
Keesokan paginya, Laura bangun dengan semangat baru. Ia tahu hari ini hari yang ia tunggu-tunggu. Ia mengenakan seragam sekolahnya dengan penuh semangat. Hari ini ia ingin terlihat rapi di mata Niko. Dimeja riasnya terdapat gulungan kertas yang diikat pita merah. Gambar Niko.
Ia menatap bayangannya di cermin, & tersenyum. Hari ini akan berbeda dgn hari-hari sebelumnya. Hari ini ia akan mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan Niko.
Saat istirahat siang, Laura memandangi punggung Niko. Teman-teman sekelas sudah pergi untuk beristirahat. Di kelas hanya tinggal mereka berdua. ''Ayolah Laura, hanya enam langkah menuju tempatnya,'' katanya dalam hati. Perlahan-lahan, Laura bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Niko.
Napasnya mulai tdk beraturan. Tiga langkah lagi. Dua langkah lagi. Satu langkah lagi. Kini ia tiba di meja Niko. Tampaknya Niko sedang menulis laporan.
Mengumpulkan keberanianya, Laura menarik napas panjang dan berkata, ''Niko...''
Niko berhenti menulis dan memandang Laura dgn tatapan ingin tahu.
Laura meletakkan gambar Niko di atas mejanya. ''Aku menemukan gambarmu kemarin.''
Niko melihat gulungan kertas berpita merah di depannya, lalu membukanya. Matanya mengenali gambar yg tertera di sana, Niko menatap Laura lagi. ''Terima kasih.''
Laura menghela napas lega. ''Akhirnya aku bisa berbicara padanya.''
Melihat mata Niko yang masih memandangnya membuat Laura gugup. Ia tidak tahu harus berbicara apalagi.
''Ehm... kalau begitu aku keluar dulu.'' Langkahnya yang terburu-buru hampir saja menyenggol meja Niko.
''Tunggu, Laura,'' kata suara di belakangnya.
Laura membalikkan badannya ke arah Niko. ''Ada apa?''
Niko seakan ragu untuk mengutarakan kalimat berikutnya. ''Begini.... bisakah kau tidak memberitahukan tentang gambarku ini pada rang lain?''
(''mengapa'?') benak Laura langsung merespon pertanyaan Niko, tapi yang keluar dari mulutnya malah kebalikannya. ''Baiklah,'' katanya perlahan.
''Terima kasih lagi,'' kata Niko sambil tersenyum lembut.
Senyum Niko membuat Laura gemetar. ''Sama-sama,'' balasnya perlahan.
Lima menit kemudian, di toilet cewek, Laura tersenyum lebar. Kali ini ia tidak peduli jantungnya berdetak dengab cepat. Ia sangat menyukai perasaan ini. Akhirnya, setelah satu setengah tahun, ia bisa berbicara dengab Niko, dan Niko mengetahui namanya. Pertama kali namanya keluar dari bibir orang yang disukainya.
Hari-hari berikutnya, ketika Laura berpapasan dengan Niko di lorong kelas, di kantin, ataupun di dalam kelas, Niko tersenyum padanya dan Laura membalas senyuman itu.
***
Dua hari kemudian, Laura mengelus-elus bajunya yangbbasah. Gerimis membasahi halte bus yang akan membawa Laura ke sekolahnya. Laura melirik jam tangannya. Masih banyak waktu. Biasanya bus datang sepuluh sampai lima belas menit sekali. Dan perjalanan ke sekolah dr halte bus ini biasanya sekitar sepuluh menitan.
Laura mengeluarkan jaket dr tas dan mengenakannya. Sambil menunggu bus, telapak tangan Laura terulur merasakan tetesan air hujan. Sepuluh menit berlalu, tapi bus yang hendak mambawanya ke sekolah belum tiba juga. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendelanya terbuka
''Laura...'', sapa seorang cowok.
Laura tersentak kaget, suara itu. Ia pasti akan mengenali suara itu di mana saja. Suara Niko.
''Niko. Hai...''
''Kau sedang menunggu bus?'' tanya Niko menatap ke arah Laura.
''Iya,'' Laura mengangguk.
''Ikut mobilku saja,'' saran Niko.
Laura agak terkejut, ''Hah?''
Niko tersenyum simpul. ''Ikut mobilku saja sekalian.'' Laura melihat Niko menekan tombol utk membuka kunci pintu. ''Masuklah,'' kata Niko kemudian.
Laura berdiri lalu berjalan memasuki mobil Niko.
''Kebetulan sekali bertemu dengan mu,'' kata Niko memulai pembicaraan.
Laura mati kutu. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ia benar-benar kesulitan utk berbicara & hanya bisa mengangguk.
''Biasanya aku kesekolah tidak sepagi ini,'' lanjut Niko lagi, ''tapi aku harus menyusun acara utk pertandingan persahabatan minggu depan.''
__ADS_1
Setelah beberapa saat, jantung Laura kembali berdetak normal. ''Kau pasti sibuk,'' kata Laura perlahan.
''Yah begitulah,'' kata Niko tersenyum tipis, ''resiko jadi ketua OSIS.'' Laura ikut tersenyum, ''Jadi... rumahmu jauh dari sekolah, ya?'' tanya Niko.
Laura mengangguk. ''Iya, bagaimana kau bisa tahu?''
Niko tersenyum lagi. ''Aku kan ketua kelas, masa aku tidakp tahu teman-teman sekelasku? Nomor hp mu pun aku tahu.''
Laura menelan ludah, ''Benar juga.'' Laura menggengam erat jemarinya. ''Ehm... Niko,'' katanya lagi, ''terima kasih untuk kertas semangatnya pas ulangan fisika minggu lalu.''
Niko seakan berpikir sesaat, tp kemudian tersenyum. ''Oh, kertas itu, yah... aku lihat sepertinya kau sudah menyerah. Jadi aku ingin memberimu semangat. Nilai ulanganmu tidak jelek kan?''
Laura menggeleng dan mengingat angka delapan yang ia terima beberapa hari yg lalu untuk ulangan fisikanya. ''Tidak, nilai ulanganku cukup baik.''
''Baguslah kalau begitu,'' balas Niko, Laura serasa bermimpi.
Beberapa saat kemudian, mobil Niko memasuki area sekolah. Laura berharap perjalanan dr halte bus ke sekolah tidak sesingkat ini. Mobil Niko berhenti di area parkir.
''Terima kasih untuk tumpangannya, Niko,'' kata Laura tulus.
''Ehm... Laura,'' kata Niko ragu, ''terima kasih karena tdk pernah memberitahukan tentang gambarku, pada orang lain.''
''Aku sudah berjanji tjdak akan memberitahukannya,'' kata Laura sedikit bingung.
''Tidak ada yang tahu soal hobiku yg satu itu selain orang tuaku. Biasanya gosip sekolah menyebar dengan cepat. Tapi kau benar-benar tidak memberitahukannya pada siapa pun. Aku benar-benar menghargainya.''
Laura tersenyum. ''Gambarmu sangat indah, kau seharusnya bangga.'' (''aku tahu aku terpesona olehnya'') lanjut Laura dalam hati.
Sesaat mata Niko terlihat sendu, lalu digantikan oleh senyuman. ''Terima kasih. Ini pertama kalinya seseorang memuji gambarku.'' Niko membuka pintu mobilnya dan Laura melakukan hal yg sama. Perkataan Niko membuat Laura sedikit bingung.
''Terima kasih lagi,'' kata Laura perlahan.
Tiba-tiba sebuah suara mendekati mereka. ''Niko'' katanya, ''rupanya kau sudah sampai.'' Laura menoleh ke arah datangnya suara, ternyata Erika. ''Hai Erika,'' sapa Laura sopan.
''Apa yang kau lakukan di mobil Niko?'' tanya Erika curiga.
Erika menatap Laura dgn pandangn tidak suka. ''Aku tidak suka kau bersama cewek lain di mobilmu, Niko,'' kata Erika ketus.
''Maaf'', sela Laura, ''Niko benar-benar hanya memberiku tumpangan.'' ''Aku tidak bicara pada mu,'' kata Erika dingin.
''Erika, ayolah,'' kata Niko sedikit kesal. ''Kau bersikap kekanak-kanakan.''
''Pokoknya mulai besok kau harus menjemputku dulu setiap pagi sebelum pergi ke sekolah. Kita pergi bareng,'' kata Erika ketus.
''Bukannya kau selalu memakai mobilmu sendiri ke sekolah?'' tanya Niko seakan permintaan Erika tidak masuk akal.
''Yah, mulai besok aku mau dijemput olehmu,'' kata Erika sedikit memelas.
Niko yg tidak tega melihat tampang Erika sepeti itu langsung menyetujuinya. ''Baiklah, besok aku akan menjemputmu lebih dulu.''
Erika langsung memeluknya. ''Nah, itu baru pacarku.''
Niko hanya menggeleng sambil mendesah. Laura mendengar percakapan keduanya dgn sedih. Ia tahu Niko tidak akan menyukainya lebih dari pada teman. Niko sudah punya Erika. Tapi tetap saja perasaan sedih di hatinya tidak bisa hilang. Memang sangat menyedihkan mengharapkan sesuatu yang bukan miliknya. Tapi, melihat senyum Niko bersama Erika membuat perasaan Laura kembali membaik. Tidak perduli bersama siapa, asalkan Niko bisa tersenyum bahagia, maka ia pun ikut bahagia.
***
Tapi hari-hari berikutnya terasa berat untuk Laura, karena sepertinya Erika sudah menetapkannya menjadi musuh nomor satu di sekolah. Paginya, ditoilet cewek, teman-teman Erika sengaja menabraknya hingga jatuh tanpa meminta maaf. Laura hanya bisa berdiri dan terdiam. Ia tahu itu peringatan dari Erika untuk tidak mendekati Niko lagi. Dan ia tidak bisa menyalahkan Erika. Ia pun tentu ingin melindungi miliknya, walaupun mungkin caranya tidak akan sama seperti yang dilakukan Erika. Untungnya beberapa hari kemudian ada pertandingan persahabatan dengan sekolah lain sehingga Erika sibuk membantu Niko mempersiapkannya, dan ia melupakan soal Laura untuk sementara.
Lapangan basket dipenuhi para siswa yang sedang berteriak. Masing-masing siswa memberikan semangat pada sekolahnya. Laura melihat keramaian itu dari ruang tata boga. Ia tahu Niko sedang bertanding. Tangannya dengan teliti mencetak adonan terigu menjadi sebuah bintang, Setelah satu loyang sudah terisi penuh, ia memasukkannya ke oven. Ia paling suka menunggu saat-saat seperti ini.
Teriakan dilapangan semakin kencang. Laura tersenyum. Ia yakin tim Niko akan menang. Tak berapa lama kemudian pertandingan selesai. Laura melihat ke arah lapangan. Skor 24-21 untuk kemenangan tim Niko.
__ADS_1
**
Bunyi timer menyadarkan Laura utk membuka oven. Dihirupnya wangi kue yg sudah dibuatnya. Bibirnya tersenyum puas. Ia mengambil kue bintang dr adonan satu persatu, lalu meletakkannya di sebuah piring besar. Ia akan menawarkan kue buatannya pada tim basket Niko yang telah berhasil memenangkan pertandingan.
Laura keluar dari ruang tata boga sambil membawa sepiring kue buatannya. Di lapangan sudah tidak terlihat pertandingan basket lagi. Para siswa sedang mengerubungi tim Basket Niko untuk memberi selamat.
Laura menunggu sampai semua teman-teman Niko selesai, lalu berjalan mendekatinya. ''Niko selamat ya.''
Niko yang masih mengenakan seragam klub basket dan berkeringat, tersenyum menatap Laura, ''thanks''' ujarnya.
''Ehm... mau coba kue buatanku?'' tanya Laura sambil menyodorkan piring di hadapannya.
Niko mengambil salah satu kue bintang yang ada dipiring lalu mamakannya.
''Kue buatanmu enak sekali,'' kata Niko memuji.
Laura lalu menawarkan hal yg sama pada semua teman Niko di club basket. ''Silahkan coba'', katanya ramah.
Tanpa pikir panjang, teman-teman Niko mengambil kue-kue yang ada dipiring sambil memuji Laura sesudah memakannya. ''Kue buatanmu enak sekali'', kata salah satu teman Niko. ''Adikku suka bereksperimen dgn kue, boleh aku minta resep kuenya?''
Laura mengangguk, ''Tentu saja. Aku akan memberikan resepnya di kelas nanti''.
Teman Niko tersenyum. ''Thanks.”
Tiba-tiba seseorang menabrak Laura dari belakang sehingga piring yang dibawanya terjatuh dan kue-kue nya berceceran di tanah. ''Oh....maafkan aku'', kata Erika, yang jelas sengaja menabrak Laura. ''Aku tidak sengaja.”
''Erika'', omel Niko, ''kenapa kau bisa seceroboh ini?''
''Aku benar-benar minta maaf, Laura''. Erika memandangi Laura sambil tersenyum.
Laura tidak tahu apakah Erika sengaja atau tidsk menabraknya, tetapi ia sedih melihat hasil karyanya berakhir di lapangan. ''Tdk apa-apa'', sahutnya kemudian.
Erika tersenyum lebar, ''Aku benar-benar tidak sengaja,'' katanya lagi, lalu tatapannya beralih pd Niko. ''Niko, sebentar lagi grup marching band ku akan tampil di aula. Ayo ikut kesana.'' Erika menarik tangan Niko untuk mengikutinya.
Tapi sebelum pergi, Niko berbicara pada Laura, ''Maafkan Erika, ya.''
Laura mengangguk. ''Tdk apa-apa'.
Setelah memandangi punggung Niko yg menghilang di balik aula, Laura mengumpulkan kue-kue yang berserakan dilapangan dan menempatkanya kembali dipiring. Ia berjalan perlahan, kemudian membuang semua kue itu. Saat semua kuenya sudah berpindah ketempat sampah, hatinya merana sedih.
Dalam perjalanan pulang hari itu, Laura termenung lama. Mungkin sebaiknya ia berhenti berteman dengan Niko. Dan keinginan ini ia utarakan pada mama.
''Apakah sebaiknya aku berhenti berteman dgn nya, ma?'' tanyanya saat mereka mencuci piring di dapur.
Mama menatap putrinya dgn lembut ''Apakah kau mau berhenti berteman dengan nya?''
Laura menggeleng.
''Laura'', ujar mama sambil menutup keran air, ''kenapa kau tdk berterus terang pd cowok ini kalau kau menyukainya?'
''Dia tdk menyukaiku,'' jawab Laura memberi penjelasan.
''Bukankah lebih baik kau mengatakan isi hatimu pd nya. Lalu setelah kau mengetahui dia tdk menyukaimu, kau bisa mulai menghentikan perasaanmu pd nya dan memulai hubungan yg baru.''
''aku tahu, tapi... rasanya sulit sekali melepaskannya. Apalagi sekarang kami sudah berteman.''
''Kau ingin jadi pacarnya?'' tanya mama lagi.
Laura menatap mama dengan sedih. ''Itu harapan yang tidak mungkin, Ma. Dia menyukai pacarnya yang sekarang. Tapi, apakah perasaanku menyukainya salah, ma?''
Mama menggeleng. ''Cinta memang tidak sederhana. Kau tidak salah menyukainya. Hanya saja kau menyukai orang yang salah di waktu yg salah''.
Laura mendesah. ''Beri aku waktu sampai kelulusan SMA. Saat itu, aku akan memutuskan untuk melepaskannya. Lagi pula, kami tentu akan berpisah jg. Dia pasti kuliah di tempat yangbberbeda dengan ku. Aku sudah mengejarnya selama satu tahun setengah. Kelulusan sekolah tinggal 7 bulan lagi. Biarkan aku memiliki waktu ini untuk menyukainya.''
Mama memeluk putrinya, ''Oke. Cuma sampai kelulusan, ya. Setelah itu kau harus melepaskannya. Percayalah pada mama, cepat atau lambat, waktu akan menyembuhkan luka di hatimu.''
__ADS_1
''Thanks, Ma'', balas Laura sambil memeluk dan menghirup aroma wewangian tubuh mama. Laura tersenyum, pelukan mama selalu mambuatnya merasa lebih baik.