
⭐⭐⭐⭐⭐
Gontai, Bintang berjalan keluar dari rumah sakit, setelah mengetahui hasil dari tes yang dia lakukan barusan.
Meski dokter menyarankan agar Bintang menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui secara lebih pasti dari penyakit yang saat ini mulai menggerogoti tubuhnya, tetapi Bintang sudah dapat menebak bahwa dokter tersebut hanya ingin membesarkan hatinya.
Di area parkir, Bintang membuka kembali lembar hasil serangkaian tes yang dia lakukan dan netra indah itu mulai berkaca-kaca.
"Benarkah ini?" tanya Bintang dengan bibir bergetar. Tangan gadis itu yang memegang lembar kertas putih, juga gemetaran.
Bintang masih terpaku menatap kertas di tangan, ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyambar kertas dari tangannya.
"Hai, kembalikan!" teriak Bintang sambil berlari mengejar laki-laki yang mengenakan masker dan berkaca mata hitam.
Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu segera naik ke atas boncengan motor temannya dan motor sport tersebut langsung melesat, meninggalkan Bintang yang terduduk lemas di pinggir trotoar.
"Siapa, dia? Buat apa dia mengambil hasil tes kesehatanku? Sejak kapan, dia mengikutiku?" gumam Bintang, bertanya-tanya.
Gadis berambut panjang sebahu tersebut, mengedarkan pandangan. Mencari-cari, barangkali masih ada orang lain yang mengikuti dirinya.
Bintang beranjak, rasa was-was mulai menghinggapi hatinya. "Aku harus segera pergi dari sini," ucap Bintang yang segera kembali menuju motornya.
Sepanjang jalan kembali ke sekolah, Bintang masih memikirkan kejadian tadi. Siapa laki-laki yang tiba-tiba mendekat dan merebut hasil tes kesehatannya.
Tiba kembali di sekolah, bertepatan dengan teman-temannya yang sudah bubar.
Bintang segera memarkir motor Fitri.
"Bin, lama banget, sih? Katanya cuma sebentar?" cecar Fitri seraya menepuk punggung Bintang yang baru saja melepaskan helm-nya, membuat Bintang terkejut.
"Eh, iya, Fit. Maaf, ya," balas Bintang seraya tersenyum nyengir.
Bintang mencoba bersikap baik-baik saja, meskipun berita yang tadi dia dengar dari dokter mengenai penyakitnya, sangat mengiris hatinya.
"Iya, enggak apa-apa, kok. Aku khawatir saja," ucap Fitri.
"Nih, aku udah bawain tas kamu." Fitri menyerahkan tas punggung milik Bintang dan Bintang menyerahkan kunci motor Fitri.
"Fit. Sekali lagi, makasih banyak, ya," ucap Bintang seraya memeluk Fitri.
__ADS_1
Fitri mengerutkan dahi. "Iya, Bin. Kamu meluk aku kayak mau pisah lama aja, sih. Besok, kan, kita juga ketemu lagi, Bin,' balas Fitri yang kemudian melerai pelukan.
Kedua teman sebangku itu kemudian berpisah. Fitri menaiki motornya dan Bintang menemui Pak Jaya yang dengan sabar menanti Bintang pulang sekolah.
"Langsung pulang, Non?" tanya Pak Jaya, ketika Bintang telah duduk di bangku depan, di samping kemudi.
Ya, jika Pak Jaya yang menyetir, Bintang lebih senang duduk di depan karena Bintang sudah menganggap Pak Jaya seperti keluarga sendiri.
Berbeda jika yang menyetir adalah sopir keluarga, maka Bintang akan duduk di bangku belakang.
"Tolong antar Bintang ke kantor Papa, Pak. Tadi Papa pesan agar Bintang langsung ke sana," balas Bintang.
Pak Jaya mengangguk dan kemudian segera melajukan mobilnya, meninggalkan area parkir sekolah Bintang.
Sepanjang perjalanan, Bintang dan Pak Jaya mengobral layaknya bapak adan anak.
Ada saja yang mereka bicarakan, mulai dari kebiasaan Bintang sewaktu masih kecil untuk suka jahil. Hingga kebiasaan Bi Narsih yang suka kentut sembarangan. Membuat Bintang dan Pak Jaya tertawa di sepanjang perjalanan.
"Pak, Kalau misalnya Bintang pergi, apa Pak Jaya dan Bibi akan sedih?" tanya Bintang tiba-tiba, menghentikan tawa Pak Jaya.
Pak Jaya menoleh sekilas pada Bintang, dengan dahi berkerut dalam.
"Kalau memang mau nyusul Den Surya, kami pasti sedih karena lama tidak akan ketemu sama Non Bintang, tapi sekaligus senang karena Non bersama Den Surya yang pasti akan menjaga dan menyayangi Non Bintang dengan sepenuh hati," lanjut laki-laki paruh baya tersebut.
Bintang mengangguk dan kemudian memalingkan wajah karena tidak ingin Pak Jaya melihat mendung di wajahnya yang tiba-tiba bergelayut, ketika Pak Jaya menyebut nama Surya.
Gadis yang kini netranya telah berkaca-kaca tersebut, teringat akan impian mereka berdua kelak. Impian untuk dapat hidup bersama dan membina rumah tangga yang bahagia dengan penuh cinta.
Impian remaja seusia Bintang yang memang terdengar sangat idealis.
"Memangnya, kapan Non Bintang akan menyusul Den Surya?" tanya Pak Jaya, mengurai lamunan Bintang.
"Eh ... Masih lama, kok, Pak," balas Bintang.
Pak Jaya terdengar menanyakan banyak hal dan Bintang mencoba menjawab seraya tersenyum lebar, memperlihatkan wajah cerianya seperti biasa.
Obrolan keduanya terhenti, ketika mobil yang dikendarai Pak Jaya tiba di area parkir gedung perkantoran milik papanya Bintang.
Putri tunggal Pak Hadi tersebut segera turun dan kemudian pamitan sama Pak Jaya dengan mendekat ke pintu di sisi kiri.
__ADS_1
"Pak, makasih, ya. Nanti Bintang pulang sama papa,", ucap Bintang.
Pak Jaye mengangguk. "Baik, Non. Kalau begitu, bapak pulang dulu," pamit Pak Jaya yang kemudian mulai melajukan mobilnya dengan pelan, meninggalkan Bintang yang masih berdiri mematung.
Entah apa yang dipikirkan oleh Bintang, hingga sapaan dari security tidak didengarnya.
"Non, Non Bintang. Non Bintang baik-baik saja, kan?" tanya security tersebut seraya menepuk pelan bahu Bintang.
"Eh, iya, Pak. Bintang baik, kok," balas Bintang, tersenyum. "Mari, Pak," lanjut Bintang, pamit.
Bintang kemudian memasuki lobi, diiringi tatapan penuh tanya oleh security.
Sementara di dalam ruangan Pak Hadi, papanya Bintang tersebut nampak tidak dapat konsentrasi ketika Pak Marcus mengajaknya berdiskusi mengenai perkembangan perusahaan dan langkah yang harus diambil untuk ekspansi usaha lain.
Selain memikirkan tentang Bintang, di ruangannya saat ini juga ada Delon dan Sesil, hingga membuat Pak Hadi semakin tidak dapat berpikir dengan baik.
Ya, Pak Marcus tadi datang bersama Delon yang saat ini telah diangkat Pak Marcus sebagai pengganti dirinya, dan juga Sesil yang menjadi asisten pribadi Delon.
"Jadi, bagaimana Pak Hadi? Anda setuju, kan, kalau kita membangun hotel dan pusat perbelanjaan di Bali dan Surabaya?" tanya Pak Marcus.
"Maaf, Tuan. Untuk masalah itu, biar nanti kami bicarakan dengan tim kami," balas Toni, mewakili atasannya.
Pak Marcus nampak ingin kembali bertanya, tetapi dia urungkan ketika mendengar pintu ruangan Pak Hadi diketuk yang diikuti dengan pintu yang dibuka dari luar.
Bintang sejenak terpaku, tetapi kemudian segera menyapa Pak Marcus dan mengalami papanya Delon tersebut dengan sopan.
"Sudah lama, Om?" tanya Bintang seraya tersenyum.
"Sudah, Nak. Ini juga sudah mau pamit," balas Pak Marcus, dengan melembutkan suara.
Laki-laki paruh baya tersebut menyukai Bintang sejak awal mereka bertemu dan andai saja putranya layak untuk Bintang, dengan senang hati dia akan menerima Bintang menjadi menantu idamannya.
"Duduk dulu, Sayang," titah Pak Hadi.
Bintang mengangguk. Namun, baru saja gadis itu duduk, dia langsung bangkit kembali dan berlari ke toilet. Hingga membuat Pak Hadi semakin khawatir dengan apa yang dia pikirkan sejak pagi tadi.
'Apa benar dugaanku?'
🌟🌟🌟🌟🌟 tbc ...
__ADS_1