Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Rencana Kita, Pasti Berhasil


__ADS_3

Suara jeritan Bi Narsih, mengundang Pak Jaya dan satpam di kediaman Pak Hadi yang kebetulan melihat Bintang ambruk, langsung mendekat.


Sigap, Pak Jaya membopong tubuh nona mudanya dan membawa Bintang masuk ke dalam kamar.


"Pak Jasmin coba hubungi tuan, barangkali beliau bersedia untuk kembali," pinta Bi Narsih pada sang security.


Pak Jasmin mengangguk, patuh. "Baik, Bi." Laki-laki yang seusia Pak Jaya tersebut segera merogoh ponsel untuk menghubungi majikannya.


Sementara Bi Narsih bergegas masuk ke dalam, untuk menyusul sang suami yang mambawa Bintang.


"Non, Non Bintang, sadar Non," panggil Bi Narsih, pelan, sambil melepaskan kancing baju Bintang setelah suaminya disuruh keluar untuk membuatkan minuman hangat.


Setelah melonggarkan pakaian Bintang, Bi Narsih mengambil minyak angin dan mengoleskan ke dada Bintang, dan sedikit di dahi nona mudanya.


"Non, bangun, Non." Bi Narsih menepuk pelan pipi halus Bintang, mencoba menyadarkan gadis momongannya.


Bintang meringis dan perlahan membuka matanya. "Duh, kepalaku pusing," rintih Bintang sambil meraba bagian kepalanya yang terbentur lantai teras yang keras.


"Non, apa yang Non rasakan?" tanya Bi Narsih khawatir.


"Pusing, Bi. Sepertinya sedikit bengkak," balas Bintang dengan suara lemah.


Bintang tidak tahu, apakah pusing di kepala yang dia rasakan saat ini akibat benturan keras ataukah sakit kepala biasa seperti yang akhir-akhir ini sering dia rasakan.


"Non, silakan diminum dulu tehnya selagi hangat." Pak Jaya yang datang kembali membawa secangkir teh hangat, kemudian memberikan pada Bintang yang kini sudah duduk sambil menyandarkan punggung pada head board ranjang.


"Pak, tolong ambilkan air es sama handuk waslap, ya," pinta Bi Narsih pada sang suami.


Baru saja Pak Jaya hendak keluar, Pak Jasmin sudah berdiri di ambang pintu kamar nona mudanya.


"Maaf, Bi Narsih. Kata tuan, tuan tidak akan kembali untuk sementara waktu. Dan tuan juga bilang, Non Bintang paling cuma akting," terang Pak Jasmin dengan jujur.


Bintang tersenyum getir mendengar penjelasan satpam di rumahnya tersebut. 'Bukan Bintang yang terkena pengaruh buruk Kak Surya, pa, tapi papa yang sudah terkena pengaruh buruk wanita serigala berbulu domba itu.'

__ADS_1


"Non ...." Bi Narsih menatap prihatin pada Bintang.


Bintang menggeleng. "Tidak apa-apa, Bi. Ini hanya salah paham," ucap Bintang mencoba menenangkan sang pengasuh, sekaligus membesarkan hatinya sendiri.


"Oh ya, Non. Maaf, saya juga disuruh tuan untuk menyita dompet dan laptop Non Bintang," lanjut Pak Jasmin, membuat Bi Narsih membulatkan mata tak percaya.


Tadi di depan rumah, dengan mata kepalanya sendiri wanita pengasuh Bintang tersebut melihat Sesil dengan paksa mengambil ponsel Bintang, dan sekarang satpam rumah juga disuruh untuk menyita dompet dan laptopnya.


"Benarkah apa yang kamu katakan barusan, Pak Jasmin?" tanya Pak Jaya, tak percaya.


"Benar Pak Jaya, saya sendiri juga heran bahkan saya sempat menanyakan lagi, tapi memang seperti itu perintah nyonya muda," balas Pak Jasmin, membuat Bintang tersenyum sinis.


'Dia benar-benar telah berhasil membuat papa percaya padanya,' batin Bintang, marah.


Bintang kemudian menunjuk atas nakas, dimana tas punggung kecil yang dia bawa tadi disimpan oleh Bi Narsih, dan menunjuk meja belajar di sudut ruangan, dimana laptopnya tergelak di atas sana, tanpa kata.


Pak Jasmin segera mengambil dompet dan laptop milik Bintang seperti yang diperintahkan oleh calon nyonya muda di rumah tersebut.


Pak Jaya meneruskan langkah untuk mengambilkan air dingin dan waslap seperti yang diminta oleh istrinya seraya geleng-geleng kepala. Sementara Pak Jasmin langsung kembali ke pos jaga.


"Itu fitnah, Bi," sergah Bintang yang sedang tak ingin membahas apapun saat ini. "Bibi percaya sama Bintang, kan?" lanjutnya bertanya.


Bi Narsih mengangguk dengan air mata yang telah menggenang. Wanita yang mengurus Bintang sedari bayi itu dapat merasakan kesedihan nona mudanya saat ini.


"Non Bintang yang sabar, ya." Dengan penuh kasih, Bi Narsih mengusap puncak kepala Bintang.


"Makasih, Bi," balas Bintang mencoba untuk tegar di hadapan Bi Narsih.


Tidak, Bintang tidak ingin menangis di hadapan orang-orang. Meski luka di hati menganga dan terasa begitu pedih, Bintang berusaha untuk tetap tersenyum.


'Rasa sakit ini belum seberapa, jika dibanding dengan rasa sakit ketika melihat mama pergi dan takkan pernah kembali.' Bintang memejamkan mata ketika Bi Narsih mulai mengompres bagian kepalanya.


"Non, biar bapak panggilkan Pak Dokter Gunawan, ya," ijin Pak Jaya.

__ADS_1


Bintang menggeleng. "Jangan dulu, Pak. Papa pasti tidak akan suka kalau sampai Om Gun mengetahui kalau hubungan kami sedang tidak baik-baik saja," tolak Bintang.


🌟🌟🌟


Di kediaman orang tua Surya, Riko yang baru saja tiba langsung dicecar dengan banyak pertanyaan oleh bundanya sang sahabat.


"Nak Riko, bagaimana dengan Nak Bintang tadi? Apa papanya memarahi Nak Bintang? Apa Nak Riko sempat mendengar, kalau Bintang dilarang berhubungan dengan Surya?" Wajah anggun itu terlihat sangat khawatir.


Ya, bundanya Surya sempat mendengar tadi, bagaimana Sesil menjelek-jelekkan putranya di hadapan Pak Hadi.


Sesil juga menatap sinis ke arahnya dan seolah menyalahkan dirinya karena Surya dipeluk oleh gadis centil di hadapan Bintang dan semua orang.


"Orang tuanya pasti tidak dapat mendidik anaknya dengan benar, makanya pergaulannya jadi bebas gitu! Bagaimana nanti jika sudah di Ausie? Apa enggak semakin kebablasan?" celoteh Sesil tadi sewaktu masih di bandara tanpa mengecilkan suara, sengaja agar wanita anggun yang memeluk putrinya mendengar ucapannya.


"Mas Hadi salah kalau masih membiarkan Bintang berhubungan dengan pemuda itu!" pungkas Sesil, membuat bundanya Surya semakin khawatir dengan hubungan Bintang dan sang putra.


"Maaf, Bun, tadi Riko tidak sempat turun untuk menemui papanya Bintang yang menyambut kedatangan kami di teras karena Bintang melarang. Tapi sepertinya, Om Hadi sangat marah saat melihat Bintang datang." Penjelasan Riko membuat bundanya Surya terduduk lemas di kursi.


"Ujian apalagi ini," gumamnya penuh kekhawatiran. Khawatir, masalah ini akan mempengaruhi studi Surya di sana dan membuat konsentrasi sang putra menjadi pecah.


"Nak Riko tolong jangan katakan apapun pada Surya, ya, mengenai kejadian ini. Kita bantu Bintang semampu kita dan jangan libatkan Surya, biarkan dia fokus dengan kuliahnya," pintanya, penuh harap.


Sebagai orang tua, tentu bundanya Surya ingin yang terbaik untuk sang putra, dan kuliah di Ausie dengan mendapatkan beasiswa dan di jurusan yang memang dipilih oleh Surya adalah cita-cita putranya sejak dulu.


"Sepertinya, wanita ambisius itu yang harus disingkirkan dari sisi papanya Bintang agar semua kembali membaik," ucapnya yang dibenarkan oleh Riko dengan anggukan kepala.


"Apa Bunda punya ide?" tanya Riko yang mengetahui bahwa feeling seorang wanita begitu kuat, apalagi seorang ibu.


Bundanya Surya tersenyum. "Berapa hari waktu yang Nak Riko miliki sebelum berangkat?"


"Sekitar satu minggu, Bun," balas Riko.


Wanita paruh baya tersebut kemudian membisikkan sesuatu kepada Riko karena tak jauh dari mereka, Bulan sedang membuat minuman untuk sahabat sang kakak.

__ADS_1


"Siap, Bunda! Riko jamin, rencana kita pasti berhasil." Riko tersenyum.


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...


__ADS_2