Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Bab 6


__ADS_3

Dua hari kemudian, Laura mendapati dirinya berada di ruang marching band. Erika minta bertemu. Kini, Erika menatapnya dengan tajam. Terpendam rasa kebencian yang mendalam di sana.


''Jadi,'' katanya memulai pembicaraan, ''aku dengar dr teman-teman ku, kau berduaan dengan Niko di piknik hari minggu kemarin. Kenapa kau melakukannya? Padahal aku sudah jelas-jelas melarangmu mendekati Niko.''


Laura menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu. Erika tidak akan percaya bahwa kebersamaan mereka terjadi begitu saja. Tanpa direncanakan, “Niko menyukaimu,'' jelas Laura perlahan.


Erika tersenyum sinis. ''Perkataanmu tidak menjawab pertanyaanku.''


''Aku tidak punya jawaban yang bisa memuaskanmu,'' kata Laura jujur. ''Aku tidak merencanakan untuk berduaan dengan Niko. Aku tahu dia pacarmu. Kami membicarakan dirimu dan kami berdua mengakui kau mayoret yg hebat. Tidak terjadi apa-apa di antara kami.”


Erika tertawa pendek. ''Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kau berusaha membuat Niko menyukaimu. Kau pikir aku tidak bisa melihat kalau kau menyukainya?''


''Kau tidak bodoh.'' Laura menatap mata Erika lurus-lurus. ''Kau hanya cemburu.''


Erika melihat Laura dengan seksama. ''Kau pintar sekali berkelit. Tentu saja aku cemburu. Siapapun akan cemburu kalau pacarnya terancam direbut orang lain. Akui saja. Kau menyukai Niko.'' Laura memutuskan berterus terang. ''Ya, aku menyukainya.''


Erika tidak menyangka Laura akan mengakui hal itu di depan dirinya, tanpa perasaan bersalah. ''Kau...,'' amarahnya tidak terbendung lagi.


Tapi Laura menyela lebih dahulu, ''Aku bukan satu-satunya cewek yang menyukai Niko. Hampir separuh cewek di sekolah kita menyukainya. Dia sangat populer. Aku rasa kau tahu aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi itu semua tidak penting bukan? Tidak peduli berapa banyak cewek yang menyukainya, Niko menyukaimu. Dia memilihmu. Kau seharusnya memercayai Niko.''


Erika tahu bahwa banyak cewek yang menyukai pacarnya. Tapi Lauralah yang sangat mengancam posisinya di samping Niko. Erika takut, suatu saat Niko memutuskan untuk bersama Laura. Erika mengubah ketakutan itu menjadi amarah. ''Beraninya kau mengajariku bagaimana mempertahankan hubungan kami?''


Laura bangkit dari kursi. ''Aku sudah selesai memberi penjelasan.''


Erika berdiri dan menahan salah satu tangan Laura. ''Aku belum selesai.''


Laura melepaskan pegangan tangan Erika dengan tangan yang lain. ''Aku tidak akan memberi penjelasan selain yang sudah kukatakan tadi.''


''Aku bisa membuat hidupmu di sekolah jd tdk menyenangkan!'' ungkap Erika sungguh-sungguh.


Laura tertawa perlahan. Erika tidak tahu bahwa hidupnya sudah lebih tak menyenangkan. Menyukai seseorang yg tidak menyukaimu kembali adalah hal yang paling menyedihkan. ''Lakukan saja apa maumu,'' kata Laura tidak peduli sambil berbalik.


''Kau akan menyesal,'' ucap Erika perlahan tapi pasti.


Laura berbalik lagi menatap Erika. Kali ini dgn lebih berani. ''Kita akan lulus SMA dalam beberapa bulan lagi. Kemungkinan besar aku tidak akan bertemu denganmu dan Niko lagi. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak berbicara pada Niko selama itu, tapi aku berjanji untuk menjauhinya.'' setelah itu Laura melangkah keluar dari ruangan.


Erika tercengang. Ia tidak menyangka cewek seperti Laura bisa mengatakan hal yang demikian berani padanya. Padahal Laura bukanlah cewek populer yang punya banyak teman satu geng seperti dirinya. Erika terduduk lemah. Ia tahu seharusnya ia merasa lega, tapi kenapa perasaannya mengatakan ia telah kalah dari si SISWI KAMPUNG?


***


Bulan-bulan berikutnya, Laura tidak sempat memikirkan perasaannya pada Niko. Hidupnya dipenuhi sekolah, pelajaran, latihan soal, dan belajar sampai larut malam. Ia perlu membuktikan pada diri sendiri bahwa ia bisa lulus ujian.


Saat nilai ujian try-out yg dilakukan sekolah dibagikan, nilai Laura tidak ada yg dibawah 6. Pak Bambang yg membagikan nilai tersebut pada Laura menatapnya sambil tersenyum, "Kau benar-benar sudah bekerja keras. Buktikan lagi hasil kerja kerasmu pada ujian nasional bulan depan."


Laura mengangguk. "Terima kasih, pak. Saya akan berusaha keras supaya lulus dengan nilai memuaskan."


"Selamat ya,” kata Niko sambil tersenyum ketika Laura akan berbalik ke tempat duduknya.


Laura balas tersenyum. "Terima kasih."


Laura mengetahui bahwa nilai Niko jauh di atasnya. Kadang Laura sedikit iri pada Niko yang pintar. Sepertinya cowok itu tidak perlu belajar terlalu keras untuk mendapatkan nilai bagus. Beberapa bulan yg lalu, saat ulangan dadakan, semua siswa kelas 3 IPA 1 mendapat nilai jelek kecuali Niko.


Niko selalu bisa memberikan jawaban yang benar pada setiap pertanyaan. Sampai Laura pernah berharap mendapatkan setengah kepintaran Niko. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Memang ada orang seperti Niko yg terlahir dengan otak yang pintar.


Laura sudah memenuhi janjinya pada Erika untuk menjauhi Niko. Ia tidak pernah berbicara pada Niko selain di dalam kelas. Saat jam pelajaran usai, Laura langsung pulang ke rumah.


Hari berganti minggu, tanpa terasa ujian nasional telah datang. Hampir semua siswa kelas tiga merasa gugup menghadapinya. Selalu ada perasaan takut yang menghinggapi benak mereka. Takut tidak bisa mengerjakan soal. Takut tidak lulus ujian. Takut mengulang kembali. Takut gagal.


"Semoga berhasil," kata Niko pada Laura ketika mereka akan menghadapi ujian.


"Kau juga," balas Laura.


Hari-hari berikutnya benar-benar sangat berat bagi Laura. Ia tidak ingin mengulang ujiannya. Terkadang larut malam, Laura terbangun dan tidak bisa tidur lagi.


Mama memergokinya suatu malam, menenangkan hati putrinya. Mama menyeduh susu panas untuk Laura dan menyuruhnya tenang.


"Apapun yang terjadi," kata mama perlahan, "kau masih memiliki mama. Mama percaya kau bisa melalui ujianmu dengan baik. Mama percaya padamu."


"Thanks ma," kata Laura. Kata-kata mama menenangkan hatinya.


Ketika ujian selesai dan siswa kelas tiga berteriak kegirangan, Laura juga ikut bersorak lega. Selanjutnya tinggal masa penantian hasil ujian. Memang hasil ujian masih beberapa minggu lagi, tapi Laura merasa yakin pada dirinya sendiri dan kemampuannya.


***


Laura pulang dengan perasaan lega. Ia mengerjakan tugas sehari-harinya di rumah dengan lebih tenang. Tapi, sore harinya mama tiba dengan berita yang mengejutkan. Mama akan dipindah tugaskan ke kantor pusat. Dan itu artinya mereka harus pindah rumah.


"Mereka meminta mama untuk berangkat secepatnya," jelas mama, "tapi mama meminta mereka menunggu sampai kau mendapatkan ijazah terlebih dahulu."


Laura kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka akan mengucapkan selamat tinggal pada kota yg telah dihuninya selama 10 tahun.


"Apakah kantor pusatnya jauh, ma?" tanya Laura perlahan.


Mama mengangguk. "Sekitar 2 jam dr sini. Naik pesawat."


Hati Laura terasa sesak. Ia tahu ia sudah berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan melupakan Niko setelah lulus SMA. Tapi hatinya masih menyimpan sedikit rasa tak rela. Sekarang ia tidak punya kesempatan sama sekali untuk masuk universitas yang sama dengan Niko. Laura tentu saja tidak akan membiarkan mama sendirian, apapun yang terjadi.


"Maaf, Laura. Mama sudah berusaha menolak, tapi itu sudah keputusan kantor pusat," kata mama sedih. "Mama tahu kau ingin kuliah disini. Maaf."


Laura memeluk mama dengan erat dan menggeleng. "Tidak, mama. Tidak perlu meminta maaf." Bukankah jarak yang jauh juga merupakan salah satu cara untuk melupakan seseorang? pikir Laura. Ia akan mengakhiri semua saat kelulusan nanti.


***


Pelajaran sekolah telah ditutup dengan ujian nasional, tetapi para siswa tetap masuk sekolah. Sambil menanti hasil ujian, para guru wali kelas tiga mulai memberikan gambaran seperti apa dunia kuliah yg nanti akan dimasuki anak didiknya. Para guru menjelaskan bagaimana menentukan jurusan yg tepat di universitas nanti.


Niko melihat brosur universitas-universitas yang ada dikotanya.


"Kau sudah pasti masuk kedokteran, kan?” tanya salah satu teman Niko padanya.


Niko menghela napas. "Ya", jawabnya. Tangannya membolak balik brosur universitas tanpa antusiasme. Tatapannya jatuh pada jurusan seni. Dia mengetuk-ngetuk brosur tersebut di meja tanpa sadar.


Di belakangnya, Laura belum bisa memutuskan akan masuk jurusan apa di universitas nanti. Kalaupun nilai ujiannya bagus, rasanya ia tidak ingin memasuki jurusan yg tidak disukainya. Laura berpikir akan lebih baik bila ia mempelajari hak yang ia suka juga.


"Kau mau melihat-lihat brosurmu?" tanya teman Niko lagi. Niko menggeleng. "Aku sudah tahu mau masuk universitas mana. Ini, kau pilih saja."


"Kau benar-benar beruntung, Niko," kata temannya. "saat kau lulus ujian nanti, sudah ada universitas yg akan menerimamu."


Niko hanya tersenyum singkat menanggapi hal itu. Apakah benar aku seberuntung itu? tanya Niko dalam hati. Aku tidak tahu semua orang punya koneksi seperti papa dan bisa membuat putranya masuk fakultas kedokteran yg paling bagus. Tapi mengapa hatiku terasa berat?


Setelah memutuskan untuk tidak memilih jurusan apapun hari itu, Laura menatap Niko lagi. Hanya tersisa waktu 2 minggu untuk memandanginya. Setelah itu, ia tidak akan bertemu Niko lagi.


Laura benar-benar berharap Niko bisa bahagia selama hidupnya. Ia sudah membayangkan Niko mengenakan jas putih, merawat pasien rumah sakit dengan penuh perhatian. Laura tertawa perlahan dan menutup matanya.


***


Hari yg ditunggu - tunggu para siswa kelas tiga akhirnya datang juga. Pengumuman hasil ujian nasional. Seluruh siswa kelas tiga berkumpul di lapangan sekolah. Lalu para wali kelas memberikan amplop surat dengan nama mereka tertera di depannya.


Setelah pembagian amplop selesai, Kepala sekolah beranjak menuju tengah lapangan. "Di tangan kalian terdapat surat yang menyatakan apakah kalian lulus atau tidak atas ujian nasional yang kalian jalani dua minggu yang lalu. Pada hitungan ketiga, Bapak ingin kalian membukanya bersama-sama. Satu......dua....tiga..."


Para siswa dengan tidak sabar merobek amplop surat tersebut dan membukanya untuk melihat hasil mereka.


Kepala sekolah tertawa melihat aksi murid - muridnya. Lalu berkata lagi, dari 297 murid kelas tiga, yg lulus hanya... dua... ratus... sembilan puluh.... tujuh..." Para murid berteriak sekencang-kencangnya.


Kepala sekolah tertawa lebar. "Iya, benar, kalian lulus seratus persen. Bapak bangga kalian semua bisa lulus tanpa harus ada yg mengulang. Bapak sudah bosan dan tidak mau ditemani kalian lagi."


Para siswa serentak tertawa.


Laura melihat hasil di tangannya dengan gembira. Nilainya tidak mengecewakan. Matanya berkaca-kaca karena lega. Semua siswa saling memberi selamat. Ia melihat Niko dipeluk oleh Erika.


Laura terdiam. Kini hanya tinggal pesta perpisahan yang menanti. Laura mengeluarkan HP dan menelepon mama.


Setelah tersambung, Laura langsung memberitahukan berita baiknya. "Ma, aku lulus."


"Selamat sayang," kata mama dengan gembira ditelepon. "Kita makan malam di luar malam ini untuk merayakan kelulusanmu."


"Baiklah," Laura menyetujuinya. Setelah berbicara beberapa saat, ia memutuskan sambungan telepon. Niko mendapat ucapan selamat dari para guru setelah itu, karena nilai ujiannya adalah yang tertinggi dari semua murid.


Laura melihat itu semua sambil tersenyum. Di samping Niko, Erika tersenyum bangga, Laura kembali ke kelasnya. Tangannya mengelus ringan meja tempat Niko berada. "Selamat,Niko," katanya. Ia tahu sampai kapanpun ia takkan bisa memasuki dunia sekeliling Niko yg berbeda jauh dr dunianya.


Laura merapikan tas, lalu berjalan pulang menuju halte bus.


***


"Terima kasih, Ma", kata Laura gembira melihat hadiah kelulusan dari mama. Mereka sedang makan malam di restoran seafood.

__ADS_1


Laura mengenakan jam tangan berwarna perak pemberian mama. "Seharusnya mama tidak usah boros membeli jam semahal ini."


Mama tersenyum. "Tidak apa-apa. Mama benar-benar bangga padamu. Mama tahu betapa kerasnya kau berusaha untuk lulus."


"Aku akan selalu menjaga jam ini," kata Laura sambil memandang mama lembut. "Jadi, kapan petugas pengangkut barang akan datang?"


Mama mengambil minumannya dan meneguknya kemudian menjawab, "mungkin besok. Kau sudah membereskan barang-barangmu ke dalam kardus?"


"Sebagian sudah," kata Laura. "tinggal sisa buku-buku sekolah. Aku bisa melakukannya malam ini."


"Kau bisa menyelesaikannya besok kalau kau kecapekan," saran mama.


"Aku tidak capek kok. Rasanya tenagaku berlipat ganda setelah makan," canda Laura.


"Kau sudah memutuskan mau masuk jurusan apa?" tanya mama serius.


Laura menghela napas. "Aku belum tahu, ma."


"Kalau mama boleh tahu," kata mama sabar, "sebenarnya apa yg paling kau sukai di dunia ini?"


Laura langsung menjawab, "bersama-sama dengan mama."


Mama tertawa. "selain itu apa lagi?"


"Hm....., aku suka memasak... mungkin", jawab Laura.


"Kenapa kau tidak coba ambil jurusan masak saja?" usul mama.


"Aku masih belum yakin ma," kata Laura ragu-ragu.


"Kau tidak harus memutuskannya sekarang," kata mama penuh pengertian. "Kau akan tahu saatnya nanti. Sekarang... bagaimana dengan persoalan hatimu? kau sudah menyelesaikannya?"


Laura berpikir keras. "Aku tidak tahu, ma. Tapi beberapa hari lagi semuanya akan berakhir. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Dan aku akan berusaha melupakanya."


"Cinta pertama memang susah dilupakan," kata mama mengangguk bijak. "Hanya waktu yang akan mambantumu melupakannya. Kau pernah mengatakan padanya bahwa kau menyukainya?"


Laura menggeleng. "Tidak pernah."


"Mungkin seharusnya kau memberitahukannya, setelah itu kau bisa meneruskan hidupmu dan mendapat cinta yg baru suatu hari nanti." Mama menyentuh lengan putrinya perlahan. "Kau butuh sebuah penyelesaian."


"Ya, aku tahu." Laura menatap mata mama dengan sedih. "Hanya saja aku tidak ingin semuanya berakhir."


"Yang harus kau ingat," kata mama menguatkan hati anaknya, "kau harus jujur pada dirimu sendiri. Katakan padanya bagaimana perasaanmu." "Aku akan mencobanya," tekad Laura.


***


Malam harinya, Laura mengepak bekas buku-buku sekolahnya. Saat memasukkan buku terakhir, Laura melihat amplop besar berwarna cokelat di mejanya. Laura membuka amplop tersebut dan mengeluarkan gambar-gambar rancangan perhiasan Niko. Laura menyusun satu demi satu gambar-gambar itu dan memandangnya. (mungkin sebaiknya kukembalikan pada Niko), katanya dalam hati.


Laura menumpuk gambar-gambar itu, lalu memasukkannya kembali ke amplop cokelat. Ia akan mengembalikannya di acara wisuda nanti.


Esok harinya, Laura bangun pukul 05.30, ia mandi, kemudian memasak nasi. Hari ini hari pesta kelulusan di pantai. Karena Laura hanya perlu pergi sore hari untuk berkumpul di sekolah, ia memanfaatkan waktu paginya untuk mengemas barang-barang lain yang masih teronggok di ruang tamu.


Suara kertas di lempar menghentikan aktifitas Laura. Ia menengok ke halaman depan. Ternyata kiriman koran pagi. Laura mengambil koran tersebut dan membawanya masuk kerumah. Ia membaca berita utama sekilas, lalu membaca berita-berita lainnya. Di halaman tengah, tatapannya berhenti. Di situ tertulis bahwa julien bardeux, ahli perhiasan terkenal, akan mengadakan pameran selama dua hari. Hari ini dan besok. Ia penasaran apakah Niko membaca berita ini. Setidaknya, Niko bisa menghadiri pameran perhiasan ini.


Sekitar pukul 14.30, Laura sudah sampai di sekolah. Seperti biasa, bus-bus sudah terparkir di area sekolah. Kali ini para guru membebaskan murid-murid duduk di bus yg mana saja. Laura melihat Niko dan Erika memasuki bus pertama. Ia memutuskan untuk memasuki bus terakhir.


Seperti biasa, ia menempati tempat duduk paling belakang. Dua jam kemudian, bus sudah sampai di pantai. Sekolah sudah menyewa gedung pertemuan untuk dijadikan pusat acara perpisahan.


Di dalam gedung tersebut terdapat live music, makanan prasmanan, dan lantai. Laura melihat Erika menarik Niko ke lantai dansa. Laura memilih untuk mengambil makanan dan duduk di pojokan.


Malam itu, Niko dan Erika terpilih sebagai pasangan terbaik dari sekolah mereka. Laura bertepuk tangan saat mereka dihadiahi sepasang mahkota. (Mereka memang cocok satu sama lain), Laura mengakuinya dalam hati.


Perlahan-lahan langkahnya menuju keluar gedung. Sebagian murid lain mempersiapkan acara api unggun dipinggir pantai. Laura berjalan di sepanjang pantai kemudian berhenti. Matanya memandangi luasnya lautan. Mungkin sejauh itulah nanti jarak antara dirinya dan Niko. Tanpa terasa air matanya mengalir.


Entah berapa lama Laura menatap lautan sambil berlinang air mata. Tiba-tiba suara seseorang menyadarkannya.


"Laura...."


Laura mencoba menghapus air matanya. Ia berbalik dan melihat Niko di depannya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Niko. "Kita sudah mau memulai acara api unggunnya."


Laura menelan ludah. "Aku akan ke sana sebentar lagi," katanya perlahan.


Niko memperhatikan Laura dengan sedikit khawatir. Sesaat lalu, ketika Erika mengajaknya keluar untuk melihat persiapan api unggun, ia melihat bayangan seseorang tak jauh dari sana dan mendekatinya. Entah mengapa, dalam hati Niko tahu itu pasti Laura. Selama ini Laura tidak pernah bergabung dengan teman-teman yang lain. Selalu seorang diri. Itulah sebabnya, Niko mendekatinya untuk mengajaknya ke acara api unggun. Kalau perkiraannya tidak salah, dia sepertinya melihat Laura menangis.


"Aku tidak apa-apa," jawab Laura meyakinkan Niko.


"Kau seharusnya bergabung dengan yang lain," saran Niko. “Pesta perpisahan seharusnya dirayakan bersama-sama."


Laura mengangguk, "kau benar."


"Ayo pergi," ajak Niko sambil membalikkan badan.


Laura memandangi punggung Niko lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Tanpa sadar suaranya memanggil Niko.


Niko berbalik lagi, "ya?"


"Apakah... kau sudah membaca koran hari ini?" tanya Laura perlahan. "Ada pameran perhiasan selama dua hari. Hari ini dan besok."


Niko menghela napas. "Aku tahu."


(Oh,dia sudah tahu), kata Laura dalam hati. "Kau tidak mau menghadirinya?" tanya Laura lagi.


"Tidak," jawab Niko setelah beberapa saat.


Laura menatap mata Niko yang terlihat sedih ketika menjawab pertanyaannya. Entah mengapa, perasaannya mengatakan Niko berbohong padanya kali ini. Laura menggenggam kedua tangannya erat-erat. Niko tidak tahu bahwa tatapan sedihnya telah membuat hati Laura hancur. "Niko... disini kau rupanya." Erika menghampiri Niko dan nenarik lengannya. Tatapan tajamnya jatuh pada Laura. Ia mendengus pelan, "Ayo kita pergi. Acara api unggunnya telah dimulai."


"Baiklah," kata Niko. Lalu menatap Laura. "Ku tunggu kau di acara api unggun." Laura mengangguk perlahan. Erika makin kesal pada Laura.


Selama acara api unggun Erika melihat konsentrasi Niko pada dirinya terpecah. Niko seperti sedang memikirkan sesuatu. Tangan mereka memang bertaut, tapi Erika merasakan pikiran Niko tidak bersamanya.


Laura melihat kehebohan acara api unggun dari deretan kedua. Ketika salah seorang murid bernyanyi dengan gaya heboh, ia tertawa lepas.


Di seberangnya, perlahan tangan Niko melepas genggaman tangan Erika.


Erika menatap Niko dengan bingung. Tapi tatapan Niko tidak tertuju padanya. Erika lalu melihat arah pandangan Niko dan menahan napas. Laura.


Niko memandang Laura yangbsedang tertawa. Dan Laura sepertinya tidak menyadari hal itu. Saat napasnya kembali, Erika tidak bisa menahan sakit hatinya. Ia berbalik dan menjauh dari Niko.


Di tengah jalan ia berhenti, berharap Niko menghentikan langkahnya. Tapi Erika menyadari tak seorang pun menyadari kepergiannya. Ia berlari menuju gedung dan masuk ke toilet lantai dua.


Ia menutup pintu toilet dan terduduk di sana. Ia menguatkan hati untuk tidak menangis. Lalu setelah beberapa saat ia bangkit berdiri dan memandang cermin.


(Aku tidak akan dikalahkan oleh siswi kampung itu,) katanya pada bayangannya di cermin. (aku adalah Erika. Gadis terpopuler di sekolah. Semuanya akan berakhir dalam beberapa hari. Gadis kampung itu tidak akan bertemu lagi dengan Niko.)


Erika keluar dari toilet dan menuruni tangga. Di tengah tangga, ia melihat Laura sedang mengetik SMS di HP nya. Erika baru menyadari selama ini ia tidak pernah memikirkan bahwa (bodohnya aku), kata Erika tanpa bisa meredam amarahnya. Ia menuruni tangga dan tanpa pikir panjang merebut HP Laura.


Laura terkejut ketika ada seseorang mengambil HP nya.


"Kau sedang mengrim SMS untuk Niko, ya?!" teriak Erika yg sudah tidak bisa mengotrol emosinya.


"Kau ini ngomong apa sih?" tanya Laura tidak mengerti.


"Selama ini kau pasti sering SMS an dengan Niko," tuduh Erika kesal.


Laura semakin bingung, "Aku tidak mengirim SMS pada Niko."


"Kau berbohong!" seru Erika. Kali ini Laura sudah tidak bisa menolerir kecemburuan Erika.


"Kembalikan HP ku", pinta Laura kesal. "Aku tidak mengirim SMS pada Niko. Aku sedang mengirim SMS pada mamaku."


Erika tertawa sinis. "Aku tidak percaya padamu." Ia mulai mengutak atik HP Laura.


Laura kesal. Erika melanggar pripasinya. Erika memang pacar Niko, tapi Laura tidak terima diperlakukan seperti itu. Tangannya mencoba mengambil HP nya kembali. "Kembalikan"! katanya tak kalah keras.


"Tidak!" teriak Erika.


Laura kembali berusaha merebut HP nya dari tangan Erika. Tapi tanpa sengaja tangannya mendorong pundak Erika, lalu sedetik kemudian tubuh Erika limbung dan jatuh terguling sampai ke dasar tangga. HP Laura pecah berantakan.


Laura terpana. Ia tidak menyadari apa yg baru saja terjadi. Ia cepat-cepat berlari menyusul Erika. Suara seseorang jatuh telah membuat para murid mengalihkan perhatian ke lantai bawah tangga. "Erika!" kata Laura terengah engah. "Kau tidak apa-apa?" Erika bergeming.


Teman-teman Erika berlarian menghampirinya. Mereka menatap Laura dengan marah. "Kau mendorongnya."


Laura menggeleng. "Aku tidak bermaksud mendorongnya."

__ADS_1


"Aku lihat kau mendorongnya," tuduh salah satu teman Erika.


"Ya ampun! Erika. Kau tidak apa-apa?" Erika mulai mengerang kesakitan.


"Ada apa?" tanya Niko yang kemudian menghampiri kerumunan. Lalu ia melihat Erika tergeletak dilantai. "Erika!" teriaknya panik sambil merengkuh tubuh Erika. "Ada apa? Kenapa kau bisa berada di bawah sini?"


Erika berkata lemah. "Aku jatuh dari tangga."


Tangan Erika memeluk perut Niko. "Pungung dan kakiku sakit sekali."


Niko mengecek kaki Erika yg lebam. Lalu dia menengadah, menatap Laura yang panik di depan Erika.


Erika mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan simpati Niko. "Laura mendorongku."


Niko terkejut tidak percaya. "Apa?"


Salah seorang teman Erika membenarkan perkataan Erika.


"Aku melihat mereka bertengkar di tangga. Lalu Laura mendorong Erika sampai terjatuh." Laura merasa dunianya hancur saat itu. Niko membopong Erika perlahan.


Laura melangkah maju. "Aku tidak bermaksud untuk..."


Niko menatap Laura dengan dingin. "Sekarang aku tidak ingin mendengar penjelasanmu."


Para murid mengikuti langkah Niko, meninggalkan Laura seorang diri.


Laura tidak bisa bernapas. Hatinya terasa sesak. Sepasang mata cokelat hangat yang pertama kali ia lihat dua tahun lalu, kini berubah dingin. Ia jatuh terduduk. Air mata membasahi pipinya. Laura menangis terisak isak.


Setelah itu ia tidak sadar lagi apa yang terjadi. Mulai dari perjalanan pulang dari pantai ke sekolah sampai perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Ketika tiba di depan rumahnya, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Laura membuka pintu rumah dengan lemas.


Lampu ruang tamu masih menyala.


"Laura?" tanya mama yg sedang duduk di ruang tamu, tampak khawatir. "Mama mencoba meneleponmu beberapa kali, tapi kau tidak menjawab teleponmu. Mama benar-benar khawatir....


Mama..."


Mama berhenti berbicara ketika melihat Laura termenung dan membisu.


"Ada apa?" tanya mama bingung. "Mengapa kau seperti ini?"


Kaki Laura lemas dan terduduk di lantai. Mama langsung menyadari sesuatu yg buruk telah terjadi pada putrinya.


Mama langsung memeriksa seluruh tubuh putrinya, seakan memastikan tidak ada luka disana.


"Apa yg terjadi?"


Laura akhirnya menatap mama dengan tatapan kosong.


"Mama, maaf aku tidak memberi kabar."


Mama semakin kebingungan. "Tidak apa-apa, tapi kau kenapa?"


"Aku tidak tahu Hp ku dimana," kata Laura dengan tatapan kosong. "Sepertinya aku menghilangkannya."


"Itu tidak penting." Mama mulai menggucang pundak Laura dengan kencang. "Ada apa denganmu?"


Air mata Laura mengalir lagi. Laura menangis sekencang-kencangnya sambil memeluk mama. "Sakit sekali, Ma," isak Laura. "Hatiku sakit sekali."


Mama hanya bisa balas memeluk. Ia membiarkan putrinya menangis sepuasnya. Beberapa lama kemudian, tangis Laura berubah menjadi isakan perlahan.


Mama melepaskan pelukannya dan menyuguhkan segelas air putih pada Laura. "Minumlah," katanya lembut. "Setelah itu sebaiknya kau beristirahat di kamar." Laura mengangguk dan meminum air yg diberikan mama.


Mama membantu Laura berdiri lalu memapahnya ke kamar tidur. Setelah Laura berbaring di ranjangnya, mama menyelimutinya lalu mengecup keningnya. "Tidurlah."


Setelah mama pergi, meskipun lampu telah dimatikan, Laura tetap tidak bisa tidur. Ia masih mengingat kejadian sebelumnya. Erika terjatuh dari tangga. Tatapan Niko yg dingin padanya. Laura tahu dirinya akan berpisah dengan Niko, tetapi ia tidak ingin perpisahannya berakhir dengan kejadian yg menyakitkan seperti ini.


Ketika mama mengetuk pintu kamar Laura keesokan paginya, ia melihat putrinya sudah bangun dan memakai seragam.


"Kau sudah bangun", seru Mama.


Laura tersenyum. (Aku tidak tidur sama sekali.) "Ayo kita sarapan," ajak mama.


Di meja makan, Laura sarapan dengan tenang.


"Kemarin mama lupa bilang, kepindahan kita dipercepat tiga hari. Kita harus pindah besok," katanya hati-hati. "Tampaknya kau tidak bisa mengahadiri wisudamu. Tapi kalau kau ingin menghadirinya, Mama bisa memesan tiket yg lain untukmu. Nanti kau tinggal menyusul mama".


Laura menggeleng. "Tidak perlu, ma. Aku akan pergi bersama mama besok."


"Apakah kau yakin?" tanya mama ragu. "Kau tidak menghadiri acara wisudamu?" Laura menatap mama dengan pasti. "Aku yakin."


Mama tahu putrinya baru patah hati kemarin malam. "Baiklah, nanti siang mama telepon wali kelasmu agar menyerahkan ijazahmu lebih dulu."


Laura mengangguk setuju. Ia mengambil tasnya dr kamar setelah sarapan. Amplop cokelat berisi gambar Niko masih disana. Ia mengambilnya juga dan keluar dari kamar.


 


***


 


Di sekolah,vberita tentang jatuhnya Erika dari tangga menjadi berita heboh. Saat Laura memasuki lingkungan sekolah, semua mata memandangnya dengan mencemooh. Laura tidak memedulikan semua itu. Ini hari terakhirnya sekolah.


Saat Laura memasuki kelas 3 IPA 1, semuanya terdiam. Laura duduk di kursinya tanpa memandang siapapun. Wali kelas membagikan buku tahunan pada para siswa. Setelahnya, para siswa sibuk saling menukar buku tahunan untuk ditandatangani.


Laura memanfaatkan waktu tersebut untuk keluar kelas dan mengelilingi lingkungan sekolah. Ia melihat bekas kelasnya, ruang tata boga, aula sekolah, lapangan basket, dan terakhir taman sekolah. Ia ingin mengingat semuanya.


Setelah itu ia kembali ke ruang kelasnya yang telah sepi. Ia melihat buku tahunan Niko di mejanya. Tadi pagi Niko tidak masuk. Menurut yang didengar Laura, Niko tidak masuk karena menemani Erika di rumah sakit.


Ia membuka buku tahunan Niko dan sampai pada daftar anak kelas 3 IPA 1. Ia melihat wajah Niko yg sedang tersenyum. ("aku akan mengingatmu seperti ini saja,") kata Laura.


Laura menarik napas dalam-dalam. Dibukanya halaman terakhir buku tahunan Niko, lalu mulai menulis.


(Aku menyukaimu).


Laura menutup buku tahunan Niko. Kalau ada orang bilang patah hati rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya, Laura tidak bisa menyetujuinya. Jantungnya tidak hanya terluka tapi remuk seperti tertimpa beton yg beratnya ribuan kilo.


Walaupun begitu, Laura menyadari satu hal. Sampai akhir haripun, ia tetap tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Niko secara langsung.


Laura berdiri dan hendak mengembalikan gambar rancangan Niko di mejanya saat merasa ada yang memasuki kelas. Laura berbalik untuk melihat siapa yang berjalan di belakangnya. Ternyata Niko.


Keduanya bertatapan tanpa bicara.


Tapi akhirnya Laura memberanikan diri untuk bertanya. " Bagaimana keadaan Erika?"


Awalnya Niko seakan enggan menjawab. "Dia tidak bisa berjalan selama satu minggu."


Laura benar-benar merasa bersalah. "Aku benar-benar minta maaf. Tolong sampaikan permohonan maafku pada Erika."


Niko memandang Laura lurus-lurus. "Jawablah pertanyaanku yg satu ini. Apakah benar kau mendorong Erika dari tangga?"


Hati Laura sakit mendengar pertanyaan itu. Karena ia tahu jawabannya akan membuat Niko membencinya selamanya. Tapi ia tahu ia tetap harus mengatakannya.


"Ya," jawab Laura sambil memeluk gambar Niko di dadanya. "maafkan aku."


Niko terlihat sedih. "Aku mengira kau berbeda.... mengapa? Mengapa kau mendorong Erika?"


Laura sangat ingin menjelaskan pada Niko bahwa itu semua ketidaksengajaan yang berawal saat Erika merebut HP nya. Tapi Laura menyadari tidak ada gunanya ia menjelaskan itu semua. Ia tidak ingin menghancurkan hubungan Niko dan Erika. Toh ia tidak akan bertemu Niko lagi setelah hari ini.


"Maaf," jawab Laura kemudian. "Aku tidak bisa menjelaskannya."


Niko menatap Laura lagi dengan seksama. "Tidak bisa atau tidak mau?"


"Keduanya," jawab Laura perlahan. "Lagi pula semuanya tidak berarti. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Siapa yg akan kau percayai? Gadis yg telah kau kenal sejak kecil atau gadis yg baru kau kenal satu tahun ini?"


Niko terdiam mendengar pertanyaan Laura. Tidak ada jawaban yang keluar daribmulutnya.


Laura tersenyum lirih. "Aku rasa kau sudah menjawab pertanyaanku."


Semua sudah berakhir. Laura beranjak keluar dari ruang kelas. Ia tidak bisa berada di samping Niko lebih lama lagi. Kalau tidak, hatinya bisa hancur.


"Laura," kata Niko sebelum Laura melangkah keluar pintu, "kurasa... aku tidak bisa menjadi temanmu lagi."


Pelukannya pada gambar Niko semakin erat. Laura menarik napas dan berbalik. "Aku tahu. Maafkan aku. Selamat tinggal, Niko".

__ADS_1


Sepeninggal Laura, Niko duduk di bangkunya tanpa bergerak. Dia tahu tidak seharusnya dia sesedih ini. Selama ini ia selalu menganggap Laura sebagai temannya. Tetapi mengapa kepergian Laura sesaat yang lalu membuat hatinya sakit? Kemudian,  ia kembali teringat pada wajah Erika yang kesakitan semalam. Dan ia tahu ia juga menyayangi Erika. Ia khawatir saat Erika mengernyit nyeri dan memegangi tangannya selama diobati dirumah sakit. Tapi mengapa kesedihan dihatinya waktu itu tidak sesedih sekarang?.


__ADS_2