
Bintang dan Surya akhirnya bisa menerima keputusan Pak Hadi, ketika papanya Bintang tersebut melarang sang putri untuk ikut pindah bersama Surya ke Ausie.
Pak Hadi berjanji pada diri sendiri, pada sang putri dan juga pada Surya, bahwa dia akan menjaga Bintang dengan sungguh-sungguh, sehingga kejadian seperti tadi siang tidak akan terulang.
"Bintang itu permata hati papa, tentu papa akan menjaga dengan segenap jiwa dan raga papa," ucap Pak Hadi seraya menatap dalam netra sang putri.
Bintang menjadi terharu, gadis itu sampai menitikkan air mata.
"Terimakasih, Pa. Selama ini, Papa sudah banyak berkorban untuk Bintang," ucapnya sambil menghambur memeluk papanya.
Ya, Bintang sangat tahu alasan kenapa papanya lama menduda. Sebab, Pak Hadi tidak mau, jika sampai salah pilih istri di saat Bintang sedang dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan kasih sayang serta perhatian.
Pak Hadi takut, jika mama sambung Bintang tidak dapat menerima putrinya, sehingga dapat menyebabkan tumbuh kembang Bintang menjadi terganggu.
Berbeda dengan sekarang. Bintang sudah cukup dewasa. Dia sudah dapat menjaga diri sendiri dan dapat menilai, mana yang baik dan mana yang tidak baik baginya. Sehingga Pak Hadi tidak perlu khawatir, sang putri akan merasa diabaikan jika dia menikah lagi.
"Sudah menjadi kewajiban papa, Sayang. Tidak perlu berterimakasih," balas Pak Hadi seraya mengelus surai hitam nan panjang milik Bintang.
"Bintang juga enggak mau, sih, jauh-jauh dari Papa," ucap Bintang seraya melerai pelukan.
"Tapi kalau Bintang sudah lulus sekolah, Bintang boleh 'kan, Pa, nyusul Kak Surya," pintanya kemudian seraya menatap sang papa dengan tatapan penuh harap.
Pak Hadi terkekeh. "Katanya enggak mau jauh-jauh dari papa, kok mau nyusul ke Ausie? Tuh, kan, papa kalah sama Surya," protes Pak Hadi.
__ADS_1
"Bukan begitu, Pa. Papa tetap yang nomor satu, kok," rayu Bintang. "Tapi Kak Surya, dia yang utama," lanjutnya sambil terkekeh pelan, membuat Surya tersenyum lebar.
"Wah, wah, pinter ya, sekarang. Setelah dilambungkan, kemudian dijatuhkan." Pak Hadi geleng-geleng kepala, tetapi kemudian terkekeh senang seraya mengusap puncak kepala Bintang.
"Ya-ya, papa sadar kalau anak gadis papa sudah besar. Siap tidak siap, suatu saat nanti papa pasti akan ditinggalkan karena kamu harus mengikuti suami," ucap Pak Hadi, sendu.
"Makanya sekarang, di saat papa masih memiliki kesempatan untuk bisa bersama kamu, papa akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya," lanjut Pak Hadi yang kemudian membawa kepala Bintang agar bersandar di bahunya.
"Boleh-boleh saja, jika kamu sudah lulus nanti pengin nyusul ke sana, tapi itu masih lama, Sayang," balas Pak Hadi kemudian.
"Iya, Pa. Bintang tahu setahun itu lama, tapi boleh 'kan?" Bintang memastikan seraya merajuk manja pada sang papa.
"Iya-iya, boleh," balas Pak Hadi kemudian.
Surya tersenyum dikulum melihat senyuman kebahagiaan di wajah Bintang. 'Padahal masih sangat lama, tapi dia sudah sangat antusias dan sebahagia itu.'
Perbincangan mereka pun terus berlanjut. Pak Hadi menanyakan banyak hal pada Surya. Mengenai kuliah Surya di sana nanti, siapa saja teman Surya yang melanjutkan di sana, dan masih banyak hal yang ingin diketahui Pak Hadi.
Surya pun menjelaskan dengan detail apa saja yang ingin diketahui oleh papanya Bintang tersebut, meski dia juga baru sekali ke sana sewaktu survey asrama bersama kakak sepupu yang juga kuliah di negara kanguru itu.
Sementara Bintang hanya menjadi pendengar setia. Dia selalu memasang wajah full senyum, berada di antara dua lelaki yang sangat menyayanginya.
"Maaf, Om. Karena sudah hampir gelap, Surya mohon pamit," pamit Surya setelah cukup lama dia ngobrol bersama Bintang dan juga papanya.
__ADS_1
"Oh, sampai enggak ingat waktu, ya, saking asyiknya ngobrol," ucap Pak Hadi yang kemudian ikut beranjak karena Surya pun telah beranjak dari tempatnya duduk.
"Benar, Om. Tahu-tahu sudah mau malam saja," balas Surya seraya tersenyum.
Surya kemudian menyalami Pak Hadi.
"Terbang jam berapa, besok?" tanya Pak Hadi seraya merangkul pundak Surya. Mereka bertiga kemudian berjalan menuju halaman dimana Surya memarkirkan mobil Gio.
Sementara Bintang berjalan di sisi kiri Surya, sambil memeluk lengan kekasihnya. Membuat Surya merasa sangat berharga, berada di antara sang kekasih dan papanya Bintang.
"Siang, Om," balas Surya.
"Oke, om akan antar Bintang ke bandara untuk melepas kepergian kamu," ucap Pak Hadi yang kemudian melepaskan pelukannya karena Surya harus segera naik ke dalam mobil.
"Tidak perlu, Om. Biar besok, Surya ke sini dulu untuk pamitan sama Om dan Bintang," tolak Surya yang tidak ingin melihat kesedihan sang kekasih yang akan membuat langkahnya menjadi berat.
"Biar aku yang ke sini saja ya, Cinta. Aku pasti akan merasa berat meninggalkan kamu jika kamu ikut mengantarku ke bandara," bisik Surya sebelum Bintang protes.
Bintang mengangguk, mengerti. "Kakak ke sini pagi, ya. Biar kita bisa agak lamaan ketemunya," pinta Bintang, menahan sesak di dada.
Belum apa-apa, Bintang sudah mau menangis. Bagaimana jika besok dia melihat Surya menjauh untuk kemudian terbang jauh meninggalkan dirinya? Sanggupkah dia menahan air mata, agar tidak terjatuh dan membebani langkah Surya?
'Kak Surya benar, lebih baik aku tidak ikut ke bandara daripada kehadiranku memberatkan langkah Kak Surya karena aku pasti tidak akan dapat menahan air mataku,' bisik Bintang dalam hati.
__ADS_1
πππππ tbc ...