Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Semakin Berat Meninggalkan Bintang


__ADS_3

Surya langsung berlari menuju ke arah Delon yang berjalan membelakanginya, untuk menuju ke unit pemuda berwajah blasteran tersebut.


"Delon, Bintang kenapa?" Pertanyaan Surya, membuat Delon terkejut.


Bukannya menjawab, Delon malah semakin mempercepat langkah untuk menuju ke unitnya yang tinggal beberapa langkah lagi.


Surya berhasil menghadang langkah Delon dan dengan paksa, merebut tubuh Bintang yang tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius dari dekapan teman seangkatannya itu.


Delon bermaksud merebut kembali tubuh Bintang dari tangan Surya, tetapi gerakannya dapat dipatahkan oleh Riko yang tadi langsung menyusul Surya bersama Sean yang masih berada dalam gendongannya.


"Jangan coba-coba menyakiti Bintang dan Surya," gertak Riko yang memiliki tubuh tinggi kekar dengan otot lengan terbentuk sempurna karena sering menggebuk drum tersebut.


Sejenak, Delon terdiam dan membiarkan Surya yang membopong tubuh Bintang menjauh darinya.


Tanpa di duga, ternyata Mami Catherine memanggil petugas security yang langsung datang ke tempat kejadian.


"Berhenti!" seru dua orang petugas keamanan yang baru saja datang.


Surya menghentikan langkah, pasrah. Dia yakin, pasti dia yang akan disalahkan karena Surya bukan penghuni apartemen mewah itu.


"Dia telah mengambil paksa calon istri anak saya yang sedang tidak sadarkan diri, Pak!" lapor Mami Catherine dengan tatapan marah pada Surya. Tangannya bergetar menunjuk ke arah pemuda yang tengah membopong tubuh Bintang.


Surya mematung ketika dua orang petugas keamanan semakin mendekati dirinya. Sementara Riko pun sama, dia juga tidak dapat berbuat apa-apa.


Tiba-tiba, neneknya Sean bersuara. "Cepat Nak Surya, bawa cucu nenek ke unit nenek. Dia butuh pertolongan segera!"


Petugas keamanan menghentikan langkah dan kemudian menatap neneknya Sean yang sudah sangat dia kenali dengan tatapan menuntut jawab.


"Dia adalah Bintang, cucuku. Anak muda dan mamanya itu telah mencoba menculik Bintang dan membuat dia pingsan. Beruntung, Nak Surya berhasil mengejar," terang neneknya Sean, membuat Surya bernapas dengan lega.


"Ayo, Om Surya bawa Tante Bintang ke tempat Sean!" seru Sean yang memperkuat keterangan sang nenek.

__ADS_1


Dua orang security tersebut kemudian menatap Mami Catherine dan wanita paruh baya bermata biru itu, hanya bisa menggeram marah.


Begitupula dengan Delon, pemuda berwajah blasteran yang sudah lama mengejar Bintang, mengepalkan kedua tangan dengan sempurna dan netranya berkilat menunjukkan kemarahan.


'Tinggal selangkah lagi, tapi lagi-lagi kamu menggagalkan semuanya!' batin Delon, geram.


Surya segera mengekor langkah neneknya Sean menuju unit nenek tua tersebut. Di belakangnya, Riko mengikuti bersama anak laki-laki kecil yang terlihat cerdas dan pemberani yang kini berjalan sendiri.


Mereka tak lagi menghiraukan apa yang kemudian terjadi pada Delon dan maminya.


"Om, Tante Bintang kenapa pingsan?" tanya Sean seraya mendongak, menatap Riko.


"Om Riko juga belum tahu, Sayang. Dua orang jahat tadi, sepertinya telah menyakiti Tante Bintang," balas Riko.


Sean kecil menoleh ke belakang dan mengangguk, mengerti. "Berarti, Om Surya pahlawan, ya, karena dia telah menyelamatkan Tante Bintang," ucap Sean seraya menatap punggung kokoh Surya yang membopong tubuh Bintang, penuh kekaguman.


"Kalau Sean sudah besar, Sean juga mau jadi pahlawan seperti Om Surya. Sean akan menjaga wanita yang Sean sayangi, seperti daddy yang selalu menjaga mommy dan Nenek," lanjutnya, berceloteh.


"Silakan masuk, Nak," ucap sang nenek, mempersilahkan setelah pintu unit miliknya dia buka dengan kartu akses khusus.


Sean sigap menuntun Riko dan Surya memasuki unit apartemen mewah milik orang tuanya yang terdiri dari dua lantai dengan ukuran yang luas.


"Sean, bukakan pintu kamar nenek, Sayang. Biar Tante Bintang di bawa ke kamar nenek saja!" seru sang nenek yang mengunci kembali pintu unitnya.


"Siap, Nek," balas Sean yang langsung membukakan pintu kamar sang nenek.


"Nak Surya, tidurkan Nak Bintang di kamar saya. Saya akan mencoba untuk melihat kondisinya," titah nenek tua tersebut. Wanita yang berusia sekitar tujuh puluh lima tahun, tetapi masih terlihat bugar dan gesit.


Patuh, Surya kemudian membawa Bintang ke dalam kamar neneknya Sean dan menidurkan Bintang di ranjang berukuran jumbo dengan sprei satin yang menutupi kasur empuk ranjang sang nenek.


Surya terdiam dengan dahi berkerut dalam, ketika dengan cekatan neneknya Sean memeriksa denyut nadi Bintang.

__ADS_1


Wanita tua itu kemudian melonggarkan pakaian Bintang dan mengoleskan minyak angin di dada, dahi dan sedikit di hidung Bintang, mencoba menyadarkan kekasih Surya.


"Saya pensiunan dokter di salah satu rumah sakit, Nak Surya. Jangan khawatir, Nak Bintang hanya pingsan karena sepertinya, dia dibius," terang neneknya Sean seraya menatap Surya yang sepertinya ragu dengan apa yang dia lakukan pada Bintang.


Surya bernapas dengan lega. "Oh, iya. Terimakasih banyak, Nek. Jika tidak ada Nenek, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Bintang," ucap Surya penuh rasa syukur.


"Dia pasti akan segera siuman. Ayo, kita tunggu saja di luar!" titahnya setelah menyelimuti kaki Bintang hingga sebatas pinggang.


"Sean, kenapa si Om tidak diambilkan minum?" Suara sang nenek yang baru saja keluar dari kamar dengan diikuti Surya, mengejutkan Sean yang sedang asyik bermain bersama Riko.


"Iya, Nek. Sean lupa," balas Sean yang kemudian segera berlari menuju almari pendingin di dekat meja makan dan mengambil dua botol minuman dingin untuk Surya dan Riko.


"Silakan diminum, Om," ucapnya mempersilahkan. Sean kemudian duduk kembali di tempatnya semula, di samping Riko.


"Terimakasih, Sayang," balas Surya seraya tersenyum tulus pada Sean.


Selanjutnya, Surya dan Riko terlibat percakapan bersama Sean dan sang nenek. Obrolan tersebut berlangsung santai dan penuh kehangatan karena Sean banyak berceloteh dan nenek Viona begitu bersahaja.


Setelah beberapa saat berlalu, tanpa mereka semua sadari, Bintang yang telah tersadar berjalan mengendap-endap dan mencuri dengar percakapan di luar kamar.


"Suara itu, seperti suara Kak Surya." Bintang menajamkan pendengaran. "Tapi, bagaimana bisa Kak Surya ada di sini?" Ragu Bintang mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


Mengenali siapa yang duduk di sofa dan sedang bercengkrama dengan wanita tua yang asing baginya, Bintang segera menghambur memeluk kekasihnya.


"Kak, Bintang takut," rintih Bintang yang telah menyembunyikan wajah di dada Surya.


Netra Surya berkaca-kaca mendengar tangis Bintang yang memilukan, gadis yang berada dalam dekapan sepertinya benar-benar ketakutan.


"Jangan khawatir, Cinta. Ada aku di sini," bisik Surya di telinga Bintang. Pemuda berhidung mancung dan memiliki tatapan tajam tersebut kemudian mengecup lembut puncak kepala Bintang dengan penuh rasa sayang.


"Bagaimana jika nanti Kakak jauh dari Bintang, siapa yang akan menolong Bintang jika Delon kembali berulah?" Pertanyaan Bintang, membuat dada Surya terasa sesak dan semakin berat meninggalkan Bintang.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2