Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Apa Kakak Mau Berjanji?


__ADS_3

Di saat Bintang sudah tenang karena menemukan tempat dan keluarga yang membuatnya nyaman, berbeda dengan Surya yang kalang kabut di negeri orang.


Pemuda tampan tersebut menelepon semua orang yang dapat dia mintai tolong untuk mencari keberadaan Bintang.


Dia menelepon sang bunda, ayahnya dan juga Bulan, agar mereka mencari Bintang.


Surya bukan berasal dari keluarga Sultan yang hanya dengan menjentikkan jari, maka semuanya akan beres karena ada yang siaga melakukan segala perintahnya, tapi dia hanya berasal dari keluarga biasa meski keluarganya terbilang cukup kaya.


"Siapa lagi yang harus aku mintai tolong, Gio," gusar, Surya menyugar rambutnya dengan kasar.


Wajah tampan itu nampak sangat frustasi.


Jika biasanya ada dua sahabat yang siap membantunya melakukan apapun, kini tidak ada yang bisa dia andalkan di kotanya sana.


Salah satu sahabat ada bersamanya dan saat ini tengah mendampingi Surya dan mencoba menenangkannya, sementara satu sahabat lagi berada di ibukota yang cukup jauh dari kota tempat tinggal mereka.


"Kamu tenang dulu, Sur. Nanti kalau Bintang sudah bisa berpikir dengan jernih, dia pasti akan menghubungimu." Gio menepuk pundak Surya dan menatap sahabatnya itu, iba.


Selama tiga tahun mengenal Surya, Gio belum pernah melihat Surya seputus-asa ini dan melihat sahabatnya seperti itu, membuat Gio ikut bersedih.


"Enggak mungkin Bintang menghubungi aku, Gi. Ponselnya aja sudah dia serahkan pada papanya," balas Surya yang masih terduduk lesu di sofa, di apartemennya.


Ya, begitu Bintang menutup telepon, Surya juga sempat menelepon papanya Bintang sebelum dia menghubungi Bima.


Pak Hadi hanya mengatakan bahwa papanya Bintang itu sudah tidak lagi peduli dengan Bintang.


_____


"Bintang sudah bikin om malu, Nak Surya. Dia bukan lagi anak, om!" kesal Pak Hadi, ketika Surya menelepon papanya Bintang tersebut.


"Om tidak peduli dia mau pergi kemana, tapi om yakin, dia tidak akan jauh karena semua fasilitas sudah Bintang serahkan sama om, termasuk ponselnya," terang Pak Hadi, ketika papanya Bintang tersebut mengendarai mobilnya hendak pulang ke rumah, setelah Bintang meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


"Om, apa Om percaya begitu saja dengan semua yang Om Hadi dengar dan lihat?" tanya Surya yang terdengar begitu khawatir.


"Tentu saja om percaya, Nak Surya. Rumah sakit besar tidak mungkin dapat dimanipulasi data serta rekam medisnya. Apalagi dokter yang tadi menangani Bintang juga sudah memberikan keterangan, tidak mungkin dokter ahli seperti dia memberikan keterangan palsu!" balas Pak Hadi, berapi-api.


"Om, kenapa Om tidak mencoba percaya pada putri Om, meski hanya sedikit saja, Om. Jangan sampai, Om Hadi menyesal nantinya, jika ternyata suatu hari nanti terbukti bahwa Bintang difitnah," pungkas Surya, membuat Pak Hadi mulai ragu dengan keputusannya.


_____


"Gi, apa aku harus pulang sekarang, ya?" Surya menatap Gio, meminta pertimbangan.


Gio menggeleng. "Jangan sekarang, Sur. Kita tunggu sampai libur semester, aku juga akan pulang dan membantumu mencari Bintang."


"Tapi aku takut terlambat, Gi. Kalau sekarang aku mengejar Bintang, mungkin aku masih dapat menemukannya," kekeuh Surya sambil beranjak.


Gio kembali menggeleng. "Kita baru di sini, Sur. Jadwal kuliah sedang padat-padatnya dan kita juga masih dalam masa penyesuaian." Gio menepuk bangku kosong di sebelahnya, meminta Surya untuk duduk kembali.


"Jika kamu pulang sekarang dan belum tahu juga mau sampai berapa lama kamu di sana, bisa jadi apa yang sudah kamu lakukan selama ini, akan sia-sia, Sur." Gio menatap Surya, mencoba memberikan pengertian.


'Bintang, kamu di mana sekarang, Sayang?' Surya mengusap kasar wajahnya, bulir bening nampak memenuhi pelupuk mata elang Surya.


🌟🌟🌟


Hari-hari berikutnya, Surya lalui tanpa semangat seperti biasanya. Raga Surya memang tetap berada di negara Ausie, tetapi jiwa dan pikiran pemuda itu terus tertuju pada sang pemilik hati.


'Kamu pergi kemana, sih, Bin,' batin Surya seraya menatap Bintang di langit Ausie, berharap dia menemukan petunjuk dari atas sana mengenai keberadaan sang kekasih hati.


Dua bulan sudah terlewati dan Surya masih belum bisa tenang, sebab ayah dan bundanya yang dimintai tolong untuk memata-matai Bintang di pinggiran kota, di tempat kumuh di mana rumah singgah yang didirikan Bima berada, tidak mengendus jejak Bintang di sana.


Tentu saja keberadaan Bintang di rumah singgah tersebut tidak diketahui oleh orang-orang karena Bintang sengaja tidak pernah keluar dari rumah tersebut, kecuali jika malam hari dan itupun dengan mengenakan hoodie yang menutupi kepalanya, lengkap dengan masker untuk menyembunyikan wajahnya.


Ya, Bintang beruntung menyuruh Bima untuk membelikan pakaian waktu itu.

__ADS_1


Bima yang tidak mengerti mode dan tidak tahu pula ukuran tubuh Bintang, membelikan pakaian-pakaian yang longgar untuk gadis itu. Sehingga bentuk tubuh Bintang yang semakin kurus itupun tersamarkan, dibalik pakaiannya yang kegedean.


Sementara kehidupan Pak Hadi pun tak lebih baik.


Laki-laki tersebut benar-benar terpuruk, menyesali keputusannya yang buruk karena tidak mendengarkan ucapan putrinya dan malah lebih percaya pada orang lain yang bukan siapa-siapanya.


Papanya Bintang tersebut mengabaikan perusahaan, mengabaikan kesehatan dan hanya menyesali diri setiap hari.


"Kamu di mana, Sayang?" Pak Hadi mengedarkan pandangan ke luar jendela kaca mobil yang melaju dengan pelan untuk mencari Bintang.


Ya, setiap hari, papanya Bintang itu akan memaksa Pak Jaya untuk berkeliling kota mencari putrinya.


Dia juga sudah menyuruh Asisten Toni yang saat ini dia percaya untuk mengelola perusahaan, melaporkan pada pihak kepolisian agar aparatur negara tersebut membantu mencari keberadaan Bintang.


Sampai detik ini, pihak kepolisian pun belum dapat menemukan keberadaan gadis cantik yang saat ini tengah mati-matian berjuang melawan penyakit, tanpa memberitahukan pada siapapun tentang keadaannya, termasuk pada Bima dan Fajar yang selalu menemani Bintang.


Meski Bima sudah menaruh curiga pada Bintang dan mendesak gadis yang saat ini wajahnya terlihat tirus tersebut untuk mengatakan dengan jujur, tetapi Bintang tetap diam dan bungkam.


'Aku pasti kuat, aku pasti sehat,' bisik Bintang dalam hati, sebelum meminum ramuan herbal yang dia racik sendiri dari tumbuh-tumbuhan di sekitar tempat tinggalnya sekarang.


Ramuan yang rasanya entah, tapi Bintang tetap meminumnya karena dia memiliki keinginan kuat untuk bisa terbebas dari penyakit yang dia derita.


"Dik, benarkah kamu tak ingin berbagi denganku?" desak Bima yang tiba-tiba ada di belakang Bintang, membuat gadis itu tersedak.


Sigap, Bima mengambilkan segelas air putih dan kemudian memberikan pada Bintang.


"Kalau Bintang cerita, Kak Bima harus janji tidak akan bersedih dan iba pada Bintang. Apa Kakak mau berjanji?" pinta Bintang, setelah menghabiskan segelas air putih pemberian pemuda yang berdiri di hadapan.


Bima mengangguk, setuju. "Oke, aku janji."


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...

__ADS_1


__ADS_2