
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah mengetahui penyakit Bintang, Bima selalu mendesak agar Bintang mau berobat ke rumah sakit, tetapi gadis yang tubuhnya semakin kurus tersebut kekeuh menolak.
Kepercayaannya pada tenaga medis dan unit layanan kesehatan tersebut benar-benar telah sampai di titik nadzir, sulit rasanya untuk dikembalikan seperti sedia kala.
Hal itu membuat Bima putus asa dan pemuda itu diam-diam menghubungi Surya setelah satu bulan lebih membujuk, tetapi selalu mendapatkan penolakan dari Bintang.
"Maaf, Sur, jika baru kali ini aku memberitahumu. Aku takut, kabar yang aku sampaikan membuatmu tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar, selain itu karena aku sudah berjanji pada Bintang agar tidak memberitahu pada siapapun tentang keberadaannya di sini," terang Bima.
Surya menangis dalam diam, dia tidak mampu mengatakan apapun setelah mendengar penjelasan Bima.
"Sur, apa kamu masih berada di sana?" tanya Bima setelah menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada respon apa-apa dari orang di ujung telepon.
"Iya," balas Surya, singkat dan dengan suara yang tercekat.
Gio yang ikut mendengarkan pembicaraan Bima, mengambil ponsel dari tangan Surya dan kemudian berbicara pada Bima.
"Maaf, Surya saat ini tidak dapat berbicara. Dia sangat terpukul mendengar kabar tentang Bintang, Kak. Tolong, Kak Bima urus Bintang dengan baik, ya. Kami akan segera pulang untuk menjemput Bintang," pungkas Gio yang kemudian mematikan ponsel.
Gio kemudian memeluk Surya yang terlihat sangat bersedih, mendengar kekasih hati yang selama ini dicari, ternyata tengah sakit.
"Bintang, Gi, Bintang ...." Surya tergugu dalam dekapan Gio.
Dia abaikan rasa malu. Surya tak peduli jika nantinya Gio akan meledek dirinya dan mengatai bahwa dia adalah pemuda yang cengeng.
Saat ini, hanya air mata yang mampu membasuh kesedihan hatinya, mengingat bagaimana perjuangan Bintang mengatasi rasa sakit seorang diri, tanpa kehadiran Surya.
"Gi, sore ini juga, aku harus terbang ke sana, Gi. Aku harus segera menjemput Bintang dan membawanya untuk berobat ke sini atau kemanapun yang penting Bintang dapat disembuhkan," ucap Surya setelah melepaskan diri dari pelukan Gio.
"Tidak sekarang, Sur. Tunggulah seminggu lagi. Minggu ini, kita minta ujian lebih awal pada dosen dan setelah itu kita bisa pulang bersama," saran Gio.
"Tapi, Gi ...."
"Seminggu, Sur. Hanya seminggu," sergah Gio, memaksa.
__ADS_1
Surya terdiam, sejenak dia berpikir.
Beberapa saat kemudian, pemuda tampan tersebut mengangguk, menyetujui saran Gio.
Ya, sudah beberapa bulan berjalan dan hanya tinggal menunggu satu minggu untuk bisa pulang segera. Daripada apa yang dia lakukan selama beberapa bulan ini sia-sia karena harus mengulang semua materi mata kuliah, jika Surya memaksa untuk pulang dan tidak mengikuti ujian semester.
🌟🌟🌟
Waktu terus berlalu dan selama seminggu itu, Surya selalu bertanya pada Bima, bagaimana keadaan Bintang di sana.
Bima juga sering mengirimkan rekaman video aktifitas Bintang yang dia ambil secara diam-diam, kepada Surya. Hingga membuat kekasih Bintang tersebut sedikit merasa lega karena melihat Bintang masih baik-baik saja, meskipun badannya terlihat lebih kurus dan pipinya tirus.
"Kak, apa aku bisa bicara dengan Bintang." Tulis Surya, di hari terakhir ujian semester, sebelum dia berangkat ke kampus.
"Jangan dulu ya, Sur. Selama ini, aku enggak cerita sama Bintang kalau kita berkomunikasi," balas Bima setelah beberapa saat Surya menunggu.
"Baiklah, Kak. Nanti malam jadwal penerbanganku dan aku akan langsung ke rumah singgah," pungkas Surya, mengakhiri chat-nya dengan Bima.
Surya menatap layar ponsel dan kemudian menggulirkan layar ponsel tersebut, untuk mencari galeri foto.
"Kita akan segera bertemu, Sayang. Tunggu aku, ya," gumam Surya, seolah berbicara dengan kekasihnya.
Kenangan demikian kenangan manis kembali terlintas, membuat senyum Surya semakin merekah.
"Sur, yuk berangkat!" ajak Gio, mengurai lamunan Surya.
Kedua sahabat tersebut kemudian segera berangkat ke kampus, untuk mengikuti ujian semester gasal.
🌟🌟🌟
Setelah berbalas pesan dengan Surya, Bima kemudian menghampiri Bintang yang sedang bercanda bersama Fajar.
"Dik, kita lihat rumah bintang, yuk!" ajak Bima.
"Ayo-ayo," sambut Bintang, antusias.
__ADS_1
"Hari ini, finishing 'kan, Kak?" tanya Bintang, memastikan.
Ya, setelah sekitar empat bulan rumah singgah impian Bima itu dibangun dengan dana dari hasil penjualan kalung dan liontin berlian milik Bintang, akhirnya hari ini pembangunan rumah singgah tersebut selesai dan mulai besok sudah dapat ditempati oleh mereka semua.
"Nanti Bintang mau minta sama tukang catnya, agar di langit-langit ruangan utama di kasih gambar bintang-bintang. Boleh 'kan, Kak?" pinta Bintang, penuh harap.
"Tentu boleh, dong. Kemarin di dinding depan, sama anak-anak bahkan sudah dikasih gambar bintang warna-warni. Nanti kamu bisa lihat sendiri hasilnya," balas Bima seraya tersenyum lebar.
"Oh, ya?" Bintang yang sudah beberapa hari ini tidak melihat perkembangan pembangunan rumah singgah tersebut, menatap tak percaya pada Bima.
Bima mengangguk. "Bukan hanya dinding depan, bahkan di semua dinding kamar, mereka kasih gambar bintang. Biar seperti namanya kata mereka, rumah bintang." Bima terkekeh pelan.
Bintang dan Fajar yang tidak bisa melihat tapi dapat merasakan bagaimana antusiasme anak-anak dalam menyambut rumah singgah mereka yang baru, yang mereka namai dengan rumah bintang, ikut tertawa bahagia.
Mereka bertiga kemudian segera beranjak keluar, untuk menuju ke rumah bintang yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah singgah lama.
Bintang tertawa riang, kala melihat dari dekat dinding rumah yang cukup besar tersebut sudah dipenuhi dengan gambar bintang beraneka warna dan bentuk sesuai kemampuan masing-masing anak.
Ada yang ujungnya lancip sempurna, ada yang bengkok di sana-sini, ada yang bentuk segitiganya tidak sama satu dengan yang lain, dan masih banyak lagi yang justru membuat dinding tersebut terlihat lucu serta semarak.
Begitu pula dengan warnanya. Ada yang rapi dalam memberikan warna, tapi lebih banyak yang belepotan di sana-sini. Semua itu membuat Bintang tersenyum senang.
"Ini indah sekali!" serunya, dengan netra berbinar terang.
Gadis yang tubuhnya kini telah kurus kering, tetapi tidak terlihat karena pakaian yang Bintang kenakan besar dan menutup hampir seluruh tubuh tersebut kemudian meraba dinding yang penuh gambar bintang. Dia seolah ingin mengingat kenangan indah bersama anak-anak yang telah membersamainya selama beberapa bulan ini.
Puas meraba dinding tersebut, Bintang kemudian menyusul Bima bersama Fajar untuk berkeliling rumah singgah mereka yang baru.
Bima menjelaskan satu persatu bagian dari rumah kepada Fajar yang tidak dapat melihat. Namun, meskipun tidak dapat melihat, gadis belia itu dapat merasakan aura hangat dari rumah tersebut. Rumah yang akan menjadi naungan bagi Bima dan anak-anak asuhnya.
Bima menghentikan aktifitasnya, ketika tiba-tiba dia melihat Bintang terduduk di lantai dengan mata terpejam.
"Dik, kamu kenapa?" Suara Bima terdengar sangat khawatir.
"Kepala Bintang sedikit pusing, Kak. Kak Bima bisa enggak, bawa Bintang ke rumah sakit," pinta Bintang, membuat Bima mengerutkan dahi.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...