Mengejar Bintang

Mengejar Bintang
Siapa yang Akan Papa Pilih?


__ADS_3

Sesil menepati janjinya. Wanita yang selalu mengenakan pakaian seksi tersebut datang ke kediaman calon suaminya dengan membawa banyak makanan.


Bukan hanya untuk dirinya, Pak Hadi dan juga Bintang, tetapi seluruh penghuni kediaman megah Hadinata mendapatkan bagian, termasuk satpam yang malam ini berjaga.


Sesil sepertinya sungguh-sungguh ingin mengambil hati sang calon suami, berikut seluruh penghuni rumah tersebut. Termasuk Bintang yang malam ini menatap calon mamanya itu, dengan tatapan dingin.


"Kamu mau yang mana, Bintang?" tawar Sesil dengan lembut, mencoba meluluhkan hati Bintang.


Meski gadis tersebut menyambutnya dengan dingin, tetapi Sesil tidak menyerah demi tercapainya sebuah tujuan.


"Aku bisa ambil sendiri," balas Bintang, datar.


Sebenarnya, Bintang malas duduk satu meja dengan Sesil. Dia masih bertahan di meja makan hanya demi menghormati sang papa.


Sesil akhirnya mengalah dan tidak lagi memaksakan mengakrabkan diri dengan Bintang. Wanita muda itu kemudian melayani calon suaminya, penuh perhatian.


"Mau sama cumi, Mas?" tawar Sesil dan Pak Hadi mengangguk seraya tersenyum.


"Cukup, Sayang. Terimakasih," ucap Pak Hadi.


Mereka bertiga kemudian makan dengan khusyuk. Sesekali terdengar obrolan hangat antara Pak Hadi dengan Sesil. Sementara Bintang sama sekali tidak mengeluarkan suara.


Makan malam yang membosankan bagi Bintang itu pun usai. Bintang kemudian membuka suara.


"Oh ya, Pa. Ponsel Bintang disimpan di sebelah mana? Biar Bintang ambil sendiri." Bintang segera beranjak.


"Oh, ponsel kamu yang tadi, ya. Tenang Bintang, udah aku bawa, kok." Sesil kemudian mengeluarkan ponsel Bintang dari dalam tas tangan branded miliknya.


Ponsel yang telah dia sadap dan sudah dia bersihkan bukti yang dikirimkan oleh Riko ke nomor Bintang.


Sesil kemudian menyimpan benda pipih yang berlogo buah bekas gigitan serangga, tepat di hadapan calon anak tirinya.


"Ini, Sayang. Ponsel kamu," ucap Sesil seraya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Tanpa mengulur waktu, Bintang kembali duduk dan kemudian membuka ponselnya hendak mencari bukti yang dimaksud untuk ditunjukkan pada sang papa.


Bintang mengerutkan dahi, tatkala apa yang dia cari telah terhapus. Gadis berkulit putih tersebut menatap Sesil dengan tatapan menyelidik.


"Mbak Sesil membuka-buka ponsel Bintang, ya?" tuduhnya dengan tatapan tajam.


"Ya ampun, Sayang. Buat apa aku buka-buka ponsel kamu," kilah Sesil penuh drama.


"Aku sama sekali tidak menyentuhnya, Sayang. Tadi langsung aku masukkan ke dalam tas, baru sekarang ini aku ambil dan langsung aku kasihkan sama kamu," lanjutnya dengan mimik wajah memelas, mencari simpati sang calon suami.


"Bintang. Jangan asal nuduh, dong, Sayang." Meski teguran Pak Hadi terhadap Bintang diucapkan dengan nada lembut, tetap saja hal itu melukai hati Bintang.


Putri tunggal Pak Hadi tersebut menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi serigala berbulu domba seperti calon istri sang papa.


"Bintang tidak asal menuduh, Pa. Tapi video yang dikirimkan Kak Riko tadi lenyap setelah ponsel Bintang disita Mbak Sesil," balas Bintang mencoba untuk bersikap tenang.


Sementara tangan Bintang masih aktif di layar ponselnya. Rupanya, diam-diam Bintang mengirimkan pesan pada Riko untuk meminta lagi video keterlibatan Sesil yang menjebak Surya dengan menghadirkan gadis centil untuk berpura-pura menjadi kekasih Surya.


Terdengar notif pesan masuk di ponsel Sesil dan wanita yang mengenakan dress ketat membalut tubuh seksinya tersebut segera melihat layar ponsel, khawatir ada pesan penting untuk dirinya.


Wajah Sesil tiba-tiba menjadi pias, bukan hanya pesan penting yang masuk, tetapi pesan genting karena yang barusan masuk adalah notif dari pesan di aplikasi perpesanan milik Bintang yang dia sadap.


'Kurang ajar! Kenapa aku enggak kepikiran tadi, kalau Bintang bisa saja meminta video sama temannya Surya lagi.'


Sesil berpikir keras, bagaimana caranya agar dia bisa mengelak dari tuduhan Bintang.


Sementara Bintang tersenyum penuh kemenangan.


"Pa, ini yang mau Bintang tunjukkan," ucap Bintang seraya beranjak dan mendekati sang papa.


Bintang menunjukkan video kiriman Riko kepada papanya dan Pak Hadi menyaksikan video tersebut dengan seksama.


Papanya Bintang tersebut langsung menatap tajam pada Sesil. "Apa maksud dari semua ini, Sesil?" cecar Pak Hadi.

__ADS_1


"Tenang dulu, Mas. I-itu, itu tidak seperti yang mas kira." Sesil masih mencoba untuk berkilah.


"Sebenarnya aku sudah menolak ide dari Delon, tapi Tante Catherine memaksaku agar aku membantu Delon untuk mendapatkan putri kesayangan Mas."


"Delon sudah sangat lama mencintai Bintang, Mas. Bahkan, Delon juga rela melakukan apapun untuk putri Mas. Apalagi, di antara mereka berdua memang sudah pernah terjadi sesuatu, kan?"


"Terjadi sesuatu? Apa maksud Mbak Sesil?" tanya Bintang dengan dahi berkerut dalam.


"Mas, tolong bilang sama putrimu agar memberiku kesempatan untuk berbicara," pinta Sesil dan Pak Hadi kemudian menatap sang putri, meminta pengertian Bintang.


"Adik sepupuku itu menganggap, bahwa apa yang terjadi di antara mereka berdua sewaktu di dalam toilet, bukan hanya sekadar pelampiasan karena pengaruh minuman beralkohol, tetapi Delon melakukannya murni karena cinta. Tidak seperti ...." Sesil menghentikan bicaranya sejenak dan menatap Bintang.


"Tidak seperti apa?" desak Pak Hadi.


"Tidak seperti putri Mas yang bisa melupakannya begitu saja," lanjut Sesil, membuat Bintang naik darah.


"Apa maksud kamu? Melakukan apa? Siapa yang minum minuman beralkohol?" cecar Bintang seraya beranjak.


Emosi gadis itu sudah tidak terbendung lagi, seolah hendak meledak dan ingin menghancurkan wanita culas yang duduk di samping sang papa.


"Kamu dan Delon, kan, yang minum bersama di acara gathering kemarin? Kamu ingat, enggak, kamu sampai muntah di toilet dan Delon 'kan yang menolong kamu?"


"Atau, jangan-jangan karena efek mabok itu kamu jadi lupa, apa yang telah terjadi di antara kalian berdua di dalam toilet?" Sesil menatap Bintang dengan menyipitkan mata.


"Aku enggak minum minuman haram itu, ya, dan aku juga enggak mabok!" Tatapan Bintang berkilat tajam, menatap Sesil yang duduk seraya mengulas sebuah senyum kemenangan.


"Bintang, cukup!" Suara keras Pak Hadi, berhasil melukai kembali hati sang putri.


"Pa, Bintang muntah karena kepala Bintang pusing, Pa. Bintang tidak mabok," ucap Bintang, lirih. Gadis berkulit putih tersebut tidak yakin, sang papa akan percaya pada ucapannya.


'Bintang ingin tahu, siapa yang akan papa pilih di antara kami berdua?' batin Bintang, sendu.


🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...

__ADS_1


__ADS_2