
Butuh waktu kurang lebih 40 menit bagi Laura utk menempuh perjalanan dari rumahnya, disebuah kota kecil, sampai ke sekolah. Laura membuka kaca jendela bus, memejamkan mata, dan membiarkan udara pagi menerpa wajahnya. saat matanya perlahan membuka kembali, ia menarik napas, mengisi tubuhnya degan udara yang sama. Di sepanjang jalan, dedaunan menari nari mengikuti arah angin. seakan akan mereka mengantarnya ketempat tujuan.
Laura berpikir, jika ia harus menghabiskan 40 menit waktunya hampir setiap pagi,melewati rute yang sama,bukankah lebih baik jika ia menikmatinya?
Laura sangat menyukai alam di pagi hari, saat mentari mulai muncul kepermukaan,dan burung-burung berkicau diangkasa.
Saat bus yang ia tumpangi berhenti di sebuah halte, Laura turun dengan senyuman karena tahu esok ia akan mengalami hal yang sama lagi. kini ia bersiap siap menunggu bus lain yang akan mengantarnya ke sekolah.perjalanan 10 menit berikutnya benar-benar berbeda dengan sebelumnya.dedaunan berganti menjadi gedung-gedung pencakar langit yang mampu menahan terpaan angin.
Tak berapa lama kemudian, ia tiba di depan sekolahnya,sebuah bangunan luas 3 lantai yg sudah berdiri berpuluh puluh tahun.bukannya tidak ada sekolah di tempat Laura tinggal. Hanya mama ingin pendidikan yang terbaik untuknya,walaupun itu berarti perjalanan 50 menit menuju sekolah setiap hari.
Laura tidak keberatan. Ia akan melakukan apa saja untuk mama.sebagai orang tua tunggal,mama sudah banyak berkorban untuknya yg membuatnya keberatan, justru para siswa yg ada disekolah itu. Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak TK sampai SMA. Dan Laura sebagai orang asing yg baru masuk awal juli tahun sebelumnya tidak bisa langsung cocok dengan mereka.ditambah lagi, rumahnya berjarak 30 km dari sekolah membuatnya mendapat predikat ''siswi kampungan''. Jadi kesimpulannya, Laura hanyalah seorang murid biasa. Tapi hari ini, nasib akan mempertemukannya dengan seseorang yang luar biasa.
Semua bermula ketika Laura duduk di bangku taman sekolah sambil membaca buku fisika yg berada didepannya. Rumus-rumus newton dari buku tersebut memenuhi pikirannya dan Laura mendesah lemas. Ia mendongak, melihat dedaunan di atasnya, lalu menutup matanya perlahan. Beberapa hari yg lalu ia membaca di sebuah situs di internet, bahwa newton mendapatkan teori tentang gravitasi ketika sedang duduk dibawah pohon & sebuah apel menimpa kepalanya. Laura tersenyum tipis, ia duduk di bawah pohon sekarang, tetapi belum satupun rumus dr buku tersebut yg dimengertinya.
''Aku rasa aku tdk akan mendapatkan inspirasi di bawah pohon seperti newton'', desahnya dalam hati sehelai daun jatuh mengenai dahinya. Laura membuka mata perlahan.ia masih harus menghapal rumus-rumus dalam bab tersebut, jika mau mendapat nilai bagus saat ulangan fisika setelah istirahat ini. Artinya,ia harus menghapal semuanya dalam sisa waktu 5 menit.
''Ini benar-benar tidak mungkin,” desahnya lagi, “kenapa newton harus menciptakan rumus sebanyak ini?''. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Laura bergegas bangkit dari bangku taman & berlari menuju kelasnya.tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang, membuat genggaman tangannya terbuka & buku fisikanya jatuh di lantai.
''Maaf'' katanya perlahan. Lalu matanya bertatapan dengan sepasang mata cokelat terindah yg pernah ia lihat. Setelah itu ia hampir tdk bisa berkata-kata.jantungnya berdegup kencang, napasnya tdk teratur.
Si pemilik mata cokelat indah itu tersenyum lembut, lalu membungkuk & mengambil buku fisika yg terjatuh di lantai.kemudian memberikannya kepada Laura.
''Ini bukumu,'' katanya ramah.
Laura mengambil bukunya dr tangan di depannya. ''thanks,'' ucapnya.
Lalu cowok itu, si pemilik sepasang mata cokelat,tersenyum, & meninggalkan Laura tertegun beberapa saat. Laura memandang punggung cowok itu saat dia berlari & menghilang di balik pintu.kemudian pandangannya jatuh pada buku ditangannya & ia bergegas menuju kelas.
Saat ulangan berlangsung, Laura tdk bisa berkonsentrasi pada soal-soal yg berada di papan tulis. Pikirannya melayang pd pertemuannya dengan si cowok bermata cokelat di taman. Ia ingin tahu siapa cowok tersebut.
***
Dalam perjalanan pulang. Laura tersenyum-senyum kecil. Ia tahu hari ini adalah hari yg paling berkesan di sekolah. Hari ini, utk pertama kalinya, ia bertemu seseorang yg ia sukai disana.
Sesampainya dirumah, seperti biasa, ia mengangkat jemuran, menyetrikanya, kemudian membersihkan ruang tamu. Setelah itu ia mengambil tas sekolah & mengejakan pakerjaan rumahnya. Ketika jam dinding menunjukan pukul 5 sore, ia merapikan tasnya & beranjak ke dapur untuk memasak & menghangatkan makanan untuk makan malam nanti bersama mama.
Lalu ia membawa handuk untuk mandi. di kamar mandi, Laura bernyanyi perlahan. Sekeluarnya dari kamar mandi, pintu depan rumah terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan rambut cokelat memasuki ruangan.
''Selamat datang ma!'' sapa Laura tersenyum.
Mama balas tersenyum. ''kau terlihat gembira hari ini. ada sesuatu yg menyenangkan terjadi di sekolah?''
Sambil mengambil tas mama utk di taruh di meja tamu, Laura tersenyum lagi. ''Aku bertemu seseorang hari ini.''
Mama menatap anak perempuannya dgn kening berkerut. ''Cowok, ya?” tanyanya.
Laura mengangguk. ''Dia memiliki sepasang mata cokelat terindah yg pernah aku lihat.”
Mama memegang tangan Laura. ''Apakah sudah saatnya mama menjelaskan tentang bahaya hubungan antara wanita & pria kalau kau tdk hati-hati?''
Laura memegang tangan mama sambil tertawa lebar. ''Mama tdk perlu berpikiran sejauh itu. Dia bahkan belum mengenalku.''
''Tapi kau ingin mengenalnya, bukan?'' tanya mama.
__ADS_1
''Ya,”Laura mengangguk.
Mama menatap putrinya dan menarik napas panjang. Dalam hati ia selalu merasa Laura masih kecil & perlu bimbingannya. Tapi kini Laura mengatakan ia menyukai seseorang. Mama menatap Laura & meyakinkan diri sendiri bahwa putrinya itu sudah dewasa.
''Berjanjilah pada mama, kalau ingin mulai pacaran, kau harus memberitahu mama,'' kata mama mengingatkan.''
Laura mengangguk. ''Aku berjanji akan memberitahu mama.''
''Dan saat itu, Mama akan memberitahumu tentang bagaimana berpacaran yg sehat,'' ujar mama. “Mama percaya padamu'', balas mama ''tapi mama tdk percaya begitu saja pd cowok yg akan menjadi pacarmu.''
Laura menggiring Mama ke ruang makan. ''Mama tdk perlu khawatir. Aku bahkan belum tahu namanya.'' Laura menarik kursi dan menyuruh mama duduk. ''Mama pasti capek. Jadi sekarang lebih baik mama makan dulu.''
Mama melihat makanan yg sudah tersaji di meja makan & tersenyum. Selama makan malam berlangsung, mama memandangi Laura & berkata dalam hati betapa beruntungnya ia memiliki putri seperti Laura.
''Enak ma?” tanya Laura.
Mama mengangguk. ''Masakanmu enak, Laura''.
Sesudahnya mama menuju kamar mandi & Laura mencuci piring. Ritual tersebut terjadi setiap hari. Laura tidak keberatan dgn semua tugas rumah yg harus dia kerjakan. Ia mencintai mama & ia akan melakukan apa saja untuk membuat mama bahagia.
Sementara itu, di kamar tidur sebelah, mama membuka sebuah kotak di laci mejanya. Air mata mengalir membasahi pipinya. Ia mengambil sebuah kartu yg dibelinya siang tadi. Tak berapa lama kemudian mama mengambil pena & menulis sesuatu. Setelah selesai, ia memasukan kartu tersebut ke kotak & menutup kotaknya.
Di kamar berbeda, Laura tersenyum. Sebelum tidur ia bertekad untuk mengetahui siapa nama cowok yg ditemuinya siang tadi. Matanya mengantuk lelah. Malam itu Laura tidur dengan seulas senyum di bibirnya.
***
Pagi berikutnya, Laura memasuki halaman sekolah dengan ceria. Ketika akan memasuki kelas, tatapannya terpaku pd pengumuman di mading sekolah. Tangannya menyentuh kaca.
''Dia cowok yg aku temui kemarin'', katanya dalam hati.
Pandangan mata Laura beralih pads keterangan selanjutnya. Tampakanya Niko memenangkan perlombaan fisika antar daerah seminggu yang lalu.
''Permisi! Permisi!'' kata suara dibelakang Laura. Laura bergeser dari tempatnya berdiri.
''Itu Niko, ya?'' kata cewek yang menyuruh Laura bergeser tadi.
''Iya!'' balas temannya.
''Eh, kayaknya dia memenangkan lomba fisika seminggu lalu deh. Wah, hebat sekali dia. Sejak SMP selalu juara umum. Papa dan mamanya kan dokter terkenal. Erika beruntung sekali punya pacar seperti Niko.''
''Mereka memang pasangan serasi. Erika cantik & Niko tampan.''
''Aku dengar mereka sudah kenal sejak TK. Duh, seandainya saja aku bisa secantik Erika.'' keduanya berkata-kata lagi tanpa menghiraukan Laura yang tengah menunduk. Laura terdiam sedih. Ia tidak menyangka bahwa pada hari yang sama ia tahu nama cowok yang ia sukai, ia juga harus menerima kenyataan bahwa cowok itu tidak bisa diraihnya.
Pintar, tampan, kaya, populer. Niko memiliki segalanya. Sedangkan dirinya, tidak memiliki semua itu. Ia hanya gadis biasa. Laura tahu ia tidak seharusnya sesedih ini, toh ia belum mengenal Niko. Tapi mengapa hatinya terasa sakit? sepertinya ia telah menyukai orang yang salah di waktu yang salah.
***
Saat ulangan fisika dibagikan, Laura hanya bisa meringis memandangi nilai 5 berwarna merah yang menambah daftar kesedihannya hari ini. Saat bel tanda istirahat berbunyi, Laura tidak beranjak dari bangkunya. Matanya memandangi sepasang cowok & cewek di lapangan sekolah yg sedang tertawa, Niko & Erika.
Ia melihat ulangan fisikanya sekali lagi. Dipandanginya rumu-rumus yg bertebaran disana. Pandangannya jatuh pada sebuah rumus tentang gaya tarik menarik antara dua benda. Tanpa sadar ia mengambil penanya & mulai menulis.
MASA SATU (M1): AKU: 42 KG MASA DUA (M2):NIKO :+/- 50 KG G(TETAPAN GRAVITASI): 6,672 X 10 PANGKAT -11 N.M PANGKAT 2/KG PANGKAT 2 R(JARAK ANTARA M1 & M2):............TAK TERHINGGA. KESIMPULAN: F(gaya tarik menarik antara m1 & m2)\=G dikali m1 & m2 dibagi kuadrat jarak adalah.....tak terhingga. ''Karena berapapun dibagi, dikali, ditambah, dikurangi bilangan tak terhingga, hasilnya adalah tak terhingga juga.''
__ADS_1
Laura tertawa sedih.Ironisnya,kini ia mengerti apa yg dimaksud oleh NEWTON dgn rumus itu.Gaya berbanding terbalik dgn jarak.Seamakin besar jarak antara dua benda maka semakin kecil gaya tarik menarik diantara keduanya.
***
''Kau kelihatan sedih hari ini,'' sapa mama ketika melihat raut wajah Laura yg berbeda dengan kemarin.
''Dia sudah punya orang lain,'' kata Laura perlahan.
Mama duduk di samping Laura dan memeluknya. ''Oh, Laura,'' katanya sedih. Mama tahu siapa yg dimaksud Laura. Cowok yg disukainya kemarin. ''Mama tahu kau pasti sedih.''
''Dia sangat sempurna, Ma.'' Laura berusaha menahan tangisnya. ''Pintar, tampan, & memiliki segalanya. Sedangkan aku.....''
''Jangan bicara seperti itu, Laura,'' kata mama sambil menatap mata putrinya dgn tegas. ''Kau sangat istimewa. Jangan pernah lupakan itu.''
Laura menatap mamanya dgn sedih. ''Hanya saja utk pertama kalinya aku menyukai seseorang, ternyata orang itu udah punya orang lain.''
''Jadi kau akan menyerah?'' tanya mama.
''Aku tidak akan merebut seseorang yang sudah punya pacar,'' kata Laura tegas.
''Kau tau kan, kau selalu punya mama apapun yang terjadi,'' mama berusaha menenangkan Laura.
''Aku tahu,ma'' kata Laura lirih, ''tapi sekarang aku tdk tahu harus bagaimana. Mama pasti ingin aku menjauhinya, bukan?''
Mama tersenyum lembut, lalu menggeleng. ''Mama tidak ingin kau mengalami kesedihan lagi. Tapi itu semua terserah padamu.''
''Aku hanya ingin mengenalnya,'' kata Laura kemudian.
''Kalau begitu, jadilah temannya. Kalau sampai saat itu dia tidak menyukaimu, lepaskanlah dia. Dengan begitu kau akan memiliki sebuah cinta,'' saran mama.
''Tentu saja kau akan patah hati. Kalau kau berani jatuh cinta, kau juga harus siap menanggung resikonya. Mama hanya tdk ingin kau menyesal. Lakukanlah yang kau inginkan, mama akan mendukungmu. Mama hanya berharap kau mengalami masa SMA yang penuh kenangan.'' mama membelai rambut Laura perlahan.
''Mama memang yang terbaik,'' kata Laura. Mama hanya tersenyum lembut.
''Sekarang, tersenyumlah.'' melihat senyum mama, Laura juga tersenyum. ''terima kasih ma,untuk semuanya.''
***
Hari ini hari pertama masuk sekolah. Hari ini Laura naik ke kelas 2. Selama ini ia hanya melihat Niko dari kejauhan. Ia tidak pernah berbicara dengan cowok itu. Tetapi ia bertekad untuk mengenalnya. Dan hari ini, mungkin saja kesempatan itu bisa datang padanya. Laura berharap bisa sekelas dengan Niko.
Setiap tahun, sekolah membuka 2 kelas utk jurusan IPA, 50% kemungkinan Laura akan sekelas dgn Niko. Setahun ini Laura belajar mati-matian utk bisa masuk IPA. Walaupun tdk menguasai ilmu pasti, ia berusaha semaksimal mungkin. Ia bahkan berani bertanya kepada guru kalau ada pelajaran yg tidak dimengertinya. Padahal sebelumnya Laura adalah siswi yang pemalu. Tidak pernah berani bertanya.
Laura menyadari, memang sedikit konyol ingin masuk kelas IPA hanya karena ingin sekelas dengan Niko. Tapi utk pertama kali dalam hidupnya, Laura benar-benar berusaha keras. Apapun alasanya, saat wali kelas memberitahunya bahwa ia berhak masuk jurusan IPA, Laura merasa senang & bangga.
Tanpa sabar, Laura memandangi daftar nama yg dipampang di mading sekolah. Laura mencari nama Niko terlebih dahulu & mendapatkannya di daftar utk kelas 2 IPA 1. Lalu jarinya naik, berharap mendapati namanya disana. Setelah melewati 10 orang diatas Niko. Lalu ia melihat daftar nama dikelas lain & mencari namanya. Namanya ternyata berada di daftar kelas 2 IPA 2.
Langkahnya perlahan mendekati kelas yg akan dihuninya selama satu tahun kedepan. Dalam hati. Laura merasa sedih. Ia tidak akan punya kesempatan utk mengenal Niko satu tahun kedepan. Setelah menaruh tasnya, ia menyentuh tembok putih di depan kelasnya. Perlahan lahan ia melangkah sambil menghitung dalam hati. Langkahnya terhenti di depan kelas 2 IPA 1. Ia menarik napas panjang. 50 langkah. Sepanjang itulah, jarak yg memisahkan dirinya dgn Niko.
Bulan-bulan berikutnya, saat kegiatan ekstrakurikuler, Laura melihat Niko bermain basket di lapangan, sementara dirinya sedang memasak makanan diruang tata boga. Sepulang kegiatan ekstrakulikuler, Niko selalu pulang bersama Erika, yg masuk club marching band. Laura jg menyaksikan ketika Niko diangkat menjadi ketua OSIS. Dan dalam hati, Laura merasa senang dengan hal itu. Tentu saja, karena ia juga memilih Niko untuk menjadi ketua OSIS, saat semua siswa diminta memasukan pilihannya kekotak suara 2 hari sebelumnya.
Satu satunya kesempatan datang kembali saat Laura akan naik ke kelas tiga. Kelas-kelas akan diacak, dan kemungkinan para siswa juga akan berpindah kelas. Harapannya, jika ia sekelas nanti, ia akan berbicara dengan Niko & akhirnya berkesempatan utk berkenalan dengannya. Walaupun pada akhirnya ia hanya akan menjadi teman Niko, Laura tahu setidaknya ia punya kesempatan menjadi teman seseorang yang istimewa.
__ADS_1
''Tunggu aku,Niko,'' tekad Laura dalam hati. ''Aku pasti menjadi temanmu tahun depan''.