
Laura berusaha menjauhi Niko semenjak hari ulang tahunnya, tetapi nasib mendekatkan mereka kembali. Pak Bambang, sang wali kelas, menujuk Laura dan Niko menjadi panitia bazar ulang tahun sekolah utk kios makanan kelas 3 IPA 1. Dalam bazar sekolah nanti masing-masing kelas akan membuka kios makanan dan berlomba menjadi yang terbaik. Pemenangnya ditentukan oleh jumlah pendapatan penjualan kios hari tersebut.
Begitu mengetahui hal tersebut, Erika jelas merasa resah, Ia tidak ingin Niko berdekatan dengan Laura. Setiap kali Niko akan mengadakan rapat dengan Laura, Erika selalu mencari alasan supaya Niko menemaninya.
Tapi Laura tidak keberatan. ''Tidak apa-apa, Niko'', katanya tenang, ''aku bisa mengurus kios makanan kelas kita.''
Erika menggunakan koneksi orang tua nya agar kios-kios waralaba di kantin sekolah tidak menjual makanannya pada Laura. Ia beranggapan, kalau Laura tdk punya makanan untuk dijual, otomatis kiosnya akan gagal. Sehari sebelum bazar sekolah, Laura melihat club fotografi memasang foto di aula sekolah. Tampaknya mereka akan mengadakan pameran foto saat bazar sekolah besok. Tiba-tiba Laura mendapat ide. Ia mendekati ketua club fotografi dan meminta bantuannya untuk menyisakan ruang foto yang akan dipamerkan. Dengan jaminan club fotografi mendapat makanan gratis dari kiosnya, Laura mendapatkan tempat kosong yang diinginkannya.
Sepulang sekolah, Laura berbicara pada Niko. ''Niko, aku punya ide. Kau tidak harus menyetujuinya kalau kau keberatan.''
''Ide apa?'' tanya Niko heran.
''Ehm... aku tahu kau suka mengambar. Bagaimana kalau sebagian karya terbaikmu dipampang di aula besok?'' saran Laura.
Niko terkejut mendengar usul Laura. ''Apa? Gambarku?''
Laura mengangguk. ''Iya, tadi aku sempat meminta bantuan ketua club fotografi agar menyediakan tempat kosong di aula. Aku rasa gambar-gambarmu bisa berada disana.''
Niko berpikir panjang. ''Aku tidak pernah memperlihatkan gambarku pada orang lain.''
''Gambarmu indah, Niko,'' kata Laura gigih. ''Aku yakin orang lain yang melihatnya beranggapan sama.''
''Entahlah. Apa kau yakin gambarku sebagus itu?'' tanya Niko.
''Kenapa tidak kau buktikan besok dengan memamerkannya di aula? Toh kau tidaj akan rugi apa pun. Kalau orang-orang suka gambarmu, itu hal yang bagus. Kalaupun tidak, tidak apa-2 bukan? Yg penting kau sudah berusaha.''
Niko memandang cewek dihadapannya dengan perspektif baru. Dia tidak menyangka Laura bisa sangat persuasif.
''Aku yakin seorang ketua OSIS tdk akan mengalami krisis percaya diri. Tidak mungkin kau takut gagal, bukan?'' kata Laura meyakinkan.
Niko tersenyum. ''Aku tidak menyangka kau bisa cukup persuasif juga.''
Mendengar ucapan Niko, Laura tertegun. Ia mengingat hampir dua tahun lalu ia tdk bisa berbicara pada Niko. Kini ia sudah bisa berbicara layaknya teman lama. Sebagian karena Laura menyadari bahwa masa-masa nya bersama Niko akan berakhir. Toh ia tidak akan kehilangan Niko, karena ia memang tidak pernah memilikinya. Dan sebagi teman, ia ingin Niko menghargai hobinya.
''Jadi,'' lanjut Laura, ''kau akan melakukannya?''
''Aku akan memikirkannya dulu,'' kata Niko perlahan.
''Kau punya waktu sampai besok pagi,'' kata Laura. ''Aku tidak yakin seseorang yang pernah menulis 'JANGAN MENYERAH' padaku akan menyerah besok pagi.''
Niko tertawa. ''Kita lihat saja besok pagi. 'Thanks', Laura. Aku benar-benar menghargai bantuanmu.''
''Sama-sama,'' balas Laura. (''kau tdk tahu kau sudah membuatku melakukan hal yg sebelumnya tidak mungkin kulakukan.'')
***
''Wah, baunya enak. Kau sedang masak apa?'' tanya mama sepulang kantor.
''Masakan untuk bazar besok,” kata Laura sambil mengaduk potongan daging ayam di wajan.
''Kau membuat ayam rica-rica?'' tanya mama penasaran sambil menengok ayam yg sedang ditumis putrinya.
Laura menggeleng. ''Bukan, aku sedang mencoba resep baru, CHIKEN SPAGHETTI. dari Kelas lain menyuguhkan masakan restoran ternama, tp aku ingin coba membuatnya sendiri.''
Mama mengambil sendok lalu mencicipi masakan buatan Laura. ''Hm....enak. Mama rasa kau bisa memenangkan perlombaan besok.''
''Aku harap begitu'', Laura mematikan kompor lalu mengambil spaghetti yang telah ia rebus sebelumnya dan menambahkan bumbu ayam tadi kesana. ''Menu makan malam kali ini, ''CHIKEN SPAGHETTI,'' kata Laura bangga.
***
Bazar sekolah dimulai pukul 10.00. Laura sudah sampai di sekolah pukul 06.30 utk mempersiapkan bahan-bahan masakannya, kemudian memasak spagheti yang sudah ia coba masak kemarin dirumah.
Selain untuk siswa sekolah, bazar kali ini juga dibuka untuk umum. Sambil bernyanyi dalam hati, Laura menjerang air di panci dan mulai merebus spageti. Setelah itu ia menyiapkan wajan utk memasak bumbu ayamnya.
Sekitar pukul 09.00. Laura sudah menyelesaikan sekitar dua panci besar spagheti beserta bumbunya.
''Butuh bantuan?'' tanya Niko yang baru sampai disekolah.
''Masakannya sudah selesai,'' kata Laura lega, ''tinggal membawa panci-panci ini ke kios 3 IPA 1.''
Niko menatap Laura dengan sedikit tercengang. ''Kau datang dari jam berapa?''
__ADS_1
''Hm?'' pikir Laura yg sedang membersihkan meja. ''Sekitar jam setengah tujuh.''
Niko memandang Laura dengan tatapan kagum. Laura berhasil membuat makanannya dalam waktu kurang dari 3 jam. Dan ia melakukannya sendirian, tanpa bantuan siapa pun.
''Bolehkah aku mencicipi masakanmu dulu?'' tanya Niko.
Laura mengangguk. ''Tentu saja,'' katanya sambil mengambil piring dan garpu, lalu menyuguhkan spageti buatannya ke tangan Niko. ''Cobalah.”
Niko mencicipi spagheti buatan Laura dgn tersenyum. Dia mengunyahnya dgn perlahan lalu menelannya. ''Spagheti buatanmu sungguh enak. Kau benar-benar pintar masak.''
Mendapat pujian dari Niko, hati Laura sangat senang. ''Terima kasih. Aku senang kau menyukainya.''
''Aku yakin orang lain juga akan menyukainya,'' kata Niko.
''Aku mau minta tolong, boleh tidak? Bisakah kau membawakan panci-panci ini sementara aku mencuci piring kotor dahulu?'' tanya Laura.
Niko mengangguk. Setelah Niko pergi meninggalkan ruangan tata boga, Laura mencuci piring sambil tersenyum lebar. Ia tahu kemarin mama sudah memuji masakannya. Tapi pujian dari Niko memberikan kesan yang lain. Untuk pertama kalinya, ada orang lain selain mama yang memujinya.
Ketika bazar dibuka satu jam kemudian, kios Laura sudah siap. Ia sudah memasang harga dan membereskan piring plastik yg akan dipakainya utk berjualan. Melihat hal itu, Erika merasa kesal. Dari kejauhan ia melihat Laura dan Niko terlihat kompak mempersiapkan segala sesuatunya.
''Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan makanan?''geramnya.
Cepat-cepat Erika melangkah mendekati kios Laura. ''Wah, kau jualan spagheti, ya?''
Laura menghentikan pembicaraannya dgn Niko utk menanggapi Erika. ''Hai Erika, selamat datang di kios 3 IPA 1. Kau mau mencoba spaghetinya?''
''Tentu,'' katanya penasaran. ''Ngomong-ngomong, kau membeli spaghetinya di restoran mana, Laura?'' (''Karena aku sudah berusaha supaya semua pedagang di kantin tdk menerima pesanan dr mu'').
Niko tertawa mendengar pertanyaan Erika. ''Laura memasak sendiri.''
Erika terkejut mendengar jawaban Niko. (''Pantas saja''). Dgn berat hati Erika mencicipi spagheti buatan Laura. (''masakannya sangat lezat''). Erika semakin kesal.
''Berapa harganya?'' tanya Erika sambil mengeluarkan dompetnya utk membeli masakan Laura yg sudah dicicipinya.
Laura menggeleng. ''Tidak apa-apa, Erika. Kau tidak perlu membayar, anggap saja sebagai hadiah karena kau pelanggan pertama yang mengujungi kios kami.”
''Terima kasih,'' kata Erika tersenyum palsu. (''kau pasti berlagak di depan Niko. Ingin terlihat baik di matanya. Tapi aku tahu kau pasti sengaja merencanakan ini semua'')
''Kalau penjualannya seperti ini terus sampai sore, kelas kita bisa juara nih,'' kata Niko optimis di sela-sela waktu melayani konsumen.
Laura tersenyum. ''Semoga saja begitu.''
Saat jam istirahat siang, Laura & Niko bergantian menjaga kios dengan teman sekelas mereka yang lain. Kini, setelah bisa beristirahat, Laura menuju aula. Foto-foto pemandangan memenuhi dinding aula. Tapi di ujung foto-foto tersebut terdapat sepuluh gambar.
Laura mendekati gambar-gambar itu. Ia mengenali gambar cincin bintang yg pernah ia berikan pada Niko dulu. Sembilan gambar lain tidak kalah menariknya. Semua berisi rancangan perhiasan, mulai dr gelang, cincin, kalung, sampai anting-antung.
''Jadi, bagaimana menurutmu?'' tanya suara di belakangnya.
Laura mengenali suara Niko. ''Membuatku ingin mengenakan semua yang ada digambarmu. Kau sangat berbakat. Kau bisa menjadi perancang perhiasan yg hebat.''
''Orangtuaku tidak akan menyetujuinya,'' kata Niko sedih. ''Mereka sudah mempersiapkan aku untuk menjadi dokter, sama seperti mereka.''
Melihat kesedihan Niko, Laura jd ikut sedih. ''Kau pernah mencoba bicara pada mereka?' 'Laura berusaha membangkitkan semangat Niko. Tampaknya pemuda sempurna yang dulu dikaguminya itu tidak sesempurna yang ia bayangkan sebelumnya. Niko tidak bisa menentukan masa depannya sendiri.
Niko tersenyum sedih, ''puluhan kali. Tapi mereka tidak mau mendengarnya. Mereka hanya menganggap gambarku sebagai hobi.''
Laura memandang gambar Niko lagi. ''Aku pikir setiap orang bisa melakukan apapun yang diinginkan untuk masa depan mereka.''
''Aku harap bisa semudah itu,'' Niko memandang satu gambarnya dan mengelusnya perlahan. ''Bagaimanapun, mereka tetap orangtuaku.''
Mendengar itu Laura merasa beruntung. Mama tidak pernah memaksa untuk memilih jalan hidupnya. (''kerjakan apa yang kau mau, Laura,'') kata mama dua tahun yang lalu ketika Laura dengan nekat mencoba masuk IPA. (''Pilih yg benar-benat kau inginkan dan jalani sungguh-sungguh, karena dengan begitu, kau telah belajar menjadi dewasa.'')
Laura memandang Niko lagi, tatapan Niko masih terpaku pada gambarnya. Ia berharap orangtua Niko bisa berubah pikiran dan menyadari apa yang sebenarnya diinginkan anak mereka. Di sebelah Laura, Walaupun Niko merasa sedih, beban di hatinya seakan terangkat. Sangat lega rasanya menceritakan hal ini kepada orang lain. Selama ini orang tuanya selalu membuatnya menyadari betapa pentingnya menjadi dokter. Sedangkan Erika, ia senang mempunyai pacar calon dokter. Niko tidak bisa membicarakan tentang hasratnya menjadi seseorang yang berbeda, seorang perancang perhiasan.
Entah berapa lama Niko & Laura terdiam di aula sekolah, tapi momen keduanya berakhir saat beberapa orang mendekati mereka.
''Niko,'' kata salah seorang dari mereka, ''disini kau rupanya.''
Laura menoleh ke arah datangnya suara. Ada 4 orang di depannya. Satu di antaranya Erika, dan tiga lainya orang dewasa. Pandangan seorang pria setengah baya langsung menuju gambar di belakang Niko. Sesaat kemudian tatapannya berubah marah, tapi dia berusaha menahannya.
''Niko, kenalkan,'' kata pria itu kemudian sambil menahan emosinya, ''ini dekan fakultas kedoteran universitas yg akan kau masuki nanti. Dokter Eko wijaya.''
Niko maju selangkah dan mengulurkan tangannya utk menyalami kenalan papanya. ''Selamat siang, dokter Eko. Senang bisa bertemu dengan anda disini.''
__ADS_1
''Panggil om saja,'' kata dokter Eko sambil tersenyum hangat.
''Om sudah berkeliling di bazar sekolah kami?'' tanya Niko balas tersenyum.
Dokter eko mengeleng. ''Belum sempat. Tapi sepertinya benar-benar ramai ya. Om dengar dari orangtuamu tahun ini kau mau masuk universitas Om.'' Niko hanya tersenyum tipis. ''Om dengar dari papamu,'' lanjut dokter eko lagi, ''Kau ketua Osis, bukan?'' Niko mengangguk. ''Bagus, bagus,'' kata dokter Eko terkesan.
''Dia juga ketua tim basket, Om,'' Erika menambahkan.
''Tampaknya selain nilai akademismu yg cemerlang, prestasi di bidang lain juga tidak kalah bagusnya.'' Dokter Eko tampak terkesan dgn kepribadian Niko, baik dalam akademis walaupun non akademis. ''Om yakin kau bisa mengalahkan prestasi papamu di universitas nanti''.
''Kalau untuk mengalahkan prestasi papa, saya tidak yakin. Tapi setidaknya saya akan berusaha menyamai prestasi papa'', jawab Niko berusaha diplomatis.
Dokter Eko tersenyum pd papa Niko, ''Putramu ini benar-2 hebat.''
Papa Niko tersenyum bangga. ''Saya mohon bimbingannya saat Niko sudah masuk universitas nanti.''
Dokter Eko mengangguk. ''Tentu saja, murid berbakat seperti dia pasti akan berhasil.'' tanpa sengaja tatapan dokter Eko beralih ke gambar di belakang Laura. ''Kau juga suka melukis?''
Niko mangangguk, ''Iya, om''
''Cuma hobi kok,'' sela papa Niko.
''Gambarmu bagus, Niko'', kata dokter Eko lagi sambil perlahan menepuk pundak Niko. ''Kau benar-benar berbakat.''
Niko tersenyum tulus. ''Terima kasih, om.''
Papa Niko tiba-tiba menyela,''Ma...'' katanya pada istrinya, ''Bagaimana kalau mama mengajak dokter Eko berkeliling sekolah?''
Mama Niko tersenyum. ''Ide yg bagus, Pa. Dokter Eko, mari saya antar berkeliling sekolah.'' Seperginya mama Niko dan dokter Eko, papa Niko tidak bisa menahan emosinya.
''Papa kira kau sudah membuang gambar-gaambar itu. Ternyata kau masih berani melukis. Berapa kali papa bilang, jangan pernah melukis gambar-gambar perhiasan lagi. Sekarang bukan saja kau tetap melukis, kau berani memamerkanya pada semua orang. Apakah ini artinya kau menatang papa?''
Niko terdiam getir. Disebelahnya, Laura kaget mendengar amarah papa Niko. Ia tidak menyangka usulnya utk menampilkan karya-karya Niko malah berakhir dgn pertengkaran antara anak dan ayah. Laura sungguh-sungguh tidak berharap demikian.
Tanpa memandang papanya, Niko mendekati gambarnya dan mencabutnya dari dinding satu persatu. Setelah selesai dia berbalik ke arah papanya dan berkata, ''Aku tdk akan melukis lagi. Apakah papa puas sekarang?''
Papa Niko memandang putranya sambil menegaskan, ''Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi.'' setelah berkata demikian, papa Niko beranjak pergi dari aula untuk menyusul istrinya.
Laura memandang kejadian itu dgn perasaan sakit. Sakit yang tak terkira. ''Maaf Niko...,'' ucapnya perlahan, ''Ini semua gara-gara usulku''.
Niko memandang Laura dengan sedih. ''Bukan salahmu.''
''Apa''?! Teriak Erika, memandang Laura dengan marah. ''Semua gara-gara kau, Laura! Kau benar-benar keterlaluan. Apakah kau sadar kalau kau baru saja membuat Niko dan papanya bertengkar?''
''Maafkan aku,'' kata Laura sedih. ''Aku tidak bermaksud demikian.''
Erika menatap Laura tajam. ''Jangan pernah ikut campur urusan Niko lagi. Kalau kau masih berani melakukannya, aku akan...''
''Ini semua bukan salahmu, Laura,'' kata Niko perlahan. ''Aku yang memutuskan untuk memasang karyaku disini,'' lalu katanya pada Erika, ''Kau jangan memarahi Laura lagi. Laura tidak melakukan hal yang salah.'' Erika bermaksud memarahi Laura lagi, tapi tatapan Niko menghentikannya. Niko lalu membawa Erika keluar dari aula. Sesampainya di pintu aula, Niko membuang semua gambarnya ke tempat sampah.
Dibelakang mereka, Laura seakan mati rasa. Air mata menggenang di kelopak matanya, lalu perlahan keluar membasahi pipi. Hari yg dimulai dgn menyenangkan telah berakhir dengan menyedihkan. Betapa ingin Laura memutar balikkan waktu, tdk mencoba berbicara pada ketua club fotografi, tidak berusaha membujuknya menyediakan tempat untuk gambar Niko, dan tidak berbicara pada Niko soal usulnya. Ia baru saja menghentikan mimpi seseorang. Seseorang yg disukainya. Dan itu membuat perasaannya semakin buruk.
Langkah Laura berhenti di tempat Niko membuang gambarnya. Gambar-gambar perhiasan di dalamnya sekarang menjadi penghuni tempat sampah. Laura menghela napas panjang. (''aku mungkin sudah menghancurkan mimpi Niko, tapi aku tak ingin gambarnya hilang untuk selamanya.''). Perlahan-lahan Laura mengambil satu persatu gambar tersebut dari tempat sampah, membersihkannya, lalu mendekapnya di dada. (''maafkan aku, Niko'') katanya pada gambar di pelukannya.
Saat bazar akan berakhir padabsore hari, Laura sudah tidak punya semangat lagi untuk berjualan. Namun begitu, setelah mengumpulkan hasil penjualannya kepada panitia bazar, Laura diberi selamat karena kiosnya mendapat peringkat pertama. Laura sama sekali tidak gembira. Sebaliknya hatinya terasa hampa.
***
Ketika mama pulang kerja malam harinya, Laura menatap mama dengan sorot mata sedih dan berkata, ''Bisakah mama memelukku sekarang?”
Melihat putrinya bersedih, mama khawatir, ''Laura ada apa?''
Laura tidak mau membicarakan kejadian tadi siang pada mama. Ia berlari memeluk mama dengan erat. ''Peluk aku, ma. Aku butuh pelukan mama saat ini.''
Mama menghela napas, dibelainya rambut putrinya. ''Tidak apa-apa, Laura. Semua akan baik-baij saja. Mama ada di sini,'' katanya sambil memeluk Laura dengan erat.
***
Keesokan harinya, Niko berangkat ke sekolah lebih awal. Dia berlari menuju aula. Napasnya terengah-engah. Dia berhenti di dekat tempat sampah di depan aula. Matanya mulai mencari-cari gambar yg dia buang kemarin. Tapi tentu saja tempat sampah tersebut sudah kosong. Hatinya setengah kecewa, setengah menyesal. Kemarin dia terlalu kesal sehingga membuang karya-karya terbaiknya tanpa pikir panjang. (''mungkin lebih baik seperti ini''), katanya dalam hati sambil memejamkan mata.
Hubungan Laura dengan Niko semenjak episode di aula menjadi berbeda. Walaupun Niko masih tetap menjadi teman yang ramah, Laura tidak bisa menanggapinya dengan perasaan yang sama. Karena setiap kali Laura memandang matanya, yang teringat adalah tatapan sedih Niko karena tidak bisa menggapai mimpinya lagi.
Jarak enam langkah di antara mejanya dan meja Niko telah berubah menjadi kesedihan yang tak terperikan. Untungnya beberapa hari kemudian ujian semester datang, sehingga untuk sementara waktu pikiran Laura lebih terfokus pada harapannya utk lulus ujian. Bagaimanapun, ia tidak ingin mengecewakan mama dengan pilihannya masuk jurusan IPA. Setelah ujian berakhir, libur akhir tahun datang, Laura ingin memanfaatkan liburannya untuk mengobati rasa sakit dihatinya.
__ADS_1