
Di rumah sakit, Bintang yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan sedang ditangani oleh dokter, meminta pada dokter tersebut untuk melakukan sesuatu hal.
Dokter yang diajak bicara oleh Bintang mengerutkan dahi dengan dalam, tidak percaya dengan apa yang diminta oleh gadis yang saat ini kondisinya sangat lemah tersebut, meski aura wajahnya terlihat cerah.
"Apa kamu yakin, Dik?" tanya dokter wanita itu, menatap Bintang dengan iba.
Bintang tersenyum dan kemudian mengangguk. "Saya yakin, Dok. Itu yang terbaik untuk kami."
Dokter ber-name tag Dokter Dina tersebut menghela napas panjang dan kemudian mengangguk, mengiyakan permintaan Bintang.
"Oh ya, Dok. Tolong panggilkan kakak saya, ya, barangkali dia sudah kembali dari ruang administrasi dan menunggu di luar," pinta Bintang, sebelum Dokter Dina meninggalkan ruang perawatan Bintang yang sederhana.
Ketika Bintang hendak dipindahkan ke ruang perawatan, Bima memang diminta untuk mengurus administrasinya.
"Baik, Dik. Tunggu sebentar, ya." Dokter Dina segera berlalu meninggalkan ruang perawatan kelas dua tersebut.
Ya, Bima memilih ruang perawatan kelas dua karena menyesuaikan dengan kemampuan finansialnya.
Sebenarnya, pemuda ganteng tersebut ingin memberikan perawatan terbaik untuk Bintang agar gadis yang sudah seperti adiknya sendiri itu mendapatkan perawatan terbaik, tapi dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya pengobatan di rumah sakit.
Tak berapa lama, Bima masuk ke dalam ruangan tersebut sambil tersenyum.
"Dik, bagaimana keadaan kamu?" tanya Bima setelah berada di samping ranjang perawatan Bintang.
"Maaf, ya, kamar rawatnya hanya seperti ini," sesal Bima.
"Kak, kenapa Kak Bima bicara seperti itu," protes Bintang.
"Ini sudah sangat baik, Kak, dan sebenarnya Bintang tidak membutuhkan tempat ini," lanjutnya.
Bintang kemudian mengambil tiga amplop putih dari samping bantal yang telah dia siapkan jauh-jauh hari dan selalu dia kantongi di dalam hoodie yang sering Bintang kenakan.
"Kak, jika kakak ketemu sama Kak Surya, tolong sampaikan ini sama dia, ya. Minta juga pada Kak Surya, agar menyampaikan amplop yang satunya untuk papa Bintang," pinta Bintang seraya memberikan dua amplop kecil putih yang bertuliskan nama Kak Surya dan papa.
Bima mengerutkan dahi. "Kenapa ditulis segala, sih, Dik? Bentar lagi kamu juga bakalan ketemu sama Surya karena malam ini dia terbang dari Ausie."
"Kak Bima berkomunikasi sama Kak Surya?" tanya Bintang.
Bima mengangguk, membenarkan. "Maaf, ya. Kakak terpaksa menghubungi Surya seminggu yang lalu ketika kamu mengatakan tentang penyakit kamu."
"Ya ampun, Kak. Kak Surya pasti sangat khawatir," sesal Bintang.
"Ya, kamu benar, Dik. Waktu itu dia bahkan hendak langsung pulang, tapi Gio berhasil meyakinkan Surya kalau dia harus ikut ujian dulu," ucap Bima.
"Aku khawatir, dia langsung ke rumah singgah karena kemarin dia bilang mau langsung ke sana,' lanjutnya.
__ADS_1
"Kakak enggak bilang, kalau kita ada di sini?"
Bima menggeleng. "Ponselku sepertinya terjatuh, Dik, entah di mana."
"Ya sudah, Kak. Bintang cuma mau menyampaikan amplop itu," ucap Bintang, setelah beberapa saat keduanya terdiam.
"Sama yang ini, untuk Kakak dan Fajar," lanjut Bintang seraya menyerahkan satu amplop yang masih tersisa pada Bima.
Bima kembali mengerutkan dahi. "Kenapa enggak mengatakan langsung aja, sih, Dik?"
Bintang menggeleng. Kakak bisa membacanya sekarang tapi jangan di hadapan Bintang, ya," pintanya.
"Kak, Bintang mau istirahat dulu," pamit Bintang kemudian.
Bima mengangguk, mengerti dan kemudian segera keluar, agar Bintang dapat beristirahat dengan nyaman.
πππ
Di luar ruang perawatan Bintang. Bima tercenung, membaca tulisan tangan Bintang yang kecil-kecil dan rapi tersebut.
"Dik, apa-apaan ini! Kenapa kamu berpesan seperti ini?" gumam Bima, bertanya.
"Berpesan apa, Kak?" cecar Surya yang baru saja sampai rumah sakit dan langsung menuju ruang perawatan Bintang setelah bertanya ke bagian informasi.
"Bintang baik-baik saja 'kan, Kak?" tanya Surya memastikan, setelah melerai pelukan.
"Iya, dia sedang beristirahat di dalam," balas Bima seraya menunjuk ke arah pintu bercat putih yang tertutup rapat.
Surya segera beranjak, membuka pintu tersebut dan kemudian masuk ke dalam kamar rawat Bintang.
Sementara Gio, Bima dan Asisten Toni, mengikuti dari belakang dan memilih berdiri di dekat pintu.
Surya memejamkan mata seraya menghela napas panjang. "Kenapa kamu merahasiakan semua ini, Sayang?"
Pemuda itu kemudian mendudukkan diri di bangku, di sisi ranjang Bintang dan menatap sang kekasih yang saat ini kondisinya sudah sangat jauh berubah dari sewaktu dia tinggalkan hampir lima bulan yang lalu, dengan tatapan kesedihan yang mendalam.
Wajah putih tersebut nampak pucat, pipi chabi Bintang menghilang dan menjadi sangat tirus.
Rambut hitam nan indah milik Bintang, kini menjadi tipis dan tubuh gadis itu sangatlah kurus, tinggal kulit pembalut tulang.
"Harusnya, aku tidak meninggalkan kamu, Sayang. Harusnya, aku tetap berada di samping kamu dan tidak mengambil beasiswa itu," sesal. Surya.
Air mata pemuda tersebut jatuh, membasahi punggung tangan Bintang yang dia genggam.
Perlahan, Bintang membuka matanya.
__ADS_1
"Kak Surya, Kakak sudah datang?" tanya Bintang seraya tersenyum manis, senyuman yang akan diingat oleh Surya seumur hidupnya.
Surya segera beranjak dan kemudian memeluk Bintang seeratnya.
"Aku akan membawamu berobat ke luar negeri, Sayang. Kamu pasti sembuh, bertahanlah." Suara Surya terdengar menahan isak.
Bintang menggeleng lemah dalam dekapan Surya. "Tidak, Kak. Sudah tiba waktunya, Bintang harus kembali ke langit karena memang di sanalah tempat Bintang seharusnya berada, bukan?" pamit Bintang yang tetap masih bisa bercanda, meski kondisinya sudah sangat lemah seperti sekarang ini.
"Tidak, Sayang! Jangan mengatakan seperti itu! Kamu pasti sembuh dan kita akan selalu bersama-sama selamanya." Surya semakin erat memeluk Bintang, tidak rela sang kekasih hati pergi meninggalkan dirinya.
Bima yang berdiri di ambang pintu, teringat dengan apa yang dituliskan oleh Bintang untuknya dan Fajar.
'Fajar telah datang dan itu artinya, Bintang harus segera berangkat ke peraduan dan agar Bintang selalu dapat kalian lihat sinarnya, Bintang titipkan mata Bintang untuk Fajar.'
Bima menangis dalam diam, melihat Bintang menghembuskan napas untuk yang terakhir kali dalam pelukan sang kekasih hati.
πππ
Pak Hadi yang tidak sempat bertemu dengan sang putri, langsung tidak sadarkan diri begitu mengetahui sang putri telah benar-benar pergi.
Setelah tersadar dan membaca surat dari sang putri, papanya Bintang itu kembali pingsan dan harus harus menjalani perawatan.
'Pa, Bintang tidak pernah membenci Papa. Bintang sayang sama Papa. Itu sebabnya, Bintang memilih pergi ketika Papa memberikan penawaran untuk memilih, agar Papa tidak melihat Bintang menderita dan kesakitan.'
πππ
Sementara Surya masih menangis di samping gundukan tanah merah yang masih basah.
Surya kemudian membuka kertas putih yang berisi tulisan tangan Bintang yang diberikan Bima sebelum pemuda yang selama ini membersamai Bintang itu berlalu.
'Surya adalah nama lain dari matahari, yang selalu hadir untuk menyinari bumi dan memberikan kehidupan. Teruslah bersinar dan memberikan kehangatan bagi banyak orang, kekasihku. Jangan pernah redup hanya karena kepergianku. Jika engkau merindukan aku, lihatlah ke atas langit di malam hari dan bintang yang bersinar paling terang, itulah aku.'
πππππ E N D πππππ
Maafkan daku ππππππ
Bagi yang tidak puas, kenapa Sesil dan Delon tidak mendapatkan karma? Karena terkadang, manusia memang sengaja 'dilulu' atau diberikan kesenangan dan kenikmatan atau 'istidraj'.
"Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan.β (QS.Ali βImran:178)
Karena yang sesungguhnya, adzab yang pedih adalah di akhirat kelak.
"Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. As Sajdah: 21).
Self Reminder π
__ADS_1