa bingung, canggung dan putus asa, perempuan itu tak lagi banyak bicara. Ia hanya memperhatikannya sekilas lalu beranjak dari dekatnya.
Sebenarnya Aka juga sudah gemas, apalagi penampilan istrinya yang sengaja menggoda iman, membuat batinnya sebenarnya menahan gejolak yang mulai melanda. Berharap perempuan itu akan lebih agresif, namun sepertinya jauh dari kata itu, Aka sadar, perempuan itu cenderung kepada gengsi walau sebenarnya membutuhkan.
Shali merangkak ke atas kasur menempati bagiannya. Perempuan itu merebah dengan hati-hati. Sengaja membiarkan tubuhnya tak berselimut, berharap suaminya peka dan menyelimuti dengan penuh perasaan. Netranya menyorot suaminya dari samping yang masih fokus dengan bacaanya. Sungguh pria itu tidak membaca dengan benar, itu hanya trik untuk membuatnya terlihat sibuk.
Aka melirik, menemukan istrinya tengah menatapnya begitu lekat. Sontak pria itu membalasnya, menautkan tatapan mereka hingga beberapa detik saling bertukar pandang tanpa berniat memutus tatapan itu satu sama lain.
Shali berkedip lembut, memejamkan matanya sembari merapatkan tangannya pada dada untuk mencari kehangatan. Ia sengaja membiarkan selimut tak menutupi tubuhnya untuk menjamu suaminya. Namun, sepertinya Aka tidak tertarik, membuat perempuan itu memutuskan untuk tidur saja.
__ADS_1
Pria itu benar-benar gemas, menutup bukunya lalu menaruh di atas nakas. Membaringkan tubuhnya miring tepat beberapa centi mengikis jarak. Ingin sekali meraup habis bibir ranum yang seakan menyeru untuk disentuh. Ralat, jangan lupakan bongkahan kembar yang sedikit menyembul ke atas, membuat pria itu tanpa aba-aba mempertemukan dengan bibirnya dan meraup pahala di sana.