
Musim gugur berganti menjadi musim semi. Niko sudah menyelesaikan hampir semua mata kuliah perhiasan yang diinginkannya. Hanya tinggal tersisa satu atau dua mata kuliah pilihan. Rancangan-rancangan perhiasannya telah menjadi bagian dari koleksi musim gugur Julien Bardeux tahun sebelumnya. Julien sampai kewalahan membuat lebih dari ratusan karya rancangan Niko sesudah pameran. Rupanya rancangan Niko banyak diminati warga Paris, terutama kalangan atas. Julien mengatakan karya Niko terlihat elegan, sederhana, tapi memiliki nilai klasik. Mungkin ketiga kombinasi itu membuat para pelanggannya tidak sabar menunggu karya-karya Niko selanjutnya.
Niko masih bekerja di kedai Mike. Walau mungkin ini tahun terakhirnya bekerja di sana. Malam harinya, Niko membuka laci tempat tidur dan membuka kotak cincin bintangnya. Dari hasil tabungannya juga penjualan rancangan perhiasannya, Niko bisa mengumpulkan uang. Satu persatu Niko membeli berlian, dan sudah ada dua puluh berlian yang mengisi tempat di lima sudut empat bintang. Tinggal lima belas lagi. Tiga bintang lagi yang harus diisi.
Kuliah Niko kini lebih banyak berpusat di laboratorium GIA di fith Avenue. Di sana dia belajar bagaimana membuat gambar sketsa menjadi bentuk nyata. Niko menyukai setiap detik dia berada di sana.
Hari ini ketika sampai di depan kelas lab nya, dia melihat pengumuman kontes merancang perhiasan. Penyelenggaranya adalah perusahaan perhiasan terkenal di seluruh dunia, Tiffany & Co. Tema rancangan perhiasannya adalah *Back to Nature*. Pemenang pertama lomba kontes berhak mendapatkan sejumlah uang dan kesempatan untuk magang selama enam bulan di perusahaan tersebut. Niko tertarik mengikutinya. Batas waktu pengumpulan rancangannya satu minggu lagi di salah satu galeri seni New York.
Sepulang kuliah, Niko menelepon Mike bahwa dia tidak bisa bekerja hari itu dan memutuskan untuk bekerja sepanjang hari di laboratorium karena harus membuat rancangan untuk kontes.
Ketika kelelahan menyelimuti tubuhnya setelah bekerja tanpa henti selama berjam-jam, Niko keluar dari lab nya sebentar untuk membeli kopi. Di tengah tangga turun tubuhnya menabrak seseorang.
"Fareli!" kata orang tersebut. "Tidak pernah menyangka bertemu denganmu kembali."
Niko menatap mata George Finley dengan kesal. Sudah hampir satu tahun lebih dia tidak bertemu George. Dia kira George sudah keluar dari GIA, ternyata pemuda itu tetap bertahan. "Sudah lama tidak bertemu."
"Tahun kemarin aku pindah ke GIA Carlsbad," kata George. Pantas Niko tidak pernah melihatnya sampai saat ini. "Jadi kau kembali lagi ke New York?"
"Yah," kata George tajam. "Kenapa? kau takut mendapat pesaing?"
"Tidak. Aku tidak takut menghadapimu," kata Niko tenang. "Kurasa malah sebaliknya."
"Masih sombong seperti biasanya," komentar George kesal. "Sifatmu juga masih sana." Niko bergegas turun. Tubuhnya sudah lelah, dan dia tidak mau menghabiskan energinya untuk berdebat dengan seseorang yang tidak berhak mendapatkan perhatiannya.
Dari atas tangga George Finley mengeram kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya dan salah satu tangannya memukul tembok. Setelah amarahnya mereda, dia masuk ke salah satu laboratorium. Terdapat beberapa rancangan gambar di komputer. Buku sketsa Niko berada di sana.
Awalnya George melihat rancangan Niko dengan kesal, tetapi lama-kelamaan dia terdiam. Dalam rancangan tersebut terdapat seuntai kalung panjang yang di tengahnya terdapat dedaunnan hijau. Lima kupu-kupu kecil bertengger di daun-daun tersebut. Komposisi warna yang dipilih Niko semakin memperlihatkan keeleganan dan keanggunan kalung tersebut. George menyadari Niko akan mengikuti kontes perhiasan yang di selenggarakan Tiffany & Co. Niko memberi judul kalung tersebut *The Forest Dream*.
Tanpa pikir panjang, George mengambil pilihan untuk mencetak dari program komputer tersebut. ("Kau akan menyesal karena sudah meremehkanku, Fareli"), geramnya dalam hati.
☆☆☆☆☆☆☆☆
Hari-hari berikutnya, Niko bekerja tanpa henti untuk membuat kalung seperti yang telah dirancangnya. Karena dalam kontes disebutkan para peserta juga harus menyiapkan bentuk nyata perhiasannya, maka boleh menggunakan batu perhiasan sintetis.
Tepat dua hari sebelum batas akhir kontes, Niko bergegas memasuki galeri untuk menyerahkan rancangannya. Seorang petugas kontes menyuruh Niko mengisi formulir. Setelah melengkapi formulir, Niko dipersilahkan mengisi daftar peserta. Di atas Niko terdapat nama-nama peserta yang sudah menyerahkan rancangan beserta judul rancangannya. Ketika Niko hendak menulis namanya, bolpoin di tangannya jatuh ke lantai. Matanya melihat nama George Finley. Tapi bukan nama itu yang membuatnya terkejut. Judul rancangan George, *The Forest Dream*.
("Bagaimana mungkin dia memiliki judul rancangan yang sama denganku?") Niko benar-benar kebingungan. Pikirannya kembali ke minggu sebelumnya ketika dia bertemu George di lab. ("Apakah mungkin dia melihat karyaku di sana?")
Permisi, Sir," tanya Niko dengan tidak sabar pada petugas kontes. "Apakah saya bisa melihat rancangan perhiasan karya George Finley?"
Sang petugas menggeleng. "Maaf, saya tidak bisa memperlihatkan karya peserta lain."
Tidak kehabisan akal, Niko mengeluarkan kalung yang telah di buatnya dan menunjukkannya pada si petugas. "Anda tidak perlu memperlihatkan karya George Finley pada saya. Saya hanya perlu anda mengecek apakah rancangan kalungnya sama dengan kalung karya saya."
Si petugas kelihatan enggan, tetapi Niko bersikeras. Perasaannya mengatakan George sudah mengambil ide rancangannya. "Tolonglah, Sir. Saya tidak bisa memberikan karya yang sama persis dengan orang sebelum saya."
Si petugas akhirnya menyerah. Dia mengecek gambar rancangan George Finley, lalu melihat kalung yang di genggam oleh Niko. "Ya. Sama persis dengan karya anda."
"Terima kasih." Niko bergegas keluar dari galeri. George pasti melihat karyanya di lab seminggu yang lalu. Niko benar-benar tidak menyangka Goerge akan meniru persis hasil rancangannya.
Niko tidak bisa menahan amarahnya. Dia pergi menemui George di apartemennya. Ketika
George membuka pintu apartemen Niko langsung mendampratnya. "Kau mencuri rancanganku!" Goerge tersenyum tanpa rasa bersalah. "Apa maksudmu?"
Niko tahu George berpura-pura tidak tahu. “Karyaku untuk kontes Tiffany. The Forest Dream. Kau mencurinya dariku."
"Kau tidak bisa seenaknya menuduhku," balasnya enteng. “Kau punya bukti bahwa aku mencurinya darimu? Bisa saja aku memiliki ide yang sama denganmu."
"Kenapa kau melakukan hal ini?" Niko menantang George tanpa rasa takut. "Kita berdua tahu kau menggunakan rancanganku untuk kontes kali ini."
George perlahan-lahan menutup pintu apartemennya. "Aku tidak perlu manjelaskan apa-apa padamu. Selain kalau kau punya bukti, aku tidak mau dituduh macam-macam lagi."
Niko memandang pintu apartemen George yang sudah tertutup. Dia tahu dia tidak bisa membuktikan The Forest Dream adalah karyanya, karena dia tidak pernah bercerita pada siapapun bahwa dia membuat rancangan tersebut. Dia juga tidak mungkin mengikuti kontes dengan karya rancangan yang sama. Satu-satunya solusi adalah menciptakan yang lain. Tapi waktunya tinggal dua hari. Niko menghabiskan waktu lima hari untuk membuat kalung yang pertama. Dia tidak tahu apakah dia bisa membuat kalung lain dalam waktu dua hari.
Niko memasuki gedung apartemennya dengan lemas. Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Saat melihat papa yang sedang duduk di lobi, wajahnya semakin murung.
"Niko." Papa berdiri menyapa putranya.
"Apa yang papa lakukan disini?" Niko sudah terlalu lelah untuk berdebat.
Papa melihat keletihan putranya. Wajah Niko pucat, di bawah matanya terdapat lingkaran hitam tanda kurang istirahat. "Kau tidak apa-apa Niko?" tanya papa khawatir.
__ADS_1
Niko memutuskan untuk tidak menjawab. “Papa belum menjawab pertanyaanku."
"Papa diundang menghadiri seminar kedokteran di New York." Papa melangkah mendekati putranya. "Papa pikir selagi papa disini, papa memutuskan untuk menengokmu." "Mama tidak ikut?" tanya Niko.
"Tidak. Mamamu tidak ikut. Kau yakin kau baik-baik saja? kau terlihat kelelahan."
"Aku baik-baik saja. Hanya saja hari ini bukan hari terbaikku. Papa mau ke atas?" "Kalau kau tidak keberatan," jawab papa.
Niko menekan tombol lift. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. "Mari kita naik."
Setelah mereka sampai di ruang apartemen, Niko bertanya, "papa mau minum apa?"
Papa menggeleng. "Apakah kau mau menjawab pertanyaan papa sekarang? Kau baik-baik saja?"
"Aku rasa, sebagai seorang dokter papa bisa mendiagnosis sendiri." Niko duduk di kursi ruang tamu berhadapan dengan papa. "Aku lelah. Aku kurang tidur. Apakah diagnosisku benar?"
"Kau masih marah pada papa." Papa memberi partanyaan atas pertanyaan putranya.
"Ya. Papa tidak pernah menerima teleponku selama dua tahun ini. Apakah menurut papa aku tidak berhak marah?" Niko mendesah kesal.
"Papa masih berpikir kau melakukan kesalahan. Lihatlah kau sekarang." Papa sebenarnya ingin berbaikan dengan anaknya, tapi yang keluar malah kemarahan. "Kau bilang kau bahagia dengan pilihanmu, tapi saat ini kau sama sekali tidak terlihat bahagia."
Niko menarik napas panjang, berusaha menahan diri. "Papa masih belum menyerah juga selama dua tahun ini? Aku tidak bisa bertengkar lagi soal ini. Terutama tidak saat ini. Lebih baik papa pergi sebelum kita berdua menyesali perkataan kita selanjutnya."
"Baiklah." Papa berdiri dan keluar dari pintu apartemen Niko dengan emosi.
Begitu ayahnya pergi. Niko berbaring di kamar tidurnya. Matanya memandang cincin bintang yang berada di telapak tangannya. Tiba-tiba hujan datang membasahi jendela kamar tidurnya. Butiran-butiran air mengalir secara bergantian di kaca jendela kamarnya. Niko langsung bangkit dari tempat tidur. Sebuah ide mulai muncul di kepalanya.
Dia langsung mengambil buku sketsanya dan mulai menggambar seuntai kalung dengan satu garis horisontal, dan garis horisontal tersebut tergantung puluhan garis vertikal yang panjangnya tak beraturan dan ujungnya berbentuk tetesan air. Niko tersenyum tipis. Dua jam kemudian rancangan kalung tersebut sudah berbentuk sempurna. Niko menamainya *The Waterdrops*.
Niko mengambil payung lalu bergegas keluar dari apartemennya menuju lab GIA. Dia mengerjakan karya barunya sampai lab ditutup. Keesokan paginya, ketika lab dibuka, Niko meneruskan pekerjaannya sampai sore.
Dia berhasil mendaftarkan karyanya untuk kontes Tiffany pada menit-menit terakhir. Kini dia tinggal menunggu pengumuman tiga hari lagi.
Niko kembali ke apartemennya dengan perasaan lega. Dia menguap kelelahan dan malam itu tertidur pulas selama sepuluh jam.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tepat pukul sepuluh, Niko mengetikkan alamat Tiffany & Co. Dia memilih menu pengumuman pemenang kontes. Sebuah halaman biru terbuka dengan cepat. Niko tidak melihat namanya diurutan pertama. Dia melihat nama George Finley di situ. Nama Niko berada di urutan kedua. Niko merasa sedikit kecewa, tapi ia masih senang karyanya mendapat urutan kedua.
Satu jam kemudian, bel pintu apartemennya berbunyi. Niko membuka pintu aparetemennya dan melihat George Finley berdiri didepannya
"Aku menang," kata George pada Niko.
"Aku tahu, selamat atas kemenanganmu." Niko hendak menutup pintu apartemennya, tapi ditahan oleh George.
"Hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya George heran.
"Ya. Sekarang pergilah." Usir Niko, bersikeras mengabaikan kehadiran George.
George malah masuk ke apartemen Niko. "Aku tidak mengerti kau tidak marah?"
Niko duduk di punggung kursi dan melipat tangannya di depan dada. "Kenapa aku harus marah?"
"Aku menang. Kau kalah. Aku mengalahkanmu. Akhirnya setelah sekian lama aku berhasil mengalahkanmu," kata George cepat.
Niko tertawa pendek. "Selamat. Kau sudah berhasil mengalahkanku." Sindirnya.
George makin kesal. "Aku mencuri karyamu." Dia berusaha membangkitkan amarah Niko.
"Aku tahu." Niko memandang George dengan santai. "Itulah sebabnya aku tidak marah. Karyaku tetap menang."
"Mengapa?" George melangkah mundur. "Mengapa aku tetap tidak bisa mengalahkanmu?" Niko balik bertanya. "Kenapa kau selalu ingin mengalahkanku?"
Goerge menatap Niko dengan sedih. "Kau tidak mengerti. Ketika ayahku ditunjuk menjadi dewan fakultas untuk memberikan beasiswa pertamamu di GIA, dia bertanya padaku kenapa aku tidak bisa sepertimu. Kenapa bukan aku yang memenrima beasiswa itu dari tangannya. Semakin dia memujimu, semakin aku membencimu. Itulah sebabnya aku ingin mengalahkanmu. Aku ingin membuat ayahku memujiku sekali saja."
Niko mengerti sekarang mengapa George membencinya. "Kau salah."
"George mengeryitkan kening. "Apa maksudmu?"
"Aku mengerti semuanya." Niko tersenyum pada George. "Aku mengerti bahwa ayahmu ingin kau menjadi seperti dirinya, seorang ahli perhiasan terkenal. Ayahku juga ingin aku mengikuti jejaknya menjadi dokter, tapi aku memilih untuk meraih impianku sendiri. Kau tidak menyukai bidang perhiasan, bukan? Sampai kapan kau bisa berpura-pura untuk bertahan? Cepat atau lambat kau akan kelelahan. Aku rasa kau tidak bisa mencuri karya orang lain seumur hidupmu untuk mendapat pengakuan dari ayahmu. Berhentilah mengejar mimpi ayahmu. Kejarlah mimpimu sendiri."
__ADS_1
"Ayahku tidak akan memaafkan kalau aku mengejar mimpiku menjadi pemain teater." George menelan ludah.
Niko menggeleng sambil tertawa perlahan. "Ayahku belum memaafkanku sampai sekarang. Tapi aku tidak bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak kusukai selamanya. Selama delapan belas tahun ayahku menyiapkanku untuk menjadi dokter. Lama-kelamaan aku kesulitan bernapas. Aku takut membuka mataku pada pagi hari karena harus melakukan hal yang tidak kusukai berulang-ulang. Jangan biarkan hal itu terjadi padamu, Finley."
George tertegun mendengar perkataan Niko. Dia tidak menyangka Niko memiliki masalah yang sama dengannya. "Tapi bagaimana aku bisa berhenti? Bukankah sudah terlambat untuk mengejar mimpiku?"
"Yang kau butuhkan hanya keberanian. Percayalah pada dirimu sendiri, maka kau pasti bisa melakukannya. Kalau boleh aku berterus terang, sejak pertama aku sudah bilang, kau tidak berbakat di bidang perhiasan. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak menyukai perhiasan bisa merancang perhiasan yang indah?" Niko berjalan mendekati George dan menatapnya. "Jangan menyia-nyiakan hidupmu. Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengejar mimpimu."
George tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Niko. "Maaf. Aku telah membencimu selama ini. Aku tidak menyangka justru kau yang menyadarkanku akan impianku. Hei, Fareli, apakah kita bisa berteman?"
Niko menjabat tangan George. "Tentu Finley. Dan... semua temanku memanggilku Niko."
George tersenyum. "Kau bisa memanggilku George."
"Aku senang kau menjadi temanku, George," kata Niko sungguh-sungguh.
"Aku juga, Niko." George menjabat tangan Niko dengan erat kemudian melepaskannya.
"Aku akan mengejar mimpiku mulai saat ini," tekad George.
Niko tersenyum. "Semoga berhasil, George. Aku akan menanti tiket undangan pertunjukan perdanamu nanti."
George tertawa. "Pasti. Selamat tinggal, Niko. Aku pergi dulu."
Ketika Niko hendak menutup pintu apartemennya setelah kepergian George, tiba-tiba seseorang berkata padanya dari luar pintu.
"Apakah hidup dengan papa benar-benar membuatmu tidak bisa bernapas?" tanyanya.
Niko menyimpulkan papa mendengar semua perkataannya dengan George. "Masuklah, pa."
Papa memasuki ruangan apartemen Niko untuk yang kedua kalinya. "Papa tidak pernah menyangka papa sudah membuatmu menderita."
Niko mengambil dua kaleng bir dari kulkasnya dan memberikan satu pada papa. "Tidak semua hari-hari bersama papa membuatku tidak bisa bernapas. Aku ingat ketika kita berdua pergi memancing sewaktu aku mau masuk SMA. Aku benar-benar bahagia saat itu."
Papa tersenyum sebentar. "Maaf karena papa sudah memaksakan keinginan papa padamu."
Akhirnya permohonan maaf terucap dari mulut papa. Niko meminum birnya beberapa teguk.
"Aku banyak memikirkan masa laluku selama dua tahun ini. Tidak ada yang salah dengan fakultas kedokteran. Aku tidak pernah membencinya. Hanya saja aku lebih menyukai perhiasan. Mungkin seandainya aku tidak pernah menyukai perhiasan, aku akan masuk fakultas kedokteran. Maafkan aku juga, pa. Maaf karena aku tidak bisa mewujudkan mimpi papa."
"Kita berdua terlalu keras kepala untuk meminta maaf, bukan?" Papa tersenyum.
"Jangan salahkan aku," canda Niko. "Aku mendapatkan sifat itu dari papa."
Papa menarik napas perlahan. "Papa bangga padamu."
Hati Niko diliputi perasaan gembira. "Terima kasih, pa."
Beberpa saat kemudian, ketika mereka sedang berbicara, HP Niko berbunyi. Pihak penyelenggara kontes mengatakan George Finley telah mengundurkan diri dari kontes dan menyerahkan tempat pertamanya pada Niko.
"Selamat, Niko," kata papa setelah mendengar kabar tersebut. Niko memeluk papa sambil tersenyum kegirangan. Akhirnya dia bisa berbagi kebahagiaan dengan papa.
*************************************
Niko memeluk Mike erat-erat. Ini adalah hari terakhirnya bekerja di kedai Mike. Besok dia akan memulai masa magangnya di Tiffany.
"Semoga berhasil, Niko." Mike melepaskan pelukannya dan memandang Niko dengan sedih.
"Thanks, Mike. Aku akan selalu mampir ke kedaimu kapanpun aku berada di New York."
"Aku akan selalu menanti kedatanganmu." Air mata mulai menggenangi mata Mike. Selama dua tahun terakhir Niko sudah seperti putranya sendiri.
Niko mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. "Aku punya sesuatu untukmu. Ini, bukalah."
Mike membuka kotak beludru berwarna hitam yang diberikan Niko. Di dalamnya berisi kalung perak berbentuk hatim di belakang hati tersebut terukir nama Mike dan istrinya.
"Kau bisa memberikannya untuk Carrie. Untuk ulang tahun perkawinanmu yang kedua puluh lima bulan depan."
Air mata Mike membasahi pipi. "Terima kasih, Niko. Kalung ini indah sekali. Carrie pasti menyukainya."
Setelah itu Niko mengucapkan selamat tinggal dengan teman-teman sekerjanya di kedai Mike. Ketika menaiki taksi yang akan mengantarnya menuju bandara, Niko tahu kenangannya di kedai Mike akan menjadi salah satu bagian dari hidupnya.
__ADS_1
Selama bulan-bulan berikutnya, Niko benar-benar sibuk dengan rancangan perhiasannya untuk Tiffany. Di akhir masa magangnya, Tiffany menawari Niko untuk menjadi pegawai tetap, tapi dengan berat hati Niko menolak. Dia sudah berjanji pada Julien untuk bekerja padanya selama dua tahun.