
⭐⭐⭐⭐⭐
Bima memenuhi keinginan Bintang dan dia terpaksa harus berbohong ketika Surya benar-benar menanyakan keberadaan gadis yang saat ini tengah dirundung duka itu, di sana.
'Maafkan aku, Sur,' batin Bima, merasa sangat bersalah sambil menutup telepon.
Bima kemudian menoleh ke arah Bintang yang duduk terdiam.
"Dik, ada apa?" tanya Bima, penuh perhatian.
Bintang menggeleng. Dia belum ingin menceritakan apapun pada Bima dan pemuda yang bersahaja tersebut mengangguk, mengerti.
"Oke, jika kamu belum ingin bercerita, tak mengapa. Satu hal yang kamu harus tahu, Dik. Kamu dan Surya, bukan orang lain bagiku dan aku siap mendengarkan kapanpun kamu ingin bercerita," ucap Bima, membuat Bintang merasa lega karena masih ada yang bisa mengerti dirinya.
"Makasih, Kak." Bintang tersenyum kecil, menatap pemuda yang saat ini tengah menatap hangat padanya.
"Kak, untuk sementara waktu, Bintang boleh 'kan, tinggal di sini?" pinta Bintang, penuh harap.
Bima mengangguk. "Tentu saja boleh, Dik, tapi maaf, tempatnya hanya seperti ini," balas Bima, cepat.
Bintang menggeleng. "Tak mengapa, Kak. Setidaknya, ada tempat untuk Bintang berteduh, daripada Bintang harus berada di luar sana dan tidak memiliki tujuan."
Bima menatap iba pada Bintang. Sejak awal kedatangan gadis cantik itu barusan, Bima sudah dapat menangkap bahwa Bintang pasti sedang dalam masalah.
Apalagi ketika Bima mendapatkan telepon dari Surya dan dia meminta pada Bima agar tidak mengatakan keberadaannya, membuat pemuda ganteng itu semakin yakin dengan perkiraannya.
"Kak, maaf. Bintang enggak bawa baju ganti, Bintang saat ini juga tidak memiliki uang. Apa Bintang bisa meminjam baju Kak Bima?" Bintang ragu, menatap Bima.
Bima juga terlihat kebingungan. Ukuran bajunya sudah pasti kedodoran jika dipakai oleh Bintang, tapi bukan itu masalahnya.
Baju Bima tidak ada yang bagus dan dia tidak mungkin meminjamkan baju miliknya yang hampir semuanya sudah lusuh kepada gadis yang terlahir dan dibesarkan di keluarga kaya seperti Bintang.
"Kenapa, Kak? Apa, tidak boleh?" Suara Bintang, mengurai lamunan Bima.
__ADS_1
"Boleh kok, Dik, tapi pasti kebesaran," balas Bima, tak enak hati. "Gimana kalau kamu pakai bajunya Fajar saja?" tawar Bima, kemudian.
"Fajar?" Bintang mengerutkan dahi. Sebab selama ini, di rumah singgah tersebut tidak ada yang bernama Fajar.
"Dia gadis, mungkin usianya hanya selisih satu atau dua tahun di bawah kamu. Belum lama ini, aku menemukan dia di jalanan dan aku membawa Fajar pulang ke sini." Baru saja Bima selesai bercerita, terdengar suara tongkat kayu yang menyentuh lantai, mendekat.
"Kak Bima, apakah ada tamu?" tanya seorang gadis buta yang memegang tongkat, keluar dari ruangan dalam.
"Eh, Dik Fajar. Iya, sini aku kenalin sama Bintang," pinta Bima dan Fajar pun mendekat ke arah sumber suara.
Bintang sedari tadi menatap iba pada gadis belia yang berjalan dengan bantuan tongkat kayu tersebut.
"Dia tidak bisa melihat karena sebuah kecelakaan," bisik Bima, menjelaskan.
Bintang mengangguk, mengerti. Gadis berkulit putih seputih susu tersebut segera beranjak dan kemudian mendekati Fajar untuk membantunya duduk.
"Terimakasih, Kak," ucap Fajar seraya tersenyum. Gadis belia tersebut menatap ke arah Bintang, tapi tatapannya tentu saja tidak tertuju ke mata Bintang.
"Sama-sama. Oh ya, kenalkan, namaku Bintang." Bintang yang sudah duduk di samping Fajar, menggenggam tangan gadis buta itu dan memperkenalkan dirinya.
"Kalau boleh tahu, kamu umur berapa?" tanya Bintang, mulai kepo.
"Kalau saja masih sekolah, saat ini aku duduk di bangku SMP kelas tiga, Kak," balas Fajar yang wajahnya kini berubah mendung.
"Sayangnya, aku harus putus sekolah karena kecelakaan enam bulan yang lalu telah membuat aku kehilangan penglihatan," lanjutnya.
"Kak Bintang pasti bertanya-tanya, kenapa aku bisa ada di sini?" Gadis itu menerka, seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Bintang.
Bintang mengangguk, membenarkan. Dia lupa, kalau gadis di hadapannya itu buta dan tidak akan dapat melihat anggukan kepalanya.
"Sebulan yang lalu, mama tiriku mengusirku dari rumah ketika papa sedang dinas ke luar kota. Berhari-hari, aku menjadi gelandang dan berjalan tak tentu arah." Sejenak, Fajar menghentikan perkataannya.
"Beruntung, Kak Bima menemukan aku dan kemudian mengajakku pulang ke sini," lanjut Fajar seraya menoleh ke arah Bima, meski pandangannya tidak tepat menatap pemuda yang telah menolong dirinya.
__ADS_1
"Terimakasih Kak Bima." Fajar tersenyum tulus.
"Oh ya, Dik Fajar. Mulai saat ini, kamu enggak bakal kesepian lagi karena Kak Bintang juga akan tinggal di sini," ucap Bima.
Ya, biasanya Fajar akan berada di rumah singgah itu sendirian jika Bima dan anak-anak asuhnya yang lain mencari barang-barang bekas, untuk bahan kerajinan tangan.
Kini ada Bintang yang dapat menemani Fajar karena tidak mungkin Bima membiarkan Bintang ikut membantunya mengais sampah, untuk mencari bahan mentah.
Fajar tersenyum, begitu pula dengan Bintang yang tidak akan merasa kesepian karena berada di tengah-tengah keluarga yang hangat, meskipun tidak ada ikatan darah di antara mereka.
"Oh ya, Kak." Bintang melepaskan kalung dengan liontin indah dari lehernya.
"Tolong, Kak Bima jualkan ini besok, ya," pinta Bintang. "Bintang butuh baju ganti, belikan juga buat yang lain dan untuk Kakak juga."
Bima menerima kalung yang berkilauan tersebut dari tangan Bintang dengan gemetaran. Seumur-umur, baru kali ini dia melihat perhiasan seindah ini.
Bima meyakini, bahwa liontin yang saat ini berada dalam genggaman tangannya, pastilah berlian asli yang harganya sangat mahal karena dia tahu persis seperti apa keluarga Bintang.
"Dik, kamu yakin akan menjual ini?" tanya Bima, meyakinkan.
Bintang mengangguk, pasti.
"Nanti uangnya bisa kita pakai untuk mulai membangun rumah singgah di sebelah sana seperti rencana kita, Kak," balas Bintang, yakin.
Sebenarnya, Bintang bisa saja memakai uang itu untuk berobat, tetapi kepercayaan Bintang terhadap tenaga medis dan rumah sakit, sudah terkikis habis.
Seorang dokter ahli seperti Dokter Prima saja, bisa dibeli suaranya dan mengabaikan sumpah sebagai seorang dokter yang seharusnya menolong pasien dan bukannya menyudutkan dengan memberikan keterangan palsu yang dapat merugikan pasien itu sendiri.
Sementara rumah sakit besar seperti rumah sakit Permata, ternyata juga dapat dimanipulasi datanya demi kepentingan segelintir orang dan tidak perduli jika hal itu merugikan pihak pasien.
'Begitu lebih baik, jadi pemberian mama akan bermanfaat untuk banyak orang,' batin Bintang, tenang.
'Dan untuk pengobatanku, aku akan mengkonsumsi herbal saja. Jika memang takdirku berumur panjang, aku pasti akan sembuh, tapi jika memang usiaku hanya sampai di sini seperti vonis dokter, aku bisa apa?' Bintang meneguhkan hati, untuk dapat menerima semua dengan ikhlas.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟
Kalian iklhas, gak? 🥺