
Aka dan daddy berjamaah di masjid, mereka baru pulang selepas sholat isya. Sementara Shali dan mommy cukup berjamaah di rumah saja. Usai menunaikan kewajibannya, ibu dan anak itu menyiapkan makan malam sembari menunggu suami-suami mereka pulang.
"Mon, Reagan mana sih? Udah malam gini masih belum balik."
"Tadi tuh bilangnya ada acara sama anak-anak, sebentar lagi paling pulang, tahu kamu mau main ke sini.
"Nah ... itu suara motornya!" pekik Mommy begitu mendengar motor Reagan memasuki halaman rumahnya.
Reagan sendiri baru pulang dengan acaranya sendiri. Pemuda tanggung yang dua hari lalu sama berulang tahun itu langsung menyapa Shali yang tengah sibuk di ruang makan.
"Hallo kembaran, kamu belum ngucapin selamat ulang tahun lho ke aku, mana kadonya?" todong Reagan langsung saja.
"Udah ngucapin buat diri sendiri, cie ... yang udah genap dua puluh tahun, selamat ulang tahun Abangku yang resek, jail, ngeselin, tetapi kadang ngangenin juga." Mereka berpelukan lembut, saling melempar canda dan tawa.
"Kamu nginep berapa hari Sha? Sini deh, aku punya sesuatu, mau lihat?" Reagan menarik tangannya, kedua saudara yang jarang akur namun tetap sayang itu memasuki kamar Reagan. Pria itu menunjukkan sesuatu.
"Apa ini?" Shali membolak balik barang berbentuk persegi panjang dengan ukuran tidak terlalu besar terbungkus kertas kado.
"Buka aja," ujarnya sembari tersenyum.
"Kado buat aku, curiga nih kayanya isinya batu bata," seloroh perempuan itu menimang-nimang.
"Ish ... buka adek sayang." Reagan mengusap lembut pucuk kepalanya.
Shali melebarkan senyumannya begitu mendapati isi tersebut.
"Kok bisa ada di kamu?" tanya perempuan itu merasa takjub.
"Jadi ceritanya aku post di medsos nih, eh nggak tahunya beneran ada yang nemuin dan ternyata sama orangnya emang sengaja mau balikin tetapi jauh, dan itu baru sempat."
"Ya ampun ... makasih banget, jadi terharu sama orangnya. Aku boleh ketemu nggak, mau ngucapin terima kasih."
__ADS_1
Shali tidak menyangka, dompet miliknya yang hilang waktu insiden itu ditemukan seseorang dan isinya masih utuh lengkap dengan ponsel dan lembaran uang di dalamnya.
"Cewek apa cowok, Re, yang nemuin ini?" tanya Shali cukup penasaran dengan orang yang begitu baik itu.
"Cewek lah, baik banget ya?" Reagan bertambah senyum- senyum tak jelas.
"Jangan bilang, kamu naksir sama tuh orang," ujarnya bergurau.
"Kalau dari backgroundnya, menurut kamu gimana?"
Shali yang tengah duduk di sofa sampai terjingkat mendapati Reagan yang dengan percaya dirinya, menjadikan pangkuan Shali sebagai bantalan. Mereka memang cukup dekat, walaupun kadang bagai Tom and Jerry, namun tak jarang manja dan jail bila bertemu.
"Sha, usap dong, aku sedikit pusing!" titahnya manja.
Shali bukannya menurut malah menjambak rambutnya gemas. Bisa-bisanya kembarannya yang sudah genap kepala dua itu masih bersikap manja saja. Padahal dengan Aka saja, terbilang cukup jarang Shali romantis-romantisan. Sebenarnya bukannya jarang, namun Shali masih kaku dan malu.
"Adoh ....!" Reagan mengaduh, sementara Shali terkekeh puas dan gemas. Kegaduhan mereka mencuri atensi Aka yang sedari tadi mengobrol dengan Sky sehabis dari masjid di ruang tengah. Pria itu menyorot tajam istrinya yang tengah asyiknya bercanda gurau tanpa melibatkan perasaanya. Ya, tentu saja Aka sedikit kurang nyaman, melihat Reagan terlalu menempel seperti itu, walaupun mereka saudara, entah mengapa Aka merasa sedikit tidak setuju.
"Eh, Bang masuk sini Bang!" seru Reagan menjawab seraya mengambil posisi duduk.
"Udah pulang dari masjid Mas?" tanyanya sambil berdiri.
"Nanti curhatnya lagi, aku masih kepo," bisik Shali pada Reagan yang menambah Aka muram saja. Mereka terlihat begitu asyik dan manja satu sama lain.
"Ayo Mas," ajaknya begitu saja, seakan tidak terjadi suatu apapun.
"Keluar Re, makan!" pekik Shali ketika sudah di luar pintu.
"Woke!" sahut pria itu bergegas.
Keluarga Ausky nampak khusuk menikmati makan malam bersama. Terlihat begitu bersemangat karena kedatangan menantu mereka. Seperti yang sudah dinantikan, ada yang ingin dibicarakan untuk mereka berdua. Mommy dan Daddy sudah ingin memberikannya sejak lama.
__ADS_1
"Ini apa Mom?" tanya Shali bingung sendiri.
"Itu brosur rumah impian sayang, kita sengaja memberikan itu semua buat kalian."
Aka terlihat bingung dan tidak nyaman, biar bagaimana pun dirinya tidak mungkin boleh meninggalkan pesantren.
"Itu perumahannya tidak jauh kok dari pesantrennya Aka. Jadi jangan khawatir, Daddy sudah mempertimbangkan semuanya. Tolong diterima ya Aka, kami ingin kalian menempatinya."
Seperti paham sekali dengan kegalauan suaminya, Shali menahan diri yang sebenarnya sangat bahagia.
"Terima kasih Mom, Daddy, sebenarnya Aka juga ada tempat tinggal yang tidak begitu jauh dari pondok, ini rencananya mau pindah tetapi belum sempat dibicarakan dengan abah."
"Ya sudah, tinggal di mana saja tidak masalah, yang penting kalian berdua nyaman dan betah," jawab Sky pada akhirnya.
"Eh ya, ini baju seragam buat besok, jadi rencananya kita berangkat bareng dari rumah, berhubung tempatnya lumayan bawa baju ganti siapa tahu butuh nginep." Mommy Disya menyodorkan baju couple untuk kondangan besok ke tempat saudaranya tante Raya.
"Makasih Mom, nanti Shali coba dulu," ujarnya berbinar.
"Ya sudah kami pamit ke kamar dulu, Mom," pamit Shali dan langsung menarik suaminya ke kamarnya.
"Udah di sini, mau protes apa Mas, keluarin semua eneg-unegnya?"
Seakan tahu dengan isi kepala dan hatinya Shali langsung menodong Aka.
"Kamu tuh dari tadi manyun terus, kenapa hubby?" Shali sedikit bermanja, bahkan mulai agresif duluan.
Aka masih bergeming, ia tidak tahu kalau istrinya tadi bahkan sudah menjalankan sholat isya.
"Jangan nakal Dek, istirahat, katanya besok mau berangkat lebih awal."
Astaga nih orang cuekin gue? Beneran nolak? batin Shali gemas.
__ADS_1
"Mas, aku udah sholat lho?" Shali berbicara lirih seraya tersenyum.