
Pak Hadi memijat kepalanya yang terasa berdenyut setelah melihat rekaman CCTV yang dibawa oleh asisten pribadinya, Toni.
"Maaf, Tuan. Di dalam rekaman CCTV tersebut Nona Bintang memang berduaan di toilet cukup lama dengan Tuan Muda Delon, tapi menurut pengamatan saya, bukan berarti mereka berdua melakukan hal-hal yang terlarang seperti yang dikatakan oleh Nona Sesil," ucap Toni, mencoba untuk berpikir realistis.
Sesil yang mendengar perkataan asisten pribadi calon suaminya itu, merasa kesal pada Toni. Asisten pribadi Pak Hadi yang nampaknya tidak suka dengan kedekatan Sesil dengan bos di perusahaan tempatnya bekerja.
"Anda tidak tahu apa-apa, Pak Toni. Saya melihat sendiri bagaimana Bintang keluar dari toilet dengan kondisi yang acak-acakan. Anda juga bisa lihat sendiri dalam rekaman CCTV itu, bukan?" bantah Sesil.
Benar adanya, kondisi Bintang memang acak-acakan. Rambutnya semrawut tak karuan dan gaun yang dia kenakan pun, terlihat tak rapi seperti sebelum masuk ke dalam toilet.
"Dan Delon, dia tidak mungkin berbohong pada kedua orang tuanya. Delon bahkan sudah bilang sama Tante Catherine, bahwa dia bersedia menikahi Bintang," lanjut Sesil berapi-api.
"Hentikan! Dan kalian berdua, tinggalkan ruangan saya!" Pak Hadi menatap sang asisten dan sekretaris pribadinya itu, bergantian.
"Mas, tapi masalah ini harus ...."
"Keluar dari ruangan saya, sekarang!" titah Pak Hadi, memotong ucapan Sesil.
Pak Hadi sedang ingin sendiri saat ini. Papanya Bintang tersebut ingin dapat berpikir dengan jernih, tanpa adanya intervensi dari siapapun karena apa yang nanti akan diputuskan, sangat berpengaruh untuk masa depan putrinya.
Wanita muda yang mengenakan baju seksi dengan dandanan menor tersebut segera berlalu dari ruangan sang calon suami, dengan menghentakkan kaki, kesal.
Toni juga hendak berlalu, tapi dia urungkan dan kemudian kembali menatap sang atasan.
"Maaf, Tuan. Saya sudah sangat lama bekerja pada Tuan Hadi dan saya juga tahu betul bagaimana kepribadian Nona Bintang."
Pak Hadi menatap sang asisten dengan dahi berkerut.
"Saya tahu, Tuan sebenarnya juga percaya 'kan, kalau putri Tuan Hadi tidak mungkin melakukan perbuatan tak senonoh seperti yang dituduhkan Nona Sesil?"
"Ikuti apa kata hati Anda, Tuan, karena apa kata hati kecil orang tua terhadap anaknya, tak pernah salah," pungkas Toni.
Asisten yang usianya tidak jauh berbeda dengan Pak Hadi tersebut kemudian segera berlalu, meninggalkan sang atasan yang mengangguk-angguk, mengerti dan berterimakasih dengan ucapan Toni.
"Sepertinya, aku harus menyelidiki hubungan kedekatan Sesil dengan Delon, selain hubungan keluarga," gumam Pak Hadi yang mulai curiga karena Sesil nampak bersemangat menjodohkan Bintang dengan Delon.
πππ
__ADS_1
Kesal dengan pengusiran Pak Hadi dari ruangan presiden direktur tersebut, membuat Sesil pulang lebih awal tanpa meminta ijin pada Pak Hadi selaku atasannya.
Ya, begitulah Sesil. Mentang-mentang dia menjadi sekretaris karena rekomendasi dari pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut, membuat dia bebas bertindak sesuka hati.
Apalagi, setelah dia berhasil mendekati sang presiden direktur dan menjerat Pak Hadi dengan perhatian dan kelembutan yang dia buat-buat, yang dia berikan pada duda beranak satu itu, membuat Sesil semakin banyak bertingkah.
"Hang out aja kali, ya, daripada suntuk" gumam Sesil sambil berjalan dengan cepat keluar dari lobi.
Wanita muda itu berjalan dengan mengangkat dagu, menunjukkan arogansinya. Sesil sama sekali tidak menghiraukan sapaan dari beberapa karyawan yang berpapasan dengan dirinya.
Begitu keluar dari lobi, Sesil segera menuju ke mobilnya dan tancap gas untuk menuju ke sebuah diskotik hendak mengusir kepenatan karena dirinya merasa diabaikan oleh Pak Hadi.
Jika biasanya Sesil akan menghubungi Delon, kali ini dia hanya ingin sendiri dan mencari partner lain di luar sana untuk bersenang-senang.
"Berani sekali tua bangka itu mengusirku dan membuatku kesal!" rutuk Sesil seraya memukul setir mobil yang tidak bersalah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang dikendarai Sesil berbelok ke sebuah diskotik tempat wanita seksi itu biasa menghabiskan waktu.
Sesil turun dengan penuh percaya diri dan langsung masuk ke dalam diskotik. Kedatangannya disambut hangat oleh seorang pemuda berkulit putih dan berwajah oriental dengan kedua tangan terbuka.
"Kabar buruk, Oppa, dan aku butuh teman," balas Sesil setelah pelukan keduanya terlepas.
"Aku akan segera siapkan semuanya untukmu, Sister, tapi aku akan mentraktirmu dulu dengan minuman kesukaan kamu," ucap pemuda yang dipanggil oppa tersebut.
Si oppa memeluk mesra pinggang Sesil dan kemudian membawanya ke sebuah sofa yang berada di salah satu sudut ruangan.
Hanya dengan menjentikkan jari, salah seorang bartender mendekati pemuda pengelola diskotik tersebut.
"Bawakan kami minuman favorit Nona Sesil, empat botol," pintanya pada bartender yang memiliki tatto di lengan kekarnya.
"Siap, Bos," balas sang bartender yang kemudian segera berlalu untuk menyiapkan pesanan minuman istimewa sang bos.
"Ada masalah apa, Sayang, sampai wajah kamu yang cantik ini terlihat kusut?" tanya si oppa seraya mengelus pipi Sesil dan kemudian melabuhkan ciuman di bibir wanita muda itu, sekilas.
"Biasalah, masalah kantor," balas Sesil yang tidak ingin bercerita apapun pada temannya tersebut.
"Hem, baiklah. Kamu bisa melampiaskannya nanti pada orangku," ucap pemuda berkulit putih yang duduk menempel di samping Sesil.
__ADS_1
"Tapi untuk pemanasan, biarkan aku yang melakukannya untukmu, Sayang," lanjut si oppa yang kemudian melepaskan kancing blouse Sesil dengan sangat cekatan.
Dalam sekejap, blouse tersebut terbuka dan langsung memperlihatkan dada jumbo milik Sesil yang tertutup bra berwarna merah.
Tanpa membuang waktu, si oppa mulai menelusuri dua bukit kembar Sesil dan menghisap salah satu puncaknya dengan gemas, hingga membuat wanita muda itu, kelimpungan dan mende*sah manja
"Silakan, Bos." Kedatangan bartender yang membawakan minuman beralkohol tinggi, menyudahi aktifitas pengelola diskotik tersebut.
Sesil segera merapikan kembali blouse-nya dan mulai menikmati minuman yang dapat memabukkan itu dengan ditemani oppa.
"Oppa, mana orangmu yang akan memuaskan aku?" tagih Sesil setelah cukup banyak wanita muda itu minum.
"Kalau aku saja, bagaimana, Sayang?" Pemuda berwajah oriental tersebut kembali menggerayangi tubuh Sesil dan kali ini tubuh bagian bawah.
"Aku tidak mau. Aku mau sama orang yang baru," tolak Sesil yang sedang menginginkan sensasi baru dari orang yang baru pertama kali dia temui.
Belum sempat si oppa menjawab, ponselnya yang berada di dalam saku celana, berdering.
"Aku terima telepon dulu," ucap si oppa seraya mengambil ponselnya dan kemudian menerima panggilan telepon yang masuk.
"Halo," sapanya tanpa melihat siapa si pemanggil.
"Maaf, saya dapat nomor Anda dari salah seorang bartender di diskotik ini. Apa saya bisa memakai wanita yang bersama Anda?" tanya di penelepon.
"Silakan. Kebetulan, dia butuh partner baru untuk bersenang-senang. Tapi, apa Anda yakin mau memakai dia?" Si oppa balik bertanya, seraya melirik Sesil yang masih asyik menikmati minumannya.
"Wanita yang saat ini bersama saya ini, hipper. Jadi, Anda harus memastikan bahwa kondisi Anda benar-benar prima saat ini. Tapi Anda jangan khawatir, di sini juga tersedia obat untuk membuat milik Anda kuat berdiri semalaman." Si Oppa terkekeh sendiri.
Sementara Sesil yang masih menikmati minuman, sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara laki-laki yang berbicara sambil mencumbui lehernya.
"Jika Anda setuju, Anda bisa pakai kamar khusus di lantai atas. Tentu dengan tarif langganan spesial, bagaimana?" tanyanya kemudian.
"Oke. Saya akan ke lantai atas sekarang bersama salah seorang pelayan Anda. Lima menit lagi, tolong antarkan wanita itu ke atas," pinta si penelepon yang sepertinya tengah merencanakan sesuatu.
"Oke, deal."
πππππ tbc ...
__ADS_1